Thoghut

tulisan yang berwarna biru, dapat di klik untuk mendapatkan rujukan.
a

intro: Insya Allah, para orangtua sudah memperkenalkan kepada anak-anak mereka mengenai amalan kepada yang ghaib; hal ini dilakukan sejak dini. Bahkan selalu dididikkan, yang ghaib itu dianggap mempengaruhi kehidupan setiap manusia. Bagi penganut Agama Islam, pengabdian kepada yang ghaib itu tertuju pada Dzat Allah س, yang diyakini telah memayungi jalan hidupnya. Meskipun begitu, tidak jarang mereka yang mengaku sebagai penganut Islam juga mengabdikan dirinya kepada makhluk ghaib, bukan Dzat Ghaib; yaitu jin yang diharapkan dapat memberi manfaat bagi kehidupannya. Dalam nash Al Qur`an disebutkan adanya jin yang beriman dan kafir; diantara makhluk jin kafir disebut thoghut dan jibt. Lalu siapa yang disebut dengan thoghut dan jibt ?

Pagi ini, di masjid masih berkumpul beberapa jamaah usai menunaikan Shalat Dhuha berjamaah. Ketika sudah menyatu dengan mereka, Banas mengemukakan: “Dalam kehidupan duniawi, setiap manusia dewasa selalu meyakini ada dua sisi kehidupan; yaitu pertama, kehidupan ragawi yang terdapat dalam dirinya, dan kedua, kehidupan ghaib eksternal yang berada di luar dirinya. Kehidupan ragawi dapat dilaksanakan secara lahiriah, seperti makan, tidur, olah raga, berkendara, berinteraksi sosial, dsb. Sedangkan kehidupan ghaib external, berhubungan dengan sesuatu hal ghaib yang dianggap mempengaruhi dan menentukan kehidupannya. Dalam menggerakkan dinamika berkehidupan, setiap manusia niscaya melakukan amalan pengabdian kepada yang ghaib. Dalam lingkungan keluarga Islami, pengabdian kepada yang ghaib tertuju pada Dzat Allah س, sebagai realisasi dari lafadz syahadat yang telah diucapkan secara sunnatullah ketika masih berupa janin dalam rahim ibunya.[1]

Pengabdian selain kepada Dzat Allah س dapat disebut sebagai bentuk pengabdian kepada thoghut dan jibt. Makhluk inilah yang sering dipertuhankan manusia; bahkan banyak diantara manusia berusaha merekayasa kemampuan berkomunikasi. Untuk memacu kemampuannya dalam berkomunikasi dengan thoghut dan jibt, maka pemujaan menjadi pilihan untuk menyenangkan satu sama lain. Perbuatan seperti ini banyak dilakukan manusia yang mendapatkan pendakwahan Islam dengan takaran sedikit; oleh pendakwah, dibarengkan dengan ajaran-ajaran tradisi. Karena itu banyak dijumpai, pemujaannya diwujudkan dengan pembuatan sesajen, pembakaran kemenyan, penyajian bunga-bunga. Iringannya dapat berupa puasa menurut pakem mereka, yang menyimpang dari akidah Islam. Untuk mencitrakan sebagai ajaran Islami, peritualan terhadap thoghut dan jibt disertai dengan pelantunan lafadz ayat-ayat Al Qur`an. Perbuatan seperti ini sudah terjadi sejak sebelum masa kenabian/kerasulan Rasulullah ص. Misalnya, dapat kita temukan firman Nya,

Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi bagian dari Al Kitab ? Mereka percaya kepada jibt dan thoghut, dan mengatakan kepada orang-orang kafir (musyrik Mekah), bahwa mereka itu lebih benar jalannya dari orang-orang yang beriman. [2]

Dalam ayat ini terdapat lafadz Al Kitab, maksudnya adalah Kitab Suci yang diwahyukan sebelum masa kenabian/kerasulan Rasulullah ص; yaitu Taurat, Zabur dan Injil yang telah diubah-ubah isinya oleh para rahib mereka; karena dalam kitab-kitab itu diwahyukan ketauhidan kepada Allah س bukan kepada tuhan yang tiga. Melalui ayat ini disiratkan kebenaran Kitab-kitab Taurat, Zabur dan Injil yang dihadirkan mendapat sangkalan kaum muslim karena telah diubah-ubah. Bahkan, para Ahli Kitab menyatakan lebih baik dari kaum kafir karena meyakini thoghut dan jibt. Ini bermakna, mereka merasa memiliki nilai lebih, karena percaya kepada thoghut dan jibt. Terhadap golongan ini, Allah س berfirman,

Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu ? Mereka hendak berhakim kepada thoghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thoghut itu. Dan setan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya.[3]

Melalui ayat ini dicatatkan sejarah, mereka yang mengaku dirinya beriman kepada Kitab-kitab Suci Taurat, Zabur, dan Injil tetapi mempertanyakan kandungan Al Qur`an. Seiring dengan itu, mereka masih minta keadilan kepada thoghut. Dalam Kitab Tafsir[4] dijelaskan, mereka yang mengaku beriman itu, adalah golongan Yahudi dan munafik yang selalu memusuhi Rasulullah ص dan kaum Muslimin. Salah satu tokoh yang menjadi tempat minta keadilan adalah Ka`ab Al Asyraf dan Abu Barzah Al Aslami لَعْنَتُ الله (semoga Allah س melaknatinya) yaitu tukang tenung yang hidup pada masa Rasulullah ص. Dalam Kitab Tafsir ini juga diterangkan, mereka yang termasuk thoghut adalah orang yang menetapkan hukum secara curang menurut hawa nafsu dan mempercayakan nasibnya kepada berhala-berhala yang dibuat untuk sembahan. Dari penjelasan ini, dapat kita pahami, mereka yang berdukun dan membuat sesajen, sesungguhnya telah bertuhan kepada thoghut dan jibt.

Dewasa ini, pengabdian kepada thoghut dan jibt bukan saja dilakukan oleh kaum non-muslim dan mereka yang mengaku Islam tanpa menunaikan rukun-rukunnya; tetapi juga dilakukan oleh kaum muslim yang secara lahiriah melakukan aktifitas keislaman. Bahkan mungkin, ada diantara mereka sudah menunaikan Ibadah Haji. Sadar atau tidak, pemujaan ini merupakan perwujudan jalan mensekutukan Allah س, karena Dia adalah Dzat Yang Maha Esa. Mereka yang mengesakan Allah س dan sekaligus mengabdikan diri pada makhluk ghaib, thoghut dan jibt seharusnya berkaca kepada salah satu firman Nya,

(Allah berfirman): “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kedzaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk”.[5]

Firman ini diwahyukan kepada Nabi Ibrahim ع ketika beliau menghadapi kaumnya yang masih dalam masa penyebaran dan penegakan Islam. Dalam ayat ini tersurat makna, mereka yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kedzaliman (syirik) adalah golongan yang mendapat keamanan dan mendapat petunjuk.; secara tersirat, ayat memberi pesan kepada manusia sampai Akhir Zaman. Isi pesannya, “mereka yang muslim tetapi juga mengabdikan diri pada thoghut dan jibt, niscaya termasuk dalam golongan yang tidak aman dari siksa Nya dan mereka tidak mendapat petunjuk Nya”. Wallah A`lam.

Kita bisa belajar dari pengalaman diri sendiri. Walaupun mendapat dakwah yang sama dari para Nabi/Rasul Nya yang berlangsung pada masa kenabian/kerasulan kemudian diteruskan secara estafet oleh para Ulama, tetapi peenyerapan dan pentaatannya bisa saja tidak sama. Karena semua itu dibawah Kuasa Allah س, sebagaimana difirmankan,

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thoghut itu”, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).[6]

Melalui ayat ini ditegaskan, Allah س saja yang dapat memberikan hidayah kepada manusia sehingga mereka beriman; dan Dia saja yang menyesatkan manusia sehingga termasuk dalam golongan kafir. Dalam ayat ini difirmankan, maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul); Insya Allah maksudnya, hendaknya manusia belajar dari sejarah pendakwahan para Nabi/Rasul Nya, untuk memperoleh pembelajaran mengenai sesuatu kaum yang diadzab karena kekafirannya”; setelah berhenti sejenak, Banas bersiap menutup perbincangan. Sebagai pengantar penutup, dikatakan, “Melalui perbincangan singkat ini, dapat disimpulkan, dengan merujuk ayat-ayat Al Quran dapat dipetik penegasan, barangsiapa yang percaya kepada hal ghaib selain Dzat Allah س, sesungguhnya mereka mempercayai dan mempertuhankan thoghut dan jibt. Dalam bahasa populer, thoghut dan jibt adalah setan dan orang-orang yang berperilaku dengan mengikuti jalan setan”. Seusai berkata begitu, para jamaah bergegas pulang dengan perasaan puas karena telah mendapatkan pencerahan ini, walau sedikit.

Catatan Kaki:
[1] Difirmankan dalam Al A`raf (7):172.
[2] QS An Nisa` (4):51.
[3] QS An Nisa` (4):60.
[4] Kitab Al Qur`an dan Tafsirnya; Kementerian Agama RI, Penerbit Universitas Islam Indonesia Yogyakarta, 1995.
[5] QS Al An`am (6):82.
[6] QS An Nahl (16):36.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>