Kuterima Nikahnya

tulisan yang berwarna biru, dapat di klik untuk mendapatkan rujukan.
a

intro: Acara Akad Nikah Witney dengan Nurqom anak tiri Man telah berlangsung; Banas memang tidak diminta menjadi Saksi. Sehari kemudian di Sabtu sore, Man dan isterinya berilaturrahmi ke kediaman Banas, yang diterima dengan penuh keakraban. Usai berkabar ini itu, Man menanyakan: “Pak Ustadz”; begitu ia memanggil Banas, yang dipanggil tersenyum saja. Lalu dikatakan: “Dalam acara Akad Nikah kemarin, pengantin lelaki mengatakan Kabul dengan kalimat, Saya terima nikahnya Nurqom dengan maskawin, … dst. Yang ingin saya tahu, kenapa kalimat Kabul kok seperti itu”.

Akad Nikah

tulisan yang berwarna biru, dapat di klik untuk mendapatkan rujukan.
a

intro: Man dan isterinya harus berpacu dengan waktu, agar perut anaknya tidak semakin membuncit. Sesampai di rumah dari kantor, Man langsung mengajak Min ke kediaman Banas. Di sana, Banas menyambut dengan nuansa persahabatan. Setelah duduk berhadapan, Man dan isterinya mengabarkan, ayah kandung anak perempuannya telah membuat Surat Penyerahan Perwalian kepada Petugas KUA sebagai Wali Hakim untuk menikahkan Eyes, anak perempuannya. Lalu ditanyakan, bagaimana proses selanjutnya. Banas mengatakan: “Dalam pernikahan, dilakukan Akad Nikah; yaitu pernyataan permufakatan kesepakatan terikat antara calon pasangan suami terhadap calon isteri”. Pembicaraannya terhenti sejenak, seiring dengan masuknya pramuwisma menyajikan eh teh dan sepiring goreng pisang.

Lalu dikatakan: “Tanda tercapainya kesepakatan Akad Nikah adalah melalui upacara Ijab Kabul; dari sisi kosa kata, Ijab, artinya ucapan penyerahan dari Wali Nikah calon isteri kepada calon suami; dan Kabul bermakna ucapan penerimaan penyerahan yang dinyatakan oleh calon suami”.