Ingin Menghuni Surga?

Pendahuluan:
Minumnya Besi Mendidih
a
Banas dan Akung berkabar-kabar Islami ketika bertemu kembali; kemudian keduanya duduk di taman. Akung berkata lirih: “Ustadz; saya merenungi perjalanan hidup ini. Terputar kembali film yang telah lama terbungkus hiruk pikuk panggung kehidupan. Muncul pertanyaan besar; akankah saya kelak bisa menjadi penghuni surga Nya?”. Pertanyaan ini seolah terbawa angin yang bertiup lembut; mencari dahan tambatan.
a
Kemudian Akung meneruskan: “Terlebih lagi ketika kemarin malam saya membaca Surah Al Kahfi; lalu saya periksa terjemahannya. Sampai sekarang masih terbayang dahsyatnya siksa Allah س yang difirmankan pada ayat 29. Bila membaca berulang kali, bulu kuduk serasa duri, tajam dan menghunjam ke ulu hati. Jadi, bagaimana harus berhati-hati menyibak godaan dan ujian berkehidupan?”

Begini Memahami Islam

tulisan berwarna biru, dapat di klik untuk rujukan.

Muqaddimah
a
Usai berkabar-kabar Islami setelah bertemu kembali, Akung berkata: “Ustadz; ada yang bertanya tentang Agama Islam; bagaimana menjawabnya?” Mendengar pertanyaan ini, diajaknya Akung untuk duduk guna menemukan jawabannya. Inilah kisah perbincangan mereka.
a
Bagian 1. Pola Penganutan Agama
a
Orangtua, merupakan sosok yang sangat berperan besar dalam menorehkan modal dasar bagi anak dalam menjalani kehidupan. Begitu juga dalam keberagamaan; keduanya sangat menentukan anak saat masih belia untuk memilih diantara agama yang diakui negara. Selain itu, orangtua sering menentukan agama yang harus dianut; sehingga muncul istilah mengikuti agama orangtua. Peristiwa penganutan sesuatu agama kepada agama orangtua, banyak difirmankan dalam Al Qur`an; misalnya dalam QS Asyu`ara` (26):74; artinya, Mereka menjawab: “(Bukan karena itu) Sebenarnya Kami mendapati nenek moyang kami berbuat demikian”. Ayat ini mengisahkan jawaban kaum yang didakwahi Nabi Ibrahim ع agar tidak menyembah patung/berhala. Tetapi mereka tidak mempercayai dakwah beliau; keyakinan mereka, mengikuti ajaran nenek moyangnya. Kita juga dapat temukan dari QS Al Maidah (5):104; artinya, Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul”. Mereka menjawab: “Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati dari bapak-bapak kami, yaitu yang mereka kerjakan”. (sampai akhir ayat).