Persaudaraan Sesama Muslim

Intro: Silaturrakhmi
a
Hingar bingar ceria masih menyelimuti nuansa keseharian pasca sukses mudik lebaran; hari ini Akung memacu motornya untuk berlebaran, walau masa Puasa Syawal sudah terlewati. Setelah berkabar-kabar Islami sesaat sesudah bertemu, Akung menjawab pertanyaan kesibukan yang datang menghadang. Menyiapkan acara reuni di kampus; itu yang dikatakan, walau termangu. “Ustadz”; begitu ia meneruskan pembicaraan. Lalu dikatakan: “Kami akan membuat spanduk ahlan wa sahlan; tetapi diantara kami ada selisih pendapat; menggunakan sebutan silaturrakhim atau silaturrakhmi”.
a
Dengan senyumannya yang khas, Banas menjelaskan: “Mari menelisik dari perbendaharaan kata; dua istilah itu berbeda satu sama lain tetapi juga memiliki persamaan. Dari rangkaian kata-katanya, terdapat kata dasar yang sama, yaitu [وَصَلَ]; lalu dibentuk menjadi lafadz [صِلَة]; bisa dibaca silat, silah, artinya hubungan dan atau tali; pemaknaan ini menggambarkan hubungan antar orang. Tetapi tidak bisa diucapkan sendirian. Ketika Akung bertanya maksudnya, Banas menjelaskan, kata silat atau silah harus dirangkai dengan lafadz lain. Dalam perbendaharan kata, sebutan silat selalu dirangkai dengan lafadz rakhim dan rakhmi. Kedua lafadz ini bisa diurai menjadi begini.