Setan, Musuh Yang Nyata

[Tausiah Jum`at, 03/07/2015]
tulisan yang berwarna biru, dapat di klik untuk mendapatkan rujukan.
a
Sesaat setelah bertemu dan berkabar-kabar Islami di serambi masjid, Akung bertanya: “Ustadz; dalam Al Qur`an difirmankan, setan adalah musuh yang nyata bagi manusia. Bagaimana memahaminya?” Mendengar pertanyaan ini, Banas mengajak menelusuri ayat-ayat Al Qur`an dan periwayatan dalam Hadits. Inilah kisah mereka.
a
1. Penyebutan Setan
a
Banas minta Akung mengingat kembali kisah penyebutan setan; ia menjawab: “Allah س menamai iblis, yaitu makhluk yang membangkang perintah Nya ketika berada di surga; [difirmankan dalam QS Al Baqarah (2):34]. Lalu difirmankan dalam QS Al Kahfi (18):50, bahwa iblis adalah golongan dari jin. Lalu difirmankan perkataan jin dalam QS Jin (72):11, diantara mereka ada yang beriman dan ada yang kafir. Masing-masing menempuh jalan yang berbeda-beda.

Kitabullah

[Tausiah Jum`at, 15/05/2015]
a
Usai berkabar-kabar Islami, Akung bertanya: “Ustadz; apakah ada keterangan tarikh tentang pencatatan wahyu-wahyu Allah س ?”. Atas pertanyaan ini, Banas mengajak duduk untuk membincangkan; inilah kisah mereka.
a
Kemudian Banas mengawali penjelasannya, dengan mengatakan: “Sebagai salah satu fondasi keimanan, mari bertumpu pada QS An Nisa` (4):163; artinya:
a
Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya, dan Kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Ya`qub dan anak cucunya, Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulai-man. Dan Kami berikan Zabur kepada Daud.
a
Melalui ayat ini, Allah س menegaskan, diturunkannya wahyu kepada Rasulullah ص adalah seperti halnya diwahyukannya kepada para Nabi/Rasul sebelumnya. Lalu secara khusus, ayat ini menerangkan diberikannya Zabur kepada Daud. Sesungguhnya, Allah س mengutus Nabi/Rasul dan memberi wahyu adalah untuk memberi penyelesaian atas perselisihan diantara manusia, sesuai masa kenabiannya. Seluruh Nabi/Rasul selalu mencatat wahyu yang diterimanya. Pencatatannya menggunakan batu, kulit hewan, pelepah pohon, tulang hewan dan lainnya. Catatan tarikh atas sistem pencatatan ini, sekaligus menjadi petunjuk kemajuan peradaban Islam dalam perkara tulis menulis. Tempat pencatatan itu disebut sukhuf; artinya lembaran, walau wujud fisiknya tidak seperti lembaran seperti yang kita bayangkan pada masa kini. Setiap turun wahyu Nya, para Nabi/Rasul itu mencatat dalam lembaran. Dalam catatan tarikh, ada 4 Nabi/Rasul membukukan sukhuf lalu disebut mushkhaf; misalnya mushkhaf Al Qur`an.
a