Penggolongan Manusia di Hari Kiamat

Pendahuluan: GOLPUT
a
Keduanya langsung berkabar-kabar Islami ketika bertemu di pelataran masjid; kemudian Banas mengajak duduk di taman yang banyak ditumbuhi pepohonan. Disana-sini terdengar burung Ketilang bersahutan, seolah ikut meramaikan perjumpaan itu.
a
Akung memulai percakapan dengan bertanya: “Ustadz; pada setiap pemilu, selalu diserukan agar masyarakat tidak golput. Bagaimana menurut syari`?”
a
Setelah mencermati pertanyaan itu, Banas mengemukakan: “Yah, golput singkatan dari golongan putih; artinya mereka tidak menggunakan hak politiknya dalam pemilu. Karena pemilu bukan wajib diikuti tetapi ada hak untuk mengikuti, sehingga menimbulkan silang pendapat. Bahkan ada fatwa kharram terhadap perilaku golput. Allahu a`lam”.
a
Lalu dikatakan: “Golput atau non-golput dalam pemilu adalah ranahnya dunia politik. Sebagai umat Islam, sebaiknya menggunakan hak pilih guna ikut menentukan pemimpinnya. Walau ada kalanya, pemimpin yang dipilih ternyata korupsi; sehingga semuanya terpulang pada keputusan masing-masing”.
a
Lalu dikatakan: “Bila membicarakan golput, mari kita kaitkan dengan Al Qur`an. Meski tidak secara konkrit disebut sebagai golput, tetapi ada yang bisa disebut dengan golongan putih”. Setelah jedah, lalu perbincangan diteruskan.
a
Kemudian dikatakan: “Penggolongan menjadi golput atau non-golput sudah menjadi skenario Allah س ketika mencipta dan menata manusia dalam berkehidupan. Misalnya, bisa dicermati QS Al Kahfi (18):29; sepenggal dari ayat ini menegaskan, Dan katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barang siapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir”. Melalui ayat ini, Allah س memberi dua pilihan; mereka bisa beriman dan bisa juga kafir. Dalam perjalanan waktu merengkuh kehidupan, niscaya akan ada golongan beriman yang dicemari oleh kekafiran. Maksudnya, secara lisan sudah menyatakan beriman dan sudah menunaikan amalan keislaman, tetapi masih menjalankan amalan yang menandai kemusyrikan. Golongan ini disebut dengan munafik. Karenanya, Allah س memberi pengingatan melalui QS Al Baqarah (2):42, artinya Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang batil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui”. Peringatan ini ditujukan kepada mereka yang menunaikan amalan hak tetapi juga menjalankan amalan bathil; karenanya disebut mencampuradukkan amalan. Dalam ayat ini ditegaskan, mereka mengetahui yang hak, tetapi disembunyikan; seolah-olah tidak tahu amalan yang hak. Mungkin saja mereka melaksanakan yang bathil itu karena dorongan tradisi atau ingin melestarikan tradisi.
a
Kemudian dikatakan: “Insya Allah, dalam Al Qur`an dapat dijumpai ayat-ayat yang menerangkan adanya golput dan non-golput. Baik ketika merengkuh kehidupan duniawi atau kelak di Hari Kiamat”. Agak terperanjat Akung mendengar ini; tetapi dicermati apa yang didengarnya. Usai jedah, lalu dibicarakan perkara itu. Inilah kisah mereka.

Ingin Menghuni Surga?

Pendahuluan:
Minumnya Besi Mendidih
a
Banas dan Akung berkabar-kabar Islami ketika bertemu kembali; kemudian keduanya duduk di taman. Akung berkata lirih: “Ustadz; saya merenungi perjalanan hidup ini. Terputar kembali film yang telah lama terbungkus hiruk pikuk panggung kehidupan. Muncul pertanyaan besar; akankah saya kelak bisa menjadi penghuni surga Nya?”. Pertanyaan ini seolah terbawa angin yang bertiup lembut; mencari dahan tambatan.
a
Kemudian Akung meneruskan: “Terlebih lagi ketika kemarin malam saya membaca Surah Al Kahfi; lalu saya periksa terjemahannya. Sampai sekarang masih terbayang dahsyatnya siksa Allah س yang difirmankan pada ayat 29. Bila membaca berulang kali, bulu kuduk serasa duri, tajam dan menghunjam ke ulu hati. Jadi, bagaimana harus berhati-hati menyibak godaan dan ujian berkehidupan?”