Wali Nikah

tulisan yang berwarna biru, dapat di klik untuk mendapatkan rujukan.
a

intro: Sepulang dari kantor, Man dan isterinya ke kediaman Banas; sesampai disana, keduanya diajak ke ruang dalam. Usai berbicara sana-sini, Man menyampaikan maksud kedatangannya: “Pak; saya ingin berkonsultasi mengenai rencana pernikahan anak saya”; berhenti sejenak, Man nampak termangu, sepertinya mengatur nafas untuk memilih kata-kata; lalu katanya: “Begini, sebenarnya anak perempuan saya ini, adalah anak tiri. Persoalannya, siapa yang berhak menjadi Wali Nikah?; dalam perkara ini, antara isteri saya dengan mantan suaminya tidak seomongan lagi”.

Man mengisahkan: “Ketika saya menikahi janda kembang ini”; begitu lanjut kisah Man sambil memandang isterinya; “Dia tidak cerita kalau punya satu anak perempuan, yang ikut neneknya. Setelah neneknya wafat, anak itu minta sekolah di kota; barulah isteriku bicara soal anak itu. Saya bisa menerima kehadirannya, karena saya sudah cinta habis dengan emaknya”. Banas merespon: “Itu kan bagus; artinya kamu bisa tetap rukun sekalipun baru tahu, isterimu bawa anak. Perkara Wali Nikah, kita bisa mencermati salah satu kisah dalam Al Qur`an yang Insya Allah dapat digunakan sebagai penanda perlunya Wali Nikah.