DUA dari Tujuh

Muqaddimah
a
Dalam QS Al Kautsar ayat 1 difirmankan, Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Dengan merujuk ayat ini, marilah kita selalu mengucapkan syukur ke hadirat Allah س atas seluruh karunia dan nikmat Nya yang tak terbatas. Lalu mari bershalawat untuk Rasulullah ص, Nabi junjungan umat; dengan harapan semoga dapat meraih syafaat Beliau, kelak di Hari Akhir; seperti yang Beliau janjikan. Selanjutnya, mari kita lanjutkan membaca buku ini.
a
Dalam tausiah ini kami berbagi pesan, setiap Hari Senin dan Kamis Allah س mengangkat amalan manusia dan memberi pengampunan bagi kaum mukmin, kecuali mereka yang bersitegang. Rasulullah ص memanfaatkannya untuk berpuasa sunnah; Beliau bersabda, aku lebih senang dalam keadaan berpuasa saat amalanku dihadapkan kepada Nya. Ikutilah tuntunan puasa Beliau.
a
Kitab Al Qur`an, Hadits dan Fiqh menjadi rujukan penyajian tausiah ini. Bila anda tidak sepakat dengan pesan yang kami sampaikan, patut disayangkan. Tetapi semua itu merupakan hak anda untuk memutuskan. Karena penyajian tausiah ini untuk mencari ridho Allah س dan guna ikut menyemarakkan dunia dakwah Hari Jumat bagi sesama. Setidaknya, kami melaksanakan salah satu tuntunan Rasulullah ص, sampaikanlah dariku walau satu ayat; begitu Beliau bersabda.
a
Bila anda sudah memahami buku ini, tak ada salahnya berbagi ilmu kepada karib dan kerabat; agar satu buku bisa untuk bersama. Semoga anda termasuk orang yang beramal saleh dan dapat memberi manfaat dunia dan akhirat.

Setan, Membaurkan Iman

[Tausiah Jum`at, 17/07/2015]
tulisan yang berwarna biru, dapat di klik untuk mendapatkan rujukan.
a
Usai berkabar-kabar Islami saat bertemu di taman masjid, Banas mengajak membincangkan upaya setan membaurkan iman. Akung bertanya: “Kenapa Ustadz memakai istilah ini?” Banas tersenyum lalu mengajak duduk berbincang. Inilah kisah mereka.
a
1. Kenapa Membaurkan ?
a
Banas mengemukakan, istilah ini sekedar penggambaran salah satu keberhasilan setan membujuk kaum muslim membaurkan keimanan. Lalu Akung menyela: “Apakah maksudnya, suami isteri berbeda agama?” Dijelaskan: “Bukan. Terjadinya pembauran iman, bila mereka masih menyatakan Islam, tetapi dibarengi dengan kepercayaan selain kepada Nya. Alasannya, misalnya untuk pelestarian tradisi. Secara syari` amalan yang ditunaikan itu salah; karena rujukan Islam adalah Al Qur`an, Hadits dan Ulil Amri [difirmankan dalam QS An Nisa` (4):59]. Bila terjadi perselisihan, harus dikembalikan pada Al Qur`an dan Hadits. Syari` tidak merujuk kepada tradisi”.