Setan, Meruntuhkan Iman

[Tausiah Jum`at, 24/07/2015]
tulisan yang berwarna biru, dapat di klik untuk mendapatkan rujukan.
a
Banas mengajak membincangkan upaya setan meruntuhkan iman, usai berkabar-kabar Islami sesaat sesudah bertemu di serambi masjid. Tetapi Akung minta penjelasan kenapa memakai istilah ini. Banas menjawab: “Dalam Al Qur`an, setidaknya terdapat 4 ayat yang didalamnya terdapat lafadz runtuh. Semuanya menggambarkan keadaan hancur berantakan atau porak peranda. Tinggal bekas-bekas yang tidak mungkin untuk dikembalikan seperti semula. Dalam tausiah ini, kita bincangkan upaya setan meruntuhkan iman. Sebagai salah satu penegas, bila iman sudah runtuh, niscaya Allah س tidak akan mengembalikan keimanan itu; kecuali Dia berkehendak lain”. Kemudian Banas mengajak duduk berbincang; inilah kisah mereka.

Al Qur`an dan Hadits

[Tausiah Jum`at, 29/05/2015]
tulisan yang berwarna biru, dapat di klik untuk mendapatkan rujukan.
a
Begitu bertemu Banas, keduanya langsung berkabar-kabar Islami; lalu Akung bertanya: “Ustadz; dalam suatu kutbah Jum`at, Khotib berkutbah, menurut Imam Fulan, seorang Tasawuf dari Negeri Arab, bersyukur adalah begini, begini dan begitu. Pertanyaan saya, apakah pendapat filosof itu bisa dijadikan pedoman peribadahan?”. Muncul rasa bangga di hati Banas mendengar ini; menurutnya, Akung sudah mulai memahami kaidah keislaman. Lalu keduanya berbincang; inilah kisah mereka.
a
Banas mengatakan: “Untuk menjawabnya, kita perlu menelusuri rujukan peribadahan. Selain itu, kita yakini lebih dahulu, ibadah adalah segala aktifitas kehidupan yang dilandasi iman, dilaksanakan secara imanan wa tisaban. Misalnya, tidur, mandi, makan, minum, shalat, bekerja, memasak dan lainnya bisa dianggap ibadah, kalau niatnya lillahi ta`ala dan dilaksanakan dengan dasar iman dan keikhlasan”. Akung menyela: “Ustadz; apakah ada shalat yang bukan ibadah?” Banas menjelaskan: “Untuk menjawab pertanyaanmu, kita bisa mencermati QS At Taubah (9):54; artinya: