Mengenal Bekal Bawaan

tulisan yang berwarna biru, dapat di klik untuk mendapatkan rujukan.
a
Muqaddimah
a
Pagi hari libur ini berhiaskan sinar matahari dari balik mendung pagi; burung-burung gereja bercengkerama di halaman belakang rumah, memperebutkan karunia Nya. Sesaat, terdengar uluk salam seolah memecah keceriaan burung-burung itu; lalu pramu rumah bergegas menyambut. Tamu itupun segera disilahkan duduk di teras belakang. Tak perlu berlama-lama, Banas segera menemuinya. Kini, keduanya terlihat berbincang diiringkan secangkir kopi dan goreng pisang. Inilah kisah perbincangan mereka.
a
Usai disilahkan menyeruput kopi dan mencicip goreng pisang, Banas bertanya: “Akung bagaimana kita memahami bekal bawaan?”; yang diajak bicara agak kaget mendengarnya. Ia malahan bertanya: “Ustadz; bekal berkehidupan sudah kita bincangkan bulan lalu. Ada ini, ada itu; dan kita harus menerima semua karunia Nya. Masih perlukah penjelasan untuk memahami?; bukankah sudah jelas”.
a
Dengan senyumannya yang khas, Banas menanyakan kapan Akung dilahirkan. Walau tidak mengerti maksudnya, dijawabnya: ”Dua puluh lima tahun yang lalu”; ia menambahkan nama bulan dan tanggal hari kelahirannya. Banas meneruskan: “Bila sejak itu kamu tetap berada dalam keislaman, maka sesungguhnya sudah dua puluh lima tahun kamu beramal karena memahami bekal Nya; secara sadar atau tidak. Bekal itu telah kamu sandang, setelah lebih dari sembilan bulan berdiam dalam rahim ibumu. Menunggu proses penyempurnaan janin dan menerima karunia Illahi Robbi”; barulah Akung menyadari maksud Banas. Kemudian perbincangan dilanjutkan.
a
Bagian 1. Bekal Untuk Janin
a
Bekal yang kita bincangkan ini, tak terlepas dari tausiah bulan lalu; yang memberi gambaran atas keadaan sebelum dilahirkan ke dunia yang penuh gejolak ini. Insya Allah kita dahulu menghuni tempat yang kokoh atau disebut rahim; sebagaimana difirmankan dalam QS Al Mu`minun (23):13.

Dilahirkan Kosongan ?

tulisan yang berwarna biru, dapat di klik untuk mendapatkan rujukan.
a
Muqaddimah
a
Saat bersilaturrahmi kembali, keduanya langsung berkabar-kabar Islami; lalu Akung ditanya: “Kemarin, sewaktu kita bezuk di Rumah Bersalin, terlihat di kaca pembatas dengan bayi, beberapa kali kamu menatap bayi lalu menatapku. Apa yang kamu pikirkan?” Dengan tersipu-sipu dijawabnya: “Masya Allah; sesungguhnya saya membayangkan. Dari bayi yang dilahirkan kosongan, lalu pada masa dewasa bisa menjadi guru, dosen, menteri, presiden dan menjadi tokoh lainnya. Walau ada beberapa diantara manusia tidak berhasil meraih cita-citanya. Bagaimana sesungguhnya Allah س membentuk manusia menjadi makhluk yang sempurna?”. Mendengar pertanyaan ini, Banas mengajak Akung membahas manusia ciptaan Nya. Inilah kisah perbincangan mereka.
a
1.aTiga Manusia Istimewa
a
Dengan senyumannya yang khas, Banas mengatakan: “Ada yang perlu diluruskan lebih dahulu tentang bayi yang dilahirkan; betulkah ia dilahirkan kosongan? Mari kita telusuri proses penciptaan manusia, yang diawali dengan penciptaan Adam ع. Terlebih dahulu kita merujuk QS Al Hijr (15):28; artinya:
a
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk.
a
Firman ini mengisahkan penciptaan Adam ع yang dicipta dari tanah liat kering yang diberi bentuk. Lafadz Aku dalam ayat ini merupakan kata ganti jatidiri Nya; sebagai pertanda, bahwa Allah س berkehendak menciptakan seorang manusia secara langsung. Insya Allah, penciptaan Adam ع sebagai manusia pertama, bersifat istimewa; yaitu Allah س menciptanya tanpa menugaskan malaikat Nya. [1]
a