Lauh Mahfudz

[Tausiah Jum`at, 13/02/2015]
tulisan berwarna biru, dapat di klik untuk rujukan

a
Pembelajaran mengenai Kursi Nya beberapa hari yang lalu, telah menimbulkan kekaguman Akung terhadap berbagai qiyas yang difirmankan dalam Al Qur`an. Ia menyimpulkan, lafadz-lafadz itu tidak perlu ditafsirkan dan manusia tidak dituntut untuk membuat tafsirnya. Dalam berbagai Hadits, Rasulullah ص juga menggunakan lafadz mutasyabihat tanpa memberi tafsirnya. Tetapi dari berbagai Kitab Tafsir, ada kalanya disertakan penafsiran atas lafadz-lafadz semisal itu. Namun dengan diterimanya nasehat Banas, telah menjadikan dirinya untuk sangat berhati-hati dan tidak gegabah menyampaikan kepada orang lain, walau tafsir itu disusun oleh ulama terkemuka. Khawatir ikut terjerembab ke gelimang dosa. Siang ini, ia bertemu Banas dan usai saling berkabar Islami, Akung menanyakan tentang Lauh Mahfudz. Ia juga menanyakan, bolehkah jika Lauh Mahfudz disebut dengan Super Grand Design seluruh makhluk Nya?

Begini Memahami Islam

tulisan berwarna biru, dapat di klik untuk rujukan.

Muqaddimah
a
Usai berkabar-kabar Islami setelah bertemu kembali, Akung berkata: “Ustadz; ada yang bertanya tentang Agama Islam; bagaimana menjawabnya?” Mendengar pertanyaan ini, diajaknya Akung untuk duduk guna menemukan jawabannya. Inilah kisah perbincangan mereka.
a
Bagian 1. Pola Penganutan Agama
a
Orangtua, merupakan sosok yang sangat berperan besar dalam menorehkan modal dasar bagi anak dalam menjalani kehidupan. Begitu juga dalam keberagamaan; keduanya sangat menentukan anak saat masih belia untuk memilih diantara agama yang diakui negara. Selain itu, orangtua sering menentukan agama yang harus dianut; sehingga muncul istilah mengikuti agama orangtua. Peristiwa penganutan sesuatu agama kepada agama orangtua, banyak difirmankan dalam Al Qur`an; misalnya dalam QS Asyu`ara` (26):74; artinya, Mereka menjawab: “(Bukan karena itu) Sebenarnya Kami mendapati nenek moyang kami berbuat demikian”. Ayat ini mengisahkan jawaban kaum yang didakwahi Nabi Ibrahim ع agar tidak menyembah patung/berhala. Tetapi mereka tidak mempercayai dakwah beliau; keyakinan mereka, mengikuti ajaran nenek moyangnya. Kita juga dapat temukan dari QS Al Maidah (5):104; artinya, Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul”. Mereka menjawab: “Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati dari bapak-bapak kami, yaitu yang mereka kerjakan”. (sampai akhir ayat).