Bayi Tak Berayah

Pendahuluan
a
Sudah banyak orang mengemukakan, hidup di dunia ibarat mampir ngombé; yaitu mampir minum untuk memuaskan dahaga dalam perjalanan panjang menuju Hari Kiamat. Pelukisan ini selayaknya mendapat perhatian semua kaum, karena harus memilah dan memilih, minuman apa yang akan disruput. Dari sinilah sebenarnya letak persoalan hidup kita, sepanjang hayat masih melekat dalam raga. Bayangkan saja, dakwah Islam sudah digencarkan melalui berbagai metode dan media massa; tetapi serangan informasi dan video porno begitu mudah diakses dimanapun, kapanpun dan oleh siapapun. Mungkin dari yang usia Sekolah Dasar, remaja, sampai kakek nenek. Salah satu dampak negatif dari kondisi ini adalah, ada sejumlah remaja perempuan yang sering khilaf atau mengkhilafkan diri; entah apa istilahnya, tidak menjaga keperawanan. Bila terjadi kehamilan tanpa ikatan pernikahan, mereka menyebut melahirkan anak haram jadah. Penyebutan ini berkonotasi penuh dosa; padahal si anak dipastikan terlahir dalam keadaan fitrah, putih bersih, tidak ternoda dosa walau setitik sekalipun. Marilah merunduk sejenak, betulkah bayi tak berdosa ini harus menanggung predikat penuh dosa sebagai anak haram jadah?
a

Wali Nikah

tulisan yang berwarna biru, dapat di klik untuk mendapatkan rujukan.
a

intro: Sepulang dari kantor, Man dan isterinya ke kediaman Banas; sesampai disana, keduanya diajak ke ruang dalam. Usai berbicara sana-sini, Man menyampaikan maksud kedatangannya: “Pak; saya ingin berkonsultasi mengenai rencana pernikahan anak saya”; berhenti sejenak, Man nampak termangu, sepertinya mengatur nafas untuk memilih kata-kata; lalu katanya: “Begini, sebenarnya anak perempuan saya ini, adalah anak tiri. Persoalannya, siapa yang berhak menjadi Wali Nikah?; dalam perkara ini, antara isteri saya dengan mantan suaminya tidak seomongan lagi”.

Man mengisahkan: “Ketika saya menikahi janda kembang ini”; begitu lanjut kisah Man sambil memandang isterinya; “Dia tidak cerita kalau punya satu anak perempuan, yang ikut neneknya. Setelah neneknya wafat, anak itu minta sekolah di kota; barulah isteriku bicara soal anak itu. Saya bisa menerima kehadirannya, karena saya sudah cinta habis dengan emaknya”. Banas merespon: “Itu kan bagus; artinya kamu bisa tetap rukun sekalipun baru tahu, isterimu bawa anak. Perkara Wali Nikah, kita bisa mencermati salah satu kisah dalam Al Qur`an yang Insya Allah dapat digunakan sebagai penanda perlunya Wali Nikah.