Sedekah, Selain 8 Golongan

Pendahuluan:
Haruskah Delapan Golongan?
a
Ketika bertemu kembali, keduanya langsung berkabar-kabar Islami; lalu Banas mengajak duduk di teras rumah. “Akung; ada perkara apa yang belum jelas terkait dengan delapan golongan mustahik?”; begitu Banas memulai perbincangan. Dengan tersipu-sipu Akung merespon: “Ya Ustadz; begini. Apakah setiap pembelanjaan di jalan Allah harus diperuntukkan bagi delapan golongan itu?; bagaimana jika ingin bersedekah kepada orang tua?”.
a
Banas mengemukakan: “Bila merujuk QS At Taubah (9):60, lafadz [الصَّدَقَاتَ] diterjemahkan zakat-zakat; Insya Allah sebagai isyarat, Zakat termasuk dari Sedekah. Dalam Kitab Fiqh dijelaskan, penerimanya disebut delapan golongan mustahik. Sedekah adalah bentuk umum dari pembelanjaan di jalan Allah; ada Sedekah yang difardhukan bila memenuhi nisab, disebut Zakat Mal. Sedekah lainnya, difardhukan tanpa harus memenuhi nisab; yaitu Zakat Fitrah. Bagaimana penerima Sedekah lainnya?; mari kita bincangkan”. Inilah kisah mereka.

HARTA di Akhir Jaman

Pendahuluan:
Hartaku, 100% Milikku?
a
Keduanya berkabar-kabar Islami ketika bertemu ketika akan shalat Dhuhur. Saat usai, Akung berkisah, tadi malam, sewaktu ingin menyaksikan tausiah larut malam hanya sempat mendengar ucapan penutup. Pendakwah menyampaikan, “Patutkah kita berkata, hartaku seratus persen milikku?”. Lalu Akung menanyakan, kenapa begitu?
a
Banas menjelaskan: “Sebenarnya terlalu sulit untuk menerka sesuatu tausiah. Meski begitu, setidaknya bisa dikira perkara yang disampaikan, yaitu berkaitan dengan harta. Perkara ini, misalnya dapat dikaitkan dengan QS Ali Imran (3):92; difirmankan, Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya”. Lalu Banas mengajak berbincang lebih mendalam. Inilah kisah mereka.