Setan Dibelenggu Di Bulan Ramadhan?

Intro: Setan Dibelenggu ?
a
Ketika bertemu kembali di serambi masjid usai Shalat Dhuhur, Akung menyapa dengan ucapan salam Islami; walau berjalan di belakang. Setengah kaget, Banas menjawab salam itu, lalu keduanya berjabat tangan. Kemudian, keduanya duduk di serambi; seperti sudah diperjanjikan, Akung akan menyoal tentang Bulan Ramadhan.
a
“Ustadz; banyak didakwahkan, bila Bulan Ramadhan tiba, maka setan-setan dibelenggu. Bagaimana memahaminya?; di internet dapat dijumpai berita seperti ini”. Begitu Akung memulai perbincangan, sambil menyerahkan kutipan berita internet. Banas mencermati berita itu, lalu dibacanya; begini.
a
RT itu memang rukun tetangga, tapi jika istri “dirukuni” tetangga, bagaimana Pak RT tak marah? Maka inilah kisahnya yang terjadi; begini. RT Samiyo, 37, (bukan nama sebenarnya) nekad menyabetkan parang ke tubuh Dalmin, 37, (bukan nama sebenarnya) tetangganya, karena kepergok ngumpet di bawah ranjang. Diduga keras, dia baru saja kelonan dgn istri Pak RT.
Bulan Ramadan adalah bulan penuh berkah. Tapi ternyata tak semua orang bisa menyadari. Bahkan bagi orang yang kadung jadi budaknya setan SPI (Satgas Penggoda Iman), di kala warga tadarusan di mesjid, kesempatan itu justru digunakan untuk berbuat hil-hil yang mustahal. Taruhlah si Dalmin dari desa ini; di kala orang pada menahan hawa nafsu di siang hari, tetapi ia justru memasuki rumah orang yang bininya baru ditinggal pergi suaminya. Naudzubilah min dzalik! [Sumber: https://konyoldanlucu.wordpress.com/]
a
Banas menarik nafas dalam-dalam dan beristighfar lirih; lalu Akung menyela: “Ustadz; kalau ada berita seperti ini, betulkah setan-setan dibelenggu di Bulan Ramadhan?” Bukankah kejadian dalam berita itu, adalah salah satu wujud amalan setan?” Kemudian Banas mengajak membincangkan perihal dibelenggunya setan di Bulan Ramadhan dan amalan saleh; karena amalan-amalan saleh saja yang dapat membelenggu setan. Inilah kisah mereka.
a

Ingin Menghuni Surga?

Pendahuluan:
Minumnya Besi Mendidih
a
Banas dan Akung berkabar-kabar Islami ketika bertemu kembali; kemudian keduanya duduk di taman. Akung berkata lirih: “Ustadz; saya merenungi perjalanan hidup ini. Terputar kembali film yang telah lama terbungkus hiruk pikuk panggung kehidupan. Muncul pertanyaan besar; akankah saya kelak bisa menjadi penghuni surga Nya?”. Pertanyaan ini seolah terbawa angin yang bertiup lembut; mencari dahan tambatan.
a
Kemudian Akung meneruskan: “Terlebih lagi ketika kemarin malam saya membaca Surah Al Kahfi; lalu saya periksa terjemahannya. Sampai sekarang masih terbayang dahsyatnya siksa Allah س yang difirmankan pada ayat 29. Bila membaca berulang kali, bulu kuduk serasa duri, tajam dan menghunjam ke ulu hati. Jadi, bagaimana harus berhati-hati menyibak godaan dan ujian berkehidupan?”