Nonton Film Buatan Sendiri

tulisan yang berwarna biru, dapat di klik untuk mendapatkan rujukan.
a
Muqaddimah
a
Mari kita mengawali perbincangan ini dengan mengucapkan syukur ke hadirat Allah س atas karunia nikmat Nya yang tak terbatas banyaknya dan tak terhitung ragamnya. Selanjutnya, kita juga harus bershalawat dan bersalam untuk Rasulullah ص diiringi doa, semoga kita dapat meraih syafaat Beliau, kelak di Hari Akhir.
a
Acara Nonton Film dalam tausiah ini, adalah sebagai pembawa pesan guna menumbuhkan kesadaran agar tak mengabaikan film yang kita buat sendiri. Dengan Nonton Film Buatan Sendiri, kami berharap kita mampu bermuhasabah; yaitu merenungi perjalanan hidup untuk mengevaluasi apa yang sudah dilakukan dan langkah apa untuk menambal kesalahan. Karenanya, tidak perlu ada sensor atas berbagai adegan yang bermuatan dosa; dan tidak perlu terlalu mengekspos peristiwa-peristiwa yang Insya Allah memanen pahala. Hendaknya semua kisah dilihat dan dievaluasi apa adanya.

Haram Jadah, Siapa?

tulisan yang berwarna biru, dapat di klik untuk mendapatkan rujukan.
a

intro: Sudah banyak orang mengemukakan, hidup di dunia ibarat mampir ngombé; yaitu mampir minum untuk memuaskan dahaga dalam perjalanan panjang menuju Hari Kiamat. Pelukisan ini selayaknya mendapat perhatian semua kaum, karena harus memilah dan memilih, minuman apa yang akan disruput. Dari sinilah sebenarnya letak persoalan hidup kita, sepanjang hayat masih melekat dalam raga. Bayangkan saja, dakwah Islam sudah digencarkan melalui berbagai metode dan media massa; tetapi serangan informasi dan video porno begitu mudah diakses dimanapun, kapanpun dan oleh siapapun. Dari yang usia Sekolah Dasar, (mungkin) remaja, sampai kakek nenek. Salah satu dampak negatif dari kondisi ini adalah, ada sejumlah remaja yang sering khilaf atau mengkhilafkan diri; entah apa istilahnya, tidak menjaga keperawanan. Bila terjadi kehamilan tanpa ikatan pernikahan, mereka menyebut melahirkan anak haram jadah. Penyebutan ini berkonotasi penuh dosa; padahal si anak dipastikan terlahir dalam keadaan fitrah, putih bersih, tidak ternoda dosa walau setitik sekalipun. Marilah merunduk sejenak, betulkah bayi tak berdosa ini harus menanggung predikat penuh dosa sebagai anak haram jadah?