Shalat

tulisan yang berwarna biru, dapat di klik untuk mendapatkan rujukan.
a

intro: Beberapa hari lalu, para jamaah mendapat penjelasan tentang sujud; bahkan Banas mewanti-wanti agar ketika menemukan lafadz sujud saat membaca Al Qur`an, jangan berpikiran bahwa maknanya adalah bershalat. Hal inilah yang menjadi uneg-uneg diantara jamaah untuk ditanyakan. Mendapat pertanyaan begini, Banas mengemukakan: “Sudah jamak kita dengar, bahwa Rasulullah ص menerima perintah Allah س untuk menunaikan shalat lima waktu dalam peristiwa Isra` Mi`raj. Apakah sekembali Beliau di Mekah dari perjalanan itu, langsung bisa bershalat? Mari kita runut perbincangan tentang shalat”.

Diteruskannya: “Dalam berbagai Kitab Tarikh dijelaskan, pada awalnya, Beliau menerima perintah bershalat sebanyak lima puluh kali untuk sehari semalam. Dalam perjalanan turun ke bumi, Beliau bertemu dengan beberapa Nabi/Rasul di lapis-lapis langit tertentu. Para Nabi/Rasul itu menyarankan, agar Beliau minta keringanan jumlah shalat; sehingga dikurangkan dan dikurangkan lagi, akhirnya menjadi lima shalat dalam sehari semalam. Dalam suatu Hadits diriwayatkan,

Rasulullah ص sekembali dari Isra` Mi`raj, antara lain mengisahkan tentang perintah shalat, Dia berfirman: “Wahai Muhammad sesungguhnya Aku tetapkan kepadamu shalat lima waktu dalam sehari semalam yang setiap shalat mempunyai sepuluh derajat, maka yang demikian itu setara lima puluh shalat”.[1]

Melalui Hadits ini dapat dipetik pembelajaran, walaupun kewajiban shalat pada saat ini adalah lima kali dalam sehari semalam, tetapi nilainya setara dengan lima puluh shalat sebagaimana Allah س perintahkan pada awalnya. Dalam peristiwa Isra` Mi`raj itu, masih banyak ketetapan lain yang diberikan kepada Beliau; misalnya dikisahkan dalam suatu Hadits,

Rasulullah ص antara lain mengisahkan ketika berada di surga: “Yang meliputi Sidratul Muntaha adalah kupu-kupu dari emas; lalu aku diberi tiga hal, yaitu shalat lima waktu, akhir-akhir surat Al Baqarah, dan orang yang mati dari umatku diampuni, asalkan tidak menyekutukan Allah Azza wa Jalla dengan sesuatupun”.[2]

Sedikitnya ada tiga ketetapan Nya yang dibawakan kepada Rasulullah ص; salah satu diantaranya adalah shalat lima waktu dalam sehari semalam. Pertanyaan yang dapat dimunculkan adalah, apakah sekembali Beliau dari Isra` Mi`raj langsung dapat menunaikan shalat?; ternyata bukan seperti itu. Dalam suatu Hadits diriwayatkan, bahwa sekembali Beliau di Mekah, maka Malaikat Jibril menjumpai Beliau untuk memberi tahu perwaktuan shalat dan mengajari waktu shalat beserta jumlah rakaatnya.[3] Pada awal pembelajarannya, jumlah rakaat dalam shalat dapat dicermati dari suatu Hadits,

Aisyah Ibu kaum Mu’minin عنها berkata, “Allah telah mewajibkan shalat, dan awal diwajibkannya adalah dua rakaat dua rakaat, baik saat mukim atau saat dalam perjalanan. Kemudian ditetapkanlah ketentuan tersebut untuk shalat safar (dalam perjalanan), dan ditambahkan lagi untuk shalat di saat mukim”.[4]

“Melalui Hadits ini kita memperoleh pembelajaran, kenapa shalat dalam perjalanan yang selama ini pernah kita tunaikan dengan dua rakaat saja; yaitu sebagai ketetapan awal yang dibelajarkan Malaikat Jibril kepada Rasulullah ص. Tidak diperoleh penjelasan, berapa lama shalat-shalat ini ditunaikan masing-masing sebanyak dua rakaat”. Diteruskannya: “Berkenaan dengan perwaktuan shalat, dapat dicermati dalam suatu Hadits,

Amru bin Abasah As Sulami bertanya tentang perwaktuan shalat kepada Rasulullah ص; lalu antara lain Beliau menjelaskan:

Pertama:
“Di tengah malam yang terakhir, maka shalatlah kamu dengan shalat apa saja yang kamu kehendaki, karena sesungguhnya shalat (pada waktu itu) di saksikan (oleh para malaikat) dan di catat (pahalanya) sampai kamu shalat shubuh.

Kedua:
“Setelah itu, berhentilah sampai matahari terbit dan meninggi sampai seukuran satu atau dua tombak, karena sesungguhnya (antara waktu itu) bertepatan dengan keluarnya tanduk setan dan orang-orang kafir sembahyang kepadanya.

Ketiga:
“Setelah matahari meninggi, shalatlah kamu dengan shalat apa saja yang kamu kehendaki, karena pada waktu itu, shalat di saksikan (oleh para Malaikat) dan di catat (pahalanya), sehingga tombak sama lurus dengan bayangannya, kemudian berhentilah (sejenak) karena sesungguhnya Neraka Jahannam di nyalakan dan semua pintu-pintunya di buka, sampai matahari mulai condong (ke barat).

Keempat:
“Apabila matahari mulai condong (ke barat), shalatlah kamu dengan shalat apa saja yang kamu kehendaki, karena pada waktu itu, shalat di saksikan (oleh para Malaikat) dan di catat (pahalanya), sampai kamu mengerjakan shalat Ashar, setelah itu berhentilah sampai matahari terbenam, karena (waktu itu) bertepatan dengan terbenamnya kedua tanduk setan dan orang-orang kafir sembahyang kepadanya”.[5]

“Melalui Hadits ini diterangkan perwaktuan untuk Shalat Tahajjud yaitu sesudah tengah malam, kemudian berturut-turut Shalat Subuh, Shalat Dhukha, Shalat Dhuhur, Shalat Ashar. Kemudian Rasulullah ص melarang bershalat pada saat-saat kaum kafir menyembah tuhannya; yaitu ketika matahari terbit, matahari tepat tegak lurus dengan bumi, dan ketika matahari menjelang terbenam”. Setelah berhenti sejenak, lalu dikatakan: “Selain itu, terdapat pengisahan lainnya,

Abdullah bin Amru mengisahkan sabda Rasulullah ص tentang perwaktuan shalat, antara lain:
~ Waktu Dhuhur itu jika matahari telah tergelincir dan bayangan seseorang sama seperti panjangnya selama belum datang waktu Ashar;
~ Waktu Ashar itu selama cahaya matahari belum menguning;
~ Waktu Shalat Maghrib a itu selamaw cahaya merah belum menghilang;
~ Waktu Shalat Isya itu hingga pertengahan malam;
~ Waktu shalat shubuh itu dari terbit fajar sampai sebelum matahari terbit. Jika matahari telah terbit maka berhentilah melakukan shalat, sebab matahari terbit di antara dua tanduk setan”.[6]

“Hadits ini untuk melengkapkan perwaktuan shalat; sehingga dari dua Hadits tadi sudah gamblang perwaktuan shalat dari Shalat Maghrib sampai dengan Shalat Ashar dilengkapkan dengan shalat sunnah Tahajjud dan Dhukha. Patut diperhatikan, ada waktu-waktu yang terlarang untuk menunaikan shalat karena bersamaan dengan waktu kaum kafir memuja tuhannya. Karena itu, jika dalam keadaan tertentu terlambat menunaikan Shalat Subuh, shalatnya harus diqadha sesudah matahari terbit. Sedangkan bila terlambat menunaikan Shalat Ashar, diqadha sesudah matahari tenggelam atau sesudah menunaikan Shalat Maghrib”.

Sebelum Banas mengakhiri perbincangan, diwanti-wantinya kepada para jamaah dengan mengatakan: “Kita sudah bincangkan perintah bershalat; dari semula lima puluh kali shalat menjadi lima shalat yang kadar pahalanya senilai dengan lima puluh kali shalat. Dalam hal jumlah rakaatnya, semula masing-masing dua rakaat kemudian disempurnakan menjadi seperti sekarang ini; walau begitu, shalat dua rakaat masih diberlakukan untuk bershalat ketika dalam perjalanan atau safar. Perwaktuan bershalat dalam sehari semalam juga sudah dituntunkan, sekaligus dijelaskan adanya waktu-waktu yang dilarang bershalat. Satu hal yang sering menjadi pertanyaan, adalah dari mana Rasulullah ص mendapat keterangan tentang perwaktuan shalat dan jumlah rakaatnya. Semua itu adalah atas pembelajaran dari Malaikat Jibril yang mengemban tugas Allah س untuk disampaikan kepada Beliau”; kemudian para jamaah bubaran.

Catatan Kaki:
[1] Ensiklopedi Kitab Hadits 9 Imam: HR Ahmad, #12047.
[2] Ensiklopedi Kitab Hadits 9 Imam: HR Muslim, #252; HR Nasa`i, #447; HR Tirmidzi, #3198.
[3] Ensiklopedi Kitab Hadits 9 Imam: HR Bukhari, #3706; HR Ahmad, #16833; HR Ad Darimi, #1162; HR Malik, #1.
[4] Ensiklopedi Kitab Hadits 9 Imam: HR Bukhari, #337, 1028; HR Muslim, #1107; HR Nasa`i, #451.
[5] Ensiklopedi Kitab Hadits 9 Imam: HR Abu Daud, #1085; HR Ibnu Majah, #1241, 1242; HR Nasa’i, #568, 580; HR Ahmad, #16400, 16404, 16405.
[6] Ensiklopedi Kitab Hadits 9 Imam: HR Muslim, #967; HR Ahmad, #6671.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>