Setan, Meruntuhkan Iman

[Tausiah Jum`at, 24/07/2015]
tulisan yang berwarna biru, dapat di klik untuk mendapatkan rujukan.
a
Banas mengajak membincangkan upaya setan meruntuhkan iman, usai berkabar-kabar Islami sesaat sesudah bertemu di serambi masjid. Tetapi Akung minta penjelasan kenapa memakai istilah ini. Banas menjawab: “Dalam Al Qur`an, setidaknya terdapat 4 ayat yang didalamnya terdapat lafadz runtuh. Semuanya menggambarkan keadaan hancur berantakan atau porak peranda. Tinggal bekas-bekas yang tidak mungkin untuk dikembalikan seperti semula. Dalam tausiah ini, kita bincangkan upaya setan meruntuhkan iman. Sebagai salah satu penegas, bila iman sudah runtuh, niscaya Allah س tidak akan mengembalikan keimanan itu; kecuali Dia berkehendak lain”. Kemudian Banas mengajak duduk berbincang; inilah kisah mereka.
a
1. Bagaimana Meruntuhkan Iman ?
a
Kemudian Banas membacakan periwayatan dalam suatu Hadits: Abu Hurairah رعنهُ mengisahkan, ketika para sahabat sedang bersama Nabi ص, datang seseorang dan bertanya: “Apakah iman itu?” Beliau menjawab: “Iman adalah kamu beriman kepada Allah, malaikat-malaikat Nya, kitab-kitab Nya, pertemuan dengan Nya, Rasul-Rasul Nya, dan kamu beriman kepada hari berbangkit”. Lalu orang itu bertanya lagi: “Apakah Islam itu?” Nabi ص menjawab: “Islam adalah kamu menyembah Allah dan tidak menyekutukannya dengan suatu apapun, kamu dirikan shalat, kamu tunaikan zakat yang diwajibkan, dan berpuasa di Bulan Ramadhan”. …… Ketika orang itu pergi, seorang sahabat bertanya, siapa orang tadi. Nabi ص menjawab: “Ia adalah Malaikat Jibril datang kepada manusia untuk mengajarkan agama mereka”. (dalam HR Bukhari, #48).
a
Berdasar Hadits itu, para fuqaha merumuskan dialog tadi menjadi bangunan Islam; yaitu bertumpu pada Rukun Iman dan Rukun Islam. Dengan begitu, bila seseorang tidak lagi menjalankan Rukun Iman dan atau Rukun Islam secara total, maka dapat dikatakan, setan telah berhasil meruntuhkan imannya.
a
2. Wujud Keruntuhan Iman
a
Akung menyela: “Ustadz; bagaimana memahami keruntuhan iman?” Banas menjelaskan: “Bila seseorang secara sadar menyatakan diri keluar dari Islam, maka itu dapat disebut runtuhnya keimanan; artinya ia tidak lagi beriman kepada Allah س dan Rasul Nya. Dalam Al Qur`an ditegaskan, mereka yang membangkang dari perintah Allah س dan Rasulullah ص disebut dengan murtad”.
a
Akung bertanya lagi: “Ustadz; apakah karena tidak bertuhan kepada Allah س sudah bisa disebut murtad?” Banas menjelaskan: “Ya, seperti itu. Karena sesungguhnya syarat pertama dalam berislam adalah bertuhan kepada Allah س; sebagaimana dirumuskan dalam Rukun Iman. Bila sudah mengubah ketuhanannya, maka niscaya semua keimanannya menjadi berubah. Ketika tidak lagi bertuhan kepada Allah س, maka dapat dipastikan tidak akan beriman kepada malaikat Nya, Kitab Nya, Rasul Nya, Hari Kiamat untuk bertemu dengan Dia dan tidak beriman kepada Takdir yang ditetapkan Allah س. Dalam keadaan seperti ini, maka dipastikan tidak lagi bersyahadat, tidak shalat, tidak menunaikan puasa di Bulan Ramadhan, tidak berzakat dan tidak menunaikan Ibadah Haji. Perkara yang ditidakkan itu adalah rincian dari Rukun Iman dan Rukun Islam”. Lalu perbincangan dilanjutkan.
a
3. Resiko Keruntuhan Iman
a
Keluar dari Islam atau murtad, bisa dilakukan oleh siapa saja. Bukan saja oleh mereka yang keislamannya tidak kaffah (sempurna) atau dikenal dengan istilah Islam Abangan atau Islam KTP; walau dalam Islam tidak ada penggolongan ini. Salah satu caranya, dengan menyusuri dari website tentang murtad. Misalnya dituliskan, seorang santri fanatik yang murtad setelah merasa mengalami kehampaan dalam berislam. Ada lagi kisah, seorang perempuan murtad karena cintanya kepada lelaki pujaannya. Begitu juga ada kisah lain, seorang hafidz (penghafal Al Qur`an) yang runtuh imannya didorong oleh cintanya kepada perempuan non-muslim, sehingga murtad.
a
Akung menyela: “Ustadz; kenapa bisa terjadi seperti itu?” Banas menjelaskan: “Kunci utamanya adalah ketiadaan hidayah Nya. Allah س mengkiaskan peristiwa itu, misalnya difirmankan dalam QS Al Baqarah (2):175; Mereka itulah orang-orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk (hidayah) dan siksa dengan ampunan. Maka alangkah beraninya mereka menentang api neraka! Ada dua perkara yang ditegaskan dalam ayat ini.
a
Pertama, orang murtad, diibaratkan membeli kesesatan (karena bertuhan selain kepada Allah س) dengan hidayah (bila bertuhan kepada Allah س).
Kedua, membeli siksa (karena bertuhan selain kepada Allah س) dengan ampunan (jika bertuhan kepada Allah س).
a
Kelak, mereka yang murtad mendapat hukuman yang difirmankan dalam QS An Nisa` (4):40 dan 116; difirmankan: Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki Nya. Barang siapa yang menyekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa besar.
a
Sebelum berpisah, Akung bertanya, bagaimana kalau ia bertaubat. Banas menjelaskan dengan merujuk QS Ali Imran (3):90; dalam ayat ini difirmankan: Sesungguhnya orang-orang kafir sesudah beriman, lalu bertambah kekafirannya, sekali-kali tidak akan diterima taubatnya; dan mereka itulah orang-orang yang sesat. Melalui ayat ini, Allah س menegaskan, tidak menerima taubat mereka. “Masya Allah, sia-sia keislamannya karena murtad lantaran musyrik, yang muaranya di neraka”; begitu Akung berkata lirih. Usai berkata begitu, mereka berpisah setelah saling berucap salam.¤
a
Sekian, semoga bermanfaat dan barokallah, Insya Allahu Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>