Setan, Membaurkan Iman

[Tausiah Jum`at, 17/07/2015]
tulisan yang berwarna biru, dapat di klik untuk mendapatkan rujukan.
a
Usai berkabar-kabar Islami saat bertemu di taman masjid, Banas mengajak membincangkan upaya setan membaurkan iman. Akung bertanya: “Kenapa Ustadz memakai istilah ini?” Banas tersenyum lalu mengajak duduk berbincang. Inilah kisah mereka.
a
1. Kenapa Membaurkan ?
a
Banas mengemukakan, istilah ini sekedar penggambaran salah satu keberhasilan setan membujuk kaum muslim membaurkan keimanan. Lalu Akung menyela: “Apakah maksudnya, suami isteri berbeda agama?” Dijelaskan: “Bukan. Terjadinya pembauran iman, bila mereka masih menyatakan Islam, tetapi dibarengi dengan kepercayaan selain kepada Nya. Alasannya, misalnya untuk pelestarian tradisi. Secara syari` amalan yang ditunaikan itu salah; karena rujukan Islam adalah Al Qur`an, Hadits dan Ulil Amri [difirmankan dalam QS An Nisa` (4):59]. Bila terjadi perselisihan, harus dikembalikan pada Al Qur`an dan Hadits. Syari` tidak merujuk kepada tradisi”.
a
Kenapa bisa begitu?; kita bisa merujuk QS Al An`am (6):82, difirmankan: “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kedzaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. Ayat ini menggunakan kalimat berita aktif; bisa dimaknakan secara pasif, menjadi peringatan. Peringatannya berbunyi, mereka yang mencampuradukkan keimanan dengan kesyirikan, tidak memperoleh keamanan (hidup dunia akhirat) dan bukan termasuk orang yang mendapat petunjuk (hidayah).
a
Bila orang beramal dengan mencampuradukkan iman, maka hal ini menjadi keberhasilan sumpah iblis yang mengatakan benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus; lalu saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. [sebagian arti dari QS Al A`raf (7):16-17].
a
2. Praktik Pembauran Keimanan
a
Akung menyela: “Ustadz; bagaimana dalam praktik keseharian?”. Dijawabnya: “Banyak amalan yang sering terdengar dalam keseharian; misalnya memelihara tuyul (yaitu penamaan oleh manusia untuk setan yang dapat membantu menambah pundi-pundi kekayaan). Bila berita seperti ini benar adanya, nyata-nyata bertentangan dengan syari`. Misalnya dapat merujuk QS Ar Ra`d (13):26; antara lain difirmankan, Allah س meluaskan rezeki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki. Jika mencari kekayaan menggunakan tuyul, maka ia tidak menyandarkan rezeki kepada Allah س yang memiliki sifat Ar Rozzak (Maha Pemberi Rezeki). Dengan begitu, sesungguhnya setan telah membaurkan keimanan, yaitu antara beriman kepada Allah س dengan kemusyrikan.
a
Begitu juga dengan penyelenggaraan upacara sedekah bumi dan lainnya. Mereka berdalih sebagai tanda syukur kepada bumi yang memberikan panen melimpah. Bahkan acaranya didahului dengan pembacaan Al Qur`an dan diiringi dengan doa-doa Islam. Bila berita seperti ini benar adanya, nyata-nyata bertentangan syari`. Akung menyela, dimana kesalahannya. Dijelaskan: “Misalnya, kita dapat merujuk QS An Nazi`at (79):30-31; difirmankan: Dan bumi sesudah itu dihamparkan Nya. Dia memancarkan daripadanya mata airnya dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya”. Lalu terjadi dialog kecil; Akung ditanya, siapa yang mencipta bumi dan menumbuhkan tumbuhan. Dijawabnya, Allah س; lalu ditanya lagi, seharusnya bersyukur kepada Allah س atau kepada bumi?; yang ditanya diam membisu. Lalu perbincangan dilanjutkan.
a
Melalui tayangan tv nasional, ada seseorang, sebut saja fulan, diwawancarai. Dalam wawancara ini, ia sangat fasih melantunkan lafadz Islami; antara lain Insya Allah, Alkhamdulillah, Masya Allah. Dalam acara ini, Fulan berkisah, setelah bersemedi ia memanjatkan doa-doa secara Islami diiringkan dengan doa menurut tata cara budaya lokal. Lalu ditutup dengan suatu permohonan. Fulan menuturkan, tak lama kemudian ia didatangi Ratu dengan tersenyum yang didahului dengan suara gemerincing kereta kencana. Fulan menutup kisahnya dengan mengatakan, permohonannya terkabul. Bila kisahnya benar adanya, maka hal ini bertentangan dengan syari`.
a
Untuk membuktikannya, bisa dirujuk QS Al Baqarah (2):182; Dan apabila hamba-hamba Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwa Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa, apabila ia memohon kepada Ku. Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. Dengan merujuk ayat ini, bila memohon selain kepada Allah س, maka ia tidak menyandarkan permohonan kepada Nya yang memiliki sifat Al Mujib (Maha Mengabulkan). Dengan begitu, sesungguhnya si Fulan telah dijerat setan untuk membaurkan keimanan kepada Allah س dengan kemusyrikan.
a
3. Kehampaan di Akhirat
a
Banas menambahkan: “Mari merujuk QS An Nisa` (4):116, difirmankan, Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia; dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki Nya. Barang siapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya. Mendengar ini, Akung berucap lirih: “Masya Allah; kehidupan dunia yang direngkuh dengan hingar bingar ritual itu, ternyata hampa bagi kehidupan akhirat. Bahkan neraka tempat kembalinya”; Banas tersenyum bangga mendengar penyimpulan ini. Usai berkata begitu, keduanya saling berucap salam dan berpisah.¤
a
Sekian, semoga bermanfaat dan barokallah, Insya Allahu Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>