Setan Dibelenggu Di Bulan Ramadhan?

Intro: Setan Dibelenggu ?
a
Ketika bertemu kembali di serambi masjid usai Shalat Dhuhur, Akung menyapa dengan ucapan salam Islami; walau berjalan di belakang. Setengah kaget, Banas menjawab salam itu, lalu keduanya berjabat tangan. Kemudian, keduanya duduk di serambi; seperti sudah diperjanjikan, Akung akan menyoal tentang Bulan Ramadhan.
a
“Ustadz; banyak didakwahkan, bila Bulan Ramadhan tiba, maka setan-setan dibelenggu. Bagaimana memahaminya?; di internet dapat dijumpai berita seperti ini”. Begitu Akung memulai perbincangan, sambil menyerahkan kutipan berita internet. Banas mencermati berita itu, lalu dibacanya; begini.
a
RT itu memang rukun tetangga, tapi jika istri “dirukuni” tetangga, bagaimana Pak RT tak marah? Maka inilah kisahnya yang terjadi; begini. RT Samiyo, 37, (bukan nama sebenarnya) nekad menyabetkan parang ke tubuh Dalmin, 37, (bukan nama sebenarnya) tetangganya, karena kepergok ngumpet di bawah ranjang. Diduga keras, dia baru saja kelonan dgn istri Pak RT.
Bulan Ramadan adalah bulan penuh berkah. Tapi ternyata tak semua orang bisa menyadari. Bahkan bagi orang yang kadung jadi budaknya setan SPI (Satgas Penggoda Iman), di kala warga tadarusan di mesjid, kesempatan itu justru digunakan untuk berbuat hil-hil yang mustahal. Taruhlah si Dalmin dari desa ini; di kala orang pada menahan hawa nafsu di siang hari, tetapi ia justru memasuki rumah orang yang bininya baru ditinggal pergi suaminya. Naudzubilah min dzalik! [Sumber: https://konyoldanlucu.wordpress.com/]
a
Banas menarik nafas dalam-dalam dan beristighfar lirih; lalu Akung menyela: “Ustadz; kalau ada berita seperti ini, betulkah setan-setan dibelenggu di Bulan Ramadhan?” Bukankah kejadian dalam berita itu, adalah salah satu wujud amalan setan?” Kemudian Banas mengajak membincangkan perihal dibelenggunya setan di Bulan Ramadhan dan amalan saleh; karena amalan-amalan saleh saja yang dapat membelenggu setan. Inilah kisah mereka.
a
1. Markhaban Ya Ramadhan
a
Kemudian Banas mengatakan: “Sudah sangat banyak didakwahkan, puasa di Bulan Ramadhan adalah kewajiban. Perintah ini diwahjukan kepada Rasulullah ص, pada tahun kedua Hijriah. Kewajiban berpuasa adalah bagi mereka yang tidak udzur; pengertian udzur bukan tua renta, tetapi halangan yang dibenarkan secara syari`; misalnya melakukan perjalanan, nifas, haid, tua renta, pikun, sakit, dan semisal ini.
a
Lafadz puasa dalam Al Qur`an, diterjemahkan dari [الصِّيَامُ]; sehingga ada sebutan “shoum”; dari suku kata “sho-wa-ma”. Arti harfiahnya, menahan, berhenti atau tidak bergerak; tetapi jika mengatakan “ath thoirot shoim” dalam Bahasa Arab, artinya “pesawat terbang sedang berhenti” jangan diartikan “pesawat terbang sedang berpuasa”. Dalam Kitab Fiqh diterangkan, makna puasa adalah “menahan diri dari makan, minum, dan menahan nafsu syahwat; dimulai sejak terbitnya fajar hingga matahari terbenam”. Karenanya perlu keteguhan iman, ketegaran rokhani dan kekuatan jasmani; dan mampu mengendalikan hawa nafsu buruk. Dengan merujuk Al Qur`an, Hadits, Fiqh dan Kitab Tafsir, dapat disimpulkan:
AAPuasa Ramadhan diwajibkan kepada setiap mukmin; [QS Al Baqarah (2):183, 185].
AABagi mereka yang udzur, mendapat rukhsakh (keringanan); [QS Al Baqarah (2):184].
AABagi mereka yang berbuka karena udzur, wajib mengganti dengan berpuasa pada hari lain; [QS Al Baqarah (2):185]. Dalam Kitab Fiqh dapat dijumpai penjelasan, dengan syarat-syarat tertentu bisa membayar fidyah
AAPada malam hari di Bulan Ramadhan tidak dilarang bercampur dengan isteri; [QS Al Baqarah (2):187].
AABerpuasa adalah tameng, karenanya jangan berkata-kata kotor dan berbuat keji; [HR Abu Daud, #2016, dan 18 HR lain].
AAJika tidak bisa meninggalkan ucapan keji dan perbuatan keji, Allah tidak butuh orang itu meninggalkan makan dan minumnya”; [HR Bukhari #1770 + 6 HR lain]. Juga diriwayatkan, Puasa seperti itu, tiada memperoleh (pahala) apa-apa kecuali lapar dan dahaga; [HR Abu Daud #8501 + 2 HR lain].
a
Dengan begitu, berpuasa Ramadhan memerlukan pengubahan perilaku secara keseluruhan; harus menahan makan, minum dan nafsu syahwat. Selain itu harus menjaga dari berkata-kata kotor, mencegah dari perbuatan keji (hina) dan beberapa perilaku lain yang menyertainya; seperti ngrumpi dan semisalnya.
a
Lalu dikatakan: “Sudah menjadi kebiasaan di tanah air, pada bulan-bulan menjelang datangnya Bulan Ramadhan, seolah-olah ada perlombaan memberi ucapan Markhaban ya Ramadhan. Hal ini disampaikan dalam tausiah, poster maupun spanduk di jalan-jalan. Inti maknanya, mendambakan datangnya Bulan Ramadhan”.
a
“Ustadz; bukankah Bahasa Arab dari selamat datang adalah ahlan wa sahlan?; begitu Akung menyela. Banas menjawab: “Betul. Arti ahlan wa sahlan adalah selamat datang, untuk menyambut tamu”. Tapi kenapa kita mengucapkan markhaban?; dalam Bahasa Arab, lafadz markhaban adalah kata kerja aktif; berasal dari akar kata rakhb. Arti harfiah markhaban adalah luas atau lapang; tetapi bila dirangkai menjadi markhaban ya ramadhan, telah menjadi idiom. Artinya, ucapan selamat datang kepada Bulan Ramadhan disertai peniatan menyambut dengan penuh kegembiraan dan lapang dada. Meski dalam Bulan Ramadhan dipenuhi dengan perintah dan larangan, tetapi tidak menggerutu dan tidak menganggap Bulan Ramadhan sebagai gangguan ketenangan; [Quraisy Sihab, Wawasan Al Qur`an; Tafsir Maudhu`i atas Pelbagai Persoalan Umat, E-book 1996]. Itulah makna Markhaban Ya Ramadhan; harus diucapkan secara sadar dan sungguh-sungguh. Tidak boleh dengan ahlan wa sahlan, karena Bulan Ramadhan bukan tamu yang datang secara fisik. Kaum mukmin menyambut gembira dan tulus ikhlas dilandasi keberimanan atas datangnya Bulan Ramadhan; walau setan selalu mengancam untuk melancarkan bujuk rayunya. Karenanya, teguhkan iman; jangan terkecoh siasat setan yang membawa pada kehancuran hidup dunia sampai ke akhirat.
a
2. Setan Libur ?
a
Banas mengatakan: “Untuk mengungkap makna dibelenggunya setan di Bulan Ramadhan, mari merujuk Hadits, Abu Hurairah رعنهُ berkisah, Rasulullah ص bersabda: “Umatku diberi lima hal yang tidak diberikan kepada umat sebelumnya pada Bulan Ramadhan; yaitu:
(1)ABau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah dibanding minyak misik.
(2)APara malaikat memintakan ampunan untuk mereka hingga berbuka.
(3)ASetiap harinya Allah Azza Wa Jalla menghiasi surga mereka, lalu Allah berfirman: ‘Hampir saja para hamba Ku yang saleh dihindarkan dari kepayahan dan gangguan dan berjalan kepadamu (surga)’.
(4)ADalam Bulan Ramadhan para setan dibelenggu hingga mereka tidak bebas menggoda orang yang berpuasa sebagaimana mereka bebas mengganggu di bulan lainnya.
(5)AAkan diampuni dosa-dosa mereka (yang berpuasa) di akhir malam Bulan Ramadhan”.
Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah apakah itu Lailatul Qodar?”; Maka Beliau bersabda: “Bukan itu; akan tetapi seorang yang beramal akan ditepati pahalanya jika telah selesai melaksanakan amalannya”; [HR Ahmad, #7576, dan 8 HR lain]. Salah satu tuntunan dalam Hadits ini, setan dibelenggu di Bulan Ramadhan.
a
Lalu Banas membacakan Hadits lain, Abu Hurairah رعنهُ mengisahkan, Rasulullah ص bersabda: “Pada malam pertama Bulan Ramadhan setan-setan dan jin-jin yang jahat dibelenggu sehingga tidak bisa bebas mengganggu sebagaimana di bulan lainnya. Pintu-pintu neraka ditutup tidak ada satupun pintu yang terbuka; dan pintu-pintu surga dibuka tidak ada satupun pintu yang tertutup. Ada penyeru yang menyerukan, wahai orang yang mengharapkan kebaikan bersegeralah (kepada ketaatan). Wahai orang yang mengharapkan keburukan/maksiat berhentilah. Allah memiliki hamba-hamba yang selamat dari api neraka pada setiap malam di Bulan Ramadhan”; [HR Tirmidzi, #618, dan 21 HR lain].
a
Pengisahan dalam Hadits ini lebih lengkap; ternyata pada malam pertama saja di Bulan Ramadhan, setan dan jin jahat dibelenggu. Begitu juga ditutupnya pintu neraka dan dibukanya pintu surga. Selain itu, pada malam pertama Bulan Ramadhan ada seruan, wahai yang mengharapkan kebaikan bersegeralah (kepada ketaatan); wahai yang mengharapkan keburukan/maksiat berhentilah. Tuntunan ini sejalan dengan sabda Beliau, setan dan jin jahat dibelenggu sehingga tidak bisa bebas mengganggu seperti di bulan lainnya. Merujuk Hadits ini, bila didakwahkan setan dibelenggu selama Bulan Ramadhan, tidak sesuai dengan tuntunan Rasulullah ص; yang benar adalah pada malam pertama saja. Sehingga masih bisa terjadi peristiwa gangguan setan, seperti yang diberitakan di internet itu. Allahu a`lam.
a
Salah satu rujukan mengenai kerja setan di Bulan Ramadhan dapat dicermati dari Hadits, Shafiyah binti Huyay رعنها, istri Nabi ص pernah menemui Rasulullah ص sedang berbaring di dalam masjid (iktikaf) pada sepuluh hari terakhir Bulan Ramadhan. Lalu dia berbincang-bincang dengan Nabi ص hingga menjelang Isya. Setelah itu dia beranjak untuk pulang; maka Nabi ص ikut pergi bersamanya. Ketika sampai agak jauh dari pintu masjid dan dekat rumah Ummu Salamah رعنها, istri Nabi ص, dua orang laki-laki kaum Anshar lewat dan keduanya memberi salam kepada Rasulullah ص, lalu bergegas pergi. Maka Rasulullah ص bersabda kepada keduanya: “Kenapa terburu-buru? Sesungguhnya dia adalah Shafiyah binti Huyay”. Mereka berkata: “Maha suci Allah, wahai Rasulullah “. Dengan ucapan itu, Beliau menjadi tercengang; (lalu sabdanya): “Sesungguhnya setan masuk kepada manusia lewat aliran darah dan aku khawatir bila setan telah membisikkan sesuatu dalam hati kalian berdua”; [HR Bukhari #2870 + 8 HR lain].
a
Kemudian Banas mengatakan: “Hadits ini membelajarkan, setan telah merasuki dua orang Anshar itu di Bulan Ramadhan, sehingga berprasangka buruk kepada Rasulullah ص. Dalam suatu Hadits diriwayatkan, Prasangka buruk adalah bentuk dari kedustaan, hasil dari bujuk rayu setan”; [HR Bukhari #5751 + 16 HR lain]. Akung menyela: “Kenapa Allah س tidak membelenggu setan selama Bulan Ramadhan, agar kaum mukmin dapat khusyuk beribadah di Bulan Ramadhan?”
a
Banas menjawab: “Jika Allah س membelenggu setan, maka hal itu tidak sesuai firman Nya dalam QS Al Isra` (17):64; artinya, Dan hasunglah siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan ajakanmu, dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak dan beri janjilah mereka. Dan tidak ada yang dijanjikan oleh setan kepada mereka melainkan tipuan belaka. Melalui ayat ini, Allah س meridhoi (mengizinkan) setan untuk mengajak manusia mengikuti jalannya; tanpa pengecualian, walau pada Bulan Ramadhan”.
a
Karenanya dalam Hadits tadi diriwayatkan, setan dibelenggu pada malam pertama Bulan Ramadhan, sehingga tidak bebas menggoda orang yang berpuasa sebagaimana mereka bebas mengganggu di bulan lain. Maknanya, setan tetap berkeliaran tetapi godaannya menyusut atau harus bersusah payah membujuk; khususnya kepada mereka yang beriman dan berpuasa. Tetapi setan terus bergerilya, karena Allah س telah meridhoi sampai Akhir Jaman.
a
3. Berpuasalah di Bulan Ramadhan
a
Banas mengajak Akung membahas puasa di Bulan Ramadhan menjadi beberapa ringkasan, begini.
a
a) Beberapa Peristiwa
a
Ramadhan, selain sebagai bulan diwajibkannya berpuasa, telah terjadi peristiwa penting; antara lain:
AADiturunkannya permulaan wahyu Kitab Al Qur`an; [QS Al Baqarah (2):185].
AADiturunkannya wahyu yang dicatat dalam shukhuf (lembaran), yaitu: Shukhuf Ibrahim ع diturunkan awal malam Ramadhan. Shukhuf Taurat diturunkan pada hari ke enam Bulan Ramadhan. Shukhuf Injil diturunkan pada hari ke tiga belas Bulan Ramadhan. Shukhuf Al Furqan (Al Qur`an), pada dua puluh empat Ramadhan”; [HR Ahmad #16370].
AAPerang Badr, pada tanggal 17 Ramadhan 2H; [HR Ahmad #136].
AAFathu` (penaklukan) Mekah, pada tanggal 17 Ramadhan 8H; [HR Ahmad #2839 + 6 HR lain].
AADiturunkannya Lailatul Qadar;[HR Bukhari #1878 + 28 HR lain]; yaitu malam yang lebih mulia dibandingkan seribu bulan; [QS Al Qadr (97):3; serta HR Tirmidzi # 3273 + 5 HR lain].
AASemasa kenabian Rasulullah ص, Malaikat Jibril selalu datang menguji hafalan Beliau atas seluruh bacaan Al Qur`an; [HR Bukhari #5 + 9 HR lain].
a
Beberapa peristiwa penting itu menjadi penghias Bulan Ramadhan. Peristiwa yang sering diperingati oleh umat Islam di tanah air adalah Nuzulul Qur`an, setiap tanggal 17 Ramadhan sebagai pengingat turunnya wahyu pertama Al Qur`an. Sedangkan Lailatul Qadr bukan diperingati, tetapi kaum mukmin beriktikaf agar berpeluang mendapatkan malam qadr.
a
b) Adab Berpuasa
a
Sebelum berlanjut, Banas menjelaskan, adab adalah tata aturan tentang sopan santun; yaitu tata cara yang baik dan benar dalam berpuasa. Kemudian Banas mengemukakan, bila bertemu Bulan Ramadhan, berhati-hatilah untuk memulai berpuasa. Kemudian mengajak mencermati Hadits, Abu Hurairah رعنهُ berkisah, Nabi ص bersabda: “Janganlah seorang dari kalian mendahului Bulan Ramadhan dengan berpuasa satu atau dua hari. Kecuali apabila seseorang sudah biasa melaksanakan puasa (sunnah) maka pada hari itu dipersilahkan untuk melaksanakannya”; [HR Bukhari #1781 + 9 HR lain]. Hadits ini menuntunkan, jangan menyambung puasa sunnah dengan Puasa Ramadhan; kecuali sudah terbiasa puasa sunnah itu.
Banas meneruskan: “Misalnya Puasa Ramadhan dimulai Hari Jumat; bila sudah terbiasa berpuasa sunnah Senin Kamis, maka puasa sunnah di Hari Kamis itu boleh menyambung Puasa Ramadhan”.
a
Satu perkara yang sering diabaikan, adalah pelantunan niat; bahkan ada yang menyatakan pelantunan niat sebagai perkara bid`ah. Betulkah?; mari mencermati Hadits, Hafshah binti Umar رعنها, isteri Nabi ص, mendengar Beliau bersabda: “Barangsiapa yang belum niat sebelum fajar maka puasanya tidak syah”. Dalam Hadits ini disertakan penjelasan, Para Ulama berpendapat, maksud Hadits ini ialah “Barangsiapa yang tidak niat sebelum terbitnya fajar di Bulan Ramadhan atau ketika mengqodho Puasa Ramadhan atau ketika puasa nadzar, maka shaumnya tidak syah. Adapun puasa sunnah, boleh berniat sesudah terbitnya fajar. Ini adalah pendapat Syafi’i, Ahmad dan Ishaq; [HR Tirmidzi #662 + 12 HR lain]. Akung menyela: “Ustadz; ada pendakwahan, niat berpuasa boleh dilakukan sekali saja untuk sebulan, yaitu di malam pertama; betulkah?
a
Banas menjelaskan: “Menilik matan Hadits itu, memang benar adanya; coba dicermati lagi, melantunkan niat sebelum terbitnya fajar di Bulan Ramadhan. Dengan begitu, makna terjemahan terbitnya fajar di Bulan Ramadhan bisa diartikan begini. Pertama, berniat setiap malam di Bulan Ramadhan; atau kedua, satu kali niat untuk berpuasa sebulan lamanya. Kedua-duanya dilantunkan sebelum fajar pada malam pertama. Bisa memilih yang paling mantab diyakini dalam hati setiap pribadi muslim”.
a
Sebagai bekal moral untuk berpuasa, mari mencermati Hadits, Abu Hurairah رعنهُ berkisah, Rasulullah ص bersabda: “Orang yang berpuasa memiliki dua kebahagiaan. Yaitu, kebahagiaan ketika berbuka dan kebahagiaan ketika bertemu dengan Rabbnya”; [HR Tirmidzi #697 + 9 HR lain]. Kebahagiaan yang sudah dapat dirasakan saat ini, adalah semua lapisan usia sama-sama menunggu saat berbuka. Adapun kebahagiaan bertemu Allah س harus menunggu Hari Kiamat tiba; kebahagiaan yang tak tertakar kadarnya.
a
Terkait dengan berbuka puasa, mari mencermati suatu Hadits, Abu Hurairah رعنهُ meriwayatkan, Rasulullah ص bersabda: ” Allah ‘azza wajalla berfirman, ‘Sesungguhnya hamba Ku yang paling Aku cintai ialah yang menyegerakan berbuka puasa”; [HR Tirmidzi #636 + 16 HR lain]. Hadits ini menuntunkan, bersegeralah berbuka puasa. Selain itu, jangan mengabaikan makan sahur; dengan merujuk Hadits, Abu Dzar رعنهُ berkisah, Nabi ص bersabda: “Umatku akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur”; [HR Ahmad #20350 + 3 HR lain]. Tuntunan lain dapat dicermati dari Hadits, Sa’ad bin Malik رعنهُ berkata, Rasulullah ص bersabda: “Makan sahur itu berkah, maka janganlah kalian tinggalkan meskipun hanya minum seteguk air. Sesungguhnya Allah ‘azza wajalla dan para malaikat Nya bershalawat kepada orang-orang yang makan sahur”; [HR Ahmad #10664 + 4 HR lain]. Bukankah sangat beruntung makan sahur?; untuk memenuhi sunnah Rasulullah ص, Insya Allah meraih keberkahan Nya. Dalam Hadits itu disebutkan malaikat bershalawat maksudnya, malaikat mendoakan dan memohonkan ampunan. Setelah jedah sejenak, Akung diajak membicarakan amalan saleh; dimulai membacakan Hadits yang menerangkan, Bulan Ramadhan penuh pahala berlipat ganda; [HR Ahmad #20566].
a
c) Perbanyaklah Amalan Saleh
a
Amalan saleh adalah seluruh perbuatan yang sesuai dengan akidah dan syari` yang diniatkan lillahi ta`ala untuk mencari ridho Nya. Besaran pahalanya antara lain diriwayatkan, Abdullah bin Abbas رعنهُ berkisah, Nabi ص bersabda: “Jika Ramadhan telah tiba, maka laksanakanlah umrah. Karena sesungguhnya umrah pada bulan itu (pahalanya) menyamai haji”; [HR Ahmad #1921 + 20 HR lain]. Dalam Hadits lain diriwayatkan, Abu Hurairah رعنهُ berkisah, Rasulullah ص bersabda: “Shalat lima waktu dan Shalat Jumat ke Jumat berikutnya, dan (puasa) Ramadhan ke Ramadhan berikutnya adalah kifarat (penghapus dosa) antara keduanya apabila dia menjauhi dosa besar”; [HR Muslim #344, + 7 HR lain]. Dihapusnya dosa-dosa karena berpuasa, adalah kabar yang menggembirakan; dengan catatan bila mampu menjauhi dosa besar.
a
Pahala dari berpuasa juga dapat dicermati dari Hadits, Abu Hurairah رعنهُ mengisahkan, Nabi ص bersabda: “Semua amalan bani Adam adalah untuk diri sendiri kecuali puasa. Sesungguhnya puasa adalah untuk Ku (Allah), dan Aku yang membalasnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa itu lebih wangi disisi Allah dari pada harumnya minyak wangi”; [HR Bukhari #5472 + 13 HR lain]. Dalam Hadits ini, dituntunkan, seluruh amalan insan untuk diri sendiri, kecuali berpuasa adalah untuk Allah س; Dia sendiri yang menakar balasan pahalanya. Selain itu, layak juga untuk dicermati Hadits, Abu Hurairah رعنهُ berkisah, Rasulullah ص bersabda: “Barangsiapa menegakkan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”; [HR Bukhari #36 + 32 HR lain]. Maksud menegakkan adalah berpuasa Ramadhan dan menunaikan amalan sunnahnya, misalnya Shalat Tarwih, sedekah, mengaji dan semisal ini. “Subkhanallah; sangat beruntung bila berpuasa Ramadhan”; begitu Akung berkata sendiri. Lalu bertanya: “Ustadz; apa makna Shalat Tarwih?; apakah wajib dilaksanakan berjamaah dan harus di masjid?; bolehkah ditunaikan sendirian di rumah?”
a
Mendengar pertanyaan bersusun-susun ini, Banas mengemukakan, tarwih adalah lafadz Bahasa Arab berasal dari akar kata [ تَرْوِيْحَةٌ ]. Arti harfiahnya, “waktu sesaat untuk istirahat”; tidak ada penjelasan bagaimana kaitan antara arti harfiah dengan qiyamul lail di Bulan Ramadhan yang disebut Shalat Tarwih.
a
Bagaimana kisah terjadinya Shalat Tarwih, dapat dicermati dari Hadits, Urwah bin Az Zubair رعنهُ menceriterakan, Aisyah رعنها mengabarkannya, Rasulullah ص pada suatu malam keluar kamar di tengah malam untuk melaksanakan shalat di masjid. Maka orang-orang kemudian ikut shalat mengikuti shalat Beliau. Pada waktu paginya orang-orang membicarakan kejadian tersebut sehingga pada malam berikutnya orang-orang yang berkumpul bertambah banyak lalu ikut shalat dengan Beliau. Pada waktu paginya orang-orang kembali membicarakan kejadian tersebut. Lalu pada malam yang ketiga orang-orang yang hadir di masjid semakin bertambah banyak lagi; lalu Rasulullah ص keluar untuk shalat dan mereka ikut shalat bersama Beliau.
Kemudian pada malam yang keempat, masjid sudah penuh dengan jamaah hingga akhirnya Beliau keluar hanya untuk Shalat Subuh. Setelah Beliau selesai Shalat Fajar (sebelum Shalat Subuh), Beliau menghadap kepada orang banyak, lalu membaca syahadat dan bersabda: “Amma ba’du; sesungguhnya aku bukannya tidak tahu keberadaan kalian (semalam). Akan tetapi aku takut nanti menjadi diwajibkan atas kalian sehingga kalian keberatan karenanya”. Setelah Rasulullah ص wafat, Shalat Tarwih secara berjamaah terus berlangsung seperti itu; [HR Bukhari #1873 + 4 HR lain]. Dalam Hadits ini, terdapat beberapa pembelajaran, antara lain:
AABoleh ditunaikan secara berjamaah dan boleh juga secara sendiri. Tetapi dalam Kitab Fiqh dianjurkan agar melaksanakan Shalat Tarwih secara berjamaah. Dalam Hadits lain dituntunkan, terbuka peluang untuk mendapatkan pahala sedikitnya 25 atau 27 kelipatan dibanding dengan shalat sendirian, baik di Bulan Ramadhan atau di bulan lain; [HR Bukhari #609 + 19 HR lain].
AABoleh ditunaikan di masjid dan boleh juga di rumah secara sendiri atau berjamaah.
AAMerupakan amalan yang tidak difardhukan atau disebut amalan sunnah, seperti sabda Beliau dalam Hadits ini, Tetapi aku takut nanti menjadi diwajibkan, sehingga kalian keberatan karenanya.
a
Lalu Banas mengemukakan: “Dalam beberapa masjid sering terjadi perbedaan pendapat tentang jumlah rakaat Shalat Tarwih. Sesungguhnya tidak perlu bersilang pendapat, jika semua pihak bermusyawarah dengan menemukan rujukan Hadits, fatwa ulama atau rujukan Fiqh dengan dalil-dalil Hadits”. Lalu Banas membacakan Hadits, Abu Salamah bin Abdur Rahman رعنهُ bertanya kepada Aisyah رعنها: “Bagaimana tata cara shalat Nabi ص pada Bulan Ramadhan?” Maka Aisyah رعنها menjawab: “Beliau shalat (sunnah qiyamul lail) pada Bulan Ramadhan dan bulan-bulan lainnya tidak lebih dari sebelas rakaat. Beliau shalat empat rakaat, maka jangan kamu tanya tentang kualitas bagus dan panjangnya; kemudian beliau shalat lagi empat rakaat, maka jangan kamu tanya tentang kualitas bagus dan panjangnya kemudian beliau shalat tiga rakaat; [HR Bukhari #3304 + 6 HR lain]. Juga dapat kita temukan Hadits, “Beliau shalat dua rakaat dua rakaat dan satu rakaat; kemudian Shalat Fajar dua rakaat sebelum masuk waktu Shalat Subuh. Sehingga menjadi tiga belas rakaat”; [HR Ahmad #3200 + 4 HR lain]. Melalui Hadits ini dituntunkan, tunaikanlah qiyamul lail atau disebut Shalat Tarwih di Bulan Ramadhan dan disebut Shalat Tahajjud di bulan lannya; sebanyak sebelas rakaat. Lalu tambahkan dua rakaat Shalat Fajar sebelum masuk Shalat Subuh. Terkait Shalat Fajar, ada Hadits yang meriwayatkan, Aisyah رعنها berkisah, Rasulullah ص bersabda: “Dua rakaat sebelum fajar (subuh), bagiku (dua rakaat) itu lebih aku cintai dari pada isi dunia semuanya”; [HR Muslim #1194 + 3 HR lain].
a
Kemudian Banas membacakan Hadits lainnya, Abu Salamah bin Abdurrahman رعنهُ berkisah, Rasulullah ص, bersabda: “(Ramadhan) adalah bulan yang Allah mewajibkan kalian berpuasa; dan aku sunnahkan shalat di malam harinya. Barangsiapa berpuasa di siangnya dan bangun di malamnya karena iman dan mengharap pahala, maka dosa-dosanya akan keluar seperti pada hari dilahirkan oleh ibunya”; [HR Ibnu Majah #1318]. Dengan begitu, mari menunaikan puasa dan bershalat Tarwih. Insya Allah meraih kondisi tiada dosa, seperti bayi yang baru dilahirkan; putih bersih tanpa noda. Kemudian Akung menyela: “Ustadz; saya pernah bershalat Tarwih di desa sebelah; jumlah rakaatnya dua puluh tiga. Cepatnya bacaan seperti ayam mematuk makanannya. Bagaimana hukumnya?”
a
Banas menjelaskan, tentang jumlah rakaat merupakan furuiyah ikhtilafiyah; artinya sesuatu hukum yang bisa diputuskan para ahli fiqh. Shalat Tarwih di Masjidil Kharam ditunaikan sebanyak dua puluh rakaat ditambah tiga rakaat Shalat Witir; sedangkan di Masjid Nabawi ditunaikan empat puluh rakaat ditambah satu rakaat shalat witir; mengikuti tuntunan Khalifah Umar bin Khattab رعنهُ; [HR Tirmidzi #734 + 2 HR lain]. Ada baiknya lebih memperhatikan khusyuk shalatnya, jika dibanding dengan mengejar target dua puluh tiga rakaat; maksudnya, shalatnya khusyuk sebelas rakaat adalah lebih baik.
a
Akung bertanya: “Ustadz; Shalat Tarwih di Masjidil Kharam dan Masjid Nabawi, kenapa tidak merujuk tuntunan Rasulullah ص?” Banas menjelaskan dengan membacakan Hadits, Irbadl bin Sariyah رعنهُ mengatakan: “Pada suatu hari, Rasulullah ص berdiri di tengah-tengah kami. Beliau memberi nasehat yang sangat menyentuh, membuat hati menjadi gemetar dan airmata berlinangan. Kemudian ia berkata: “Wahai Rasulullah, engkau telah memberi nasehat kepada kami satu nasehat perpisahan, maka berilah kami satu wasiyat”. Beliau bersabda: “Hendaklah kalian bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat meski kepada seorang budak Habasyi (yang beriman). Dan sepeninggalku nanti, kalian akan melihat perselisihan yang sangat dahsyat; maka hendaklah kalian berpegang dengan sunnahku dan sunnah para Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk. Gigitlah sunnah itu dengan gigi geraham; jangan sampai kalian mengikuti perkara-perkara yang dibuat-buat, karena sesungguhnya semua bid’ah itu adalah sesat”; [HR Ibnu Majah #42 + 3 HR lain]. Dalam Hadits ini dibelajarkan, Beliau tidak melarang mengikuti tuntunan para Khulafaur Rasyidin; yaitu mereka yang mendapat petunjuk; termasuk para khalifah, ulama salaf dan ulama kalaf. Maksud ulama salaf adalah mereka yang hidupnya sampai dengan tiga abad setelah kewafatan Nabi ص; adapun ulama kalaf, sesudah masa itu. Dengan begitu, kita boleh mengikuti petunjuk yang bersumber dari fatwa ulama; bila fatwa itu merujuk pada sumber syariah Islam. Bukan karena sudah menjadi tradisi”. Akung mengangguk lemah, dan baru memahami. Banas meneruskan: “Dari pada bersilang pendapat jumlah rakaat Shalat Tarwih, ada hal yang lebih penting untuk ditunaikan; yaitu menegakkan malam Bulan Ramadhan, dengan menghiasi amalan bertadarus atau bisa saja dengan membaca Al Qur`an”.
a
Pentingnya amalan ini, dapat dikaitkan dengan Hadits, Abdullah bin Abbas رعنهُ mengisahkan: “Nabi ص adalah seorang yang paling ringan untuk berbuat kebaikan; dan paling dermawan lagi pada Bulan Ramadhan. Jibril menemuinya pada setiap malam dalam Bulan Ramadhan hingga ia berbaring sementara Rasulullah ص memperdengarkan bacaan Al Qur`an. Maka di saat Jibril menemuinya, pada saat itu pula Beliau menjadi orang yang lebih cepat berbuat kebaikan bahkan melebihi cepatnya angin yang berhembus; [HR Bukhari #5 + 9 HR lain]. Tersirat tuntunan, perbanyaklah bertadarus Al Qur`an; maksud “bertadarus” adalah membaca, memahami maknanya, lalu mengamalkan. Selain itu, perbanyaklah berbuat kebaikan; antara lain bersedekah.
a
Kebaikan bersedekah di Bulan Ramadhan dapat dicermati dari Hadits, Shadaqah bin Musa dari Tsabit bin Anas رعنهُما mengatakan, Nabi ص ditanya tentang puasa yang paling utama setelah Ramadhan; Beliau menjawab: “Bulan Sya’ban untuk memuliakan Ramadhan”. Beliau ditanya lagi, lalu kapan sedekah yang paling utama? Beliau menjawab: “Sedekah di Bulan Ramadhan”. Abu Isa berkata, ini adalah Hadits gharib; menurut Ahlul Hadits, Shadaqah bin Musa bukan perawi yang kuat; tetapi ia tidak tercela; [HR Tirmidzi #599].
a
Fadilah juga akan diraih oleh shoimun dan pelantun Al Qur`an yang diriwayatkan dalam Hadits; Abdullah bin Amru رعنهُ berkisah, Nabi ص bersabda: “Kelak pada Hari Kiamat, puasa dan Al Qur’an akan memberi syafaat kepada seorang hamba. Puasa berkata, Duhai Rabb, aku telah menahannya dari makan dan nafsu syahwat di siang hari, maka izinkanlah aku memberi syafaat kepadanya. Dan Al Qur’an berkata, aku telah menahannya dari tidur di malam hari, maka izinkanlah aku memberi syafaat”. Lalu Beliau melanjutkan sabdanya: “Maka mereka berdua (puasa dan Al Qur’an) pun akhirnya memberi syafaat kepadanya (yang mengamalkannya)”; [HR Ahmad #6337]. Hadits ini memberikan pembelajaran, puasa dan Al Qur`an memberi syafaat bagi shoimun. Dalam tataran ketaukhidan, tidak sulit bagi Allah س agar setiap makhluk Nya memberi syafaat.
a
Selain itu patut dicermati, melantunkan satu lafadz juga berpahala besar; antara lain diriwayatkan, Muhammad bin Muslim alias Az Zuhri رعنهُ, berkata: “Satu tasbikh pada Bulan Ramadhan lebih baik daripada seribu tasbih pada waktu selainnya”; [HR Tirmidzi #3394 + 3 HR lain].
a
Penghargaan kepada shoimun juga bisa diraih, diriwayatkan, Sahal bin Saad bin Malik رعنهُ berkisah, Rasulullah ص bersabda: “Dalam surga ada satu pintu yang disebut dengan Ar Royyan. Pada Hari Kiamat, tidak akan ada orang yang masuk ke surga melewati pintu itu kecuali shoimun. Tidak ada yang masuk melewatinya, selain mereka”. Lalu dikatakan: “Mana shoimun?; maka shoimun berdiri menghadap. Tidak akan ada seorangpun yang masuk melewati pintu tersebut selain mereka. Jika mereka telah masuk semua, pintu itu ditutup dan tidak akan ada seorangpun yang masuk melewati pintu itu”; [HR Bukhari #1763 + 7 HR lain]. Dalam Hadits lain diriwayatkan, Zaid bin Khalid Al Juhani رعنهُ mengisahkan, Rasulullah ص bersabda: “Barangsiapa yang memberi makan orang yang berbuka, dia memperoleh pahala seperti orang yang berpuasa tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa sedikitpun”; [HR Tirmidzi, #735, dan 4 HR lain].
a
Akung bertanya: “Ustadz; bagaimana kalau terlupa sehingga berbuka?” Banas menjawab dengan membacakan Hadits, Abu Hurairah رعنهُmendengar Rasulullah ص bersabda: “Barang siapa yang lupa, lalu makan atau minum ketika berpuasa, maka janganlah membatalkan puasanya, karena hal itu adalah rizqi yang Allah rizqikan kepadanya”; [HR Tirmidzi #654 + 1 HR lain]. “Alkhamdulillah”; begitu Akung berkata lirih; ia terkenang puasa tahun lalu mengalami peristiwa ini, tapi meneruskan berpuasa.
a
Banas meneruskan dengan membacakan Hadits, Abdullah bin Umar رعنهُ mendengar ” Rasulullah ص bersabda: “Barangsiapa meninggal dan masih memiliki tanggungan Puasa Ramadhan, maka hendaklah (ahli warisnya) menggantinya dengan memberi makan satu orang miskin setiap harinya”; [HR Ibnu Majah #1747 + 2 HR lain]. Hadits ini harus menjadi pedoman bagi ahli waris yang terdapat diantara kerabatnya diajalkan dan masih menanggung hutang Puasa Ramadhan ataupun puasa nadzar. Lalu Akung bertanya tentang malam Lailatul Qadr.
a
d) Raihlah Lailatul Qadr
a
Banas tersenyum kecil penuh kebapakan ketika mendengar pertanyaan itu; lalu dikatakan: “Jika menyebut malam Lailatul Qadr, maka artinya adalah malam malam qadr; karena makna lain adalah malam. Pengucapan yang benar adalah cukup Lailatul Qadr; walau terasa agak nanggung”.
a
Kemudian Banas menjelaskan: “Arti harfiah Lailatul Qadr adalah malam penetapan. Tetapi bila diterjemahkan seperti itu, maka masih menimbulkan pertanyaan lagi. Karenanya, mari merujuk Hadits, Lailatul Qadr adalah malam yang penuh keberkahan; [HR Ahmad #15468]. Arti keberkahan adalah kebaikan, kemuliaan atau semisal ini. Karunia berupa malam kemuliaan harus diraih secara khusus; artinya tidak semua shoimun mendapatkannya. Para shoimun harus beriktikaf untuk memiliki peluang meraihnya; bahkan malam turunnya, juga menjadi rahasia Nya saja. Walaupun untuk meraihnya termasuk amalan saleh, tetapi tidak ada salahnya dibicarakan secara terpisah”. Lalu perbincangan diteruskan.
a
Akung menyela: “Ustadz; Lailatul Qadr pernah didakwahkan di tv swasta nasional. Kyainya membaca lafadz [لَيْلَةِ الْقَدْرِ] pada Surah Al Qadr; dikatakan, lafadz ini terdiri dari 9 huruf yang diwahyukan tiga kali. Kemudian kyai itu memastikan Lailatul Qadr jatuh pada malam ke (3×9)= 27. Betulkah begitu?” “Astaghfirullah”; begitu Banas merespon. Lalu menjelaskan: ”Kyai itu merasa lebih pintar dibanding Rasulullah ص; karena Beliau tidak pernah menuntunkan begitu. Dan merasa menyamai pengetahuannya dengan Allah س; karena Dia tetap merahasiakan waktu turunnya”. Lalu dikatakan, memang ada Hadits yang mengisahkan, Lailatul Qadr jatuh di malam ke dua puluh tujuh; [HR Abu Daud #1170 + 11 HR lain]. Tetapi seluruh Hadits itu tidak meriwayatkan bahwa perawi mendengar langsung dari Nabi ص. Karenanya tidak perlu mengikuti pemikiran kyai itu; semoga Allah س mengampuninya. Mari memahami Hadits yang mengisahkan tentang Lailatul Qadr;
a
Abu Salamah رعنهُ menceriterakan, pergi menemui Abu Sa’id Al Khudri رعنهُ. Lalu ia bertanya: “Maukah anda pergi bersama kami ke bawah pohon kurma lalu berbincang-bincang di sana?”
Ia pun pergi dan bercakap-cakap bersama kami. Aku kemudian berkata: “Ceritakanlah apa yang anda dengar dari Nabi ص tentang Lailatul Qadar”. Dia menjawab: ” Rasulullah ص melaksanakan iktikaf pada sepuluh malam yang awal dari Ramadhan, dan kami juga ikut beriktikaf bersama Beliau. Lalu datanglah Malaikat Jibril, dan berkata: “Sesungguhnya apa yang kamu cari ada di depan kamu (maksudnya, pada malam berikutnya)”. Maka Beliau beriktikaf pada sepuluh malam pertengahannya dan kami pun ikut beriktikaf bersama Beliau. Malaikat Jibril datang lagi dan berkata: “Sesungguhnya apa yang kamu cari ada di depan kamu (yaitu pada malam berikutnya)”.
Maka Nabi ص berdiri memberi kutbah kepada kami pada pagi hari di hari ke dua puluh dari bulan Ramadhan; Beliau bersabda: “Barangsiapa sudah beriktikaf bersama Nabi ص maka pulanglah, karena aku diperlihatkan (dalam mimpi) Lailatul Qadar; tapi aku dilupakan waktunya yang pasti. Ia ada pada sepuluh malam-malam akhir dan pada malam yang ganjil. Sungguh aku melihat dalam mimpi, bahwa aku sujud di atas tanah dan air (yang becek)”. Pada masa itu atap masjid masih terbuat dari daun dan pelepah pohon kurma, dan kami tidak melihat sesuatu di atas langit hingga lalu datang awan dan turunlah air hujan. Maka Nabi ص shalat bersama kami hingga aku melihat sisa-sisa tanah dan air pada wajah dan ujung hidung Rasulullah ص sebagai bukti kebenaran mimpi (wahyu) beliau”; [HR Bukhari #771 + 6 HR lain].
a
Dalam Hadits lain, juga diriwayatkan, Hafshah binti Umar رعنها isteri Rasulullah ص, mendengar Beliau bersabda: “Lailatul Qadr diturunkan pada sepuluh malam terakhir di Bulan Ramadhan”; [HR Bukhari #1088 + 60 HR lain]. Lalu dalam Hadits lain diriwayatkan, Abdullah bin Umar رعنهُ mendengar Nabi ص bersabda: “Lailatul Qadr turun pada tujuh malam terakhir”; [HR Bukhari #1876 + 20 HR lain]. Masih ada Hadits lain, Turunnya Lailatul Qadr pada malam ke tujuh belas, dua puluh satu dan dua puluh tiga; [HR Abu Daud #1176].
a
Dengan berbagai periwayatan tadi, ada baiknya kita mengikuti pendapat yang banyak dirujuk oleh Ahli Fiqh, bahwa turunnya Lailatul Qadr adalah sejak sepuluh malam terakhir di Bulan Ramadhan, pada tanggal-tanggal ganjil; yaitu 21, 23, 25 dan 27. Pada malam-malam itu, beriktikaflah dan berdoa seperti doa Aisyah رعنها, [ اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي ] Artinya, Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dan Engkau mencintai seorang pemaaf, maka ampunilah aku”; [HR Ahmad, #24322, dan 3 HR lain].
a
Ketika Akung menanyakan cara beriktikaf, Banas menjelaskan: “Secara harfiah, iktikaf berarti mengurung diri, berdiam diri; amalannya harus ditunaikan di dalam masjid pada malam hari. Lajimnya begini:
AAMelaksanakan salat sunnah, seperti shalat takhiyyatul masjid, salat lail dan lain-lainnya.
AAMembaca buku agama dan bertadarus Al Qur`an.
AABerdzikir dan berdoa.
a
Ada kalanya, takmir masjid menyelenggarakan ceramah iktikaf. Namun tidak ditemukan Hadits, bahwa Rasulullah ص berkutbah pada saat iktikaf atau disela-sela iktikafnya. Walau begitu, Insya Allah, setiap takmir masjid sudah memahami tata cara beriktikaf.
a
Lalu tutuplah Bulan Ramadhan dengan penyerahan Zakat Fitrah; dalam suatu Hadits diriwayatkan, Qais bin Sa’d رعنهُ antara lain berkata: “Nabi ص memerintahkan kami untuk menunaikan zakat fitrah sebelum turunnya ayat zakat”; [HR Ibnu Majah #1818 + 4 HR lain]. Ayat zakat terdapat dalam QS At Taubah (9):103; difirmankan, Ambillah zakat dari sebagian harta mereka; dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka. Dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketentraman jiwa bagi mereka. Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Melalui ayat ini ditegaskan, ambillah zakat; maknanya, Allah س memerintahkan untuk memungut Zakat. Dalam ayat ini, tidak dibedakan antara Zakat Mal dan Zakat Fitrah; kedua-duanya memiliki fadilah membersihkan dan mensucikan. Insya Allah, fadilah dari Zakat Mal adalah untuk membersihkan harta. Sedangkan Zakat Fitrah mensucikan jiwa. Para penerima Zakat wajib berdoa; setiap lantunan doa, Insya Allah menentramkan jiwa dari pembayar Zakat. Mendengar semua penjelasan ini, Akung berkata: “Ustadz; sesungguhnya shoimun sangat dimanjakan dengan pahala yang banyak. Adakah diantara mereka yang merugi?”
a
e) Shoimun Yang Merugi
a
Banas menjelaskan, ada diantara shoimun yang merugi karena amalannya tidak sempurna. Misalnya mempercayai Hadits ”Tidurnya orang yang berpuasa ibadah, diamnya tasbih, doanya diijabah dan amalnya diterima”. Menurut Syeikh Al Bani didalam kitab ”As Silsilah adh Dhaifah wa al Maudhu’ah”, Hadits ini palsu diriwayatkan Sulaiman bin Umar alias Abu Daud An Nakh’i adalah seorang pendusta. Dengan begitu, Insya Allah, Hadits ini tidak bisa dijadikan rujukan peribadahan.
a
Bila tidak mampu menahan nafsu syahwat juga merugi; diriwayatkan, Abu Hurairah رعنهُ berkisah, ada seorang laki-laki datang kepada Nabi ص sambil berkata: “Celaka aku, aku telah menyetubuhi isteriku di (siang) Bulan Ramadhan”. Dalam Hadits ini dikisahkan, Beliau memerintahkan membayar kifarat (denda), yaitu memerdekakan seorang budak; tetapi tidak bisa. Lalu diperintahkan berpuasa dua bulan berturut-turut; juga tidak sanggup. Kemudian Beliau memerintahkan memberi makan 60 orang miskin, tapi ia tidak mampu. Kelanjutan Haditsnya, Lalu Beliau memberinya keranjang yang berisi kurma Al Araq atau Al Miktal (sebanding antara 15-20 sha’). Lalu Beliau bersabda: “Dimanakah laki-laki yang bertanya tadi? Pergi dan bersedekahlah dengan ini”. Ia menjawab: “Demi Allah, antara dua lembah ini tidak ada keluarga yang lebih membutuhkan ini kecuali kami”. Nabi ص tersenyum hingga kelihatan gigi gerahamnya, lalu bersabda: “Kalau begitu, berilah makan kepada keluargamu”; [HR Bukhari #1800 + 4 HR lain]. Hadits ini menuntunkan kifarat dari yang terberat sampai paling ringan, sebagai pesan wanti-wanti agar tidak melakukan itu.
a
Ada juga shoimun yang merugi, merujuk Hadits, Abu Hurairah رعنهُ mendengar Rasulullah ص bersabda: “Barangsiapa berbuka satu hari pada Bulan Ramadhan tanpa alasan rukhshah yang diberikan Allah, maka tidak dapat menggantinya meskipun puasa satu tahun”; [HR Abu Daud #2045 + 8 HR lain]. Dalam Kitab Tafsir Hadits diterangkan pelurusan; matan yang benar, tidak diterima qadha puasanya walaupun membayarnya sepanjang tahun”.
a
Akhirul Kalam
a
Akung berkata: “Ustadz; sangat merugi mereka yang terperosok bujuk rayu setan, sehingga mudah berbuka puasa dan menganggapnya sebagai hutang puasa. Atau beralasan sakit mag bila puasa, pusing-pusing dan segudang alasan lain; lalu berfidyah”. Banas menasehatkan, bila ingin berfidyah harus memenuhi syarat-syarat tertentu. Lalu Akung bertanya: “Ustadz; masih ada yang belum tuntas; bagaimana bisa membelenggu setan?” Banas cepat merespon dengan beristighfar; lalu dikatakan: “Mari kita tuntaskan”.
a
Kita perlu mencermati firman Nya dalam QS Al Hijr (15):40; berisi perkataan iblis, (dalam ayat 39 difirmankan perkataan iblis, aku akan menyesatkan mereka semuanya); (pada ayat 40 difirmankan perkataan iblis) Kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis diantara mereka”. Ayat ini menyiratkan pengakuan, setan takut kepada kaum mukhlis; yaitu mereka yang menyenangi beramal saleh. Serasa belum terpuaskan, Akung masih bertanya: “Ustadz; apakah setiap mukmin yang beramal saleh bisa disebut mukhlis?” Banas menjelaskan: “Tidak selalu begitu; karena yang tampak secara lahiriah belum tentu mencerminkan suasana batinnya. Ada syarat yang harus dipenuhi; amalannya dilandasi imanan wa tisaban, lillahi ta`ala. Maksudnya, sesuatu amalan dapat disebut amal saleh, jika dilandasi keimanan, keikhlasan dan mencari ridho Nya. Allah س yang berhak menilai, apakah termasuk amal saleh atau hanya amalan karena ri`a.
a
Misalnya dalam QS At Taubah (9):54 difirmankan, Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul Nya. Mereka tidak mengerjakan shalat, melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan. Banas melanjutkan, bersedekah dan shalat bisa dilihat sebagai amal saleh, tetapi jika tidak dilandasi keimanan, keikhlasan dan mencari ridho Nya, Insya Allah shalat dan sedekahnya, bukan termasuk amalan saleh.
a
Lalu dikatakan: “Setiap orang yang selalu beramal saleh, Insya Allah menjadi mukhlis. Sifat mukhlisnya membelenggu setan; dapat terjadi pada Bulan Ramadhan dan di semua bulan. Mari mempertahankan beramal saleh sepanjang masa agar kita bisa menjadi kaum mukhlis sehingga dapat membelenggu setan selama hayat”.
a
Mendengar ini, terbetik niat dalam hati Akung untuk selalu beramal saleh di sepanjang tahun dengan cara yang baik dan benar. Lalu keduanya menengadahkan tangan dan memanjatkan doa, semoga Allah س mempertemukan kembali dengan Bulan Ramadhan tahun depan. Kemudian mereka saling berjabat tangan; setelah berucap salam, lalu berpisah di bawah bayang-bayang sinar matahari.
a
Sekian, semoga barokallah; Insya Allahu Amin.
a
Rujukan Penulisan
a
1977-1995aiSayyid Sabiq., Fikih Sunnah Jilid I s/d XIV; Penerbit Al Ma`arif Bandung.
1991-1995aiDepartemen Agama RI., Al Qur`an dan Tafsirnya; Penerbit UII Yogyakarta.
2000-1995aiKHQ Shaleh, HAA Dahlan., Asbabun Nuzul, Latar Belakang Historis Turunnya Ayat-ayat Al-Quran; Penerbit Diponegoro, Bandung.
1999-2011aiMuhammad Nasib Ar-Rifa`i., Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir Jilid I s/d IV; Gema Insani, Jakarta & Depok.
2010-1995aiImam Jalaluddin Al Mahalli dan Imam Jalaluddin As Suyuti, Tafsir Jalalain; Sinar Baru Algensindo, Bandung.
2010-1995aiMufassir., Enam Ringkasan Tafsir; Hilal Penerbit Al Qur’an, Bandung.
2010-2011aiLidwa Pusaka dan Saltanera., Software Ensiklopedi Kitab Hadits 9 Imam; Jakarta.
2015-2011aiIslamic Digital Boarding College (IDBC) Seri Al Bayan., Software Al Qur`an dan Terjemahannya; Solo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>