Persaudaraan Sesama Muslim

Intro: Silaturrakhmi
a
Hingar bingar ceria masih menyelimuti nuansa keseharian pasca sukses mudik lebaran; hari ini Akung memacu motornya untuk berlebaran, walau masa Puasa Syawal sudah terlewati. Setelah berkabar-kabar Islami sesaat sesudah bertemu, Akung menjawab pertanyaan kesibukan yang datang menghadang. Menyiapkan acara reuni di kampus; itu yang dikatakan, walau termangu. “Ustadz”; begitu ia meneruskan pembicaraan. Lalu dikatakan: “Kami akan membuat spanduk ahlan wa sahlan; tetapi diantara kami ada selisih pendapat; menggunakan sebutan silaturrakhim atau silaturrakhmi”.
a
Dengan senyumannya yang khas, Banas menjelaskan: “Mari menelisik dari perbendaharaan kata; dua istilah itu berbeda satu sama lain tetapi juga memiliki persamaan. Dari rangkaian kata-katanya, terdapat kata dasar yang sama, yaitu [وَصَلَ]; lalu dibentuk menjadi lafadz [صِلَة]; bisa dibaca silat, silah, artinya hubungan dan atau tali; pemaknaan ini menggambarkan hubungan antar orang. Tetapi tidak bisa diucapkan sendirian. Ketika Akung bertanya maksudnya, Banas menjelaskan, kata silat atau silah harus dirangkai dengan lafadz lain. Dalam perbendaharan kata, sebutan silat selalu dirangkai dengan lafadz rakhim dan rakhmi. Kedua lafadz ini bisa diurai menjadi begini.
a
Sebutan rakhim, merupakan bagian dari tubuh wanita sebagai tempat disemaikannya janin; dalam konteks bahasa tertentu juga disebut kandungan. Pemaknaan ini dapat merujuk ke QS Al Mukminun (23):13 dan QS Al Mursalat (77):21. Dalam kedua ayat ini terdapat penjelasan kisah penciptaan manusia yang diawali dengan disimpannya/diletakkannya air mani di tempat yang kokoh (rakhim). Selain itu, sebutan rakhim menyifati tempat disemaikannya janin; yaitu sebagai tempat ditumbuhkannya kasih sayang. Insya Allah, setiap perempuan yang mengandungi janin dalam ikatan pernikahan, niscaya menyayangi janin yang dikandung.
a
Sedangkan lafadz rakhman bermula dari salah satu sifat Allah س, yaitu Ar Rakhman; lalu berangkai dengan Ar Rakhim. Dalam Kitab Al Qur`an, dapat dijumpai banyak sifat Allah س itu; yaitu dalam lafadz [اَلرَّحْمَن اَلرَّحِيْمِ] atau berdiri sendiri [اَلرَّحْمَن] dan atau [اَلرَّحِيْمِ]. Misalnya ketika membaca Ummul Qur`an, dapat ditemukan firman Nya pada ayat pertama, yaitu [بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ]; artinya, Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
a
Dalam Kamus Bahasa Indonesia, silaturrakhim dan silaturrakhmi diterjemahkan sama, yaitu tali persahabatan dan tali persaudaraan; bisa dikatakan tali hubungan antar orang. “Rakhman, rakhim dan persaudaraan, memiliki keterkaitan satu sama lain”; begitu Banas meneruskan penjelasannya. Kemudian diajaknya Akung membicarakan lebih lanjut; inilah kisah mereka.
a
1. Rakhman dan Rakhim
a
Banas mengatakan: “Pada awal perbincangan tadi disampaikan, lafadz silaturrakhim dan silaturrakhmi bisa saling bertukar tempat. Tetapi bila kita mencari penjelasan di internet dengan cara ngeklik “perbedaan silaturahmi dan silaturahim”; niscaya akan muncul banyak pendapat. Beberapa diantaranya, menyalahkan penggunaan lafadz silaturrakhmi. Dalam berbagai website itu disebutkan, bahwa yang benar adalah silaturrakhim; pendapat ini keliru”.
a
Untuk mendapat penjelasan makna kedua lafadz itu, mari mencermati Hadits, Abdullah bin Amr رعنهُ berkisah, Rasulullah ص, bersabda: “Orang-orang yang mengasihi akan dikasihi oleh Ar Rakhman. Berkasih sayanglah kepada siapapun yang ada di bumi, niscaya Yang Ada di langit akan mengasihi kalian. Lafadz Ar Rakhim (kasih sayang) diambil dari lafadz Ar Rakhman. Maka barangsiapa yang menyambung tali silaturrakhmi niscaya Allah akan menyambungnya (dengan rakhmat Nya) dan barang siapa yang memutus tali silaturrakhmi maka Allah akan memutusnya (dari rakhmat Nya)”; [HR Tirmidzi #1847 + 2 HR lain]. Dari Hadits ini ada pembelajaran,
AAAntara lafadz rakhman dan rakhim bisa memiliki makna yang sama.
AARakhim bersumber dari akar kata rakhman dan keduanya memiliki arti kasih sayang. Yaitu kasih sayang dari Allah س kepada seluruh makhluk Nya yang wadag dan yang ghaib, yang beriman dan yang kafir, yang bernyawa dan tak bernyawa serta kasih sayang antara sesama makhluk.
AAAr Rakhman adalah sebutan salah satu sifat Nya; rakhim, sebutan untuk kandungan atau tempat bersemayamnya janin, menyifatkan kasih sayang.
Allah س mengaitkan dua lafadz ini dengan pemberian rakhmat Nya. Allah س mengancam mereka yang memutus silaturrakhmi niscaya diputus rakhmat Nya. [HR Tirmidzi #1847 + 2 HR lain]. Allah س mengkharramkan surga bagi pemutus silaturrakhmi; [HR Bukhari #5525 + 11 HR lain ]. Mendengar ini, Akung mengangguk penuh perhatian; lalu ditanyakan: “Ustadz; kalau begitu, mana yang betul; apakah dituliskan Ahlan wa Sahlan Reuni Silaturrakhmi atau Reuni Silaturrakhim?” Banas menjelaskan begini.
a
Silaturrakhim
a
Tadi sudah dibicarakan, lafadz rakhim adalah untuk menyebut kandungan; bahkan ada yang sering mengatakan kandungan rakhim. Dengan begitu, pemaknaan silaturrakhim adalah menyambung tali persaudaraan dengan orang-orang yang memiliki ikatan kekerabatan karena hubungan darah secara langsung. Mereka adalah orangtua, kakak dan adik. Selain itu, juga dimaknakan menyambung tali persaudaraan dengan orang-orang yang memiliki hubungan kekerabatan darah tidak langsung. Yaitu kakek, nenek, keponakan, kakak atau adik dari ayah dan atau dari ibu, dan semisal itu.
a
Silaturrakhmi
a
Dalam Hadits yang sudah dibicarakan, dituntunkan, lafadz Ar Rakhim (kasih sayang) diambil dari lafadz Ar Rakhman;[HR Tirmidzi #1847 + 2 HR lain]. Kemudian bisa merujuk QS Al Hujurat (49):10; arti firman Nya, Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rakhmat. Atas ayat ini, dalam Kitab Tafsir dijelaskan, makna lafadz damaikanlah antara kedua saudaramu; yaitu (kala itu) dimaksudkan sebagai perintah Nya untuk mendamaikan Bani Muawiyah yang akan berperang melawan Bani Hasyim. Perintah ini mengisyaratkan, dilarang berperang dengan sesama mukmin; karena bersaudara.
a
Dengan begitu, bila akan menyelenggarakan acara Reuni, Insya Allah lebih tepat menggunakan sebutan Reuni Silaturrakhmi. Secara bebas dapat diartikan Pertemuan Kekeluargaan. Akung menyela: “Ustadz; sebutan ini berasal dari konsep Islami. Padahal dalam acara ini, tentunya yang hadir tidak semua mukmin. Bagaimana?” Lalu Banas menjelaskan: “Silaturrakhmi sudah menjadi istilah baku dalam Bahasa Indonesia; dapat diterjemahkan menjadi tali persahabatan tanpa mensyaratkan khusus bagi kaum mukmin. Tidak ada salahnya menggunakan Silaturrakhmi”. Kemudian perbincangan diteruskan.
a
Bila masih ada yang memperdebatkan, sampaikan kepada mereka suatu Hadits, Anas bin Malik رعنهُ mengisahkan, Rasulullah ص (antara lain) bersabda: “Barangsiapa meninggalkan debat meskipun ia benar, maka akan dibangunkan baginya istana di tengah surga”; [HR Ibnu Majah #50]. Lalu kita dapati Fatwa Ulama, yang menegaskan, [لا مشاحة فى الاصطلاح]; artinya tidak ada perdebatan dalam peristilahan. [https://konsultasisyariah.com/19840-silaturrahmi-ataukah-silaturahim.html]. Usai menyampaikan perihal ini, Banas mengajak untuk membicarakan amalan persaudaraan sesama mukmin dalam berkehidupan.
a
2. Pondasi Persaudaraan
a
Banas menjelaskan QS Ali Imran (3):103; difirmankan, Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai. Dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (di masa Jahiliyyah) bermusuh-musuhan. Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara. Dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. Ayat ini menegaskan pentingnya tidak bercerai berai; dan Allah س mempersatukan hati mereka yang bermusuhan.
a
Dalam ayat ini terdapat lafadz tali Allah; kita bisa mencari maknanya dari suatu periwayatan, bahwa Kitab Al Qur`an adalah tali Allah; [HR Tirmidzi #2831 + 3 HR lain]. Dengan begitu, bila tetap berpegang teguh pada Kitab Al Qur`an niscaya tidak tercerai berai. Maknanya, tetap dalam ikatan persaudaraan sesama mukmin. Allahu a`lam”.
a
“Salah satu fondasi penegasan kebersaudaraan ditandai dengan pengucapan salam sesama mukmin. Tetapi ada segelintir kaum muslim yang senang mengucapkan [صَبَحُ الْخَيْرُ]; artinya selamat pagi. Ini bermakna, ia membahasa arabkan ucapan non-islami, menjadi seolah-olah Islami. Dalam keislaman, ucapan seperti ini tidak ada; karena Islam tidak pernah menuntunkan untuk memberi ucapan selamat kepada pagi, siang, sore atau selamat malam hari”.
a
Banas meneruskan: “Lafadz yang harus diucapkan oleh setiap kaum mukmin adalah [اَ سَّلآمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ]; artinya, semoga keselamatan, rakhmat dan keberkahan Allah س tertuju kepadamu (orang yang diberi ucapan salam). Bagi yang mendengar, harus menjawab [وَعَلَيْكُمُ سَّلآمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ]; artinya, (penerima salam berdoa) dan semoga keselamatan, rakhmat dan keberkahan Allah س (juga) tertuju kepadamu (orang yang memberi ucapan salam). Dengan begitu, dalam kedua lafadz ini terdapat ucapan saling mendoakan kebaikan sebagai penanda persaudaraan dengan sesama mukmin”. Saat Banas berhenti bicara, Akung bertanya: “Ustadz; sejak kapan diperintahkan saling mengucapkan salam?” Kemudian Banas menjelaskan.
a
Mari mencari jawabannya dari Hadits, Abu Hurairah رعنهُ mendengar Nabi ص bersabda: ” Allah telah menciptakan Adam dengan semua ciri fisiknya, tingginya enam puluh hasta (36 Mt)”. Kemudian Beliau mengisahkan, setelah Allah selesai menciptakannya, Allah berfirman: “Sana pergi, dan ucapkanlah salam kepada malaikat yang duduk itu, dan dengarkan baik-baik bacaan salam mereka kepadamu. Sebab itu sebagai salam penghormatanmu dan juga anak cucu keturunanmu”. Lalu Beliau bersabda, Adam mengucapkan: “Assalamu’alaikum”. Para malaikat menjawab: “Assalamu’alaika warakhmatullah”. Lalu menambahnya lagi dengan ucapan “Wabarakatuh”. Selanjutnya Beliau meneruskan: “Maka siapapun yang masuk surga, ciri fisiknya seperti Adam (tingginya 60 hasta). Namun (di dunia) manusia semenjak jaman Adam, tingginya semakin berkurang hingga seperti sekarang”; [HR Bukhari #5759 + 1 HR lain]. Dalam Hadits ini diriwayatkan, awal mula pengucapan salam telah dimulai ketika Adam ع berada di surga. Atas perintah Nya, beliau mengucapkan salam kepada Malaikat. Lalu ucapan salam itu ditetapkan sebagai salam penghormatan kepada Adam ع dan juga anak cucu keturunannya; artinya berlaku bagi Bani Adam, ya kita semua ini. “Subkhanallah”; begitu Akung berucap lirih. Lalu dikatakan: “Sungguh Islam adalah agama yang mumpuni. Segala sesuatunya telah diatur sejak awal penciptaan”. Lalu Banas mengajak melanjutkan perbincangan.
a
3. Merapatkan Persaudaraan
a
Pengucapan salam dalam berbagai kesempatan merupakan salah satu tanda persaudaraan keislaman. Lafadz ini harus dilantunkan bila bertemu dengan sesama mukmin atau memulai suatu pembicaraan; misalnya dalam pertemuan, kutbah Shalat Jumat, kutbah Shalat Hari Raya, dan semisal itu. Bahkan dalam kehidupan Nabi Ibrahim ع dikisahkan, ketika malaikat bertemu beliau, juga mengucapkan salam. Hal ini difirmankan dalam QS Hud (11):69, Dan sesungguhnya utusan-utusan Kami (malaikat-malaikat) telah datang kepada Ibrahim dengan membawa kabar gembira. Mereka mengucapkan: “Salaman” (Selamat). Ibrahim menjawab: “Salamun” (Selamatlah), maka tidak lama kemudian Ibrahim menyuguhkan daging anak sapi yang dipanggang. Merujuk ayat ini, maka nyatalah ketetapan Allah س, bahwa pengucapan salam diberlakukan bagi seluruh Bani Adam; [HR Bukhari #5759 + 1 HR lain].
a
Lalu Banas membacakan Hadits lain, Abdullah bin Amru رعنهُ berkisah, ada seseorang yang datang kepada Nabi ص lalu bertanya: “Islam manakah yang paling baik?” Nabi ص menjawab: “Kamu memberi makan, mengucapkan salam kepada orang yang kamu kenal dan yang tidak kamu kenal”; [HR Bukhari #11 + 7 HR lain]. Dalam Hadits ini dituntunkan, mengucapkan salam merupakan salah satu dari tanda muslim yang baik; dikenal atau tidak dikenal.
a
Persaudaraan juga dapat ditelisik dari Hadits, Al Bara’ bin Azib رعنهُ berkata: “Nabi ص memerintahkan kami tentang tujuh perkara dan melarang kami dari tujuh perkara pula”. Dalam Hadits ini, antara lain diriwayatkan, “Beliau memerintahkan untuk menjawab salam dan mendoakan orang bersin”; [HR Bukhari #1163 + 8 HR lain]. Diantara tujuh perintah itu, Beliau mewajibkan untuk menjawab salam dan mendoakan orang yang bersin.
a
Bagaimana saling mendoakan bagi mereka yang bersin?; dalam suatu Hadits diriwayatkan, Abu Hurairah رعنهُ mendengar Nabi ص bersabda: “Apabila salah seorang dari kalian bersin, maka ucapkan [الْحَمْدُ لِلهِ]; yang mendengar agar mengucapkan [يَرْحَمُكَ اللهِ], artinya semoga Allah merahmatimu; lalu yang bersin membalas; [يَهْدِ كُمُ اللهُ وَ يُصْلِهُ بَا لَكُمُ], artinya semoga Allah memberimu petunjuk dan memperbaiki hatimu”; [HR Bukhari #5756 + 11 HR lain]. Melalui Hadits ini dituntunkan, persaudaraan sesama mukmin perlu tetap direkatkan, bahkan mengucapkan sesuatu lafadz yang berisi doa, yaitu saat bersin. Akung mengemukakan: “Ustadz; pak kyai desa sebelah, menganjurkan agar membalas salam dengan ucapan yang lebih baik. Maksudnya apa?”
a
Mendapat pertanyaan ini, Banas membuka mushkhaf Al Qur`an, lalu membacakan QS An Nisa’ (4):86; Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu. Dengan sangat gamblang, kita diperintahkan memberikan yang lebih baik jika dibanding yang diterima. Dalam ayat ini ditegaskan, bila menerima penghormatan maka balaslah dengan penghormatan yang lebih baik. Dikaitkan dengan pemberian ucapan salam, tersirat makna agar menjawab salam secara lebih lengkap atau sama lengkapnya.
a
Untuk membulatkan pemahaman perintah dalam ayat itu, mari memahami Hadits, Imran bin Hushain رعنهُ berkisah seorang laki-laki yang datang kepada Nabi ص mengucapkan: “Assalamu `alaikum” Beliau membalas salamnya lalu duduk; lalu bersabda: “Sepuluh”. Lalu ada yang datang dan mengucapkan salam: “Assalamu `alaikum wa rakhmatullah”. Beliau membalas salamnya, lalu duduk; lalu bersabda: “Dua puluh”. Lalu ada yang datang lagi dan mengucapkan salam, “Assalamu `alaikum wa rakhmatullahi wa barakatuh”. Beliau membalas salamnya, dan duduk; lalu bersabda: “Tiga puluh”. Dalam Hadits ini juga ada tambahan periwayatan, Sahl bin Mu’adz bin Anas dari Bapaknya رعنهُم mengisahkan peristiwa serupa itu dan menambahkan, datang orang lain, mengucapkan: “Assalamu `alaikum wa rakhmatullah wa barakatuh wa maghfiratuh”. Beliau menjawab, lalu bersabda: “Empat puluh”. Imran berkata: “Seperti inilah fadilah”. [HR Abu Daud #4521 + 3 HR lain].
a
Dalam Hadits ini terdapat tuntunan besarnya pahala kebaikan atas jawaban salam; mulai dari sepuluh sampai empat puluh. Tergantung dari lengkapnya ucapan salam. Tuntunan ini mengiringi makna yang tersirat dalam QS An Nisa’ (4):86; yaitu semakin baik penghormatannya semakin besar pahalanya.
a
Akung berkisah, seringkali menerima ucapan salam dari teman non-islam; lalu ditanyakan, bagaimana sikap sebagai mukmin? Atas pertanyaan ini, kemudian Banas membacakan Hadits, Rasulullah ص menuntunkan agar membalas ucapan salam itu dengan mengucapkan [عَلَيْكَ وَ]; artinya, ya itu juga untukmu. Dalam Hadits itu dikisahkan, kaum kafir mengucapkan salam dengan mengatakan [ سَامٌ عَلَيْكَ] dibaca “samun `alaika”; artinya, “semoga kematian menimpamu”; [HR Bukhari #5565 + 10 HR lain].
a
Merujuk Hadits ini, bila menerima ucapan salam dari non-muslim harus dijawab dengan ucapan [عَلَيْكَ وَ]; agar apapun perkataan mereka juga tertuju bagi dirinya. Rasulullah ص tidak melarang kaum muslim menjalin hubungan sosial dengan umat non muslim. Tetapi Beliau menuntunkan, Jangan mendahului memberi salam kepada mereka; [HR Muslim #4030 + 2 HR lain]. Kemudian Akung bertanya, apakah pernah Rasulullah ص tidak menjawab salam?
a
Setelah membetulkan duduknya, Banas menjelaskan: “Ada beberapa periwayatan mengenai perkara itu. Beliau tidak menjawab salam, ketika sedang bershalat; [HR Bukhari #1124 + 11 HR lain]. Hal ini terkait dengan firman Nya dalam QS Al Baqarah (2):238; artinya Peliharalah segala shalat (mu), dan (peliharalah) shalat wustha. Berdirilah karena Allah (dalam shalatmu) dengan khusyuk. Jika Beliau menjawab salam, Insya Allah menjadikan shalatnya tidak khusyuk. Lalu terdapat periwayatan, Beliau tidak menjawab salam ketika sedang berwudhu; [HR Abu Daud #16 + 3 HR lain]. Beliau juga tidak menjawab salam, ketika sedang berada di kakus; [HR Tirmidzi #2644 + 4 HR lain]. Dari tiga periwayatan itu, masing-masing mengisahkan, Rasulullah ص menjawab salam, sesudah selesai shalat, usai berwudhu dan selesai bersuci dan lalu keluar dari kakus.
a
Kemudian Akung mengisahkan, seringkali temannya berteriak mengucap salam, pada saat motornya melaju; bagaimana? Banas mengemukakan: “Tidak ada tuntunan tentang adab mengucap salam; tetapi secara kepatutan, seharusnya dilantunkan dengan sopan, bukan dengan memacu kendaraan. Bila kita menjawabnya, niscaya pemberi salam tidak mendengarnya. Tetapi ada tuntunan dalam Hadits, Abu Hurairah رعنهُ mendengar Rasulullah ص bersabda: “Orang yang berkendaraan mengucapkan salam kepada yang berjalan, dan orang yang berjalan kepada orang yang duduk, orang yang sedikit kepada orang yang lebih banyak. Barangsiapa yang menjawab salam maka dia mendapatkan (pahala) dan yang tidak menjawab, dia tidak mendapatkan apa-apa”; [HR Bukhari #5764 + 14 HR lain].
a
Pengucapan salam sebagai penanda persaudaraan juga harus dilakukan ketika mendatangi rumah. Dalam QS An Nur (24):27 difirmankan, Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat. Dalam Kitab Asbabun Nuzul dikisahkan, wahyu Nya ini terkait pengaduan seorang wanita Anshar kepada Rasulullah ص; ia tidak ingin orang memasuki rumahnya, ketika ia tidak ingin dilihat orang lain. Maka turunlah ayat ini; kemudian Beliau memberi tuntunan seperti makna ayatnya.
a
Perintah serupa ini juga terdapat dalam QS An Nur (24):61, antara lain difirmankan Maka apabila kamu memasuki (suatu rumah dari) rumah-rumah (ini) hendaklah kamu memberi salam kepada (penghuninya yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberi keberkahan lagi baik. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat (Nya) bagimu, agar kamu memahaminya. Melalui ayat ini ditegaskan, ucapkanlah salam bila memasuki rumah sendiri dan atau rumah milik kerabat atau sesama mukmin lainnya. Dalam ayat ini terdapat penegasan, berarti memberi salam (ucapan selamat) kepada dirimu sendiri; karena di dalam setiap pelantunan salam, selalu saling mendoakan kebaikan antara yang mengucapkan salam dan yang menerima ucapan itu.
a
Ada fadilah lain bila mengucapkan salam pada saat akan memasuki rumah; diriwayatkan, Jabir bin Abdullah رعنهُ mendengar Nabi ص mengisahkan, jika seseorang memasuki rumahnya kemudian dia berdzikir kepada Allah ketika masuk dan ketika makan, maka setan akan berkata (kepada kawannya): “Tidak ada tempat menginap bagi kalian dan tidak ada makan malam”. Jika ia masuk (rumahnya) tanpa berdzikir kepada Allah ketika memasukinya, maka setan akan berkata (kepada kawannya); “Kalian telah mendapatkan tempat menginap”. Jika tidak berdzikir kepada Allah ketika makan, setan akan berkata (kepada kawannya); “Kalian telah mendapat makan malam”; [HR Ibnu Majah #3877 + 1 HR lain].
a
Usai mendengar ini, Akung menyela: “Ustadz; alangkah ribetnya bila harus berdzikir lebih dahulu sebelum memasuki rumah atau sebelum makan”. Banas menjelaskan: “Makna berdzikir adalah mengingat Allah س; bukan semata-mata berwirid seperti yang dilakukan sesudah shalat. Tetapi setiap kita menyebut nama Nya dengan dilandasi keimanan dan keikhlasan, maka itu sudah termasuk amalan berdzikir. Dengan begitu, bila akan memasuki rumah mengucapkan salam, sudah termasuk amalan berdzikir; artinya telah mengingat Allah س. Lalu, bila terlebih dahulu melantunkan basmalah sebelum makan, maka itu telah berdzikir”. Mendengar ini, Akung tersenyum sendiri; merasa betapa masih terbatasnya pemahaman amalan mengingat Allah س.
a
Lalu Akung mengisahkan: “Ustadz; ada teman yang mengucapkan spada, bila mendatangi rumah untuk bertamu. Ia mengatakan, ucapan ini sebagai pengganti ucapan salam tadi. Bolehkah seperti itu?”. Banas menjelaskan: “Ucapan itu dari Bahasa Inggris, yaitu, a call to announce o.’s arrival at a house; anybody home? [http://kamuslengkap.com/kamus/indonesia-inggris/arti-kata/spada]. Secara bebas bisa diterjemahkan, bila mendatangi rumah, tanyakan, adakah orang di rumah? Dengan begitu, ucapan spada tidak mendoakan dan tidak memohon keberkahan Nya bagi mereka yang didatangi rumahnya dan bagi yang mendatangi sesuatu rumah. Mungkin juga ada baiknya diucapkan, bila mendatangi rumah non-mukmin; ucapan yang kita lantunkan, sekedar bertanya. Bukan mendoakan kebaikan bagi yang dikunjungi dan bagi diri sendiri”.
a
Jalinan persaudaraan juga harus dibina dalam bertetangga. Mari mencermati periwayatan, Abu Hurairah رعنهُ berkisah, Rasulullah ص bersabda: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir hendaknya ia berkata baik atau diam. Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, janganlah ia menyakiti tetangganya. Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaknya ia memuliakan tamunya”; [HR Bukhari #5994 + 32 HR lain]. Melalui Hadits ini dituntunkan, berbuat baik kepada tetangga menjadi salah satu kewajiban kaum muslim. Usai menyampaikan Hadits itu, Banas mengajak membincangkan perkara lain, yaitu persaudaraan dalam doa. Akung merasa, ini hal baru; karena itu berusaha bersungguh-sungguh menyimaknya.
a
3. Persaudaraan Dalam Doa
a
Banas memulainya dengan berkata: “Ketika kita saling melantunkan salam, merespon bersin, mendatangi dan memasuki rumah, telah saling mendoakan untuk memohon keberkahan Allah س. Amalan ini dilakukan secara sadar, walau diantara kita ada yang tidak memahami makna lafadz yang dilantunkan; tetapi mereka meyakini berisi doa kebaikan”. Ada kebiasaan yang sudah melekat dalam berbagai kesempatan untuk menjalin persaudaraan yang dilantunkan melalui doa. Salah satu diantaranya, adalah doa sesudah shalat sendirian atau berjamaah. Misalnya, terbiasa untuk melantunkan doa:
a
اللَّهُمَّ غْفِرْلِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاةِ ٬ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاةِ ٬ لِلْمُحْسِنِيْنَ وَالْمُحْسِنَاةِ ٬ وَلْاَحْيَإِ مِنْهُمْ وَلْامْوَاةِ
a
Artinya,Ya Allah, (hamba memohon) ampunilah kaum mukminin dan mukminat, kaum muslimin dan muslimat, kaum mukhsinin (orang saleh lelaki) dan mukhsinat (orang saleh perempuan), baik yang masih hidup maupun mereka yang sudah meninggal.
a
Diteruskannya: “Insya Allah, lafadz doa tersebut dari tuntunan fuqaha. Namun begitu, kita patut merenungi lafadz doa yang sering dilantunkan ini. Permohonan ampunan ini ditujukan kepada segenap kaum mukmin, muslim dan mukhsin dimanapun berada; baik yang masih hidup maupun sudah diajalkan. Baik yang kita kenal maupun tidak kita kenal. Baik ada hubungan kekerabatan langsung maupun tidak langsung, dan mereka yang sama sekali tidak ada hubungan kekerabatan. Baik yang ada disekitar tempat tinggal kita atau yang berada jauuuuh disana. Ketika melantunkan lafadz doa itu semuanya didoakan”. Lalu diteruskan.
a
Jika di Indonesia terdapat 25 juta mukmin yang berdoa dengan lafadz seperti itu setiap usai shalat, maka dalam sehari semalam, doa itu dilantunkan oleh [25 juta x 5 doa setiap usai shalat fardhu] = 125 juta doa. Pelantunannya secara berturutan dengan selisih waktu dalam hitungan detik. Misalnya, pada jam 17.00 di Merauke terdapat sekian ratus ribu orang membaca doa itu usai bershalat, lalu pada detik berikutnya, penduduk di wilayah sebelah baratnya juga melantunkan doa itu; begitu seterusnya sampai ke Sabang. Seandainya di dunia terdapat 500 juta kaum mukmin yang selalu berdoa dengan lafadz seperti itu setiap usai shalat, maka dalam sehari semalam, kita didoakan dan mendoakan [500 juta x 5 doa] = 2,5 milyar doa; dilantunkan secara berturutan dengan selisih waktu dalam hitungan detik, dari timur ke barat dan dari utara ke selatan. Bagi kita yang masih diberi hidup, bisa melantunkan doa itu untuk saling memohonkan ampun; dan mendoakan bagi yang sudah diajalkan. Insya Allah meraih ampunan, dimanapun berada. Bila kita tak berdoa seperti itu, misalnya langsung cabut usai shalat, patut disebut egois; maunya menerima doa saja dan tak mau mendoakan sesama mukmin.
a
Lalu dikatakan: “Doa yang berisi permohonan ampunan itu, dapat dijadikan sebagai salah satu penanda persaudaraan diantara mukmin”; ketika jedah sejenak, Akung menyela: “Ustadz; misalnya ada diantara kerabat yang non-islam, bahkan mungkin orangtua sendiri. Apakah permohonan doa itu juga dapat berlaku bagi mereka?”
a
Mendengar pertanyaan ini, Banas membacakan QS At Taubah (9):80; difirmankan, Kamu memohonkan ampun bagi mereka atau tidak kamu mohonkan ampun bagi mereka (adalah sama saja). Kendati pun kamu memohonkan ampun bagi mereka tujuh puluh kali, namun Allah sekali-kali tidak akan memberi ampun kepada mereka. Yang demikian itu adalah karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik. Melalui ayat ini tersirat pembelajaran, hubungan persaudaraan di dunia tidak selalu terbawa sampai pada persaudaraan akhirat. Ini bermakna, kerabat duniawi yang non-islam tidak dapat menjadi obyek doa dari kaum mukmin, walau didoakan tujuh puluh kali.
a
Terkait dengan ayat itu, terdapat Hadits yang meriwayatkan, Ibnu Umar رعنهُ mengisahkan, ketika ‘Abdullah bin Ubay wafat, anaknya datang menemui Nabi ص lalu berkata: “Wahai Rasulullah ص; berikanlah kepadaku baju anda untuk aku gunakan mengkafani (ayahku) dan shalatlah untuknya serta mohonkan ampunan baginya”. Maka Nabi ص memberikan bajunya kepadanya lalu bersabda: “Izinkanlah aku untuk menshalatkannya”. Ketika Beliau hendak menshalatkan, tiba-tiba Umar bin Al Khaththab رعنهُ datang menarik Beliau seraya berkata: “Bukankah Allah telah melarang anda untuk menshalatkan orang munafik?” Maka Beliau bersabda: “Aku berada pada dua pilihan dari firman Allah Ta’ala (QS At Taubah ayat 80). Ketika Beliau hendak menshalatkan, maka turunlah ayat 84 dalam QS At Taubah. Artinya, “Janganlah kamu shalatkan seorangpun yang mati dari mereka selamanya dan janganlah kamu berdiri di atas kuburannya”; [HR Bukhari #1190 + 4 HR lain]. Hadits ini meriwayatkan QS At Taubah (9); pada ayat 80, Allah س melarang Beliau mendoakan kaum kafir; dan pada ayat 84 terdapat larangan menshalatkannya. Dengan begitu, secara gamblang melalui dua ayat ini ditegaskan, hubungan dengan kaum kafir adalah sebatas urusan duniawi. Untuk urusan ukhrowi, tidak terkait lagi.
a
Persaudaraan terhadap kaum mukmin yang sudah diajalkan juga dapat dicermati dari periwayatan, Auf bin Malik رعنهُ mendengar Rasulullah ص berdoa setelah selesai menshalatkan jenasah; begini,
a
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ ٬ وَارْحَمْهُ ٬ وَعَافِهِ ٬ وَاعْفُ عَنْهُ ٬ وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ ٬ وَوَسِّعْ مُدْخَلَهُ ٬ وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ ٬ وَنَقِّهِ مِنَ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ الْأَبْيَضَ مِنَ الدَّنَسِ ٬ وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ ٬ وَأَهْلًا خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ ٬ وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ٬ وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ ٬ وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ ٬ أَوْ مِنْ عَذَابِ النَّارِ
a
Artinya, Ya Allah, ampunilah dosa-dosa (si mayit ini), kasihanilah ia, lindungilah ia dan maafkanlah ia, muliakanlah tempat kembalinya, lapangkan kuburnya, bersihkanlah (dosanya) dengan air, salju dan air yang sejuk (embun). Bersihkanlah ia dari segala kesalahan, sebagaimana Engkau telah membersihkan pakaian putih dari kotoran, dan gantilah rumahnya (di dunia) dengan rumah yang lebih baik (di akhirat) serta gantilah keluarganya (di dunia) dengan keluarga yang lebih baik (di akhirat), dan pasangan (di dunia) dengan yang lebih baik (di akhirat). Masukkanlah ia ke dalam surga Mu dan lindungilah ia dari siksa kubur atau siksa api neraka; [HR Muslim #1600 + 3 HR lain]. Hadits ini menuntunkan betapa mulianya persaudaraan sesama mukmin; yaitu mendoakan kebaikan bagi si mayit.
a
Jalinan persaudaraan juga dituntunkan dalam periwayatan, Abu Hurairah رعنهُ berkisah, Nabi ص pernah mendatangi makam. Sebelum masuk, Beliau mengucapkan salam kepada ahli kubur dengan melantunkan doa:
a
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ دَارَ قَوْمٍ مُؤْمِنِينَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ تَعَالَى بِكُمْ لَاحِقُونَ
a
Artinya, Semoga keselamatan senantiasa tercurah bagimu, rumah bagi kaum muslim; dan Insya Allah ta’ala kami akan menyusulmu; [HR Ibnu Majah #4296].
a
Persaudaraan dalam doa juga terdapat dalam periwayatan lain, Abdullah bin Abbas رعنهُ mengisahkan ada seseorang yang membaca Surah Tabarok di atas makam. Ketika ditanyakan kepada Rasulullah ص, Beliau bersabda: “Dia (surah itu) adalah penghalang, dia adalah penyelamat yang menyelamatkan (si mayit) dari siksa kubur”; [HR Tirmidzi #2815]. Adapun maksud Surah Tabarok dalam Hadits ini, adalah Surah Al Mulk, #67.
a
Dalam tiga Hadits berturut-turut itu sudah kita bincangkan tata cara menjalin persaudaraan dalam doa bagi si mayit. Pertama, mendoakan pada saat menshalatkan jenasahnya; lalu pada saat kita akan memasuki makam dan terakhir dilakukan dengan cara membacakan Surah Al Mulk; Insya Allah, bisa dibacakan di makamnya atau di rumah.
a
Akhirul Kalam
a
Usai mengurai persaudaraan dalam doa, Banas bermaksud mengakhiri perbincangan. Tetapi Akung masih bertanya: “Ustadz; tadi kita bincangkan Hadits yang meriwayatkan peristiwa ketika Rasulullah ص akan mendoakan seorang munafik, maka turun wahyu Nya yang melarang. Bahkan dalam ayat itu difirmankan, walau tujuh puluh kali memohonkan ampunan, pasti Allah س tidak mengabulkan. Lalu bagaimana menghormati jasa orangtua yang non-islam; mereka melahirkan, membesarkan dan mendidik? Bukankah harus dihormati?”
a
Banas menjelaskan: “Orangtua harus dihormati dan kita harus berbakti kepada mereka. Tetapi untuk hubungan persaudaraan dalam doa, yang memiliki hak menerima atau menolak adalah Allah س. Misalnya difirmankan dalam QS Ar Ra`du (13):14; pada awal ayat ini difirmankan, Hanya bagi Allah saja (hak mengabulkan) doa yang benar. Jadi, Allah س adalah satu-satunya Dzat Yang Maha Kuasa atas setiap doa hamba Nya”.
a
Lalu Banas mengajak mencermati QS At Taubah (9):113; arti firman Nya, Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwa orang-orang musyrik itu, adalah penghuni neraka Jahanam. Ayat ini menegaskan, Allah س melarang Rasulullah ص dan kaum mukmin berdoa bagi orang kafir.
a
Turunnya ayat ini terkait dengan kisah, ketika Abu Thalib (paman Beliau) sakaratul maut, tidak mau mengucapkan kalimat tahlil yang Beliau tuntunkan. Lalu Beliau berjanji akan memohonkan ampunan, jika Allah س tidak melarang; [HR Bukhari #4307 + 5 HR lain]. Dalam Hadits ini diriwayatkan, berdasar wahyu itu, Beliau tidak mendoakannya, walau semasa hidupnya, pamannya sangat melindungi Rasulullah ص dan mendukung perjuangan Beliau.
a
Usai mendengar kisah ini, Akung bertanya: “Bolehkah kita mendoakan untuk ibu yang non-islam?” Banas menjelaskan: “Kemuliaan ibu, dapat dicermati dari Hadits, Abu Hurairah رعنهُ mengisahkan ada seorang laki-laki bertanya: “Ya Rasulullah; siapakah orang yang paling berhak dengan kebaktianku? Beliau menjawab: “Ibumu, lalu Ibumu, lalu Ibumu, lalu bapakmu, kemudian orang yang terdekat denganmu dan seterusnya”; [HR Muslim #4622]. Insya Allah, bakti itu ketika ibu masih hidup”. Lalu bagaimana jika mendoakan ibu yang non-muslim?; ini ada Haditsnya, Abu Hurairah رعنهُ berkisah, Rasulullah ص datang ke kuburan ibunya. Lalu Beliau menangis, dan orang-orang yang ada disekitarnya ikut menangis. Lalu Rasulullah ص bersabda: “Sesungguhnya aku telah meminta ijin kepada Tuhanku ta’ala untuk memintakan ampunan baginya, namun aku tidak diperkenankan”; [HR Abu Daud #2815 + 4 HR lain]. Betapa tegasnya hukum Allah س bagi seluruh hamba Nya. Insya Allah, ibunda Beliau tidak diridhoi untuk didoakan.
a
Lalu dikatakan: “Berdasar rujukan-rujukan itu, kita dilarang mendoakan kaum kafir; walau karib kerabat bahkan orangtua atau ibu sendiri”. Kini, di dada Akung makin terpateri akan pentingnya untuk selalu menjaga persaudaraan sesama mukmin. Usai Banas menjelaskan ini, keduanya sepakat berpisah; lalu saling berjabat tangan dan saling berucap salam; mereka mengakhiri perbincangan.
a
Sekian, semoga barokallah; Insya Allahu Amin.
a
Rujukan Penulisan
a
1977-1995aiSayyid Sabiq., Fikih Sunnah Jilid I s/d XIV; Penerbit Al Ma`arif Bandung.
1991-1995aiDepartemen Agama RI., Al Qur`an dan Tafsirnya; Penerbit UII Yogyakarta.
2000-1995aiKHQ Shaleh, HAA Dahlan., Asbabun Nuzul, Latar Belakang Historis Turunnya Ayat-ayat Al-Quran; Penerbit Diponegoro, Bandung.
1999-2011aiMuhammad Nasib Ar-Rifa`i., Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir Jilid I s/d IV; Gema Insani, Jakarta & Depok.
2010-1995aiImam Jalaluddin Al Mahalli dan Imam Jalaluddin As Suyuti, Tafsir Jalalain; Sinar Baru Algensindo, Bandung.
2010-1995aiMufassir., Enam Ringkasan Tafsir; Hilal Penerbit Al Qur’an, Bandung.
2010-2011aiLidwa Pusaka dan Saltanera., Software Ensiklopedi Kitab Hadits 9 Imam; Jakarta.
2015-2011aiIslamic Digital Boarding College (IDBC) Seri Al Bayan., Software Al Qur`an dan Terjemahannya; Solo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>