Para Saksi Dari SHALAT

Muqaddimah
a
Ucapan syukur hendaknya selalu kita panjatkan ke hadirat Allah س atas seluruh karunia dan nikmat Nya yang tak terbatas banyaknya dan tak terhitung bilangannya. Juga, mari selalu bershalawat untuk Rasulullah ص Nabi junjungan umat, dengan berharap semoga dapat meraih syafaat Beliau, kelak di Hari Akhir; sebagaimana yang Beliau janjikan.
a
Kelak, di Hari Khisab, bershalat menjadi primadona amalan yang dikhisab paling awal. Bagian-bagian tubuh dipastikan menjadi saksi amalannya. Ketika dikhisab, bila timbangan shalat fardhu tidak memenuhi kecukupan, maka shalat sunnah menjadi nafilah. Melalui tausiah ini disampaikan pesan, mari shalat tepat waktu, khusyuk dan tunaikan shalat-shalat sunnah.
a
Landasan penyampaian pesan ini adalah Kitab Al Qur`an, Hadits dan Fiqh. Bila anda tidak sepakat dengan pesan yang kami sampaikan, itu merupakan hak anda untuk memutuskan. Karena penyajian tausiah ini semata-mata untuk mencari ridho Allah س dan guna ikut menyemarakkan dunia dakwah Hari Jum`at bagi sesama. Setidaknya, kami melaksanakan salah satu tuntunan Rasulullah ص, sampaikanlah dariku walau satu ayat; begitu sabdanya.
a
Bila anda selesai membaca buku ini, tak ada salahnya memberikannya kepada karib dan kerabat; karena satu buku untuk bersama. Semoga anda termasuk orang yang beramal saleh dan dapat memberi manfaat dunia dan akhirat.
a
Di Serambi Masjid
a
Usai menunaikan Shalat Dhuhur berjamaah, Akung berjalan di belakang. Ketika para jemaah sudah saling berpamitan, diberanikan menyapa: “Ustadz; Assalamu`alaikum”. Mendengar sapaan ini, Banas berbalik; ia menemukan Akung yang kikuk karena sapaan itu. Namun dengan senyum kebapakan, ia menanyakan kabar. Serasa mendapat suntikan semangat, dijawab dengan ceria: “Alkhamdulillah; saya sekeluarga senantiasa mendapat limpahan keberkahan Nya. Semoga Ustadz begitu juga”. Banas merespon singkat dengan berkata: “Insya Allahu Amin”.
a
Ketika Akung masih merangkai kata-kata untuk disampaikan, Banas sudah bertanya: “Dalam tausiah bulan lalu, sudah kita bicarakan acara Nonton Film Buatan Sendiri. Bagaimana hasil film yang kamu buat?” Tidak menyangka mendapat pertanyaan begini, Akung terbata-bata mengisahkan: “Ustadz; seperti yang Ustadz anjurkan, saya bersyukur; Allah س masih memberi waktu untuk bermuhasabah. Insya Allah, dapat memperbanyak amal saleh dan mengurangi bahkan mencegah amal buruk”.
a
Banas merespon: “Alkhamdulillah, bila kamu menyadarinya. Juga sangat penting untuk memahami, dari sekian tahun beramal saleh dan tentu terselip amalan-amalan dosa, sehingga bukan pekerjaan mudah untuk secepatnya menambal kebocoran. Perlu kesadaran, ketekunan, serta perlu waktu, perlu waktu dan perlu waktu untuk memperberat timbangan kebaikan guna disodorkan kelak di Hari Khisab. Walau begitu, patut mengedepankan rasa optimis, seperti dituntunkan Rasulullah ص; antara lain Beliau bersabda: “Aku tertarik dengan al fa’l (optimis) yang baik. Dan optimis yang baik adalah perkataan yang baik”. [HR Bukhari, #3515, dan 35 Hadits lain]. Optimis dalam berkehidupan di dunia, dapat ditempuh dengan cara berkata yang baik-baik; yaitu mencegah berolok-olok dan tidak mengumbar pembicaraan, terlebih lagi yang tiada berguna”. Lalu Banas meneruskan perbincangan.
a
Sesungguhnya, kita termasuk kaum yang sangat beruntung; dalam suatu Hadits diriwayatkan, Rasulullah ص antara lain bersabda: “Sesungguhnya Islam itu menghapus dosa-dosa yang telah lalu, dan hijrah juga menghapus dosa-dosa yang telah lalu”. [HR Muslim, #173, dan 2 Hadits lain]. Hadits ini berisi tuntunan, bila berislam maka didalamnya penuh ampunan bagi para pemeluknya. Adapun maksud hijrah adalah meninggalkan kebodohan menuju pada pemahaman. Misalnya, dengan membaca, Insya Allah dapat meningkatkan ilmu. Mereka yang meningkat ilmunya memiliki peluang meraih peningkatan derajat. Ini janji Allah س dalam QS Al Mujadilah (58):11. Kalau seperti ini kedudukannya, marilah berislam kaffah (sempurna) dan selalu berhijrah.
a
Lalu dikatakan: “Guna menambal kebocoran masa lalu, kita harus memperbanyak saksi agar dapat mendulang pahala di Hari Khisab nanti. Semua amalannya harus lillahi ta`ala dan disertai dengan upaya menghentikan amal buruk. Dengan begini, catatan amalan yang dituliskan oleh malaikat di tangan kiri, tidak semakin berat”. Kemudian perbincangan diteruskan di serambi masjid.
a
1. Para Saksi
a
Dikatakan: “Dalam QS Al Hajj (22):5 dikisahkan tentang penciptaan manusia; yaitu bercikal bakal dari saripati tanah sampai menjadi bayi yang dilahirkan. Dalam ayat ini juga ditegaskan, Allah س menetapkan takdir bagi cikal bakal bayi. Setelah cukup umurnya berada di dalam rahim, Allah س mengaruniakan Ruh [QS As Sajdah (32):9]; lalu disempurnakan dengan pemberian Pendengaran, Penglihatan dan Hati [QS As Sajdah (32):9]”; setelah jedah sejenak, lalu perbincangan diteruskan.
a
Selanjutnya kita dapati penegasan, bahwa seluruh janin yang dikandung dalam rahim, baik dari rahim ibu-ibu muslim maupun non-muslim, secara sunnatullah telah bersaksi. Bahwa Allah س adalah Tuhan dirinya dan Tuhan seluruh bani Adam [QS Al A`raf (7):172]. Sebelum dilahirkan, setiap janin juga dibekali dengan Takdir yang pasti direngkuh dalam berkehidupan; dalam merengkuh kehidupan dunia, setiap insan dipastikan berjalan sesuai dengan empat takdir. Mencakup takdir ‘baik atau buruk amalannya’, ‘lapang atau sempit rezekinya’, ‘waktu ajal dan cara diajalkan’ dan takdir ‘bahagia atau sengsara hidupnya’; [HR Bukhari, #2969; dan 10 Hadits lain].
a
Juga sudah kita sepahamkan, karunia ruh dan takdir menjadi rahasia Nya saja; semua orang, termasuk Rasulullah ص tidak diberi pengetahuan, kecuali sedikit. Pengetahuan yang sedikit itu, antara lain, setiap insan hidup dipastikan memiliki ruh. Bila diajalkan, dipastikan ruhnya telah meninggalkan jasadnya. Sedangkan berkaitan dengan takdir, pengetahuan kita terbatas pada pemahaman bahwa setiap manusia, dipastikan menjalani hidup sesuai dengan takdir. Tetapi tidak seorang manusiapun mengetahui takdir dirinya seperti apa; apalagi takdir orang lain.
a
Sedangkan sumpah yang diucapkan secara sunnatullah sewaktu masih berupa janin, yaitu bahwa Allah س adalah Tuhan dari seluruh bani Adam, menjadi modal dasar untuk merengkuh keislaman. Sebagai kaum muslim, kita sudah memenuhi sumpah itu. Namun masih perlu menyuburkannya, agar bisa memenuhi perintah Nya, yaitu tetap dalam fitrah Nya; [QS Ar Rum (30):30]. Maksud perintah tetap dalam fitrah Allah adalah tetap pada agama yang lurus, yaitu Islam.
a
Menyuburkan keislaman, dapat dimotivasi dengan merujuk QS Al Qiyamah (75):36, ”Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)?” Melalui ayat ini, Allah س menumbuhkan kesadaran dan keimanan bagi manusia, bahwa manusia harus bertanggungjawab atas seluruh perbuatan ketika menjalani hidup di dunia. Pertanggunganjawabannya diminta dari bagian-bagian tubuh.
a
Bagian-bagian mana yang akan bersaksi, dapat dirunut dari QS Al Isra` (17):36; ditetapkan, bahwa pendengaran, penglihatan dan hati, diminta pertanggunganjawabannya”. Ini bermakna, Allah س memerintahkan insan mengoptimalkan pendengaran, penglihatan dan hati, untuk selalu beramal saleh. Kita juga sudah mencermati QS An Nur (24):24; antara lain difirmankan, lidah, tangan dan kaki menjadi saksi atas apa yang dahulu mereka kerjakan. Lalu melalui QS Fushshilat (41):22 antara lain difirmankan, kulit menjadi saksi dari setiap amalannya.
a
Alangkah terperincinya pengingatan bagi semua umat. Mungkin saja diantara kita sulit membayangkan, bagaimana kelak bagian-bagian tubuh kita, yaitu pendengaran, penglihatan, hati, lidah, tangan, kaki, dan kulit dapat berbicara untuk memberikan kesaksian atas seluruh amalan. Dipastikan kesaksiannya adalah benar adanya; tidak dikurangkan, tidak ditambahkan; apa adanya. Akung menyela: “Ustadz; kenapa tidak disebutkan kesaksian mulut. Bukankah mulut sangat berperan besar dalam berkehidupan? Misalnya kalau melantunkan bacaan shalat, berwirid, membaca Al Qur`a n dan banyak amalan lain”.
a
Banas bangga mendengar pertanyaan ini; setidaknya sebagai petunjuk semakin baiknya pemahaman Akung. Lalu dikatakan: “Untuk mencari jawabannya, kita dapat merujuk QS Yasin (36):65, ”Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan”. Atas ayat ini, tidak ada Kitab Tafsir yang memberi penjelasan. Namun begitu, bukan berarti jalan buntu. Kita dapat merujuk pada periwayatan, Anas bin Malik رعنهُ mengisahkan, pernah bersama Rasulullah ص; Beliau tertawa dan bertanya: “Tahukah kalian apa yang membuatku tertawa?” Kami menjawab: “Allah dan Rasul Nya lebih tahu”. Beliau bersabda: “Aku mentertawakan percakapan seorang hamba dengan Rabbnya”. Lalu Beliau meneruskan, hamba itu berkata: “Wahai Rabb, bukankah Engkau telah menghindarkan diriku dari kelaliman?” Dia berfirman: “Ya”. Ia berkata: “Sesungguhnya aku tidak mengizinkan jiwaku kecuali untuk menjadi saksi atas diriku sendiri”. Kemudian Beliau meneruskan, Dia pun berfirman: “Kalau begitu pada hari ini cukuplah jiwamu yang menjadi saksi atas dirimu; dan juga para Malaikat yang mulia yang mencatat amalanmu menjadi para saksi”. Beliau meneruskan: “Lalu dibungkamlah mulut dan dikatakan kepada anggota badannya, bicaralah. Maka anggota badannya mengungkap semua amal perbuatan yang dilakukannya”. Beliau meneruskan: “Lalu dilepaskanlah antara ia dan ucapannya (jiwa dan mulut dipersatukan) hingga mulut berkata, celakalah kalian, bukankah aku dulu membelamu?” [HR Muslim, #5271].
a
Dalam Hadits ini terdapat pembelajaran, kelak di Hari Khisab, mulut tidak dapat digunakan lagi sebagai saksi. Berbeda dengan ketika hidup di dunia, dapat menggunakan mulut untuk berkata-kata. Bisa membengkokkan yang lurus atau meluruskan yang bengkok; niscaya kelak mulut tidak berdaya lagi. Dalam Hadits ini juga dituntunkan, Allah س memerintahkan anggota badan untuk berbicara sebagai saksi.
a
Kemudian Banas mengatakan: “Bershalat, merupakan salah satu amalan yang disaksikan oleh banyak anggota badan. Selain anggota badan yang sudah disampaikan tadi, masih ada saksi lain. Dalam QS Al Fath (48):29; antara lain difirmankan, Kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridhoan Nya. Tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka (yaitu) dari bekas sujud [[أَثَرِ السُّجُودِ]]. Saksi yang disebut dalam ayat ini adalah muka atau wajah; dan banyak diantara pendakwah mengatakan kening. Padahal kita tahu, bahwa arti wajah tidak sama dengan kening.
a
Untuk mencari tahu penjelasan lain, mari merujuk suatu periwayatan, Al Abbas bin Abdul Muthalib رعنهُ mengisahkan, telah mendengar Rasalullah ص bersabda: “Apabila seorang hamba bersujud, maka tujuh anggota badan sujud bersamanya, yaitu ujung wajah, dua telapak tangan, dua lutut, dan (ujung) dua telapak kaki”. [HR Muslim, #760, dan 26 Hadits lain]. Berdasar Hadits ini, dapat diketahui, sesungguhnya bekas sujud tidak terbatas pada kening saja, melainkan juga enam anggota badan lain. Tetapi enam anggota badan itu sudah difirmankan pada ayat-ayat lain, sedangkan [[أَثَرِ السُّجُودِ]] difirmankan dalam ayat ini saja.
a
Mendengar matan Hadits ini, kening Akung berkerut; lalu mengisyaratkan ingin bertanya. Sesudah Banas mengangguk, Akung bertanya: “Ustadz; ketika saya sekolah dahulu, diajarkan tata cara bersujud. Dikatakan, hidung harus sejajar dengan kening, sehingga mencium alas tempat shalat. Bagaimana ?” Setelah membetulkan duduknya, Banas mengemukakan: “Kalau ketika bersujud lalu hidung mencium alas shalat secara tidak sengaja, Insya Allah tidak apa-apa. Tetapi kalau diniatkan hidung harus mencium alas shalat, maka anggota badan yang menyertai sujud menjadi delapan; bukan tujuh seperti dituntunkan dalam Hadits tadi. Tentunya, hal ini harus dikaji ulang; karena tidak sesuai dengan tuntunan Rasulullah ص. Keputusannya ada pada dirimu”; setelah jedah sejenak, lalu perbincangan diteruskan.
a
Kesaksian [[أَثَرِ السُّجُودِ]] masih melekat walau seseorang dicuci terlebih dahulu di Neraka. Mari menyimak Hadits yang meriwayatkan, Abu Hurairah رعنهُ mengisahkan, Rasulullah ص antara lain bersabda: “Apabila Allah berkehendak memberikan rakhmat Nya bagi siapa yang dikehendaki Nya dari penghuni Neraka, maka Allah memerintahkan Malaikat untuk mengeluarkan siapa saja yang pernah menyembah Allah. Maka para Malaikat mengeluarkan mereka, yang dikenali dari tanda bekas-bekas sujud [[أَثَرِ السُّجُودِ]]. Dan Allah mengkharramkan (melarang) Neraka untuk memakan (membakar) bekas-bekas sujud [[أَثَرِ السُّجُودِ]]. Maka dikeluarkanlah mereka dari Neraka”. [HR Bukhari, #764, dan 13 Hadits lain].
a
Melalui Hadits ini diperoleh pembelajaran, bahwa [[أَثَرِ السُّجُودِ]] tidak harus ditandai dengan kening berwarna merah, kuning, hijau atau lainnya. Kelak, para Malaikat sudah diberi pengetahuan tentang [[أَثَرِ السُّجُودِ]]; Neraka juga sudah diperintahkan tidak membakarnya. Tetapi tanda-tanda [[أَثَرِ السُّجُودِ]] seringkali muncul dengan sendirinya; bisa saja karena kulitnya sensitif dengan alas shalat.
a
Sebelum perbincangan berlanjut, Akung menyela: “Ustadz; sepertinya, banyak kaum muslim telah memahami [[أَثَرِ السُّجُودِ]]. Misalnya, sebelum dan usai Shalat Dhuhur tadi, banyak jamaah bershalat dengan cara berpindah-pindah. Sesudah Shalat Sunnah Takhiyyatul Masjid, berpindah tempat untuk Shalat Sunnah Qobliyah. Lalu berpindah tempat ketika Shalat Dhuhur. Ketika Imam selesai melantunkan doa, lalu berpindah tempat lagi untuk Shalat Sunnah Ba`diyah. Bukankah cara bershalat seperti ini dapat memperbanyak [[أَثَرِ السُّجُودِ]]?”
a
Dengan penuh kebapakan Banas mengatakan: “Kebiasaan shalat dengan cara begitu, perlu diluruskan. Dalam ayat tadi, difirmankan tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka (yaitu) dari bekas sujud [[أَ ثَرِ السُّجُود]]. Tanda bershalat, terlihat dari bekas sujud; bukan tempat sujud [[مَأَ ثَرِ السُّجُود]]”; setelah berhenti sejenak, Akung ditanya apa sudah memahami makna [[أَثَرِ السُّجُودِ]].
a
Dengan nada lirih dikatakan: “Ustadz; kalau saya tidak keliru menyimpulkan, para saksi itu datangnya dari bagian tubuh yang menjalankan sesuatu amalan. Tempat dilakukan amalan tidak menjadi saksi”. Banas cepat merespon: “Ya, sangat betul”; tetapi Akung malah bertanya: “Apa hubungannya dengan shalat yang berpindah tempat?”
a
Banas mengemukakan: “Insya Allah begini. Bila berulangkali shalat ditunaikan pada tempat yang sama, tidak mengurangi jumlah saksi. Misalnya ketika menunaikan Shalat Dhuhur yang kamu tanyakan. Niscaya anggota badannya menjadi saksi; Insya Allah mendapat kesaksian dari dua puluh [[أَثَرِ السُّجُودِ]]. Yaitu empat dari Shalat Takhiyyatul Masjid, empat dari Shalat Sunnah Qobliyah, delapan dari Shalat Dhuhur dan empat dari Shalat Sunnah Ba`diyah. Dalam Al Qur`an atau Hadits, tidak terdapat penjelasan, tempat dilakukannya amalan akan menjadi saksi. Dengan begitu, lantai masjid, karpet masjid, sajadah dan semisal ini, tidak membuat catatan amalan bershalat. Bila meyakini tempat shalat akan memberi kesaksian, tentu banyak jamaah membawa dua sajadah atau lebih. Dengan harapan, agar sajadah-sajadah itu menjadi saksi atas shalatnya”. Dalam pikiran Akung bergelut rasa kasihan kepada mereka yang dilanda kekeliruan mencari saksi shalatnya.
a
Banas menambahkan: “Kesaksian amalan shalat sudah dimulai oleh anggota badan sejak bersuci; misalnya berwudhu. Dalam suatu Hadits diriwayatkan, Abdullah Ash Shunabihi رعنهُ mendengar Rasulullah ص bersabda: “Barangsiapa berwudhu:
iTerlebih dulu berkumur dan memasukkan air ke dalam hidung, maka dosa-dosanya akan keluar dari mulut dan hidungnya.
iJika membasuh wajahnya maka dosa-dosanya akan keluar dari wajahnya hingga akan keluar dari ujung bulu matanya
iJika membasuh kedua tangannya maka dosa-dosanya akan keluar dari kedua tangannya.
iJika mengusap kepalanya maka dosa-dosanya akan keluar dari kepalanya hingga keluar dari kedua telinganya.
iJika membasuh kedua kakinya maka dosa-dosanya akan keluar dari kedua kakinya hingga keluar dari bawah kukunya.
Sedangkan shalat dan jalannya menuju ke masjid adalah nafilah baginya”.[HR Ibnu Majah, #278, dan 1 Hadits lain]. Dalam Hadits ini dituntunkan, betapa besar fadilah yang bisa diraih bagi para pewudhu”. Setelah jedah sejenak, perbincangan diteruskan.
a
2. Bershalat Fardhu
a
Banas mengatakan: “Dalam berbagai tausiah sudah banyak disampaikan, perintah bershalat bagi seluruh manusia, disampaikan melalui Rasulullah ص pada saat Beliau menjalani peristiwa Isra` Mi`raj. Banyak ulama berbeda pendapat mengenai ketepatan waktunya, tetapi pendapat yang paling diakui adalah tanggal 27 Rajab. Bertepatan dengan tahun ke sepuluh masa kenabian, atau setahun sebelum Beliau berhijrah ke Madinah”. Lalu Akung menyela: “Ustadz, ketika turun perintah bershalat, bagaimana Rasulullah ص mengatur gerakan shalat?”. Dijelaskan: “Untuk mencari jawaban atas pertanyaan seperti ini, mari mencermati Hadits; Abu Mas’ud رعنهُ mengatakan mendengar Rasulullah ص bersabda: “Jibril ع pernah turun lalu mengimami aku shalat. Maka aku shalat bersamanya; lalu aku shalat bersamanya, lalu aku shalat bersamanya, lalu aku shalat bersamanya, kemudian aku shalat bersamanya”. Beliau menghitung dengan jari, Beliau menunjukkan lima kali (waktu) shalat. [HR Bukhari, #2982, dan 5 Hadits lain]. Hadits ini menuntunkan, Beliau menunaikan shalat setelah mendapat pelajaran dari Malaikat Jibril ع atas perintah Allah س. Pembelajarannya, Beliau bermakmum kepadanya atau belajar dari praktek”. Lalu Banas meneruskan perbincangan.
a
Dalam Al Qur`an, sangat banyak dijumpai perintah dengan lafadz [[أقيموا الصلاة]]; artinya dirikanlah shalat. Insya Allah sebagai isyarat, dalam keadaan mukim, sehat jasmani dan rokhani, bershalat harus dilakukan dengan cara berdiri. Tetapi dalam keadaan tertentu, Allah س meridhoi cara bershalat dengan berbaring, duduk atau berdiri”; [QS Ali Imran (3):191]. Bila tidak dalam keadaan mukim, misalnya di atas kendaraan, dapat juga bershalat. Dengan merujuk Hadits; Rasulullah ص shalat di atas kendaraannya dalam suatu perjalanan. Beliau menghadap ke arah kendaraannya mengarah”. [HR Bukhari, #945, dan 19 Hadits lain].
a
Kedudukan bershalat pada Hari Akhir nanti, dapat dirujuk dari Hadits, Rasulullah ص antara lain bersabda: “Sesungguhnya yang pertama kali akan di khisab dari amal perbuatan manusia pada Hari Kiamat adalah shalatnya”. [HR Abu Daud, #733, dan 9 Hadits lain]. Hadits ini mengandung penegasan, bershalat merupakan amalan pertama yang dikhisab; karena itu sempurnakanlah shalat, agar dapat meraih fadilah yang sempurna.
Kesempurnaan bershalat dapat merujuk pada perintah Nya, misalnya dalam QS Al Mu`minun (23):1-2; difirmankan, ”Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya”. Bila bershalat secara khusyuk, niscaya kesaksian anggota badan menjadi lebih sempurna. Akung menyela dengan berkata lirih: “Kenapa begitu?”
a
Lalu Banas membacakan Hadits; Ubadah bin Ash Shamit رعنهُ berkisah, Rasulullah ص bersabda: “Atas lima shalat yang telah diwajibkan Allah Ta’ala; barangsiapa yang membaguskan wudhu dan shalatnya sesuai dengan waktunya serta menyempurnakan rukuk dan khusyuk, maka dia berhak mendapatkan janji dari Allah. Bahwa Dia akan mengampuninya; dan barangsiapa yang tidak melakukannya maka dia tidak memiliki janji Allah. Jika Allah berkehendak, Dia akan mengampuninya; dan jika berkehendak, Dia akan mengadzabnya”. [HR Abu Daud, #361, 2 Hadits lain]. Hadits ini memberikan pembelajaran, khusyuk menjadi salah satu syarat untuk dapat meraih janji Allah س. Agar khusyuk, lantunkan seluruh bacaan shalat secara perlahan-lahan dan mengerti maknanya. Selain itu, jangan menunda shalat yang mengakibatkan tidak sesuai waktunya; karena ada bahaya mengancam disini.
a
Bahayanya diriwayatkan dalam suatu Hadits; Al Ala` bin Abdurrahman رعنهُ berkisah, menemui Anas bin Malik رعنهُ setelah Shalat Dhuhur, lalu bangkit dan Shalat Ashar. Setelah selesai dari shalatnya, kami menyebutkan tentang tergesa-gesa dalam shalat. Atas peristiwa ini, Anas bin Malik رعنهُ mengisahkan, pernah mendengar Rasulullah ص antara lain bersabda: “Itu adalah shalatnya orang-orang munafik, itu adalah shalatnya orang-orang munafik, itu adalah shalatnya orang-orang munafik”. Kemudian terhadap orang yang mengakhirkan shalat, antara lain Beliau bersabda: “Dia shalat empat rakaat (Shalat Dhuhur) dengan sangat cepat (seperti burung mematuk makanan), (sesungguhnya) dia tidak mengingat Allah (dalam shalatnya) kecuali sangat sedikit”. [HR Abu Daud, #350 dan 6 Hadits].
a
Kemudian dikatakan: “Berdasar rujukan-rujukan tersebut, maka menunaikan shalat secara baik dan benar dapat meraih fadilah yang besar. Selain itu, Islam menawarkan amal saleh lain berupa shalat sunnah”. Lalu perbincangan diteruskan.
a
3. Shalat Sunnah Dalam Keseharian
a
Banas mengemukakan: “Untuk memperbanyak kesaksian dari anggota badan dan [[ أَثَرِ السُّجُودِ]], maka tunaikanlah shalat-shalat sunnah. Walau setiap shalat dapat mendatangkan banyak saksi amal saleh, tetapi bagi sebagian kaum muslim, terasa enggan karena sunnah”. Lalu perbincangan diteruskan.
a
a)AShalat Tathowwu`
a
Shalat tathowwu` adalah shalat sunnah yang beriringan dengan shalat fardhu; jumlah seluruhnya dua belas rakaat. Selain dapat semakin memperbanyak saksi, bershalat tathowwu` memiliki fadilah besar. Dalam Hadits diriwayatkan, Ummu Habibah Ramlah binti Abi Sufyan رعنها mengisahkan, Rasulullah ص bersabda: “Barangsiapa yang shalat sunnah dua belas rakaat sehari semalam, maka akan dibangunkan baginya rumah di surga”. [HR Tirmidzi, #380; dan 24 Hadits lain].
a
Tuntunan dalam Hadits yang berkaitan dengan perincian dua belas rakaat itu bisa berbeda satu sama lain. Gabungan matan dari beberapa Hadits meriwayatkan, shalat sunnah tathowwu` adalah dua rakaat sebelum dan sesudah Shalat Dhuhur, dua rakaat sebelum Shalat Ashar dan sebelum Shalat Subuh, serta dua rakaat sesudah Shalat Maghrib dan sesudah Shalat Isya”. [HR Bukhari, #1099, dan 23 Hadits lain].
a
Khusus Hari Jum`at, dalam berbagai Hadits dituntunkan, tidak ada shalat tathowwu` Dhuhur; artinya tidak ada shalat sunnah sebelum Shalat Jumat atau ketika Khotib sedang berkhutbah. Adapun shalat sunnah yang dapat ditunaikan adalah dua rakaat sesudah Shalat Jum`at. [HR Bukhari, #1099 dan 12 Hadits lain]. Dalam Hadits lain terdapat tuntunan, Abdullah bin Umar رعنهُ berkata: ” Rasulullah ص melaksanakan shalat sunnah setelah shalat Jum’at sebanyak dua rakaat, (ditunaikan) di rumah”. [HR Ahmad, #4685, dan 6 Hadits lain].
a
b)A Shalat Tahajjud
a
Shalat sunnah lainnya dapat merujuk pada QS Al Isra`(17):79; difirmankan, “Dan pada sebagian malam hari bershalat tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu. Mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji”. Atas turunnya ayat ini, Rasulullah ص menunaikan Shalat Tahajjud setiap malam. [HR Bukhari, #939, dan 27 Hadits lain]. Shalat Tahajjud, selain memperbanyak saksi, juga mendatangkan fadilah. Dalam suatu Hadits diriwayatkan, Ketika Nabi ص bangun untuk mendirikan shalat (malam) hingga tampak bengkak pada kaki atau betis, Beliau dimintai keterangan tentangnya. Beliau menjawab: “Apakah me-mang tidak sepatutnya aku menjadi hamba yang bersyukur?” [HR Bukhari, #1062; dan 6 Hadits lain]. Hadits ini memberikan pembelajaran, menunaikan Shalat Tahajud sekaligus menjadi penanda rasa syukur. Adapun jumlah rakaatnya, terdapat banyak riwayat yang berbeda satu sama lain. Misalnya, Aisyah رعنها berkata: “Nabi ص melaksanakan shalat malamnya sebanyak tiga belas rakaat termasuk witir dan dua rakaat Sunnah Fajar”. [HR Muslim, #1220, dan Hadits lain]. Dalam Hadits-hadits ini dituntunkan, Beliau menunaikan sepuluh rakaat dengan lima kali salam, ditambah dengan satu rakaat shalat witir. Kemudian Beliau menutup malam dengan bershalat Fajar (sebelum subuh) sebanyak dua rakaat.
a
Dalam Hadits lain diriwayatkan, Abu Salamah bin Abdurrahman رعنهُ bertanya kepada Aisyah رعنها : “Bagaimana tata cara shalat Nabi ص pada Bulan Ramadhan?”. Aisyah رعنها menjawab: “Beliau shalat (sunnah qiyamul lail) pada Bulan Ramadhan dan bulan-bulan lainnya tidak lebih dari sebelas rakaat. Beliau shalat empat rakaat, maka jangan kamu tanya tentang kualitas bagus dan panjangnya. Kemudian beliau shalat lagi empat rakaat, maka jangan kamu tanya tentang kualitas bagus dan panjangnya. Kemudian beliau shalat tiga rakaat”. Aku pernah bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah baginda tidur sebelum melaksanakan shalat witir?”. Beliau menjawab: “Mataku memang tidur tapi hatiku tidaklah tidur”. [HR Bukhari, #3304, dan 3 Hadits lain]. Melalui Hadits ini dituntunkan, Beliau bershalat tahajjud dengan dua kali salam, dan satu kali salam Shalat Witir. Tidak disebutkan dua rakaat Shalat Fajar. Ketika jedah sejenak, Akung menyela: “Ustadz; untuk shalat ini, apakah terlebih dahulu tidur?”
a
Banas mengemukakan: “Banyak pendakwah yang menyampaikan, tunaikanlah shalat tahajjud sesudah tidur. Tetapi akhir matan Hadits tadi meriwayatkan Beliau menjawab: “Mataku memang tidur tapi hatiku tidaklah tidur”. Matan ini bisa ditafsir dengan cara berbeda; tafsir pertama, tidurlah sebelum shalat tahajjud. Tafsir kedua, menunaikan shalat tahajjud tidak harus didahului dengan tidur lebih dahulu. Karenanya, kita dapat mengikuti tafsir yang manapun, sesuai dengan kemantapan hati”. Lalu Banas mengajak meneruskan perbincangan.
a
c)A Shalat Dhukha
a
Secara harfiah, arti lafadz dhukha adalah sepenggalah. Cara mengukurnya mudah; ketika matahari mulai memancar di pagi hari, berdirikan secara tegak (misalnya) sebuah pensil (katakanlah panjang pensil 10 cm). Jika bayangan pensil itu sama panjangnya dengan panjang pensil yaitu 10 cm, maka waktu dhukha sudah tiba. Selain dengan cara ini, untuk mengetahui waktu ketibaan dhukha, dapat ditelaah dari Jadwal Waktu Shalat yang diterbitkan oleh berbagai lembaga yang dapat dipertangungjawabkan.
Adapun jumlah rakaatnya, dapat dirujuk Hadits yang menuntunkan, Rasulullah ص menunaikan Shalat Dhukha, sebanyak dua rakaat. [HR Bukhari, #630, dan 6 Hadits lain]. Masih ada Hadits lain yang meriwayatkan, Rasulullah ص menunaikan Shalat Dhukha, sebanyak delapan rakaat; yaitu pada hari penaklukan Mekah. [HR Bukhari, #3954, dan 27 Hadits lain]. Penaklukan ini terjadi sesudah Beliau berhijrah ke Madinah; tahun 8H.
a
Shalat Dhukha juga memiliki fadilah lain; sebagaimana diriwayatkan, Buridah bin Al Hasib رعنهُ mendengar Rasulullah ص bersabda: “Pada diri manusia itu terdapat tiga ratus enam puluh persendian, maka hendaklah ia memberi sedekah untuk setiap persendiannya tersebut”. Para sahabat berkata: “Wahai Nabi Allah, siapa yang akan mampu melakukannya!”. Beliau bersabda: “Mengubur ludah dalam masjid, atau membuang (atau menyingkirkan) sesuatu dari jalan, adalah sedekah. Jika tidak mendapatinya maka dua rakaat Shalat Dhukha sudah cukup bagimu”. [HR Abu Daud, #4563, dan Hadits lain]. Dari Hadits ini diperolehi tuntunan, menunaikan Shalat Dhukha, selain menambah kesaksian anggota badan, juga bermakna sebagai bentuk sedekah bagi seluruh sendi dalam tubuh, yaitu 360 ruas.
a
Sesaat setelah jedah, Akung bertanya: “Ustadz; bila Shalat Dhukha, sebaiknya berapa rakaat?” Atas pertanyaan ini, Banas menjelaskan: “Insya Allah, dua rakaat juga boleh. Tetapi masih ada pilihan lain; yaitu, empat, delapan, dan dua belas rakaat. Pilih saja”. Usai memberikan penjelasan ini, Banas mengajak membincangkan shalat sunnah yang lainnya.
a
4. Shalat Sunnah Temporer
a
Banas memulai dengan berkata: “Maksudnya adalah shalat sunnah yang ditunaikan sesekali waktu saja. Mencakup Shalat Idul Fitri, Shalat Idul Adha, dan shalat yang diiringkan dengan sesuatu permohonan. Misalnya, Shalat Istikharokh, Shalat Taubatan Nasukha, Shalat Istisqo`, dan masih banyak lainnya”. Mendengar ini, Akung berisyarat untuk bertanya; setelah diiyakan, ia tanyakan: “Ustadz; kenapa sesuatu shalat bisa digunakan untuk mengiringi sesuatu permohonan?” Atas pertanyaan ini, Banas membacakan QS Al Baqarah (2):153; difirmankan, ”Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”. Dalam ayat ini tersirat perintah, bila memohon, maka bershalatlah dan dengan bersabar.
a
Lalu dikatakan: “Tak kalah pentingnya adalah menshalatkan jenazah. Bila mengamalkannya, tidak ada saksi dari [[أَثَرِ السُّجُودِ ]]; karena ditunaikan dengan cara berdiri. Meski begitu, terdapat fadilah yang besar; dalam suatu Hadits diriwayatkan, Abu Hurairah رعنهُ mendengar Rasulullah ص bersabda: “Barangsiapa mengiringi jenazah muslim, karena iman dan mengharapkan balasan dan dia selalu bersama jenazah tersebut sampai dishalatkan dan selesai dari penguburannya, maka dia pulang dengan membawa (pahala) dua qiroth. Setiap qiroth setara dengan Gunung Uhud. Dan barangsiapa menyolatkannya dan pulang sebelum dikuburkan, maka dia pulang membawa (pahala) satu qiroth”. [HR Bukhari, #45 dan 142 Hadits lain]”. Usai berkata begitu, Banas bersiap meng-akhiri perbincangan.
a
Akhirul Kalam
a
Sebelum mengakhiri perbincangan, Akung menyempatkan diri untuk bertanya; dikatakan: “Ustadz; saya pernah menyaksikan tayangan di tv nasional tentang fadilah shalat sunnah. Pendakwah bertanya kepada jamaahnya; berapa rakaat Shalat Dhuhur. Dijawabnya, empat; pendakwah mengatakan, bukan empat tetapi delapan. Dua rakaat sebelumnya, empat Shalat Dhuhur dan dua sesudahnya; total delapan rakaat. Pendakwah itu meneruskan, tunaikan shalat sunnah, karena yang empat rakaat tadi menyempurnakan Shalat Dhuhur yang empat rakaat. Betul begitu?”
a
Kemudian Banas membuka kembali Kitab Hadits Sembilan Imam; lalu dikatakan: “Bila didakwahkan seperti itu, perlu diluruskan. Mari mencermati periwayatan dalam suatu Hadits; Tamim bin Aus رعنهُ mendengar Rasulullah ص bersabda: “Pertama yang akan dikhisab atas seorang hamba pada Hari Kiamat adalah shalatnya; jika ia menyempurnakannya maka akan ditulis baginya pahala nafilah. Jika tidak menyempurnakannya, Allaah memerintahkan kepada Malaikat Nya: “Lihatlah, apakah kalian mendapati ia mempunyai ibadah tathowwu’?; (bila ada) maka dengannya sempurnakanlah ibadah fardhunya yang kurang”. Lalu semua amalan diperlakukan seperti itu”. [HR Ibnu Majah, #1416, dan 5 Hadits lain]. Berdasar Hadits ini, maka setiap amalan fardhu menjadi tolok ukur kesuksesan menuju surga Nya. Bila ibadah fardhu kurang sempurna, maka ditambal dengan amalan sunnah yang menyertainya. Jika amalan fardhu sudah sempurna, maka amalan sunnah merupakan nafilah. Arti nafilah adalah pahala tambahan, sebagai pemberat timbangan kebaikan menuju ke surga Nya.
a
Dengan begitu Shalat Sunnah yang menyertai Shalat Dhuhur bukan sebagai penambah kesempurnaan Shalat Dhuhur. Karena penghitungan fardhu dan sunnah, dilakukan di Hari Khisab, secara menyeluruh. Artinya, bila pelaksanaan sesuatu ibadah fardhu kurang sempurna maka disempurnakan oleh ibadah sunnah yang menyertainya. Bila ibadah shalat fardhu kurang sempurna, maka disempurnakan dengan shalat tathowwu`. Begitu juga bila Puasa Ramadhan belum sempurna maka disempurnakan oleh puasa sunnah yang dijalankan. Dikhisab dulu fardhunya, sunnah menjadi penyempurna. Begitu juga berlaku untuk amalan yang terkait dengan bersyahadat, berzakat dan berhaji”. Mendengar penjelasan ini, Akung berharap tidak banyak diantara kaum muslim yang terkecoh dengan pendakwahan seperti yang disaksikannya; dalam tayangan tv nasional.
a
Banas menasehatkan: “Berhati-hatilah menunaikan shalat fardhu; tambahkan dengan sunnahnya. Setidaknya, shalat tathowwu` sebanyak dua belas rakaat dalam sehari semalam. Pada Hari Khisab, dipastikan anggota badan, yaitu pendengaran, penglihatan, hati, tangan, kaki, kulit dan [[أَثَرِ السُّجُودِ]] bersaksi atas amalan shalatnya.
a
Ketika merengkuh hidup di dunia, ada kalanya, [[أَثَرِ السُّجُودِ]] nampak; muncul dengan sendirinya, karena kulit sensitif; sehingga ada warna hitam di keningnya. Tetapi kelak, para Malaikat sudah diberi pengetahuan untuk mengentaskan dari Neraka. Bahkan Neraka juga mendapat perintah tidak membakar [[أَثَرِ السُّجُودِ]].
a
Adapun yang disebut [[أَثَرِ السُّجُودِ]] adalah kening bagian atas dan enam anggota badan lainnya; sehingga bila bersujud maka tujuh anggota badan menjadi saksi. Jika diniatkan hidung menyentuh alas shalat, maka ada delapan anggota badan yang menjadi saksi; tidak sesuai dengan tuntunan Rasulullah ص.
a
Usai mendengar penjelasan ini, Akung berucap terima kasih. Tetapi Banas mengemukakan, dirinya sekedar menyampaikan, walau satu ayat. Allah س saja yang kuasa membuka hati dan mengaruniakan hidayah kepada setiap insan. Selesai menjelaskan begitu, keduanya saling berucap salam dan berpisah. ۞

Rujukan Penulisan
a
Selain informasi dan referensi yang ditulis menjadi sumber penulisan, penulisannya merujuk pada :
a
1991-1995aDepartemen Agama RI., Al Qur`an dan Tafsirnya; Penerbit UII Yogyakarta.
2010-2011aLidwa Pusaka dan Saltanera., Software Ensiklopedi Kitab Hadits 9 Imam; Jakarta.
2015-2011aIslamic Digital Boarding College (IDBC) Seri Al Bayan., Software Al Qur`an dan Terjemahannya; Solo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>