Nonton Film Buatan Sendiri

tulisan yang berwarna biru, dapat di klik untuk mendapatkan rujukan.
a
Muqaddimah
a
Mari kita mengawali perbincangan ini dengan mengucapkan syukur ke hadirat Allah س atas karunia nikmat Nya yang tak terbatas banyaknya dan tak terhitung ragamnya. Selanjutnya, kita juga harus bershalawat dan bersalam untuk Rasulullah ص diiringi doa, semoga kita dapat meraih syafaat Beliau, kelak di Hari Akhir.
a
Acara Nonton Film dalam tausiah ini, adalah sebagai pembawa pesan guna menumbuhkan kesadaran agar tak mengabaikan film yang kita buat sendiri. Dengan Nonton Film Buatan Sendiri, kami berharap kita mampu bermuhasabah; yaitu merenungi perjalanan hidup untuk mengevaluasi apa yang sudah dilakukan dan langkah apa untuk menambal kesalahan. Karenanya, tidak perlu ada sensor atas berbagai adegan yang bermuatan dosa; dan tidak perlu terlalu mengekspos peristiwa-peristiwa yang Insya Allah memanen pahala. Hendaknya semua kisah dilihat dan dievaluasi apa adanya.
a
Bila anda tidak sepakat dengan acara Nonton Film Buatan Sendiri, itu terpasrah pada keputusan masing-masing pribadi. Sesungguhnyalah, penyajian tausiah ini semata-mata untuk mencari ridho Allah س guna ikut menyemarakkan dunia dakwah bagi sesama.
a
Bila anda sudah memahami dan memanfaatkan sajian tausiah ini, tak ada salahnya bacaan ini diberikan kepada karib kerabat. Insya Allah ada manfaat dunia akhirat. Insya Allahu Amin.
a
Mengawali Perbincangan
a
Meski hujan rintik menjadi penghias pagi di hari libur ini, Akung tetap meneruskan perjalanan ke rumah Banas; selain untuk memenuhi janji bertemu, juga ada perkara yang menurut dirinya, penting untuk dibicarakan.
a
Karenanya, hatinya berbunga-bunga saat sampai di kediaman Banas. Dengan sedikit berbasah-basah, disekanya wajah dan telapak tangannya yang tersentuh hujan karunia Nya. Kini, dingin badannya telah dihangatkan dengan sambutan Banas yang ceria.
a
Setelah keduanya berkabar-kabar Islami, Banas bermaksud mengawali perbincangan; tetapi Akung mengatakan: “Ustadz; mohon maaf, dalam sms, Ustadz ingin mengajak membincangkan film. Apakah Ustadz juga hobi nonton film?”. Lalu terjadi dialog singkat; Akung ditanya, film yang paling senang ditonton; dijawabnya, film Mandarin. Ditanya lagi, suka nonton sinetron yang tayang di tv?; ia menjawab, dahulu suka, sekarang tidak lagi. Tetapi ia tidak menyampaikan alasannya.
a
Setelah membetulkan duduknya, Banas mengatakan: “Mari kita nonton film buatan sendiri”; terkejut Akung mendengar ada film buatan sendiri. Tetapi tidak sempat ditanyakan, karena tersusul dengan disuguhkannya secangkir kopi dan sepiring goreng pisang. Kemudian Benas mengajak Akung untuk membincangkan, bersamaan dengan sudah munculnya matahari pagi. Inilah kisah perbincangan mereka.
a
1. Bermuhasabah, Kunci Sukses
a
Banas mengemukakan: “Seperti sudah kamu katakan tempo hari, kini umurmu dua puluh lima tahun. Anggap saja, masa akil balighnya pada umur lima belas tahun; berarti, rajutan film kehidupanmu sudah berlangsung sepuluh tahun”. Akung mulai mengerti, maksud Banas mengenai film yang dibuat sendiri; yaitu film tentang kisah kehidupan diri sendiri. Lalu ia menyela: “Apakah nontonnya setahun sekali bertepatan dengan tanggal 1 Syawal?” Banas menjelaskan: “Putar kembali film itu setiap hari; mungkin sesudah Shalat Maghrib, atau usai Shalat Tahajjud, atau dalam kesempatan lainnya. Lalu cermatilah amal kebaikan dan keburukan yang telah dibuat; karenanya, jangan menunggu setahun lamanya. Dikhawatirkan lupa mengingatnya; atau mungkin saja belum sempat ditonton dan belum sempat bermuhasabah, sudah dipanggil menghadap ke haribaan Nya”. Lalu perbincangan diteruskan.
a
Bermuhasabah[1] adalah upaya untuk mengkhisab sendiri seluruh amal saleh dan amal buruk selama menjalani kehidupan; dalam bahasa kini, mengevaluasi atau mengkoreksi. Sebelum melakukan muhasabah, maka langkah pertama yang perlu ditempuh adalah bersyukur semata-mata kepada Allah س saja, atas karunia yang tiada henti dan tanpa batas. Bahkan sampai saat kini masih diberi waktu untuk mencermati kembali film itu. Karenanya, manfaatkan waktu untuk bermuhasabah.
a
Bila bermuhasabah, hendaknya dilandasi dengan salah satu firman Nya dalam QS Al Muddatsir (74):38; artinya: Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya. Melalui ayat ini, Allah س menegaskan, setiap insan dipastikan diminta pertanggungan jawab di kelak kemudian hari; yaitu atas seluruh amalannya ketika mendapat kesempatan mengarungi kehidupan dunia.
a
Selain itu, dapat merujuk firman Nya dalam QS Al Hasyr (59):18; artinya: Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Secara gamblang, ayat ini mengingatkan kaum beriman memperhatikan amalannya. Insya Allah, maksud lafadz memperhatikan, bukan sekedar mengenali amal saleh dan amal keburukan yang telah dilakukan. Lebih penting lagi adalah meningkatkan amalan kebaikannya; dan mencegah terulangnya kembali amal buruk, walau sekecil apapun amalannya.
a
Selanjutnya, mari menelisik tuntunan dalam beberapa Hadits: Syaddad bin Aus رعنهُ berkisah, Nabi ص bersabda: “Orang yang cerdas adalah orang yang mempersiapkan dirinya dan beramal untuk hari setelah kematian. Sedangkan orang yang bodoh adalah orang yang jiwanya mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan kepada Allah”.
Dia berkata: “Maksud sabda Nabi ص tentang ‘orang yang mempersiapkan diri’ adalah orang yang selalu mengoreksi dirinya (bermuhasabah) pada waktu di dunia sebelum di khisab pada Hari Kiamat”.
Juga telah diriwayatkan dari Umar bin Al Khattab رعنهُ, berkata: “Khisablah (hitunglah) diri kalian sebelum kalian dihitung (dikhisab). Dan persiapkanlah untuk hari ketika semua orang dihadapkan (kepada Rabb Yang Maha Agung). Khisab (perhitungan) akan ringan pada Hari Kiamat bagi orang yang selalu mengkhisab dirinya ketika di dunia”.
Juga telah diriwayatkan dari Maimun bin Mihran رعنهُ; dia berkata: “Seorang hamba tidak akan bertakwa hingga dia mengkhisab dirinya sebagaimana dia mengkhisab temannya dari mana dia mendapatkan makan dan pakaiannya”.[2]
a
Beberapa tuntunan dari Hadits itu, Insya Allah dapat diringkaskan begini:
HOrang cerdas adalah bila mampu menyiapkan diri untuk kehidupan akhirat.
HMenyiapkan diri dapat ditempuh dengan cara selalu mengkoreksi amalannya.
HKetakwaan, antara lain dapat diukur dari seberapa sering melakukan muhasabah.
a
Setidaknya, dengan melandaskan tiga tuntunan itu, maka setelah bermuhasabah, dapat semakin menambah amal kebaikan. Kemudian mengurangi, menghentikan dan mencegah terulangnya kembali amal keburukan.
a
Akung menyela: “Ustadz; bagaimana memaknakan lafadz mengkhisab atas segala amalan ketika di dunia dapat meringankan khisab di Hari Khisab ?”.
a
Banas mengatakan: “Insya Allah memang begitu; yaitu bila hasil muhasabah ditindaklanjuti dengan amalan-amalan saleh untuk menambal kebocoran yang disebabkan oleh amalan buruk. Tetapi bila tidak ada peningkatan amal saleh, Insya Allah, kelak di Akhir Jaman tidak menghasilkan keringanan khisab.
a
2. Bagaimana Cara Bermuhasabah ?
a
Akung menanyakan: “Muhasabah adalah mengevaluasi amalan dalam perjalanan hidup. Amalan apa yang harus dievaluasi?” Banas mengemukakan: “Untuk memperoleh penjelasan amalan yang harus dievaluasi, antara lain dapat merujuk QS At Taghabun (64):9; artinya: (Ingatlah) hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan kamu pada hari pengumpulan (untuk dikhisab). Itulah hari (waktu itu) ditampakkan kesalahan-kesalahan. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan mengerjakan amal saleh, niscaya Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan memasukkannya ke dalam surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah keberuntungan yang besar.
a
Dalam ayat ini ditegaskan, kesalahan manusia ditampakkan di Hari Khisab. Bagi manusia yang beriman kepada Allah س ditambah dengan amalan saleh, Insya Allah dapat meraih nikmat surga Nya”. Lalu perbincangan diteruskan.
a
Dalam dua bulan terakhir, sudah dibincangkan bekal bawaan sejak dilahirkan lalu mengenalinya. Bila diringkaskan, setiap insan dibekali dengan serangkaian karunia Nya; yaitu:
a
HRuh; difirmankan dalam QS As Sajdah (32):9.
HPendengaran, penglihatan dan kalbu; difirmankan dalam QS As Sajdah (32):9. Khusus dalam tausiah ini kita sebut tri indera.
HJanin dari rahim muslim dan nonmuslim telah bersaksi atas keesaan Dzat Nya, yaitu Allah س sebagai Tuhan semua manusia; difirmankan dalam QS Al A`raf (7):172.
HTakdir, yang mencakup amalan, rezeki, ajal serta bahagia dan atau sengsara hidupnya; [diriwayatkan dalam HR Bukhari, #2969; dan terdapat 10 Hadits dari sanad lain].
a
Untuk bekal berupa ruh dan takdir, menjadi rahasia Nya saja. Sedangkan jika dalam perjalanan hidup sampai hari ini, masih berada pada keimanan akan keesaan Dzat Nya, maka sebagian hasil muhasabah sudah menunjukkan pada amal kebaikan. Untuk membulatkan amal saleh, harus dievaluasi bagaimana karya dari seluruh bagian tubuh yang kelak bersaksi.
a
Perlunya mengevaluasi amalan dunia, dapat merujuk QS Al Isra` (17):36; artinya: Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. Melalui ayat ini ditegaskan, tri indera memiliki peranan besar dalam merengkuh kehidupan di dunia.
a
Jangan sampai kita dimasukkan dalam golongan orang yang disebutkan dalam QS Al Ahqaf (46):26; artinya: Dan sesungguhnya Kami telah meneguhkan kedudukan mereka dalam hal-hal yang Kami belum pernah meneguhkan kedudukanmu dalam hal itu. Dan Kami telah memberikan kepada mereka pendengaran, penglihatan dan hati. Tetapi pendengaran, penglihatan dan hati mereka itu tidak berguna sedikit juapun bagi mereka, karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan mereka telah diliputi oleh siksa yang dahulu selalu mereka memperolok-olokkannya. Ayat ini mengisahkan, kelak diantara manusia ada yang meraih siksa; mereka dari golongan yang tidak memanfaatkan tri indera di jalan yang diridhoi Allah س.
a
Selanjutnya dapat dirujuk QS Fushshilat (41):22; artinya: Kamu sekali-kali tidak dapat bersembunyi dari persaksian pendengaran, penglihatan dan kulitmu terhadapmu. Bahkan kamu mengira bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan dari apa yang kamu kerjakan. Sangat gamblang ayat ini menegaskan, kelak, tri indera dan kulit menjadi saksi atas amalan manusia; dan Allah س Maha Mengetahui semua amalan manusia.
a
Kemudian didatangkan saksi lainnya, yang difirmankan dalam QS Yasin (36):65; artinya: Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan. Ayat ini berisi pengingatan bagi manusia, mulut yang pandai berkilah pada saat menjalani kehidupan di dunia, dibungkam. Sedangkan kaki dan tangan menjadi saksi atas amalan yang ditunaikan; sama pentingnya dengan tri indera.
a
Masih ada bagian tubuh lainnya yang kelak ikut menjadi saksi; yang difirmankan dalam QS An Nur (24):2324; artinya: Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik, yang lengah lagi beriman (berbuat zina), mereka kena laknat di dunia dan akhirat. Dan bagi mereka adzab yang besar, pada hari (ketika), lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan. Melalui ayat ini ditegaskan, tangan dan kaki menjadi saksi atas perbuatan tuannya. Begitu juga lidah yang pandai bersilat pada saat merengkuh kehidupan di dunia, tidak gentar menjadi saksi atas seluruh amalan tuannya.
a
Sebelum perbincangan berlanjut, Akung ditanya; kelak di Hari Khisab, siapa yang akan bersaksi atas amalan manusia. Tidak mengira mendapat pertanyaan ini, Akung sejenak mencermati catatannya; lalu dengan terbata-bata menjawab: “Ustadz; dalam benak saya sebenarnya terukir pertanyaan dan sekaligus kekaguman atas karunia Illahi Robbi. Bagian-bagian tubuh yang di dunia sekedar menjalankan amalan atas keinginan jiwa dan raga, di kelak kemudian hari, menjadi saksi. Selain tri indera, ternyata kaki, tangan, lidah dan kulit juga maju sebagai saksi atas amalan manusia. Tentu ini adalah saksi yang selalu sangat tepat memberi kesaksian; karena tidak dipengaruhi oleh keinginan membela diri. Persaksiannya adalah semata-mata menjalankan sunnatullah; dipastikan tidak meleset, walau satu mili. Insya Allah, mereka memberi kesaksian tanpa tédéng aling-aling mengungkap semua amalan tuannya”. Kemudian Akung menanyakan pencataan amalan yang dilakukan bagian-bagian tubuh.
a
Banas menjelaskan: “Allah س sangat dekat dengan hamba-hamba Nya; bukan berarti Dia menempati hati setiap manusia. Juga bukan berarti menyatu, karena Allah س tidak akan bersatu dengan orang perorang. Bahkan dengan para Nabi/ Rasul dan orangorang pilihan Nya, Allah س berkata-kata dengan mengutus Malaikat Jibril; kecuali kepada Nabi Musa ع, sekali saja Allah س berkata-kata langsung.
a
Untuk memahami kedekatan itu, dapat merujuk QS Qaf (50):1617; artinya: Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya. Dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya, (yaitu) ketika dua malaikat mencatat amal perbuatannya. Satu malaikat duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Ayat ini menegaskan, Allah س telah menempatkan dua malaikat sebagai juru catat amalan manusia. Satu malaikat berada di tangan kanan, Insya Allah bertugas mencatat amal saleh. Satu malaikat lainnya duduk di kiri, sebagai isyarat, malaikat ini mencatat amal keburukan. Karenanya, atas pencatatan dua malaikat itu, Insya Allah, Dia selalu dekat dengan hamba-hamba Nya. Bahkan lebih dekat dibandingkan urat lehernya; begitu firman Nya.
a
3. Bermuhasabah Amalan Masa Lalu
a
Banas mengemukakan: “Dari hasil Nonton Film Buatan Sendiri, setiap pribadi dapat menyimpulkan secara tertutup atau terbuka, amalan mana yang tidak Islami dan amalan mana yang termasuk sebagai amal saleh. Ketaukhidan, syari`, Rukun Iman dan Rukun Islam menjadi tolok ukur untuk menilai sesuatu amalan”. Lalu perbincangan dilanjutkan.
a
Kita bisa mulai bermuhasabah dengan menerawang kembali kisah-kisah masa lalu. Bisa bertanya kepada diri sendiri, apakah telah menunaikan amalan-amalan Islami, misalnya:
a
HaKesempurnaan dan keajegan shalat fardhu di setiap hari, shalat sunnah, dzikir dan wirid.
HaKesempurnaan berpuasa Ramadhan dan adakah puasa sunnah tambahan.
HaKebiasaan mengeluarkan zakat mal, zakat fitrah, serta adakah infaq dan shodaqoh.
HaBila pernah beribadah haji dan atau umrah, apakah sudah bisa memenuhi sunnah dan rukunnya.
a
Apakah dalam amalan-amalan itu terselip dosa, karena tidak sempurna menunaikannya? Niscaya, disana-sini ada kekeliruannya; bila mau mengakui kekurangannya. Akung menyela: “Ustadz; jika saya dahulu suka melakukan amalan yang tidak Islami, lalu amalan mana yang termasuk dosa besar?”. Atas pertanyaan ini, Banas mengemukakan bahwa dalam Al Qur`an dapat dijumpai amalan yang disebut dengan dosa besar; yaitu:
a
HaDifirmankan dalam QS Al Baqarah (2):217; bahwa adalah dosa besar bila berperang di empat bulan yang dimuliakan, yaitu Bulan Dzulkaidah, Dzulhijjah, dan Mukharam, dan Rajab. [3]Ha Pada masa Rasulullah ص, kaum kafir sering memerangi pada 4 bulan tersebut. Tetapi Allah س memerintahkan membalas kaum kafir yang memerangi kaum muslim.
HaDifirmankan dalam QS Al Baqarah (2):219; bahwa di dalam khamr ada dosa besar; artinya jangan minum khamr (minuman keras).
HaDifirmankan dalam QS An Nisa`(4):2; bahwa makan harta anak yatim, adalah dosa besar.
HaDifirmankan dalam QS An Nisa`(4):48 dan 116; menyekutukan Allah س dengan sesuatu merupakan perbuatan syirik dan termasuk dosa besar.
HaDifirmankan dalam QS Al Isra` (17):31; bahwa membunuh anak perempuan karena takut miskin merupakan dosa besar. Ayat ini menerangkan kebiasaan pada masa jahiliyyah; tapi juga terjadi pada masa kini.
HaDifirmankan dalam QS Thaha (2):100; bahwa berpaling dari Al Qur`an atau disebut murtad, merupakan dosa besar.
HaDalam Hadits diriwayatkan, ada sembilan amalan yang termasuk dosa besar: (1) durhaka kepada orangtua; (2) melanggar larangan selama di Baitul Kharam; (3) menyekutukan Allah; (4) sihir; (5) membunuh jiwa yang Allah kharramkan tanpa alasan yang benar; (6) makan riba; (7) makan harta anak yatim; (8) lari dari medan perang; dan (9) menuduh wanita mukmin baik-baik melakukan perzinaan; diriwayatkan dalam HR Bukhari, #6351 dan dari sanad lain terdapat 23 Hadits.
HaMelakukan sumpah palsu, termasuk dosa besar; diriwayatkan dalam HR Bukhari, #6362 dan dari sanad lain terdapat 9 Hadits.
HaTermasuk dosa besar, bila seseorang meninggal dunia dalam keadaan berhutang dan ahli warisnya tidak sanggup melunasinya; diriwayatkan dalam HR Abu Daud, #2901 dan dari sanad lain terdapat 1 Hadits.
HaJuga termasuk dosa besar, bila melanggar harga diri seorang muslim tanpa hak, dan membalas celaan dengan celaan; diriwayatkan dalam HR Abu Daud, #4234 dan dari sanad lain terdapat 1 Hadits.
a
Dengan merujuk beberapa ayat dan periwayatan dalam berbagai Hadits tersebut, dapat diketahui amalan yang termasuk dosa besar. Pernahkah kita melakukan amalan semacam itu?; itulah salah satu kegunaan muhasabah. Perlu dipahami, bahwa dalam Al Qur`an tidak dijumpai penyebutan dosa kecil atau penggolongan dosa lainnya. Sedangkan dalam periwayatan beberapa Hadits dapat ditemukan tuntunan tentang dosa kecil (disebut lamam); yaitu, Abu Hurairah رعنهُ berkisah, Nabi ص bersabda: “Sesungguhnya Allah telah menetapkan pada setiap anak cucu Adam bagiannya dari perbuatan zina yang pasti terjadi dan tidak mungkin dihindari. Maka zinanya mata adalah melihat, sedangkan zinanya lisan adalah ucapan, zinanya nafsu keinginan dan berangan-angan, dan kemaluanlah sebagai pembenar semuanya atau tidak”.[4] Dengan merujuk Hadits ini, dapat diringkaskan jenis dosa kecil, yaitu:
a
HHZina mata karena melihat;
HHZina tangan adalah dengan menyentuh;
HHZina lisan dengan ucapan;
HHZina telinga adalah dari mendengar;
HHZina nafsu atau hati ditandai dengan keinginan dan angan-angan (mengkhayal); dan kemaluan adalah yang mengiyakan dilakukan atau menidakkan (tidak melakukan).
a
Walaupun semua perbuatan itu termasuk dosa kecil, tetapi patut diperhatikan adanya pengingatan untuk berhati-hati dengan dosa kecil; karena semuanya pasti dimintakan pertanggungan jawab di Hari Khisab. [5]
a
Khusus untuk perzinaan dalam pengertian bersetubuh, harus dihukum dengan rajam; yaitu dicambuk. Dalam beberapa Hadits disebutkan, dirajam seratus kali dan ada yang meriwayatkan, dirajam sampai mati. [6] Hukuman lain, difirmankan dalam QS An Nur (24):3; artinya, Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik. Dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik. Dan yang demikian itu dikharramkan atas orang-orang mukmin. Ayat ini dan beberapa periwayatan Hadits tadi menunjukkan, betapa berzina nafsu birahi memiliki konsekuensi yang besar.
a
Sebelum melanjutkan perbincangan, Akung ditanya, tentang gambaran film dirinya. Ia menjawab: “Ustadz; penyampaian tausiah ini sangat menggetarkan. Memang gambaran masa lalu menjadi sangat penting untuk bahan muhasabah. Banyak dosa kecil yang saya lakukan; sepertinya nyontek dan perilaku saat pacaran bisa dimasukkan sebagai dosa kecil. Tetapi ternyata dosa yang saya kira sepѐlѐ itu, harus dimohonkan ampunan Nya karena kelak dimintakan pertanggungan jawab. Meski begitu, saya masih bisa berbesar hati, karena tidak sedikit amal saleh yang saya tunaikan. Namun saya menyadari, pahala dari amal saleh itu bisa terkubur oleh dosa-dosa kecil”; begitu Akung menjawab lirih; terlihat matanya berkaca-kaca.
a
Dengan nada menghibur, Banas mengemukakan: “Ada satu perkara yang perlu diluruskan; yaitu orang sering mengatakan, lupakan masa lalu dan songsong hari depan. Bagaimana menurutmu?”. Dijawabnya: “Semula saya setuju dengan pendapat itu. Dengan melupakan masa lalu saya bisa bergerak menuju hari depan. Tetapi dari acara Nonton Film Buatan Sendiri, saya yakin masa lalu berperan penting untuk meraih keselamatan hidup dunia akhirat. Karena dengan menonton film ini untuk bermuhasabah, saya bisa memperbaiki amalan”. Kemudian ia berkisah, pernah durhaka kepada almarhum ayahnya; yang dalam Hadits tadi disebutkan sebagai dosa besar. Bagaimana cara memohon ampunan Nya?; lalu perbincangan dilanjutkan.
a
4. Menemukan Solusi
a
Atas pertanyaan itu, Banas membacakan satu Hadits; Ibnu Umar رعنهُ mengisahkan, ada seorang laki-laki datang kepada Rasulullah ص seraya bertanya: “Wahai Rasulullah; aku telah melakukan dosa besar, (masih) adakah pintu taubat bagiku?” Rasulullah ص balik bertanya kepadanya: “Apakah kamu masih memiliki kedua orang tua?” Laki-laki itu menjawab: “Tidak”. Beliau bertanya lagi: “Apakah kamu masih memiliki bibi?”; laki-laki itu menjawab: “Ya”. Lalu Rasulullah ص mengatakan: “Kalau begitu, berbaktilah kepadanya”.[7] Hadits ini memberikan tuntunan, kita dapat memohon ampunan Nya bila pernah durhaka kepada almarhum/mah orangtua; yaitu dengan cara berbakti kepada bibi (dan atau paman).
a
Kemudian Banas mengemukakan firman Nya dalam QS Hud (11):114; Dan dirikanlah shalat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat. Makna yang tersimpan dalam ayat ini dapat merujuk pada suatu Hadits: Ibnu Mas’ud رعنهُ mengisahkan, seorang lelaki pernah mencium seorang wanita, lalu dia menemui Nabi ص dan mengabarkannya kepada Beliau. Maka turunlah ayat 114 surah Hud. Abdullah رعنهُ berkisah, laki-laki itu bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah ayat ini hanya khusus untukku?” Beliau menjawab: “Ayat tersebut adalah untuk orang-orang yang melakukan dari ummatku”.[8]
a
Lalu Banas mengemukakan Hadits lain yang meriwayatkan, bahwa Rasulullah ص bersabda: “Barangsiapa menyempurnakan wudhunya sebagaimana yang Allah perintahkan, maka shalat lima waktu adalah penghapus dosa diantara satu shalat dengan shalat yang lainnya”.[9]
a
Selanjutnya Banas menyampaikan Hadits lainnya; bahwa Rasulullah ص bersabda: “Shalat lima waktu, Jumat sampai Jumat dan Ramadhan sampai Ramadhan berikutnya adalah penghapus dosa diantara keduanya selama dosa-dosa besar di jauhi”.[10]
a
Banas menambahkan, secara khusus ada periwayatan yang terkait dengan Shalat Jumat, yaitu bahwa Rasulullah ص bersabda: ”Barangsiapa mendatangi Shalat Jumat, dengan:
HTerlebih dahulu mandi seperti mandi janabat;
HMenyempurnakan wudhunya;
HBerpakaian indah dan memakai wewangian;
HMendatangi masjid lebih awal;
HTidak melangkahi pundak yang sudah duduk;
HShalat sunnah semampunya sebelum khotib naik mimbar;
HDiam, tidak berkata-kata sepatahpun ketika khotib sudah naik mimbar; dan
HMenunaikan Shalat Jumat mengikuti Imam;
maka diampuni dosanya antara Jumat tersebut dengan Jumat berikutnya, ditambah tiga hari”. [11] Hati Akung berdegup keras mendengarnya; muncul dorongan kuat untuk mengamalkannya bila mendatangi Shalat Jumat. Selama ini, ia bershalat Jumat tanpa mengamalkan itu; karena memang belum tahu.
a
Ia bertanya: “Selain shalat-shalat fardhu, Shalat Jumat dan Puasa Ramadhan, apakah ada amalan lain yang bisa menghapus dosa?”. Banas mengatakan: “Sangat banyak amalan yang bisa menghapus dosa; kecuali dosa syirik yang tak terampunkan”. Lalu dilanjutkan.
a
Kemudian Banas membacakan Hadits, Rasulullah ص bersabda: “Tidaklah menimpa seorang mukmin, yaitu sakit, lelah, gelisah, sedih, derita, susah hingga duri yang menusuknya, kecuali Allah akan menghapus dosa-dosanya”.[12] Hadits ini menuntunkan, sesungguhnya ujian dan cobaan pada kaum mukmin menjadi penghapus dosa.
a
Lalu dikemukakan, terjadi suatu peristiwa sehingga Rasulullah ص bersabda: “Sesungguhnya Islam itu menghapus dosa-dosa yang telah lalu, dan hijrah juga menghapus dosa-dosa yang telah lalu”; (sampai akhir Hadits).[13] Makna Hadits ini menegaskan, bila berislam maka didalamnya penuh ampunan. Adapun maksud hijrah adalah bertolak dari kebodohan menuju pada pemahaman.
a
Kemudian disampaikan pengisahan, bahwa Nabi ص bersabda: “Maukah kutunjukkan kepada kalian satu hal yang dapat menghapus dosa-dosa, dan dapat menambah nilai kebaikan?”, mereka menjawab, tentu. Beliau bersabda: “Hendaklah kalian menyempurnakan wudhu saat tidak suka, memperbanyak langkah kaki menuju masjid, dan menanti waktu shalat secara ajeg”.[14] Insya Allah, maksud lafadz “wudhu saat tidak suka” adalah ketika udara dingin, ketika mau Shalat Subuh dan keadaan lain yang tidak menyenangkan bila terkena air untuk berwudhu.
a
Masih ada kisah lain dalam suatu Hadits, bahwa Nabi ص bersabda: “Puasa Arofah menghapus dosa satu tahun yang lalu dan satu tahun yang akan datang. [15] Adapun Puasa Arafah adalah satu hari, yaitu tanggal 9 Dzulhijjah atau sehari sebelum Idul Adha.
a
Periwayatan lain dapat ditemukan dalam Hadits, bahwa Rasulullah ص bersabda: “Siapa yang berpuasa Ramadhan kemudian diiringinya dengan puasa enam hari di Bulan Syawal, maka yang demikian itu seolah-olah berpuasa setahun lamanya atau selamanya”.[16] Pelaksanaan Puasa Syawal, tidak harus berurutan sejak tanggal 2 Syawal; tetapi puasa enam hari itu dapat ditunaikan selama Bulan Syawal.
a
Selanjutnya Banas menyampaikan Hadits, bahwa Rasulullah ص bersabda: “Barangsiapa mengucapkan 100 kali dalam sehari, lafadz سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ maka kesalahan-kesalahannya niscaya terampuni walaupun kesalahannya sebanyak buih di lautan”.[17] Hadits ini menuntunkan takaran pelafadzannya adalah 100 kali dalam sehari semalam.
a
Kemudian disampaikan Hadits lain, bahwa Rasulullah ص bersabda: “Barangsiapa mengucapkan setelah selesai shalat, lafadz:
اللهُ أَكْبَرُ٬ سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ اللهِ ٬ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ ٬ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ ٬ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِا اللهِ
maka andai dosanya seperti buih di lautan niscaya Dia akan menghapusnya”.[18] Pelafadzannya dilakukan setelah selesai shalat.
a
Dalam Hadits lainnya, diriwayatkan bahwa Rasulullah ص bersabda: “Barangsiapa bertasbih, bertakbir dan bertakhmid masing-masing 33x, kemudian mengucapkan (kalimat tahlil), yaitu:
لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ ٬ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ ٬ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ ٬
وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
setiap selesai shalat, maka akan diampuni dosanya meski sebanyak buih di lautan”.[19] Pelantunan lafadz ini, adalah setiap usai bershalat.
a
Lalu disampaikan Hadits, Rasulullah ص bersabda: “Barangsiapa ketika akan tidur mengucapkan 3x atas lafadz:
أَسْتَغْفِرُ اللهَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ
maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya walaupun seperti buih di lautan, walaupun seperti gunung pasir, walau seperti jumlah daun di pepohonan”.[20] Lafadz tersebut dapat dilantunkan tiga kali sebelum tidur.
a
Kemudian Banas membacakan Hadits, bahwa Rasulullah ص bersabda: “Barangsiapa mengucapkan 100x kalimat:
لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ ٬ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ ٬ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ ٬
وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
maka akan diampuni dosa-dosanya walaupun seperti buih di lautan”. [21] Takaran pelantunan lafadz ini adalah 100x sehari semalam.
a
Lalu dibacakan Hadits, bahwa Rasulullah ص bersabda: “Barangsiapa bisa menjaga dua rakaat dhuha maka dosa-dosanya akan diampuni meskipun sebanyak buih di lautan”.[22] Melalui Hadits ini dituntunkan, menunaikan Shalat Dhukha bisa menghapus dosa, walau dosanya sebanyak buih di laut.
a
Dalam Hadits lain dikisahkan, Rasulullah ص bersabda: “Barangsiapa ketika setiap selesai shalat Subuh bertasbih dan bertahlil seratus kali, dosanya akan diampuni, walaupun (banyaknya) laksana buih di lautan”.[23] Tuntunan ini agar ditunaikan usai Shalat Subuh.
a
Selanjutnya Banas mengingatkan, agar tak lupa selalu membaca Al Qur`an. Dalam Hadits antara lain dikisahkan, bahwa Rasulullah ص bersabda: “Bacalah Al Qur’an, sesungguhnya Allah akan memberi pahala kepada kalian karena membacanya, dengan setiap huruf sepuluh kebaikan”. Aku tidak mengatakan Alif Lam Mim, akan tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf dan Mim satu huruf”.[24] Tentunya akan sulit membayangkan betapa banyaknya kebaikan, bila pernah mengkhatamkan Al Qur`an yang memiliki 323.015 huruf. [25] Kelak di Akhir Jaman, setidaknya 3.230.150 kebaikan akan mengantarkan kesaksian kepada mereka yang satu kali mengkhatamkan Al Qur`an di kala merengkuh kehidupan di dunia.
a
Selain itu, kelak di Hari Akhir, umat yang membaca Al Qur`an berhak meraih syafaat; antara lain dikisahkan dalam Hadits: Abdullah bin Umar رعنهُ berkata: “Al Qur`an akan memberi syafaat kepada para pembacanya hingga ia pun dikenakan hiasan kemuliaan”. Kemudian Al Qur`an berkata: “Wahai Rabbku, tambahkan padanya’; maka dipakaikan mahkota kemuliaan padanya”. Al Qur`an berkata lagi: “Wahai Rabbku, tambahkan padanya, berilah ia, berilah ia”. Maka Allah menjawab: “Keridhaan Ku”.[26]
a
Mendengar ini, Akung berkata lirih: “Subkhanallah; sungguh Allah س adalah Dzat Yang Maha Pemurah dan Pengasih; betapa tidak?; begitu banyak fadilah yang dapat diraih, masih lagi ditambah syafaat dari Al Qur`an pada Hari Khisab; dan dipakaikan mahkota kemuliaan”.
a
Akhirul Kalam
a
Sebelum Banas mengakhiri perbincangan, ia menyimpulkan: “Nonton Film Buatan Sendiri adalah bermuhasabah; menjadi kunci sukses hidup dunia akhirat. Karena dengan cara ini, mampu melihat kembali amalan buruk di masa lalu, sehingga dapat menambah amal kebaikan guna menambal kebocoran”.
a
Kemudian Banas mewanti-wanti: “Walaupun mungkin ada banyak dosa kecil yang terjadi, tetapi kelak, dosa-dosa kecil itu dapat membinasakan dirinya jika tidak dimohonkan ampunan Nya. Perkara ini merujuk pada periwayatan Hadits;
a
Abdullah bin Mas’ud رعنهُ mengisahkan, bahwa Rasulullah ص bersabda: “Janganlah kalian meremehkan dosa-dosa kecil karena hal itu dapat terkumpul pada diri seseorang hingga membinasakannya”.
Dan sesungguhnya Rasulullah ص memberi perumpamaan hal itu seperti suatu kaum yang singgah di padang pasir yang luas, lalu para pekerja datang, seorang laki-laki pergi dan kembali membawa kayu dan orang lainnya kembali pula membawa kayu hingga mereka dapat mengumpulkan setumpuk kayu. Lalu mereka menyalakan api dan dapat mematangkan semua yang mereka lemparkan kedalamnya. [27]
a
Tuntunan dalam Hadits ini mudah dipahami; Rasulullah ص mengibaratkan dosa-dosa kecil seperti tumpukan kayu kabar. Kelak dinyalakan, sehingga apinya dapat membakar semua amalan kebaikan yang telah ditunaikan”.
a
Selanjutnya Banas menyerukan ajakan, agar tidak terbelenggu dengan dosa-dosa yang pernah dilakukan. Langkah untuk membuka belenggu itu adalah dengan bermuhasabah; amalan ini sebagai titik awal untuk menambahkan amal saleh di masa kini dan masa mendatang, guna meringankan khisab di Hari Khisab. Lalu memacu jiwa dan raga ini untuk mencegah pengulangan dosa kecil atau besar.
a
Lalu dibacakan Hadits, bahwa Rasulullah ص bersabda: “Tidak ada ‘adwa (penyakit turun an) dan tidak ada thiyarah (hari sial). Aku tertarik dengan al fa’l (optimis) yang baik. Dan optimis yang baik adalah perkataan yang baik”.[28] Dalam merengkuh hidup, Rasulullah ص menuntunkan agar mengedepankan sikap optimis. Wujud optimis ini adalah melakukan amar ma`ruf dan nahi munkar. Dalam tausiah ini, amar ma`ruf sudah ditunjukkan; amar munkar sudah diterakan. Upayakan tri indera dan seluruh jajaran saksi, yaitu lidah, kulit, tangan, kaki dan lainnya diajak beramal saleh.
a
Ada pedoman untuk beramal, merujuk QS Az Zalzalah (99):78; artinya: Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya manusia akan melihat (balasan) nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah pun, niscaya manusia akan melihat (balasan) nya pula. Dengan merujuk firman Nya ini, tunaikan amal saleh, sebesar apapun; hindari amal buruk sekecil apapun.
a
Kelak di Hari Khisab, semua manusia Insya Allah dibagi menjadi dua golongan menurut amalan yang ditunaikan ketika menempuh perjalanan hidup di dunia. Perkara ini difirmankan dalam QS Al Qori`ah (100):6-9; yaitu:
a
6-7HDan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan) nya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan.
8-9HDan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan) nya, maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah.
a
Ayat-ayat tersebut harus menjadi pemacu untuk memperbanyak amalan saleh; agar termasuk dalam golongan yang timbangan kebaikannya lebih banyak. Mereka ditempatkan dalam kehidupan yang memuaskan, yaitu surga Nya. Sudah selayaknya, kaum mukmin mencegah dirinya menjadi golongan yang timbangan keburukannya lebih banyak. Karena mereka mendapat balasan di neraka hawiyah.
a
Mereka yang ditempatkan di surga Nya sebagai pembalasan atas banyaknya amal saleh, juga memperoleh ucapan dari Allah س; Dia adalah Tuhan semua manusia, yang difirmankan dalam QS Yasin (36):58; (Kepada mereka dikatakan): “Salam”, sebagai ucapan selamat dari Tuhan Yang Maha Penyayang.
a
Mendengar ini, mata Akung berkaca-kaca; tergambar film dirinya yang beradegan amal saleh tetapi disana-sini terselip amalan yang menghasilkan dosa besar dan dosa kecil. Pandangan matanya menerawang jauh; mengiringi semangat untuk menambahkan amal saleh. Sama semangatnya dengan pancaran sinar matahari yang semakin terik. Tak berselang lama, keduanya saling berucap salam dan berpisah; dengan pikiran masing-masing.

Catatan Referensi :
a
010http://www.newsfarras.com/2014/10/arti-makna-muhasabah-dalam-islam.html
020HR Tirmidzi, #2383; dan dari sanad lain: HR Ibnu Majah, #4250; HR Ahmad, #16501.
030Juga diriwayatkan dalam HR Bukhari, 2958; dan dari sanad lain: HR Bukhari, #4054, 4294, 5124, 6893; HR Muslim, #3179; HR Abu Daud, #1663; HR Ahmad, #19492, 19774.
040 HR Bukhari, #5774; dan dari sanad lain: HR Bukhari, # 6122; HR Muslim, #4801, 4802; HR Abu Daud, #1840; HR Ahmad, #7394, 7868.
050 HR Ad Darimi, #2610.
060 HR Bukhari, #1912; dan terdapat lebih dari 200 Hadits lainnya.
070 HR Ahmad, #4396.
080 HR Bukhari, #4319; dan dari sanad lain: HR Muslim, #4963; HR Ibnu Majah, #4244.
090 HR Muslim, #339; dan dari sanad lain: HR Nasa`i, #145; HR Ibnu Majah, #452; HR Ahmad, #443, 472.
100 HR Ahmad, #8830.
110 Gabungan esensi matan HR Bukhari, #828; dan dari sanad lain terdapat 3 HR Bukhari, 2 HR Abu Daud, dan 24 HR Ahmad.
120 HR Ahmad, #11024; dan dari sanad lain: HR Ahmad, #8070, 24077.
130 HR Ahmad, #17145.
140 HR Ad Darimi, #694.
150 HR Muslim, #1977; dan dari sanad lain: HR Ahmad, #25254. Dalam HR Tirmidzi, #681, 682; HR Ahmad, #4836, 5154. 9384, diriwayatkan bahwa Rasulullah ص melarang Puasa Arafah bila ditunaikan di Arafah.
160 HR Muslim, #1984; dan dari sanad lain: HR Abu Daud, #2078; HR Ibnu Majah, #1705, 1706; HR Ahmad, #22459, 21378.
170 HR Bukhari, #5926; dan dari sanad lain: HR Ibnu Majah, #3802; HR Malik, #438.
180 HR Ahmad, #20535.
190 HR Muslim, #939; dan dari sanad lain: HR Ahmad, #9878, 20535.
200 HR Ahmad, #10652.
210 HR Ahmad, #8518.
220 HR Ahmad, #10075.
230 HR Nasa`i, #1337.
240 HR Ad Darimi, #3181; dan dari sanad lain: HR Ad Darimi, #3174.
250 DR. M. Quraish Shihab, MA., Wawasan Al Quran, Tafsir Maudhu` atas Berbagai Persoalan Umat; Penerbit Mizan, Bandung, 1996.
260 HR Ad Darimi, #3179.
270 HR Ahmad, #3627.
280 HR Abu Daud, #3415; dan dari sanad lain: HR Abu Daud, #3418, 3416; HR Ahmad, #9930, 8043, 2630, 2776, 7300, 7544, 8894, 9472, 10371, 11734, 22132, 8660, 10177, 11874, 1540.

Rujukan Penulisan
a
Selain informasi dan referensi yang ditulis menjadi footnote, penulisannya merujuk pada :
a
1991-1995aDepartemen Agama RI., Al Qur`an dan Tafsirnya; Penerbit UII Yogyakarta.
2010-2011aLidwa Pusaka dan Saltanera., Software Ensiklopedi Kitab Hadits 9 Imam; Jakarta.
2015-2011aIslamic Digital Boarding College (IDBC) Seri Al Bayan., Software Al Qur`an dan Terjemahannya; Solo.

2 thoughts on “Nonton Film Buatan Sendiri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>