Mudik alias Pulang Kampung

Intro: Mudik
a
Melalui tilpun, Akung berpamitan untuk mudik ke Jawa. Tapi tak berselang lama, terdengar ia mengiyakan; rupanya Banas mengajak berbincang sebelum berangkat. Karenanya usai Shalat Dhukha berjamaah, keduanya menuju ke rerindangan taman masjid; kemudian saling berkabar secara Islami dan saling mendoakan.
a
Saat Banas menanyakan kesiapan pulang kampung, Akung berkata: “Alkhamdulillah; Insya Allah, semua sudah siap. Motor sudah diservis, diganti olinya, dibetulkan lampu-lampu dan disetel sana sini”. Banas menanyakan: “Apa yang mau dibawa?”
a
“Ustadz; Insya Allah membawa oleh-oleh ala kadarnya. Kue-kue kering; dan ada juga beberapa perangkat elektronik pesanan ayah dan ibu”; begitu Akung menjawab. Lalu ia katakan: “Ustadz; yang sulit diprediksi adalah soal kemacetan. Walau pakai motor, tapi kalau yang namanya macet, bisa-bisa dua hari baru nyampai di kampung”. Banas menukas: “Ya, nggak apa-apa; dua hari, kan sama dengan empat puluh delapan jam saja. Lebih baik mengedepankan selamat sampai di tujuan, selama di kampung dan ketika kembali; Insya Allah begitu”.
a
Banas meneruskan: “Ada satu perkara lain yang juga layak untuk dibincangkan; yaitu bagaimana persiapan mudik ke kampung milik semua insan”; spontan Akung menyela: “Ustadz; maksudnya bagaimana? Adakah kampung yang menjadi milik semua insan? Bukankah setiap orang punya kampung masing-masing?; yaitu kampung halaman tempat dilahirkan”.
a
Banas mengemukakan: “Bila untuk pulang ke kampungmu perlu waktu, katakanlah dua hari dua malam, masih ada kampung lain yang harus ditempuh dalam waktu yang tak bisa diduga lamanya”. Setengah kaget, Akung bertanya: “Ustadz; dimana kampung yang seperti itu?” Banas berkata: “Untuk mengetahui kampung itu, mari mencermati firman Nya dalam QS Al An`am (6):32; artinya, Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya? Mari mencerna firman Nya; tersirat penegasan, kelak, dipastikan semua manusia pulang ke Kampung Akhirat”. Lalu diteruskan.
a
Manusia tak bisa mengukur lamanya perjalanan kesana. Setelah manusia diajalkan, ia harus menanti di alam kubur; lamanya mungkin satu jam, satu hari atau seribu abad, bahkan bisa milyaran abad ke depan. Karena harus menunggu datangnya Hari Kiamat untuk bisa sampai ke Kampung Akhirat.
a
Dalam nash Al Qur`an, Hari Kiamat juga disebut dengan Hari Akhir, Hari Kemudian, Hari Berbangkit dan masih banyak sebutan lain. Kedatangan hari itulah yang tak bisa diperkirakan; Allah س saja Yang Maha Mengetahui. Tetapi kedatangannya merupakan kepastian; pasti datang. Terlihat titik air menetes di mata Akung; Banas diam sejenak. Lalu mengajak berbincang lebih mendalam. Inilah kisahnya.
a
1. Pulang Ke Kampung Akhirat
a
Untuk bisa menuju ke Kampung Akhirat, harus menunggu terjadinya Hari Kiamat atau hari tiada hari lagi sesudahnya. Untuk mengokohkan keberimanan, mari mencermati firman Nya dalam QS Saba` (34):3, artinya, Dan orang-orang yang kafir berkata: “Hari berbangkit itu tidak akan datang kepada kami”. Katakanlah: “Pasti datang; demi Tuhanku yang mengetahui yang ghaib, sesungguhnya kiamat itu pasti akan datang kepadamu. Tidak ada tersembunyi daripada Nya seberat zarrah pun yang ada di langit dan yang ada di bumi dan tidak ada (pula) yang lebih kecil dari itu dan yang lebih besar, melainkan (semuanya) disebut dalam Lauh Mahfudz (yaitu Kitab yang Nyata)”. Ketika Banas berhenti bicara, Akung menanyakan, kenapa dalam ayat ini, ada sebutan Hari Berbangkit.
a
Banas menjelaskan: “Tadi sudah kita bincangkan, untuk bisa sampai di Kampung Akhirat, setiap insan harus menunggu datangnya Hari Kiamat. Bila hari itu tiba, semua makhluk Nya dibangkitkan kembali, baik yang sudah lama diajalkan maupun yang diajalkan bersamaan waktunya dengan Hari Kiamat”. Akung kembali menyela: “Ustadz; kenapa disebut Hari Kiamat?”; dengan senyum, Banas menjelaskan: “Lafadz Kiamat berasal dari kata dasar [قَائِمٌ]; artinya berdiri atau bangkit. Ada juga sebutan qiyamul lail atau bangkit di waktu malam, maksudnya shalat malam. Sesuatu hari yang disebut dengan Hari Kiamat adalah hari ketika semua ciptaan Nya dibangkitkan; juga dibangkitkan seluruh isi bumi dan yang berada di permukaannya. Karenanya, tidak tepat jika dikatakan Kiamat Sughro untuk menyebut kematian; bila seseorang mati, ia ditidurkan bukan dibangkitkan. Juga tidak tepat menyebut Kiamat Kubro sebagai Hari Akhir. Karenanya, tidak perlu menyebut Kiamat Sughro dan Kiamat Kubro; kiamat hanya ada satu, yaitu Hari Kiamat”.
a
Lalu dikatakan: “Sebagai penuntas pemahaman, mari mencermati QS Ar Rum (30): 55-56, artinya, 55Dan pada hari terjadinya kiamat, bersumpahlah orang-orang yang berdosa: “Mereka tidak berdiam (dalam kubur) melainkan sesaat (saja)”. Seperti demikianlah mereka selalu dipalingkan (dari kebenaran). 56Dan berkata orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan dan keimanan (kepada orang-orang yang kafir): “Sesungguhnya kamu telah berdiam (dalam kubur) menurut ketetapan Allah, sampai hari berbangkit. Maka inilah hari berbangkit itu; akan tetapi kamu selalu tidak meyakini(nya). Dalam dua ayat ini ditegaskan tentang datangnya Hari Kiamat; juga ditegaskan, pada saat hari itulah mereka dibangkitkan dari kematian”.
a
Allah س saja yang Maha Mengetahui kapan waktu terjadinya Hari Kiamat; bahkan Rasulullah ص juga tidak diberi tahu. Pada Hari Kiamat, kelak manusia yang masih hidup atau sudah terkubur walau tinggal menyisakan tulang sulbi, beriringan ke Kampung Akhirat; tak ada yang tertinggal. Tetapi tidak difirmankan lamanya menuju ke Kampung Akhirat.
a
Oleh-olehnya?; bukan kue kering, perangkat elektronik atau motor dan mobil atau pakaian yang grès, seperti oleh-oleh pulang kampung usai lebaran. Tetapi setiap insan harus membawa oleh-oleh yang bisa memberi syafaat. Bila ketika Bulan Ramadhan dan bulan-bulan sebelumnya sudah menabung amalan saleh, niscaya menuai oleh-oleh yang bermanfaat untuk dibawa ke Kampung Akhirat.
a
Bila menutup Bulan Ramadhan dengan mengeluarkan Zakat Fitrah dari rezki yang khalalan toyyiban, maka oleh-oleh kesucian dirinya sudah tuntas di hadapan Allah س. Kita dapat merujuk QS At Taubah (9):103, dalam firman Nya, Ambillah zakat dari sebagian harta mereka; dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka. Dan mendoalah untuk mereka; sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketentraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Salah satu penegasan dalam ayat ini adalah, zakat membersihkan dan mensucikan. Namun diantara sesama, belum bersih dan belum suci, meski sudah mengeluarkan Zakat Fitrah.
a
KH Zainuddin MZ dalam salah satu dokumentasi tausiahnya di jaringan youtube [https://www.youtube.com/watch?v=nmpx3ICe1iE], memberikan pencerahan amalan guna menutup Bulan Ramadhan; dengan merujuk QS Al Baqarah (2):185. Pada akhir ayat ini difirmankan, hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. Lalu beliau menjelaskan, mengagungkan Allah س usai menunaikan Puasa Ramadhan, ditandai dengan takbiran. Lafadz-lafadz yang dilantunkan bertalu-talu menjadi salah satu tanda keikhlasan mengagungkan asma Allah س sebagaimana diperintahkan dalam QS Al Baqarah (2):185.
a
Selain itu, pada akhir ayat dapat dipetik satu perintah lainnya yang tak kalah pentingnya, yaitu “supaya kamu bersyukur”. Tetapi, beliau tidak melanjutkan pencerahan tentang perintah bersyukur. Padahal, amalan bersyukur, antara lain dapat dimaknakan sebagai amalan untuk menuntaskan kesucian dirinya guna menunaikan khablum minannas; yaitu tanda cinta dan kasih sayang terhadap karib kerabat.
a
Untuk memahami pengertian bersyukur, mari merujuk periwayatan, Abu Hurairah رعنهُ berkisah, Nabi ص bersabda: “Tidak dianggap bersyukur kepada Allah orang yang tidak bersyukur kepada manusia”; [;">HR Abu Daud #4177 + 14 HR lain]. Dalam Hadits ini dituntunkan, bersyukur kepada sesama, memiliki nilai seperti halnya bersyukur kepada Allah س. Pemahamannya tidak bisa dibalik menjadi bersyukur kepada Allah (misalnya melantunkan lafadz khamdalah) memiliki nilai seperti bersyukur kepada sesama. Bukan seperti ini; harus sesuai dengan tuntunan dalam Hadits.
a
Dalam tataran syari`, arti bersyukur adalah berterima kasih. Dengan begitu, dari Hadits itu dapat dipetik pembelajaran, bila berterima kasih kepada sesama, maka berarti sekaligus bersyukur kepada Allah س. Keterikatan ini dicerminkan dalam QS Ali Imran (3):112; antara lain difirmankan, (tidak ada kehinaan, jika) berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia. Kutipan sebagian ayat ini berisi perintah, yang mengharuskan manusia ketika merengkuh kehidupan untuk berpikiran kepada khablum minallah (mencintai Allah س) dan khablum minannas (mencintai sesama); wujudnya, kasih sayang dan welas asih dengan sesama muslimin/muslimat.
a
Salah satu perwujudan khablum minannas yang ditunaikan sebagai penutup Bulan Ramadhan, adalah dengan pulang kampung untuk melepas kerinduan dengan karib kerabat. Bila diniatkan lillahi ta`ala, Insya Allah sekaligus memiliki makna khablum minallah. Secara syari`, pulang kampung dapat dimaknakan dengan silaturrakhmi; Insya Allah, menjadi ajang bertemunya denga karib kerabat. Tetapi layak untuk diingat, jangan dibalut nuansa ri`a; misalnya, lantaran berpakaian gres, naik motor dan atau mobil mengkilat walau rental.
a
Pulang kampung dalam rangka silaturrakhmi merupakan amal saleh yang patut diutamakan; misalnya diriwayatkan, Abu Hurairah رعنهُ mengisahkan, Nabi ص bersabda: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaknya ia memuliakan tamunya. Dan barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaknya ia menyambung tali silaturrahmi. Dan barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaknya ia berkata baik atau hendaknya diam”; [HR Bukhari #5673]. Melalui Hadits ini dituntunkan, salah satu kewajiban kaum muslimin, yaitu bersilaturrakhmi; atau mempererat persaudaraan dan persahabatan. Tujannya meningkatkan kuantitas dan kualitas hubungan dengan sesama, dari kerabat ataupun bukan kerabat atau bisa disebut menumbuh eratkan khablum minannas.
a
Salah satu fadilah silaturrakhmi, dapat dicermati dari Hadits, Abdullah bin Amr رعنهُ mengisahkan, Nabi ص bersabda: “Orang-orang yang mengasihi akan dikasihi oleh Ar Rakhman. Berkasih sayanglah kepada siapapun yang ada dibumi, niscaya Yang Ada di langit akan mengasihi kalian. Lafadz Ar Rakhim (rakhim atau kasih sayang) itu diambil dari lafadz Ar Rakhman, maka barang siapa yang menyambung tali silaturrakhmi niscaya Allah akan menyambungnya (dengan rakhmat Nya) dan barang siapa yang memutus tali silaturrakhmi maka Allah akan memutusnya (dari rakhmat Nya)”; [HR Tirmidzi #1847 + 2 HR lain]. Begitu dahsyat makna silaturrakhmi dalam tataran syari`; bahkan dituntunkan oleh Raslullah ص, mereka yang memutus talinya, niscaya Allah س memutus rakhmat bagi mereka.
a
Fadilah lainnya diriwayatkan, Abu Hurairah رعنهُ mengisahkan, Nabi ص bersabda: “Belajarlah dari nasab (garis keturunan) kalian, yang dapat membantu untuk silaturrakhmi. Sesungguhnya silaturrakhmi dapat membawa kecintaan dalam keluarga dan memperbanyak harta, dan dapat memperpanjang umur”; [HR Tirmidzi #1902 + 5 HR lain]. Dari Hadits ini diketahui, bersilaturrakhmi punya fadilah dan pahala bertumpuk-tumpuk. Rujukan berbagai periwayatan tersebut menjadi penanda, silaturrakhmi memiliki keutamaan yang tinggi. Insya Allah, selain dapat meraih pahala disisi Nya jika silaturrakhmi itu dilandasi niat lillahi ta`ala, juga memiliki fadilah ketika merengkuh kehidupan duniawi. Syarat yang tidak boleh dilupa, hilangkan nuansa ri`a.
a
Begitu sangat pentingnya amalan silaturrakhmi, juga dapat dicermati dari periwayatan, Jubair bin Muth’im dari Bapaknya رعنهُما dari Nabi ص bersabda: “Tidak masuk surga orang yang memutuskan”. Ibnu Abu Umar mengatakan, Sufyan رعنهُما berkata: “Yaitu yang memutuskan silaturrahmi”; [HR Muslim #4636 + 3 HR lain]. Hadits ini menuntunkan pentingnya silaturrakhmi sebagai salah satu wujud amalan saleh.
a
“Subkhanallah”; begitu Akung berucap lirih; lalu mengatakan: “Sungguh Allah س adalah satu-satunya Dzat Yang Maha Pemurah dan Maha Pengasih. Dimurahkan limpahan pahala dan kasih Nya dari amalan saleh hamba-hamba Nya; termasuk dari silaturrakhmi”. “Bagaimana persiapan pulang ke Kampung Akhirat?; mari kita bicarakan”; begitu Banas mengajak meneruskan perbincangan.
a
2. Oleh-oleh ke Kampung Akhirat
a
Tadi kita sudah bicarakan, oleh-oleh yang patut dibawa; adalah pahala untuk menambah beratnya pundi-pundi kebaikan dan istighfar untuk mengurangi catatan malaikat yang bermukim di sisi kiri. Kita dapat menambahkan doa dalam keseharian dengan merujuk firman Nya dalam QS Ali Imran (3):194, Ya Tuhan kami, berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan rasul-rasul Engkau. Dan janganlah Engkau hinakan kami di Hari Kiamat. Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji”. Dalam ayat ini, tersirat permohonan, semoga amal salehnya ketika menjalani hidup di dunia mendapat pahala, sehingga bisa menjadi jalan memasuki surga Nya.
a
Mendengar ini Akung bertanya: “Ustadz; kenapa dalam ayat ini difirmankan janganlah Engkau hinakan kami di Hari Kiamat? Menyimak pertanyaan ini, Banas menjelaskan: “Dalam Kitab Tafsir diterangkan sebab turunnya lafadz doa ini, yaitu begini.
Pertama, para sahabat berkata, “Ketika engkau wahai Raslullah, menyuruh kami beriman kepada Tuhan, kami beriman. Lalu kami mengikuti semua perintahmu, wahai Raslullah; karenanya janganlah kami dihinakan di Hari Kiamat”.
Kedua, para sahabat memohon, agar tidak dihinakan di Hari Kiamat, karena sudah beriman dan mengikuti perintah Beliau; juga perintah yang sulit, misalnya berperang. Seseorang dihinakan, jika disungkurkan ke neraka.
a
Sebagai penuntas, Allah س menjawab doa mereka yang difirmankan dalam ayat selanjutnya, yaitu QS Ali Imran (3):195. Antara lain difirmankan, Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman), “Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal diantara kamu”. Penegasan dalam ayat ini, Allah س pasti memberikan balasan pahala atas seluruh amal saleh para hamba Nya; sesuai dengan takaran amalannya.
a
Lalu dikatakan: “Bahkan dalam ayat lain, yaitu QS Al Zalzalah (99):7-8; difirmankan, 7Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. 8Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula. Melalui ayat ini ditegaskan, sekecil apapun sesuatu amalan, baik saleh atau keburukan, di Hari Khisab pasti mendapatkan balasan yang sepadan dari Allah س”. Lalu perbincangan diteruskan.
a
Dengan mempertahankan amal saleh yang ditunaikan di Bulan Ramadhan dan meningkatkan amalan-amalan sunnahnya, Insya Allah dapat menjadi kaum mukhlis. Kaum ini ditakuti setan; dengan begitu Insya Allah, setan tetap terbelenggu. Sehingga dapat selamat meniti hiruk pikuk dunia yang penuh godaan dan ujian. Usai berkata begitu, Banas mengajak membincangkan amalan saleh sebagai oleh-oleh pulang ke Kampung Akhirat; diringkaskan dari satu perkara ke perkara lainnya.
a
a. Tambahkan Puasa Sunnah
a
Usai menunaikan puasa fardhu di Bulan Ramadhan dan kelengkapan amal salehnya, maka pertahankan amalan itu. Puasa fardhu di Bulan Ramadhan yang sudah membiasa, hendaknya diteruskan dengan puasa sunnah selama enam hari di Bulan Syawal; tidak harus berurutan tanggalnya, tetapi harus di Bulan Syawal. Ada fadilah yang Insya Allah bisa diraih, sebagaimana diriwayatkan, Abu Ayyub Al Anshari رعنهُ mengisahkan, Raslullah ص bersabda: “Siapa yang berpuasa Ramadhan lalu diiringi dengan puasa enam hari di Bulan Syawal, maka yang demikian itu seolah-olah berpuasa sepanjang masa”; [HR Muslim #1984 + 5 HR lain]. Dalam beberapa Hadits ini, ada yang mengisahkan, “puasa di Bulan Syawal, pahalanya seperti berpuasa setahun penuh”. Allahu a`lam.
a
Kita juga bisa menunaikan Puasa Senin Kamis untuk meraih fadilah yang diriwayatkan, Abu Hurairah رعنهُ mengisahkan, Raslullah ص bersabda: “Seluruh amal manusia dihadapkan kepada Allah dua kali dalam sepekan; yaitu pada Hari Senin dan Kamis. Lalu Allah mengampuni dosa setiap hamba Nya yang mukmin, kecuali orang yang bermusuhan”. Maka dikatakan kepada mereka: “Tinggalkanlah dahulu kedua orang ini, sampai mereka berdamai”; [HR Muslim #4654 + 4 HR lain]. Dalam beberapa Hadits itu, ada yang meriwayatkan, ”tangguhkan diantara dua orang yang saling mendendam”.
a
Hadits ini menuntunkan, pada Hari Senin dan Kamis, Allah س memerintahkan kepada malaikat Nya untuk menghadapkan amalan setiap insan. Pada dua hari itu, Allah س mengampuni dosa kaum mukmin; kecuali yang saling bermusuhan. Keduanya mendapat pengampunan bila sudah memulihkan silaturrakhmi. Bagaimana terhadap orang yang menolak diajak akur?
a
Dalam Hadits lain diriwayatkan, Abu Hurairah رعنهُ mengisahkan, Raslullah ص bersabda: “Sesungguhnya pintu-pintu surga dibuka pada Hari Senin dan Kamis. Semua dosa hamba yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu, niscaya diampuni. Kecuali bagi orang yang antara dia dan saudaranya terdapat kebencian dan perpecahan”. Lalu Allah س berfirman: “Tangguhkanlah dua orang ini hingga mereka berdamai! Tangguhkanlah dua orang ini hingga mereka berdamai! Tangguhkanlah kedua orang ini hingga mereka berdamai!”; [HR Muslim #4652 + 9 HR lain]. Merujuk Hadits ini, setiap mukmin berhak meraih fadilah pengampunan dua kali dalam seminggu; yaitu pengampunan di Hari Senin dan Kamis.
a
Arti penting berpuasa Senin Kamis, dapat disimak dari periwayatan, Abu Hurairah رعنهُ mengisahkan, Raslullah ص bersabda: “Pada Hari Senin dan Kamis semua amalan dinaikkan kepada Allah ta’ala; maka saya lebih suka amalanku dinaikkan kepada Nya ketika sedang puasa”; [HR Tirmidzi #678 + 7 HR lain]. Melalui Hadits ini dituntunkan, Raslullah ص menunaikan puasa sunnah di Hari Senin dan Kamis. Beliau lebih senang dalam keadaan berpuasa, karena bersamaan waktunya dengan dihadapkan semua amalannya. Dengan begitu, bila berpuasa Senin Kamis, sesungguhnya untuk menyertai penghadapan amalan ke hadirat Illahi Robbi. Selain itu, Beliau juga bersabda: “(Hari Senin) Itu adalah hari ketika aku dilahirkan dan aku diutus (sebagai Rasul) atau pada hari itulah wahyu diturunkan atasku”; [HR Muslim #1977 + 10 HR lain].
a
Puasa sunnah lainnya yang layak untuk ditunaikan, adalah Puasa Arafah; Insya Allah dapat meraih fadilah yang diriwayatkan, Abu Qatadah Al Anshari رعنهُ mengisahkan, Raslullah ص (antara lain) bersabda: “Puasa Arafah itu akan menghapus dosa-dosa satu tahun yang lalu dan yang akan datang”; [HR Nasa`i #2366 + 10 HR lain]. Puasa Arafah, ditunaikan satu hari, yaitu tanggal 9 Dzulhijjah atau sehari sebelum Idul Adha.
a
Banas menjelaskan, bila mampu menunaikan puasa-puasa sunnah tersebut, Insya Allah dapat menuai pahala yang tak tertakar kadar banyaknya. Hal ini terkait dengan periwayatan, Abu Hurairah رعنهُ berkisah, Raslullah ص (antara lain) bersabda: “Semua amalan bani Adam adalah untuk diri sendiri kecuali puasa, sesungguhnya puasa adalah untuk Ku (Allah), dan Aku lah yang membalasnya; [HR Bukhari #5472 + 12 HR lain]. Merujuk Hadits ini, dapat diketahui betapa dahsyatnya pahala dari berpuasa; tidak disebutkan, apakah khusus puasa fardhu atau juga termasuk puasa sunnah. Kini, masa sesudah Idul Fitri; mumpung aroma berpuasa di Bulan Ramadhan masih lekat dalam hayat, mari menunaikan dan melestarikan puasa-puasa sunnah itu.
a
Amalan saleh lainnya, bila selama Bulan Ramadhan sudah dibiasakan untuk membaca Al Qur`an, maka pertahankan; bahkan tingkatkan. Mari menyimak periwayatan, Abdullah bin Mas’ud رعنهُ berkisah, Raslullah ص bersabda: “Barangsiapa membaca satu huruf dari Kitabullah (Al Qur`an), maka baginya satu pahala kebaikan dan satu pahala kebaikan akan dilipat gandakan menjadi sepuluh kali. Aku tidak mengatakan Alif Lam Mim itu satu huruf, tapi Alif satu huruf, Lam satu huruf dan Mim satu huruf”; [HR Tirmidzi #2835 + 2 HR lain]. Seharusnya, periwayatan ini menjadi udara sejuk bagi mereka yang senang membaca Al Qur`an.
a
Dalam Al Qur`an terdapat 323.015 huruf; jika berhasil sekali saja mengkhatamkan, alangkah banyak pahalanya, karena jumlah huruf itu dikalikan dengan 10 kebaikan. Insya Allah, lebih 3 juta kebaikan bisa menjadi oleh-oleh ke Kampung Akhirat. Masih ada fadilah lain dalam periwayatan, Abdah bin Lubabah رعنهُ mengisahkan, Raslullah ص bersabda: “Apabila seseorang mengkhatamkan Al Qur`an pada pagi/siang hari maka para malaikat bershalawat untuknya hingga waktu sore. Jika ia menyelesaikan bacaan Al Qur`an pada sore/malam hari maka para malaikat bershalawat untuknya hingga waktu pagi”; [HR Ad Darimi #3340 + 1 HR lain]. Dalam Hadits ini diriwayatkan, malaikat bershalawat bagi pengkhatam Al Qur`an; maknanya malaikat memohonkan ampunan bagi pembacanya sedikitnya dua belas jam sejak subuh atau sejak maghrib, bila khatamnya malam hari.
a
Sebagai penyemangat mengaji, bacalah Surah Yasin tiap usai Shalat Maghrib dan Shalat Subuh. Ada fadilah dalam periwayatan, Anas رعنهُ berkata, Raslullah ص bersabda: “Sesungguhnya setiap sesuatu memiliki hati dan hati Al Qur`an adalah Surah Yasin. Barangsiapa yang membacanya, maka ia (mendapat pahala) seperti telah membaca Al Qur`an sebanyak sepuluh kali”; [HR Tirmidzi #2812 + 1 HR lain]. Dengan begitu, pada setiap satu kali membaca Surah Yasin, berhak meraih pahala seperti sepuluh kali khatam Al Qur`an. Secara matematika, pahalanya lebih dari tiga puluh juta kebaikan; tepatnya 10 (pahala kebaikan setiap huruf) x 323.015 (jumlah huruf dalam Al Qur`an) x 10 (setara 10 kali khatam Al Qur`an) = 32.301.500 pahala kebaikan. “Subkhanallah”; begitu Akung berdesah. Lalu dikatakan: “Sangat banyak kemudahan untuk mendapatkan oleh-oleh”. Kemudian perbincangan diteruskan.
a
Lalu Banas mengajak mencermati periwayatan, Aisyah رعنها berkisah, Raslullah ص bersabda: “Orang yang pandai membaca Al Qur`an akan beserta para malaikat yang mulia. Dan orang yang membacanya dengan terbata-bata dan merasa kesulitan, ia akan memperoleh dua pahala”; [HR Ibnu Majah #3769 + 5 HR lain].
a
Masih ada periwayatan lain, Abdullah bin Umar رعنهُ berkata: “Al Qur`an akan memberi syafaat kepada para pembacanya hingga pembaca itu dikenakan hiasan kemuliaan”. Lalu Al Qur`an berkata: “Wahai Rabbku, tambahkan padanya’; maka dipakaikan mahkota kemuliaan padanya”. Al Qur`an berkata lagi: “Wahai Rabbku, tambahkan padanya, berilah ia, berilah ia”. Maka Allah menjawab: “Keridhoan Ku”.
Sahabat lainnya, yaitu Wuhaib Ibnu Al Wardi رعنهُ berkata: “Jadikanlah bacaan Al Qur`an sebagai ilmu dan jangan engkau jadikan sebagai amal”. Dalam matan itu terdapat kalimat jangan engkau jadikan ia sebagai amal; kita harus berhati-hati memaknakan. Karena maksudnya adalah jangan jadikan ayat-ayat Al Qur`an sebagai mantera.
a
Dari Hadits lain diriwayatkan, Abdullah bin Amru رعنهُ mengisahkan, Raslullah ص (antara lain) bersabda: “(di Hari Kiamat) Al Qur`an berkata, aku telah menahannya dari tidur di malam hari, maka izinkanlah aku memberi syafaat kepadanya”. Lalu Beliau melanjutkan sabdanya: “Maka Al Qur`an pun akhirnya memberi syafaat kepadanya; setelah Allah meridhoinya”; [HR Ahmad #6337].
a
Banas meneruskan: “Itulah sepenggal amalan saleh di Bulan Ramadhan yang layak untuk dilestarikan dan ditingkatkan sesudah Idul Fitri. Selain itu, masih ada amal saleh yang layak tetap dipertahankan; yaitu shalat lail atau shalat malam”. Lalu perbincangan diteruskan.
a
b. Teruskan Bershalat Lail
a
Shalat Tarwih yang sudah terbiasa ditunaikan selama Bulan Ramadhan, hendaknya diteruskan. Sebutannya menjadi Shalat Lail atau Shalat Malam atau Qiyamul Lail atau Shalat Tahajjud. Rujukannya, QS Al Isra` (17):79; difirmankan, “Dan pada sebagian malam hari bershalat tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu. Mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji”. Setelah turunnya wahyu ini, Raslullah ص bershalat Tahajjud setiap malam; [juga diriwayatkan dalam HR Bukhari #939 + 27 Hadits lain].
a
Rujukan lainnya, difirmankan dalam QS Al Insan (76):26, Dan pada sebagian dari malam, maka sujudlah kepada Nya dan bertasbikhlah kepada Nya pada bagian yang panjang di malam hari. Melalui ayat-ayat itu, Allah س memerintahkan untuk bershalat malam; dan melengkapinya dengan bertasbikh untuk memahasucikan dan mengingat Nya.
a
Keutamaan shalat malam juga diriwayatkan, Aisyah رعنها berkata; “Janganlah kamu meninggalkan shalat malam (qiyamul lail), karena Raslullah ص tidak pernah meninggalkannya. Bahkan, apabila Beliau sedang sakit atau kepayahan, Beliau shalat dengan duduk”; [HR Abu Daud #1112 + 1 HR lain]. Adapun waktu yang lebih diutamakan untuk bershalat malam, dapat merujuk, Amru bin Abasah رعنهُ berkisah, Nabi ص bersabda: “Shalat malam itu adalah dua rakaat dua rakaat. Sepertiga malam terakhir adalah waktu yang paling mustajab untuk doa”. Ada sahabat yang bertanya: “Mungkin maksudnya yang paling wajib [أَوْجَبُهُ]?” Amru bin Abasah رعنهُ menjawab: “Tidak, akan tetapi yang dimaksud dengan [أَوْجَبُهُ] adalah diperkirakan semua doanya musti terkabul”; [HR Ahmad #18630 + HR lain].
a
Fadilah lain dari bershalat malam, diriwayatkan, Abu Hurairah رعنهُ berkisah, Raslullah ص menceriterakan, Rabb Tabaraka wa Ta’ala turun di setiap malam ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir. Lalu Dia berfirman: “Siapa yang berdoa kepada Ku, pasti Aku kabulkan. Dan siapa yang meminta kepada Ku, pasti Aku penuhi. Dan siapa yang memohon ampun kepada Ku pasti Aku ampuni”; [HR Bukhari #1077 + 14 HR lain]. Untuk menutup Qiyamul Lail, tunaikanlah Shalat Witir.
a
a
Akung menyela: “Ustadz; sesungguhnya, sejak sebelum Bulan Ramadhan sudah berkeinginan membiasakan bershalat malam sebagai persiapan untuk Shalat Tarwih. Maksud hati ingin bangun larut malam, tetapi Allah س tidak mengijinkan. Bagaimana?”
a
Atas pertanyaan ini, Banas mengajak mencermati periwayatan, Abdullah bin Umar رعنهُ mengisahkan, ada seorang laki-laki datang kepada Nabi ص saat Beliau sedang berpidato. Ia bertanya: “Bagaimana cara shalat malam?” Beliau menjawab: “Dua rakaat dua rakaat. Apabila dikhawatirkan masuk subuh, maka shalatlah satu rakaat sebagai witir (penutup) bagi shalat yang telah kamu laksanakan sebelumnya”; [HR Bukhari #453 + 21 HR lain]. Hadits ini mengisyaratkan, jika khawatir masuk waktu Shalat Subuh, maka tunaikan Shalat Witir satu rakaat. Insya Allah bisa menjadi nafilah shalat malam; jika memang telah diniatkan dan tidak disengajakan terlambat bangun. Allahu a`lam.
a
Tetapi ada sekaum muslim yang lebih memilih malam Jumat saja untuk menunaikan amal saleh. Bila terjadi demikian, maka hendaknya mencermati periwayatan, Aswad bin Amir رعنهُ mengisahkan, Raslullah ص antara lain bersabda kepada Abu Darda رعنهُ : “Wahai Abu Darda, janganlah kamu khususkan hanya malam Jumat untuk bangun shalat malam sementara malam-malam yang lainnya tidak”; [HR Muslim #1930 + 1 HR lain]. Hadits ini mengisyaratkan, jangan bershalat Tahajjud atau membaca Al Qur`an atau amal saleh lainnya di malam Jumat saja. Lalu Banas mengajak membicarakan pentingnya meneruskan amalan Zakat Fitrah dalam bentuk shodaqoh; karenanya, ia menganjurkan untuk memperbanyak bershodaqoh.
a
c. Meningkatkan Shodaqoh (Sedekah)
a
Kadangkala seolah ada perlombaan bersedekah di Bulan Ramadhan untuk menggapai pahala yang berlipatganda. Walau begitu, usai Bulan Ramadhan, bersedekah masih perlu tetap dilestarikan dan ditingkatkan kadarnya.
Kemudian dikatakan: “Besaran pahala dari bersedekah dapat dicermati dari QS Al Baqarah (2):261; difirmankan, Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir; pada tiap-tiap bulir ada seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia Nya) lagi Maha Mengetahui. Ayat ini harus menjadi penyemangat untuk meneruskan bersedekah ataupun berinfak; karena Allah س melipatgandakan sedikitnya dengan kelipatan tujuh ratus kali. Bahkan, kelipatannya tak terhitung banyaknya bagi mereka yang Dia kehendaki.
a
Salah satu persyaratannya, harus berasal dari harta yang khalalan toyyiban. Selain itu, masih ada empat syarat agar mendapat balasan pahala Nya, merujuk QS Al Baqarah (2):264; difirmankan, Hai orang-orang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena ri`a kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir. Melalui ayat ini, Allah س mengingatkan agar sedekahnya berpahala, maka:
AAjangan menyebut-nyebut sedekahnya;
AAjangan menyakiti perasaan penerima sedekah;
AAjangan ri`a (pamer); dan
AAjangan bersedekah yang tanpa dilandasi dengan niat lillahi ta`ala.
Selain itu, dalam ayat ini Allah س membuat kias, kehampaan dari memperoleh pahala atas sedekahnya; yaitu ibarat meletakkan tanah di atas batu licin sebagai tamsil amalan sedekah. Lalu tersiram hujan deras sebagai tamsil atas empat perkara tersebut; tentu tanahnya tak meninggalkan bekas.
a
Terkait dengan harta yang disedekahkan, mari mencermati suatu periwayatan, Abu Hurairah رعنهُ mengisahkan, Raslullah ص bersabda: “Tidak seorang pun yang menyedekahkan hartanya yang khalal ~karena Allah tidak akan menerima kecuali yang khalal~ melainkan Allah akan menerimanya dengan tangan kanan Nya, meskipun sedekahnya itu hanya sebutir kurma. Maka kurma itu akan bertambah besar di tangan Allah Yang Maha Pengasih, sehingga menjadi lebih besar daripada gunung, sebagaimana halnya kamu memelihara anak kambing dan anak unta (yang semakin lama semakin besar)”; [HR Muslim #1684 + 9 HR lain]. Dalam Hadits ini terdapat pembelajaran, bahwa bersedekah dari harta khalalan toyyiban berpeluang meraih pahala; dan pahalanya semakin membesar di tangan Nya. Kemudian Banas mengatakan: “Selain itu, ada amalan lain yang Insya Allah bisa meringankan langkah ke Kampung Akhirat. Bukan bermaksud mengurangi oleh-oleh, tetapi mengurangi beban dosa; yaitu memohon ampunan”. Lalu perbincangan diteruskan.
a
d. Perbanyaklah Memohon Ampun
a
Banas mengatakan: “Dalam merengkuh kehidupan, agak sulit menemukan kaum muslim yang dengan senang hati mengakui dosa-dosanya; pada umumnya lebih mudah menemukan mereka yang mengaku telah berbuat kebaikan. Atau dengan mengatakan, saya sudah begini, begitu, disini, disitu, disana. Tidak banyak yang mengatakan, sayangnya saya melakukan begini, begini, disini dan disana. Inilah sekedar potret selintas pengakuan kaum muslim atas amalan-amalannya. Karenanya, tanpa harus menyusuri kembali perbuatan dosanya, ada baiknya memperbanyak untuk memohon ampunan Nya. Dengan beristighfar atau jika memungkinkan, perbanyaklah Shalat Taubatan Nasukha”. Ketika Banas jedah sejenak, Akung menyela: “Ustadz; bukankah memohon ampun dengan melantunkan istighfar sudah melumrah. Tetapi bila ingin memperbanyaknya, berapa kali harus beristighfar?”
a
Lalu Banas membacakan periwayatan, Abu Hurairah رعنهُ mendengar Raslullah ص bersabda: “Demi Allah, sesungguhnya aku beristighfar (meminta ampunan) dan bertaubat kepada Allah dalam satu hari lebih dari tujuh puluh kali”; [HR Bukhari #5832 + 6 HR lain]. Mendengar ini, Akung berucap lirih, “Subkhanallah; Raslullah ص yang sudah dipenuhi ampunan tetapi masih beristighfar sebanyak itu”; Banas merespon: “Insya Allah, Beliau memberi teladan dengan cara mengamalkan lebih dahulu. Agar amalannya menjadi panutan umat; tidak sekedar memerintahkan sesuatu amalan. Allahu a`lam”.
a
Menunaikan amalan untuk mendapat pengampunan Nya, antara lain dapat ditempuh dengan cara:
Pertama, memohon ampun dengan melantunkan istighfar sebanyak-banyaknya. Permohonan ini dapat dilantunkan dimana saja dan kapan saja. Namun harus dilandasi pemahaman, ada permohonan yang langsung dikabulkan dan ada yang ditunda ijabahnya; [HR Abu Daud #939 + 2 HR lain].
Kedua, melantunkan lafadz yang memiliki pahala berupa pengampunan. Pelantunan lafadz-lafadz ini harus berada di tempat dan waktu yang dituntunkan Raslullah ص. Artinya, tidak boleh dilantunkan di semua waktu dan tidak bisa di semua tempat. Kecuali Beliau memberi keleluasan secara bebas, maka istighfar itu bisa ditunaikan secara leluasa.
Akung menanyakan: “Ustadz; maksudnya bagaimana?; bukankah kedua cara itu tujuannya sama, yaitu memohon ampunan Nya. Banas menjelaskan: “Mari kita bincangkan seluk beluknya, Insya Allah dengan mudah dapat memahaminya”. Akung mengangguk penuh semangat; lalu diikutinya pembahasan dua cara tersebut.
a
Pertama, ditempuh dengan melantunkan lafadz istighfar[ [اسْتَغْفر اللهِ ]] sebanyak-banyaknya; bisa ditunaikan di semua waktu dan di mana pun tempatnya, asal bukan di tempat terlarang; misalnya di WC. Misalnya, saat berkendara, istirahat, menunggu dan aktifitas semisal ini, tidak dilarang melantunkan istighfar walau berulangkali. Ada nasehat dari para fuqaha, bila tidak dalam keadaan bersuci, lantunkan istighfar dalam hati; maksudnya tanpa diijharkan (tanpa dikeraskan suaranya).
a
Kedua, dapat ditunaikan dengan banyak cara; misalnya begini.
AAMelantunkan lafadz [سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ] seratus kali dalam sehari semalam, boleh kapan saja waktunya dan tidak harus dalam satu waktu. Misalnya usai Shalat Maghrib melantunkan 20 tasbikh, sesudah Shalat Isya begitu juga, dan seterusnya. Fadilahnya, Insya Allah dapat menghapus dosa walaupun dosanya sebanyak buih di lautan; [HR Bukhari # 5926 + 10 HR lain].
AAMelafadzkan takbir, takhmid dan tasbikh masing-masing 33 kali lalu ditutup dengan lafadz :
[لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ].
A•ARaslullah ص menuntunkan pelantunannya setiap sesudah shalat. Insya Allah menghapus dosa walau (dosanya) sebanyak buih di lautan; [HR Muslim #939 + 7 HR lain]. Agar dicermati, amalan ini ditunaikan setiap sesudah shalat fardhu atau sunnah; jangan memilih waktu selainnya.
AAMelafadzkan tahlil, takbir, takhmid dan tasbikh masing-masing 25 kali, sesudah shalat. Insya Allah menghapus dosa walau sebanyak buih di lautan; [HR Ahmad #20672]. Amalan ini ditunaikan setiap sesudah shalat saja; bila dilantunkan bukan sesudah shalat, niscaya tidak sesuai tuntunan Raslullah ص.
A•ATuntunan ini juga dapat merujuk periwayatan, Samurah bin Jundub رعنهُ berkisah, Raslullah ص (antara lain) bersabda: “Kalimat yang paling disukai oleh Allah Tabaraka wa Ta’ala, ada empat, yaitu: tahlil (La Ilaha Illallah), takbir (Allahu Akbar), tasbikh (Subkhanallah), khamdallah (Alkhamdulillah). Dan tidak akan membahayakanmu dari mana saja kalian memulainya”; [HR Ahmad #19248].
Selain itu dapat dipaterikan, bahwa lafadz tahlil adalah kunci surga; [HR Ahmad #21086]. Para pelantunnya, termasuk golongan yang lebih utama disisi Nya; [HR Ahmad, #1327]. Usai dilantunkan, niscaya lafadz tahlil itu, selalu berputar di sekeliling Arsy; suaranya mendengung bagaikan dengung lebah yang menyebut nama pelantunnya. Siapa yang tidak ingin namanya disebut di sekeliling Arsy?; [HR Ibnu Majah #3799]. Jika lafadz tahlil diucapkan ketika ajalnya tiba, maka lantunan itu menjadi cahaya untuk catatan amalnya. Jasad dan ruhnya mendapatkan ketenangan ketika maut menjemput; [HR Ibnu Majah # 3785 + 1 HR lain]. Raslullah ص akan menjadi saksi pelantunnya disisi Nya, kelak pada Hari Kiamat; [HR Bukhari #1272 + 11 HR lain].
AARaslullah ص menuntunkan, sebelum beranjak tidur, lantunkanlah tiga kali, lafadz:
أَسْتَغْفِرُ اللهُ ٬ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ ۞
A•AMaka, Insya Allah diampuni dosa-dosanya walaupun banyak dosanya seperti buih di lautan, meski seperti gunung pasir, walaupun seperti jumlah daun di pepohonan”; [HR Ahmad #10652].
AACara lainnya, merujuk periwayatan, Syaddad bin Aus رعنهُ mengisahkan, Nabi ص bersabda: “Sesungguhnya istighfar yang paling baik adalah mengucapkan:
اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ ٬ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ ٬ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ ٬ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ ٬ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ ٬ أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ ٬ وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي ٬ فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ ۞
Artinya, Ya Allah, Engkau adalah Tuhanku, tidak ada Tuhan yang berhak diibadahi selain Engkau. Engkau telah menciptakanku dan aku adalah hamba Mu. Aku menetapi perjanjian Mu dan janji Mu, sesuai dengan kemampuanku. Aku berlindung kepada Mu dari keburukan perbuatanku. Aku akui nikmat Mu kepadaku dan aku mengakui dosaku kepada Mu; maka ampunilah aku. Tidak ada yang dapat mengampuni dosa selain Engkau.
A•ALalu Beliau bersabda: “Jika ia mengucapkan di waktu siang dengan penuh keimanan lalu meninggal pada hari itu sebelum waktu sore, maka ia termasuk dari penghuni surga. Dan jika ia membacanya di waktu malam dengan penuh keimaman lalu meninggal sebelum masuk waktu pagi, maka ia termasuk dari penghuni surga”; [HR Bukhari #5831 + 6 HR lain].
a
Banas menjelaskan: “Para ulama menyebutnya Sayyidul Ghaffar; maksudnya Penghulunya Istighfar”. Akung langsung bertasbikh; lalu ditanyakan: “Ustadz; Hadits itu menerangkan, berdoanya di siang hari dan malam hari. Kapan waktu yang tepat?”. Banas menjelaskan: “Lantunkan usai Shalat Subuh dan Shalat Ashar. Bila beristighfar usai Shalat Subuh, maka malaikat membawa istighfar itu ke hadapan Allah س, Insya Allah waktunya bersamaan dengan telah terbitnya matahari atau disebut dhukha. Bila beristighfar saat Shalat Ashar, maka malaikat menghadapkannya sudah masuk malam hari, yaitu sesaat sesudah waktu Shalat Maghrib. Sesungguhnya pada waktu Subuh dan Ashar itulah terjadi pergantian giliran jaga dari malaikat malam kepada malaikat siang dan dari giliran siang berganti dengan malaikat jaga malam; [HR Bukhari #2984 + 15 HR lain]”.
a
Akung masih bertanya lagi: “Bila fadilah istighfarnya seperti itu, alangkah baiknya kalau dilantunkan sebagai penutup doa setiap usai shalat. Dengan begitu, Insya Allah pada setiap saat bisa meraih surga Nya”. Mendengar ini, Banas mengemukakan: “Mari menyimak kembali akhir matan ini; Beliau bersabda, pengucapannya di waktu siang dan di waktu malam”. Lalu terjadi dialog kecil; Banas bertanya, berapa jumlah rakaat Shalat Dhuhur; dijawab empat. Siapa yang menuntunkan? Raslullah ص, begitu jawabnya. Bagaimana jika Shalat Dhuhur ditunaikan tiga rakaat?; dijawab, tidak boleh. Lalu Banas menyempurnakan jawabannya: “Karena tidak sesuai dengan tuntunan Raslullah ص”.
a
Banas menjelaskan: “Setiap peribadahan harus mengikuti ketetapan Al Qur`an dan tuntunan Raslullah ص. Pelaksanaannya bisa merujuk fatwa Ulil Amri berupa fatwa ulama atau himpunan Fiqh; tiga fondasi ini difirmankan dalam QS An Nisa` (4):59. Bila setiap peribadahan harus sesuai dengan tuntunan Raslullah ص, waktu yang benar untuk melantunkan istighfar adalah usai Shalat Subuh dan selesai Shalat Ashar”. Akung mengangguk kecil, pertanda bisa menerima penjelasan ini tanpa terganjal hatinya.
a
Beberapa amalan tersebut dapat terus ditunaikan, walaupun Bulan Ramadhan telah berlalu. Nuansa Ramadhan dapat dijadikan tonggak peningkatan amal saleh. Bila ketika di Bulan Ramadhan belum memaksimalkan amalan saleh, ada baiknya sesudah Idul Fitri bisa memperbanyak amalan saleh. Untuk apa?; mencari oleh-oleh guna membekali pulang ke Kampung Akhirat. Kemudian dikatakan: “Guna menggemukkan pundi-pundi kebaikan, tingkatkan dan lestarikan amalan saleh. Bila selama ini belum mengoptimalkannya, maka cepatlah menggebu-gebukan beramal saleh. Mumpung Allah س masih memberi waktu”.
a
Banas mewanti-wanti: “Perjalanan ke Kampung Akhirat sungguh tak dapat diduga; sebagaimana difirmankan, Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat: “Bilakah terjadinya?” Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Tuhanku; tidak seorang pun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. Kiamat itu amat berat (huru-haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi. Kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba”. Mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang hari kiamat itu adalah di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”; [QS Al A`raf (7):187]. Secara tersirat, melalui ayat ini Allah س mengingatkan, bersegeralah pada kebaikan sebelum datangnya hari huru-hara yang amat berat sebagai penanda berakhirnya hari di dunia. Allah س juga mengingatkan dalam firman Nya, Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai; [QS Al A`raf (7):205]”.
a
Akung mengatakan: “Ustadz; sudah sangat banyak amalan yang ditawarkan pasca Bulan Ramadhan. Mulai dari pembiasaan Shalat Lail untuk meneruskan Shalat Tarwih, membiasakan puasa sunnah sebagai penerus pembiasaan puasa fardhu Ramadhan dan amalan lain; semua itu untuk meraih perbanyakan pahala. Selain itu, masih perlu memperbanyak istighfar dan amal saleh lainnya”. sesudah jedah sejenak, Akung menanyakan: “Ustadz; amalan mana yang sebaiknya diutamakan?”.
a
Akhirul Kalam
a
Sebelum mengakhiri perbincangan, Banas menjawabnya, dengan membacakan periwayatan, Aisyah رعنها mengisahkan, pada suatu malam Nabi ص pernah membuat sekat (di dalam masjid) dengan tikar lalu shalat didalamnya. Lalu menghamparkannya di siang hari untuk duduk, ternyata orang-orang berkumpul di sekeliling Nabi ص untuk mengerjakan shalat sebagaimana Beliau shalat, hingga orang-orang semakin banyak. Lalu Beliau menghadap (kepada mereka) dan bersabda: “Wahai sekalian manusia, tunaikan amal menurut yang kalian sanggupi, sesungguhnya Allah tidak akan bosan sehingga kalian merasa bosan. Sesungguhnya amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang dikerjakan secara ajeg walaupun sedikit”; [HR Bukhari #5413 + 16 HR lain].
a
Ada kata kunci dalam Hadits ini yang layak untuk dicermati; yaitu tunaikan amal saleh, walau sedikit tetapi ajeg. Tidak berarti shalatnya Subuh dan Ashar saja dalam sehari semalam tetapi ajeg ditunaikan; bukan begitu. Amalan fardhu harus tetap ditegakkan sesuai tuntunan Raslullah ص; amalan sunnah boleh sedikit dan ajeg. Boleh saja, puasa sunnah Hari Kamis saja; atau bersedekah seribu rupiah setiap mendatangi Shalat Jumat; atau beristighfar semampunya tetapi ajeg. Boleh juga mengaji sehalaman sehari, sebulan sudah tiga puluh halaman; kalau waktu masih bisa disisihkan, jumlah halaman ngajinya bisa ditambah dan ditambah terus. Targetnya, setidaknya sekali duduk satu juz; tidak merugi karena berpeluang meraih pahala yang banyak.
a
Banas meneruskan: “Bila bersemangat pulang kampung saat lebaran, maka perbanyaklah amalan untuk pulang ke Kampung Akhirat. Bukankah kita nanti pasti pulang kesana?; dan harus sudah tahu apa oleh-olehnya. Bukan kue kering atau peralatan elektronik, tetapi pahala dan permohonan ampunan Nya menjadi buah tangan yang paling bermanfaat”.
a
Lalu diteruskan: “Setiap pribadi muslim dapat memilah dan memilih amalan mana yang akan ditunaikan. Patut menjadi catatan bersama, tunaikan sesuatu amalan walau sedikit tetapi ajeg dan sesuai dengan tuntunan Raslullah ص. Diniatkan lillahi ta`ala dan ditunaikan dengan penuh keimanan dan keikhlasan. Bukankah Raslullah ص menuntunkan doa (yang para ulama menyebut Sayyidul Ghoffar) dengan lafadz Aku menetapi perjanjian Mu dan janji Mu, sesuai dengan kemampuanku. Ini bermakna, Raslullah ص tidak memaksa untuk beramal saleh sampai di luar batas kemampuan fisik dan sosialnya”. Usai berkata begitu, lalu keduanya saling berjabat tangan; saling berucap salam, kemudian berpisah dengan fikiran masing-masing. Kini, semangat Akung untuk beribadah semakin diperkaya.
a
Sekian, semoga barokallah; Insya Allahu Amin.
a
Rujukan Penulisan
a
1977-1995aiSayyid Sabiq., Fikih Sunnah Jilid I s/d XIV; Penerbit Al Ma`arif Bandung.
1991-1995aiDepartemen Agama RI., Al Qur`an dan Tafsirnya; Penerbit UII Yogyakarta.
2000-1995aiKHQ Shaleh, HAA Dahlan., Asbabun Nuzul, Latar Belakang Historis Turunnya Ayat-ayat Al-Quran; Penerbit Diponegoro, Bandung.
1999-2011aiMuhammad Nasib Ar-Rifa`i., Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir Jilid I s/d IV; Gema Insani, Jakarta & Depok.
2010-1995aiImam Jalaluddin Al Mahalli dan Imam Jalaluddin As Suyuti, Tafsir Jalalain; Sinar Baru Algensindo, Bandung.
2010-1995aiMufassir., Enam Ringkasan Tafsir; Hilal Penerbit Al Qur`an, Bandung.
2010-2011aiLidwa Pusaka dan Saltanera., Software Ensiklopedi Kitab Hadits 9 Imam; Jakarta.
2015-2011aiIslamic Digital Boarding College (IDBC) Seri Al Bayan., Software Al Qur`an dan Terjemahannya; Solo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>