Mencari SOAL UJIAN

Intro: Soal Ujian, Bocor ?
a
Saat bertemu di pasar kecamatan, Akung menyapa dengan ucapan salam; lalu salampun segera berbalas. Keduanya duduk di halte depan pasar; lalu Akung memulai pembicaraan dengan mengatakan: “Ustadz; ada perbincangan yang ditayangkan oleh tv swasta nasional. Ketika ditanya tentang bocornya soal ujian sekolah, ia menjawab, Ya nggak apa-apa. Lha soal ujian kubur saja juga bocor”; lalu terdengar tertawa gemuruh penonton mengiringi senyum mencibir dari laki-laki muda yang ditanya. Bagaimana pandangan Islam tentang bocornya soal ujian sekolahan dan soal ujian kubur?
a
Banas menjelaskan: “Kalau bocornya soal ujian sekolahan, setidaknya terkait dengan tiga hal; pertama, akan terjadi pembiasan untuk menempuh jalan pintas mencapai tujuan walau jalannya kharram; niscaya kelak mendapat balasan meski mengatakan kejahatannya ringan; [QS Az Zalzalah (99):8]. Kedua, pembocor dan pengguna adalah pencuri; mereka diancam potong tangan; [QS Al Maidah (5):38]. Selain itu, Allah س melaknatnya; [HR Bukhari #6285 + 5 HR lain]. Dan akan membawa curiannya sampai di Hari Kiamat untuk dikhisab; [HR Ad Darimi #2380]. Ketiga, pengguna dan pembocor adalah penipu; Allah س mengkharramkan mereka, menghuni surga Nya; [HR Ibnu Majah #2493 + 9 HR lain]. Bila tiga hal ini difahami, Insya Allah tidak ada pembocoran soal ujian sekolahan.
a
Selain itu, seharusnya peristiwa pembocoran soal ujian sekolahan tidak perlu terjadi. Kenapa?; bila tidak lulus, bisa mengulang. Mungkin ujian susulan atau mungkin juga ujian di tahun berikutnya. Tetapi seringkali, orangtua dan siswa tidak bisa menerima kenyataan rendahnya prestasi yang mampu diraih. Lalu terjadilah jual beli soal ujian; bahkan mungkin melumrah. Kalau perbincangan di tv itu memang benar terjadi, maka perkataan bocornya soal ujian kubur itu lebih penting untuk dibicarakan”.
a
Kita sepahamkan lebih dahulu, makna soal ujian yang bocor. Pertama, soal ujian adalah serangkaian pertanyaan yang akan diujikan dan harus dijawab. Kedua, dinyatakan lulus jika mampu menjawab secara benar. Ketiga, soal ujian merupakan rahasia; bisa dikatakan bocor, jika soal ujian yang belum diujikan telah beredar secara ilegal. Keempat, pembocorannya menyertakan jawaban yang benar. Bila memenuhi empat kondisi itu, maka telah terjadi kebocoran soal ujian.
a
Dalam berislam, sesungguhnya tidak ada soal ujian yang bocor. Karena banyak firman Nya dan tuntunan ulullah ص, mengenai pertanyaan yang kelak diajukan malaikat kepada semua manusia. Dalam beberapa tuntunan juga disertakan jawaban; dan ada juga tuntunan tanpa jawaban. Pentingnya dituntunkan soal-soal ujian itu, karena bila tak lulus menempuh ujian keislaman, Insya Allah, tidak bisa mengulang lagi. Bila sudah disana, tak ada jalan kembali.
a
Allah س tidak mengembalikan manusia ke dunia untuk memperbaiki amalan; sebagaimana difirmankan dalam QS Al Mu`minun (23):99-100; 99(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia), 100agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan”. (Allah menjawab): “Sekali-kali tidak; sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan”. Merujuk ayat ini, walau sekali saja tidak lulus ujian di alam kubur dan ujian kelak di Hari Khisab, maka tidak ada kesempatan baginya untuk kembali ke dunia guna belajar lagi agar meningkat kemampuannya menjawab soal ujian itu. Karenanya, jawaban di wawancara itu sangat tidak benar; tidak ada soal ujian kubur yang bocor. Setiap insan boleh mendapatkan soal ujian secara terbuka. Sayangnya, yang diwawancara dan penonton tertawa puas diiringi senyuman dari pembawa acara. Na`udzubillahi min dzalik.
a
Mungkin, ada yang menganggap soal ujian keislaman seperti soal ujian sekolahan; harus ditutup rapat dan bersifat rahasia. Padahal bila rajin bertaklim (mencari ilmu) melalui majlis atau membaca, niscaya bisa memperoleh banyak soal ujian. Patut disadari, mendapatkan soal ujian keislaman bukan tindak kriminal, tapi suatu ibadah. Terperanjat Akung mendengar penjelasan ini; lalu bertanya: “Ustadz; kenapa mencari soal ujian itu termasuk ibadah?” Banas tidak langsung menjawab; lalu mengatakan: “Kali ini, kita bincangkan dua soal ujian saja, yaitu yang diujikan di alam kubur dan diujikan di Hari Khisab”. Inilah kisah perbincangan mereka.
a
1. Soal Ujian Kubur
a
Sebelum dimulai berbincang, Akung malahan berkata “Ustadz; beberapa waktu yang lalu, saya mengantar jenasah dimakamkan; sebelum tanah kubur ditabur, pak kyai angkat bicara; disebut talqin. Kenapa begitu?” Setelah menarik nafas dalam-dalam, Banas mengatakan: “Mari mencermati Hadits, Abu Sa’id Al Khudri رعنهُ berkisah, Rasulullah ص bersabda: “Talqinlah (ajarilah) orang yang (akan) meninggal diantara kalian dengan ucapan [لاإله الآ الله]; [HR Abu Daud #2710 + 8 HR lain]. Merujuk Hadits ini, maka pengertian talqin adalah mengajarkan, mengingatkan dan semisal ini. Isinya, lafadz tahlil yang ditalqinkan pada saat menjelang kematian. Peristiwa seperti ini banyak dilakukan oleh para ahli waris, ketika diduga orang yang dicintainya mengalami sakaratul maut; walaupun seorang kyai. Agar hayatnya berakhir dengan ucapan tahlil agar kelak dapat meraih fadilah syafaat Rasulullah ص. Talqin, bukan berpidato di atas liang pada saat pemakaman”.
a
Akung menyela: “Ustadz; apakah talqin di atas liang lahat, bermanfaat bagi si mayit?, karena alamnya sudah berbeda. Bukankah Allah س berfirman, Rasulullah ص tidak dapat menjadikan orang mati bisa mendengar?; apalagi kita. Jika begitu, bukankah si mayit tidak memperoleh fadilah dari talqin?”
a
Terbersit kebanggaan di hati Banas mendengar pertanyaan ini; karena Akung masih mengingat beberapa firman Nya yang sudah ditausiahkan terdahlu. Lalu dijelaskan: “Terdapat sedikitnya dua ayat yang didalamnya terdapat lafadz, orang mati tidak bisa mendengar. Pertama, dalam QS An Naml (27):80; Sesungguhnya kamu (Muhammad) tidak dapat menjadikan orang-orang yang mati mendengar dan (tidak pula) menjadikan orang-orang yang tuli mendengar panggilan, apabila mereka telah berpaling membelakang. Kedua, pada akhir ayat QS Fathir (35):22; … dan kamu (wahai Muhammad) sekali-kali tiada sanggup menjadikan orang yang di dalam kubur dapat mendengar. Insya Allah, ayat-ayat itu berisi ketetapan, bahwa Rasulullah ص tidak bisa membuka hati kaum kafir; ibaratnya, kaum kafir itu telah mati hatinya. Mereka tidak bisa lagi menerima ajaran Keislaman. Allahu a`lam.
a
Sudah dipastikan, Allah س saja yang dapat membuka hati setiap insan dan memberi petunjuk; [QS Al Baqarah (2):272]. Sedangkan Rasulullah ص diutus sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan; [QS Al Baqarah (2):119]. Jika Beliau sudah memberi peringatan, maka beriman atau kafirnya, adalah Kuasa Allah س; [QS Al Baqarah (2):272]”.
a
Tetapi ada suatu peristiwa semisal itu; yaitu ketika Rasulullah ص menghadiri penguburan seorang Anshar. Beliau berbicara di tepi liang lahad, tetapi dalam Hadits itu tidak menyebut talqin; yang diriwayatkan dalam HR Abu Daud #4127 + 20 HR lain. Lalu Banas membacakannya sedikit demi sedikit, satu bagian ke bagian berikutnya.
Al Bara bin Azib رعنهُ mengisahkan, bersama Rasulullah ص memakamkan jenazah seorang laki-laki Anshar. Ketika lubang lahad telah dibuat, kemudian Rasulullah ص duduk, lalu kami ikut duduk di sisinya. Kami diam, seakan-akan di atas kepala kami ada burung. Saat itu Beliau memegang sebatang kayu yang ditancapkan ke dalam tanah.
Bagian awal Hadits ini mengisahkan suasana tempat peristiwa, yaitu di pemakaman. Dalam matannya ada lafadz “ketika lubang lahad telah dibuat”; tetapi tidak ada penjelasan, apakah jenasah sudah dimasukkan atau belum. Terusan riwayatnya begini.
Lalu Beliau mengangkat kepala dan bersabda: “Mintalah perlindungan kepada Allah dari siksa kubur”. Beliau ucapkan kalimat itu dua atau tiga kali.
Dalam bagian Hadits ini dikisahkan Beliau lalu mengangkat kepala; menjadi penanda, Beliau bersabda kepada para pelayat; bukan berbicara kepada jenasah. Allahu a`lam; kemudian diriwayatkan,
Beliau melanjutkan: “Sungguh, mayat itu akan dapat mendengar derap sandal mereka (yang mengantar jenasah) saat berlalu pulang; yakni ketika kepada si mayit ditanyakan, ‘Wahai kamu, siapa Rabbmu? Apa agamamu? Dan siapa Nabimu?”
Bagian dari periwayatan ini membelajarkan, si mayit mendengar langkah-langkah pengantar dirinya. Pada waktu itu, malaikat sudah datang dan bertanya kepada dirinya. Lalu terusan Haditsnya,
Dalam sanad lain ditambahkan, Beliau bersabda: “Lalu ada dua malaikat mendatanginya seraya mendudukkan. Malaikat itu bertanya: “Siapa Rabbmu?” ia menjawab: “Rabbku adalah Allah “. Malaikat itu bertanya lagi: “Apa agamamu?” ia menjawab: “Agamaku adalah Islam”. Malaikat itu bertanya lagi: “Siapa laki-laki yang diutus kepada kalian ini?” ia menjawab: “Dia adalah Rasulullah ص”. Malaikat itu bertanya lagi: “Apa yang kamu ketahui?” ia menjawab: “Aku membaca Kitabullah, aku mengimaninya dan membenarkannya”.
Pada bagian riwayat ini, dijelaskan dialog antara malaikat dengan mayit muslim. Tetapi tidak ada penjelasan, apakah semasa hidupnya, si mayit berislam kaffah; ataukah tidak dipengaruhi kualitas keislamannya. Allahu a`lam; lalu diriwayatkan,
Dalam periwayatan itu ada tambahan, maka inilah makna firman Allah: “Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman” hingga akhir ayat. ~yang dimushkhafkan menjadi QS Ibrahim :27-
Penjelasan lain dalam Hadits ini, mengaitkan dialog dalam kubur dengan firman Nya dalam Surat Ibrahim, ayat 27. Sebagai penegas, si mayit muslim mampu menjawab pertanyaan malaikat adalah atas karunia rakhmat Allah س. Lalu diriwayatkan,
Dalam Hadits lain ditambahkan, Beliau bersabda: “Kemudian ada suara dari langit yang menyeru, ‘Benarlah apa yang dikatakan oleh hamba Ku; hamparkanlah permadani untuknya di surga; bukakan baginya pintu-pintu surga dan berikan kepadanya pakaian surga”. Beliau melanjutkan: “Lalu didatangkan kepadanya wewangian surga, lalu kuburnya diluaskan, (yang luasnya) sejauh mata memandang”.
Dalam bagian riwayat ini dituntunkan, bila jawabannya benar, Insya Allah lulus ujian; mereka langsung mendapat karunia nikmat Nya. Boleh kita sebut dengan nikmat kubur; Insya Allah sampai akhir jaman. Allahu a`lam; kemudian dalam Hadits ini diriwayatkan,
Rasulullah ص melanjutkan: “Jika yang meninggal orang kafir, ruhnya akan dikembalikan kepada jasadnya. Saat itu datanglah dua malaikat seraya mendudukkannya”. Kedua malaikat itu bertanya: “Siapa Rabbmu?” ia menjawab: “Hah, hah, hah. Aku tidak tahu”. Malaikat itu bertanya: “Apa agamamu?” ia menjawab: “Hah, hah, hah. Aku tidak tahu”. Malaikat itu bertanya lagi: “Siapa laki-laki yang diutus kepada kalian ini?” ia menjawab: “Hah, hah, hah. Aku tidak tahu”. Setelah itu terdengar suara dari langit: “Ia telah mendustakan (Islam). Berilah ia hamparan permadani dari neraka, berikan pakaian dari neraka, dan bukakan pintu-pintu neraka baginya”.
Pada bagian riwayat ini dikisahkan, jawaban kaum kafir ketika ditanya malaikat dalam kubur. Mereka menjawab semua pertanyaannya dengan, “Hah, hah, hah. Aku tidak tahu, dengan lafadz [هَاهْ هَاهْ هَاهْ لَا أَدْرِي]”; Insya Allah, mereka tidak lulus ujian; karenanya diberi permadani dari neraka. Maksudnya, walau disebut permadani tetapi bila berasal dari neraka, Insya Allah, terbuat dari api. Tak terbayangkan, rasanya harus duduk dan tidur diatas permadani made in neraka; tidak ada kenyamanan sedikitpun. Pada bagian akhir Hadits diriwayatkan,
Beliau melanjutkan: “Lalu didatangkan kepadanya panas dan baunya neraka. Lalu kuburnya disempitkan hingga tulangnya saling berhimpitan”. Dalam Hadits lain ditambahkan, Beliau bersabda: “Lalu ia dibelenggu dalam keadaan buta dan bisu. Dan baginya disediakan sebuah pemukul dari besi, sekiranya pemukul itu dipukulkan pada sebuah gunung niscaya akan menjadi debu”. Beliau melanjutkan: “Lalu laki-laki kafir itu dipukul dengan pemukul hingga suaranya dapat didengar oleh semua makhluk; dari ujung timur hingga ujung barat (kecuali jin dan manusia) hingga (ia) menjadi debu”. Beliau meneruskan ceritanya: “Setelah itu, ruhnya dikembalikan lagi”.
Penutup Hadits ini mengisahkan, betapa Allah س memberi siksa yang bertubi-tubi kepada kaum kafir. Tidak perlu menunggu Hari Kiamat; ia disiksa sejak masuk liang lahat. Na`udzubillahi min dzalik. Mendengar penjelasan ini, Akung berkali-kali beristighfar; lalu memohon perlindungan Nya agar terlepas dari siksa kubur.
a
Banas menambahkan: “Terkait dengan ujian di alam kubur, masih ada periwayatan lain, dari Asma binti An Nu`man رعنها, isteri Rasulullah ص, mengisahkan, kaum mukmin yang lulus ujian kubur akan berkata: “Muhammad telah datang kepada kami dengan membawa bukti-bukti yang terang dan kami memenuhi ajakannya dan kami beriman”. Hingga terdengar suara: “Tidurlah engkau dengan nyenyak, kami tahu bahwa engkau adalah orang yang beriman”. Adapun orang munafik atau yang ragu-ragu (aku tidak tahu mana yang diucapkan Asma) ketika ditanya malaikat, akan mengatakan: “Aku tidak tahu, aku hanya mendengar orang-orang berkata sesuatu, kemudian aku menirunya”; [HR Bukhari #6743 + 4 HR lain].
a
Dalam Hadits ini sedikitnya diriwayatkan tiga hal; yaitu: Pertama, setiap kaum muslim menyatakan keimanannya kepada Rasulullah ص; kedua, atas kebenaran jawabannya itu, kaum muslim bisa menikmati karunia alam kubur dan ditidurkan sampai datangnya Hari Kiamat. Dan ketiga, kaum munafik dan atau kafir, seperti halnya ketika masih hidup di dunia, kalaupun beriman niscaya tidak tulus dan mencampuradukkan antara yang hak dengan yang bathil. Keberimanannya ikut-ikutan saja.
a
Kemudian Banas mengemukakan, disiksanya mayit dalam kubur, juga disebabkan dari kebiasaan buruk; misalnya dikisahkan dalam periwayatan, Abdullah bin Abbas رعنهُ berkata, ” Rasulullah ص lewat di dekat dua kuburan, lalu beliau bersabda: “Sesungguhnya keduanya sedang disiksa, dan keduanya disiksa bukan karena dosa besar. Yang satu disiksa karena tidak bersuci setelah kencing, sementara yang satunya suka mengadu domba”. Lalu beliau mengambil sebatang dahan kurma yang masih basah, lalu Beliau membelahnya menjadi dua bagian kemudian menancapkannya pada masing-masing kuburan tersebut. Para sahabat pun bertanya, “Wahai Rasulullah, kenapa engkau melakukan ini?” Dijawab: “Semoga siksa keduanya diringankan selama batang pohon ini basah”; [HR Bukhari #211 + 12 HR lain].
a
Dalam Hadits ini tidak ada penjelasan, apakah selepas berkencing tidak bersuci atau sebab apa. Sedangkan bagi pengadu domba, tidak dijelaskan apakah penghitungan dosanya sampai dengan berakhirnya fitnah yang dilancarkan atau sampai dengan diwafatkannya orang yang difitnah atau sampai dengan diselesaikannya perdamaian antara yang difitnah dengan yang memfitnah; Allaau a`lam. Dalam Hadits lain diriwayatkan, Allah س mengkharramkan pengadu domba menjadi penghuni surga Nya; [HR Bukhari #5596 + 20 HR lain]. Tidak ada penjelasan sampai kapan mereka dikharramkan menjadi penghuni surga Nya. “Inilah gambaran salah satu ujian; juga dikisahkan nikmat dan siksa Nya di alam kubur”; lalu Banas mengajak membicarakan soal ujian lainnya.
a
2. Soal Ujian di Hari Khisab
a
Pemahaman soal ujian yang akan diujikan di Hari Khisab dapat bertumpu pada Hadits, Abdullah bin Mas’ud رعنهُ berkisah, Nabi ص bersabda: “Kaki Bani Adam tidaklah bergeser pada Hari Kiamat dari sisi Rabbnya sehingga ditanya tentang lima hal. (Yaitu) tentang umurnya untuk apa dia habiskan, tentang masa mudanya untuk apa dia pergunakan, tentang hartanya dari mana dia peroleh dan kemana dia belanjakan [أَنْفَقَهُ] dan tentang apa yang telah dia lakukan dengan ilmunya”; [HR Tirmidzi #2340 + 7 HR lain]. Hadits ini menuntunkan lima soal yang diujikan di Hari Khisab, yaitu:
a
AAPemanfaatan umurnya;
AAPemanfaatan masa muda;
AADari mana mendapatkan harta;
AABagaimana memanfaatkan hartanya; dan
AAPemanfaatan ilmu yang dimilikinya.
a
Banas mengemukakan, Islam menuntun manusia berkehidupan dalam koridor Rukun Iman, Rukun Islam dan amalan saleh untuk menunjangnya. Lalu Banas mengajak membincangkan lima soal ujian itu.
a
a) Pemanfaatan Umur
a
Salah satu karunia Illahi Robbi yang tak bisa diukur takarannya, adalah umur. Dengan berbekal ketetapan umur, semua insan bisa merencanakan apapun, tetapi Insya Allah atas kehendak Allah س, tidak semuanya dapat dicapai.
a
Salah satu pedoman berkehidupan adalah QS Al Hasyr (59):18; difirmankan, Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Salah satu perintah dalam ayat ini, bertakwalah dan menjadikan akhirat sebagai tujuan akhir. Bila sudah mengetahui apa yang akan terjadi di Hari Kiamat, niscaya bisa memanfaatkan umur untuk memaksimalkan amalan saleh.
a
Lalu Banas mengajak mencermati Hadits, Syaddad bin Aus رعنهُ berkisah, Nabi ص bersabda: “Orang yang cerdas adalah orang yang mempersiapkan dirinya dan beramal untuk hari setelah kematian”. Lalu Umar bin Khattab رعنهُ, berkata: “Khisablah (hitunglah) diri kalian sebelum kalian dihitung (dikhisab). Dan persiapkanlah untuk hari ketika semua orang dihadapkan (kepada Rabb Yang Maha Agung). Khisab akan ringan pada Hari Kiamat bagi orang yang selalu mengkhisab dirinya ketika di dunia”; [HR Tirmidzi #2383 + 2 HR lain].
a
Melalui Hadits ini dituntunkan keutamaan untuk menghitung sendiri amalan yang pernah ditunaikan. Bila mengetahui kurang sempurnanya amalan, maka dengan cepat dapat menggenapkannya. Harus dicita-citakan, manfaatkanlah umur untuk sebaik-baiknya peribadahan. Makna ibadah adalah seluruh tindakan yang dilandasi dengan niat lillahi ta`ala; bukan terbatas pada shalat, puasa dan semisal itu. Tidur, bangun tidur, mandi, makan, berangkat bekerja, bekerja, bersilaturrakhmi dan semisal ini adalah ibadah jika diniatkan lillahi ta`ala. Peribadahan hari ini, harus diusahakan lebih baik dari kemarin; bila yang kemarin sudah bagus, pertahankan amalannya sampai akhir hayat. Insya Allah, selamat sampai ke Jannatul Firdaus; tanpa dimampirkan lebih dahulu ke Neraka Jahanam.
a
Karenanya, jadikan QS Al An`am (6):162 sebagai fondasi hidup; difirmankan, Katakanlah (wahai Muhammad): “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam”. Dalam Kitab Tafsir dijelaskan, ayat ini turun untuk memberi peringatan kepada kaum musyrik; karena bertuhan kepada selain Allah س. Jika berhasil mematerikan dan mengamalkan firman Nya itu dalam berkehidupan, Insya Allah mampu memanfaatkan umur dalam koridor keislaman sampai akhir hayat.
a
Sebagai salah satu bekal, renungilah QS Al Muddatsir (74):38; difirmankan, Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuat. Ayat ini menegaskan keharusan manusia untuk bertanggung jawab atas seluruh amalannya. Kita tidak bisa lepas dari amal saleh dan atau lari dari amal buruk. Semua insan dikhisab secara adil, cermat, tepat dan tidak dirugikan. Kemudian, pandai-pandailah memanfaatkan umur mengiringi sunnatullah; misalnya diriwayatkan dalam HR Ahmad #5369 + 1 HR lain, bahwa Anas bin Malik رعنهُ berkata: “Jika seorang muslim:
AABerusia 40 tahun, Allah menyelamatkannya dari segala bentuk musibah, baik penyakit gila maupun kusta.
AAJika berusia 50 tahun, Allah mempermudah khisabnya.
AAJika berusia 60 tahun, Allah menganugerahinya kecintaan untuk bertaubat.
AAJika berumur 70 tahun, Allah mencintainya dan dia juga dicintai penduduk langit.
AAJika ia berumur 80 tahun, Allah menerima amal kebajikannya dan (niscaya) dihapuskan kejelekan-kejelekannya.
AAJika berumur 90 tahun, Allah mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan yang akan datang. Ia dijuluki tahanan Allah di muka bumi, dan ia diperbolehkan memberi syafaat untuk keluarga”.
Banas meneruskan: “Alangkah nikmatnya hidup ini, bila sudah tahu soal dan jawaban ujiannya. Isilah kehidupan dengan amalan saleh”; lalu dibicarakannya soal ujian kedua.
a
b) Pemanfaatan Masa Muda
a
Dalam suatu Hadits diriwayatkan, Abdullah bin Amru رعنهُ berkata: “Aku mengumpulkan Al Qur`an dan membaca semuanya dalam semalam”. Mengetahui ini, Rasulullah ص bersabda: “Aku khawatir setelah melewati waktu yang panjang, engkau menjadi bosan; bacalah dalam satu bulan”. Aku menjawab, “Biarkanlah aku memanfaatkan kemampuan dan masa mudaku”. Beliau bersabda: “Bacalah dalam sepuluh hari”; aku menjawab: “Biarkanlah aku memanfaatkan kemampuan dan masa mudaku”. Beliau bersabda: “Bacalah dalam tujuh hari”; aku menjawab: “Biarkanlah aku memanfaatkan kemampuan dan masa mudaku”; tapi beliau tidak setuju”; [HR Ibnu Majah #1336 + 1 HR lain]. Melalui Hadits ini dituntunkan, manfaatkan masa muda dengan mengkhatamkan Kitab Al Qur`an. Tuntunannya singkat padat, mengandung makna yang luas. Bila mengkhatamkan Kitab Al Qur`an, bukan sekedar membaca, tetapi memahami dan mengamalkan ketetapan yang tercantum dalam Al Qur`an; walau sedikit dari perintah Nya.
a
Bila memahami kandungan isi Al Qur`an, niscaya sejak muda mampu menghindari minum khamer dan atau berjudi; karena ada dosa disitu; [merujuk QS Al Baqarah (2):219]. Niscaya juga tidak terjebak dalam perzinaan karena terlalu besar sanksinya yang bisa menjadikan bulu kuduk berdiri; [merujuk QS An Nur (24):2-3].
a
Jika bisa memanfaatkan masa muda dengan selalu berpedoman pada akidah dan syariah Islam, Insya Allah dapat mewujudkan firman Nya, “Sesungguhnya shalat, ibadah, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam”. Keberimanan yang dikembangkan sejak usia muda, bisa meneladani kisah dalam Surat Al Kahfi; sekelompok pemuda memilih menyelisihi kaum kafir lalu berdiam di gua (kahfi); mereka menolak mengubah keimanannya.
a
Mengoptimalkan amalan masa muda juga bisa mendorong terlaksananya QS Luqman (31):14; difirmankan, Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada Ku dan kepada (dua orang) ibu bapakmu, hanya kepada Ku kembalimu. Melalui ayat ini ditegaskan, penghormatan kepada orangtua harus dirintis sejak usia muda. Orangtua menempati urutan kedua untuk disyukuri, sesudah bersyukur kepada Allah س. Bila orangtua sudah tiada, bisa ditempuh dengan doa dan amalan saleh berupa infak atau wakaf yang ditunaikan buat mereka atau disebut amal jariah.
a
Bila terbentuk keimanan yang kokoh sejak masa muda, Insya Allah dapat merengkuh perjalanan hidup dengan selamat; tidak durhaka kepada Allah س dan Rasul Nya. Renungilah salah satu ayat dalam QS An Nisa` (4):14; difirmankan, Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka; ia kekal di dalamnya. Dan baginya siksa yang menghinakan. Pekabaran dalam ayat ini harus memacu semangat berislam secara konsisten, sejak masa muda.
a
Kekuatan keimanan sejak masa muda, niscaya mampu melawan kebathilan; yang dicontohkan Nabi Ibrahim ع; [merujuk QS Al Anbiya`(21):60]. Usai menjelaskan ini, Banas mengajak menelisik soal ujian lainnya.
a
c) Dari Mana Mendapatkan Harta Pemanfaatan Masa Muda
a
Salah satu ketetapan Allah س mengenai harta, terdapat dalam QS Al Baqarah (2):188; (antara lain), Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil. Dalam Kitab Tafsir diterangkan, ayat ini turun terkait dengan adanya seorang musyrik yang bermaksud memanipulasi harta bukan miliknya tetapi diakui sebagai miliknya. Ini bermakna, Allah س melarang penghimpunan harta dengan cara menipu.
a
Salah satu pedoman menghimpun harta, antara lain taatilah QS Al Baqarah (2):168; difirmankan, Hai sekalian manusia, makanlah yang khalal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan; karena sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu. Melalui ayat ini Allah س menegaskan makanlah yang khalal lagi baik, [حَلالا طَيِّبًا]; maksud makan di ayat ini bukan seperti makan pagi, makan siang dan semisal itu, tetapi seluruh biaya untuk berkehidupan diri dan keluarganya. Allahu a`lam.
a
Pengertian khalalan toyyiban, mencakup dua hal; pertama, hartanya khalal, artinya terlepas dari hukum yang mengkharramkannya. Lalu kedua, toyyib adalah cara memperolehnya diridhoi Allah س. Tetapi ada pemahaman, jika diperoleh secara tidak toyyib, niscaya bendanya tidak khalal; pemahaman ini tidak bisa berlaku umum. Contoh sederhana, uang hasil korupsi; uang adalah harta khalal, tetapi korupsi adalah cara yang kharram. Sehingga uang hasil korupsi tidak khalalan toyyiban. Contoh lain, penghasilan dari mengemis, khalal tetapi tidak toyyib; terlebih lagi mengemisnya disertai dengan pemaksaan.
a
Akung menyela: “Ustadz; apakah ada batasan sesuatu harta bisa disebut khalalan toyyiban?” Banas menjelaskan: “Tidak ada batasannya; maknanya, seberapa kecilnya atau seberapa besar sesuatu harta, dapat dinilai apakah khalalan toyyiban atau tidak. Dari kejadian keseharian dapat ditampilkan contoh; ada pegawai menilpun kawannya menggunakan tilpun kantor; mungkin setengah semenit. Ia sudah termasuk menikmati pulsa tilpun secara tidak khalal dan tidak toyyib. Atau, banyak terjadi pegawai yang mengambil selembar kertas atau mungkin selembar amplop untuk pribadi, termasuk tidak khalal dan tidak toyyib. Berapapun kecilnya perolehan, pasti dihitung di Hari Khisab; [QS Az Zalzalah (99):8]”.
a
Persoalan yang banyak mendera adalah terkait dengan harta keluarga. Katakanlah, anggota keluarga membawa harta yang patut diduga melebihi kemampuan penghasilannya. Maka tak seorangpun dalam keluarga itu yang berani menanyakan asal muasal harta; walaupun isteri, suami, ayah, ibu, mertua, anak dan lainnya. Contoh lain, bila ada yang meninggal dan memiliki deposito sekian sekian. Meskipun uang yang dideposito itu patut diduga tidak khalal dan tidak toyyib, tetapi ahli waris merasa sangat sayang untuk tidak menjamah. Lalu ia akan menghibur dirinya, “ya ini tinggalan almarhum/mah; kita manfaatkan saja. Dalam sejarah negeri ini, belum pernah terjadi ada kerabat mencari tahu asal usul tinggalan almarhum/mah dan atau mengembalikan perolehan yang patut diduga tidak khalal dan tidak toyyib.
a
Bila menghadapi hal begini, maka renungilah QS Ibrahim (14):38; difirmankan, Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau mengetahui apa yang kami sembunyikan dan apa yang kami lahirkan. Dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi bagi Allah, baik yang ada di bumi maupun yang ada di langit. Ayat ini berisi perkataan Nabi Ibrahim ع sebagai penegas, apapun yang diduga mengenai segala sesuatu, maka pasti Allah س Maha Mengetahui. Walau berkilah tidak tahu asal usul harta tinggalan, tetapi hati kecil selalu berkata dengan sejujur-jujurnya apa yang terjadi, walau kemudian ditidakkan.
a
Kehati-hatian juga harus ditegakkan oleh mereka yang berniaga; karena ada diantara pedagang yang secara sengaja atau tidak sengaja mengurangi takaran/timbangan. Gejala seperti ini sudah terjadi sejak masa Nabi Syuaib ع pada 1.500–1.600 tahun SM. Mari kita bangkit untuk meniadakan perilaku itu; kharram bila berdalih, “takaran dan timbangannya sudah seperti ini sejak dibeli”.
a
Kemudian Banas mengajak menyimak QS Hud (11):85-86, 85Dan Syuaib berkata: “Hai kaumku, cukupkanlah takaran dan timbangan dengan adil, dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan. 86Sisa (keuntungan) dari Allah adalah lebih baik bagimu jika kamu orang-orang yang beriman. Dan aku bukanlah seorang penjaga atas dirimu”. Perkataan Nabi Syuaib ع ini harus dipegang teguh sebagai alur kejujuran berniaga. Dalam ayat ini ditegaskan, walau sedikit keuntungan karena menggunakan takaran atau timbangan yang pas, niscaya mendapat ridho Allah س, dan hal itu adalah lebih baik.
a
Makna takaran dan timbangan bukan terbatas ukuran kilo, meter atau liter; tetapi seluruh penghitungan satuan yang digunakan dalam berniaga. Bisa juga terkait dengan pengembalian uang, jumlah lembaran cetakan yang dipesan, jumlah pohon yang dipesan untuk ditanam, dan lainnya. Dalam suatu Hadits diriwayatkan, Abdullah bin Abbas رعنهُ berkisah, Rasulullah ص bersabda kepada para pemilik takaran dan timbangan: “Sesungguhnya kalian telah diamanahi dengan dua hal dimana umat dahulu sebelum kalian, binasa karenanya”; [HR Tirmidzi #1138]. Maksud amanah dalam Hadits ini, terkait takaran dan timbangan; adapun kaum yang dibinasakan hidup pada masa Nabi Syuaib ع; [QS Hud (11):94].
a
Kenikmatan dari penghimpunan harta dari berniaga dapat merujuk periwayatan, Sofyan bin Said رعنهُ mengisahkan, Rasulullah ص bersabda: “Seorang pedagang yang jujur berada di surga bersama para nabi, para shiddiqin dan para syuhada”; [HR Tirmidzi #1130 + 2 HR lain]. Hadits ini menuntunkan, kejujuran pedagang disandingkan dgn aulia. Lalu renungilah tuntunan Rasulullah ص, mereka yang dagingnya tumbuh dari barang kharram, maka surga kharram baginya; [HR Ahmad #14746]. Karenanya, singkirkan yang kharram dalam kehidupan. Usai menjelaskan ini, Banas mengajak membincangkan soal ujian yang terkait pemanfaatan harta.
a
d) Pemanfaatan Harta
a
Banas mengatakan: “Dengan cara apapun, harta yang kharram tidak bisa diubah menjadi khalal; walau disedekahkan, dizakatkan atau cara manapun. Lalu Akung menyela: “Ustadz; bukankah tempo hari sudah disajikan firman Nya tentang ketentuan bahwa zakat itu membersihkan harta?”
a
“Yah, beberapa waktu yang lalu sudah kita bicarakan”; begitu Banas merespon. Lalu diteruskan: “Difirmankan dalam QS At Taubah (9):103, Ambillah zakat dari sebagian harta mereka. Dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Insya Allah, ayat ini menegaskan, Zakat Mal membersihkan harta dan Zakat Fitrah membersihkan jiwa.
a
Perintah itu, Insya Allah berlaku jika memenuhi QS Al Baqarah (2):267; antara lain arti firman Nya, Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik. Dalam ayat ini ada perintah nafkahkanlah dari yang baik-baik, dari lafadz [أَنْفِقُوا مِنْ طَيِّبَاتِ]. Dalam nash Al Qur`an, sebutan nafkahkan atau infaqkan, bisa diartikan sedekah dan zakat. Perpaduan dua ayat ini, Insya Allah dapat menggugurkan amal mengelabuhi Allah س; yaitu bermaksud menzakati harta yang patut diduga tidak khalalan toyyiban.
a
Lalu Banas membacakan Hadits; Abu Hurairah رعنهُ berkata, Rasulullah ص bersabda: “Seseorang yang bersedekah dari harta yang baik dan khalal, niscaya Allah menerimanya dengan tangan kanan Nya walaupun berupa satu biji kurma. Dan sedekah itu akan berkembang di telapak tangan Ar Rakhman hingga menjadi lebih besar dari gunung sebagaimana kalian membesarkan anak kudanya. Allah tidak menerima sedekah kecuali dari harta yang baik dan khalal”; [HR Tirmidzi #597 + 9 HR lain].
a
Pemanfaatan harta, harus merujuk QS Al Baqarah (2):254; Hai orang-orang yang beriman. Belanjakanlah di jalan Allah [أَنْفَقَهُ] sebagian dari rizki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi persahabatan yang akrab dan tidak ada lagi syafaat. Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang dzalim. Dalam ayat ini ditegaskan akan datang suatu hari, tidak ada jual beli, tidak ada persahabatan dan tidak ada syafaat (pertolongan); dengan bahasa yang lembut, untuk menumbuhkan kesadaran agar bersegera berinfak. Jangan sampai terlambat bersedekah; Insya Allah, hari yang dimaksud adalah Hari Kiamat. Jadi segeralah menunaikan infak, sebelum tibanya Hari Akhir; atau sebelum maut menjemput, manfaatkan harta secara Islami”.
a
Pembelanjaan harta di jalan Allah س, sungguh tidak memberatkan bagi yang kaya atau yang miskin. Rujukannya, QS Al Baqarah (2):219; antara lain difirmankan, Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: “Yang lebih dari keperluan”. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat Nya kepadamu supaya kamu berpikir. Ayat ini menegaskan, bersedekah harus dari harta yang tersisa; yaitu setelah memenuhi keperluan. Dengan begitu, bila si kaya memiliki banyak sisa penghasilan, nafkahkanlah dalam jumlah yang sebanding. Sedangkan untuk si miskin, bernafkahlah sesuai kemampuannya; sedikit juga cukup.
a
Bila enggan menafkahkan sebagian harta di jalan Allah س, ada baiknya merenungi kembali QS At Taubah (9):34-35; antara lain difirmankan, Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih, pada hari dipanaskan emas perak itu dalam Neraka Jahanam. Lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu”. Ayat ini menyerukan, nafkahkan sebagian harta di jalan Allah س. Resikonya juga sudah digamblangkan.
a
Kesaksian lainnya dapat dicermati dari periwayatan, Abdullah bin Mas`ud رعنهُ mengisahkan, Nabi ص bersabda: “Tidaklah seorang hamba menahan zakat dari hartanya melainkan dijadikan baginya ular besar yang mengikutinya. Ia akan lari darinya namun harta itu terus mengikutinya seraya berkata, Aku adalah kekayaanmu”. Lalu Abdullah membaca pembenarannya dalam Kitabullah: “(Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak dilehernya di Hari Kiamat; QS Ali Imran 3:180)”; [HR Ahmad #3396 + 6 HR lain]. Renungilah makna yang tersurat dan tersirat. Harta yang tidak dikeluarkan sebagian fi sabilillah, pasti menjadi saksi di Hari Akhir dalam bentuk ular besar. Ular itu menggelayut dilehernya, kemanapun pemiliknya pergi. Kemudian Banas mengajak membincangkan perihal pemanfaatan ilmu.
a
e) Pemanfaatan Ilmu
a
Untuk membahas perkara ini, Banas membacakan periwayatan, Abu Hurairah رعنهُ menceriterakan, Rasulullah ص bersabda: “Agama itu adalah nasehat”. Beliau mengulanginya tiga kali. Lalu para shahabat bertanya: “Bagi siapakah wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Bagi Allah, Kitab Nya, bagi para pemimpin dan kaum muslimin semuanya”; [HR Tirmidzi #1849 + 14 HR lain]. Salah satu tuntunan dalam Hadits ini adalah, agama merupakan nasehat bagi sesama muslim. Ini bermakna, setiap muslim wajib mencari ilmu dan menyampaikan pengetahuan keislaman kepada sesamanya. Bisa melalui majlis taklim, bisa juga melalui media dakwah bacaan dan media lainnya.
a
Lalu Banas membacakan QS Al Mujadilah (58):11; difirmankan, Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan, beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Sedikitnya ada dua pesan dalam ayat ini; pertama, bertaklimlah. Kedua, Allah س meninggikan derajat kepada mereka yang mencari, memiliki dan menebar ilmu.
a
Selanjutnya dibacakan Hadits yang mengisahkan, Al Hasan bin Abi Al Hasan Yasar رعنهُ antara lain berkata: “Ada dua golongan orang rakus yang tidak pernah merasa kenyang. Pertama orang yang rakus terhadap ilmu; dan kedua orang yang rakus terhadap dunia. Siapa yang menjadikan akhirat sebagai tujuan, semboyan, dan kesukaannya, Allah mencukupkan kekurangannya (amal perbuatannya) dan Allah menjadikan kekayaannya di hatinya; [HR Darimi #335 + 2 HR lain]”. Merujuk Hadits ini, mari rakus terhadap ilmu; dan menghindari kerakusan duniawi.
a
Sebagai penyemangat, cermatilah Hadits yang meriwayatkan, Abu Dzar رعنهُ mengatakan, Rasulullah ص bersabda kepadaku: “Hai Abu Dzar, engkau berpagi-pagi mempelajari satu ayat dari kitab Allah lebih baik bagimu dari pada engkau shalat sebanyak seratus rakaat. Dan engkau berpagi-pagi untuk mempelajari satu bab ilmu kemudian diamalkan ataupun tidak diamalkan, adalah lebih baik bagimu daripada engkau shalat sebanyak seribu rakaat”; [HR Ibnu Majah #215 + 1 HR lain]. “Subkhanallah”; begitu Akung berkata lirih. Lalu dikatakan: “Ustadz; sungguh sangat mulia mereka yang mencari ilmu, memiliki ilmu dan menyebarluaskannya”. “Itulah Islam”; begitu Banas menukas. Lalu dikatakan: “Bila sekarang baru tahu atau baru menyadari, mari meningkatkan kesenangan membaca; Insya Allah membawa keberkahan. Tidak ada rugi sedikitpun membaca; Insya Allah, malah beruntung dunia sampai akhirat”. Ketika matahari semakin terasa memancar hangat, Banas bermaksud mengakhiri pembicaraan.
a
Akhirul Kalam
a
Seperti tak ingin kehilangan peluang, Akung masih berkata: “Ustadz; dari perbincangan ini, saya semakin meyakini, mencari soal dan jawaban ujian buat kelak adalah ibadah. Apakah betul begitu?” Atas pertanyaan ini, Banas menjelaskan: “Yah, memang bentuk ibadah. Dengan mendapatkan soal ujian, niscaya bisa mempersiapkan diri lebih baik. Setidaknya bisa beramal sesuai dengan pertanyaan yang akan diujikan di alam kubur dan di Hari Khisab”.
a
Banas menasehatkan: “Di alam kubur, setiap manusia ditanya tentang Rabb, agama, Rasul, dan Kitab yang dipedomani selama menjalani hidup. Sedangkan di Hari Khisab, manusia ditanya tentang lima perkara; yaitu pemanfaatan umur, pemanfaatan masa muda, cara memperoleh harta dan pemanfaatannya serta pemanfaatan ilmu. Semua soal ujian dan jawabannya sudah dituntunkan dalam Al Qur`an dan Hadits; kita bisa mendapatkan dan memahaminya, bila rajin bertaklim. Maksud bertaklim, tidak harus menghadiri majlis taklim, tetapi bisa ditempuh dengan membaca”.
a
Lalu dikatakan, “Bahkan dalam Hadits tadi diriwayatkan, tidak akan beranjak dari pengadilan di hadapan Allah س, bila tidak menuntaskan jawaban atas lima soal ujian itu”. Ketika Akung meneteskan air mata, Banas jedah sejenak; lalu dikatakan: “Dengan begitu semakin jelas buat kita, tidak ada soal ujian kubur yang bocor seperti yang ditayangkan oleh tv swasta nasional itu. Islam tidak melarang semua manusia untuk mencari tahu soal-soal ujian dan jawabannya yang kelak diujikan di alam kubur dan di Hari Khisab”. Lalu diteruskan.
a
Tidak ada penjelasan dalam Al Qur`an atau Hadits, apakah mereka yang sudah hafal di luar kepala atas jawaban-jawaban itu dapat lulus ujian. Tetapi sebagai makhluk yang berfikir, tentu bisa menduga, bila menunaikan seluruh peribadahan, Insya Allah dapat lulus dari ujian itu. Misalnya begini; kita akan memahami siapa Rabb jika setiap waktu mengingat Nya. Bisa paham apa agamanya, bila memang berislam; bisa menjawab siapa Muhammad, bila mentaati tuntunannya. Kita dapat mengerti Kitab Nya, bila terbiasa membacanya. Perlu disadari, semua amalan harus dengan lillahi ta`ala.
a
Kita bisa belajar dari periwayatan, Abu Hurairah dan Abu Sa’id Al Khudri رعنهُما bersaksi, bahwa Rasulullah ص bersabda: “Tidaklah sebagian dari kaum yang berdzikir kepada Allah melainkan mereka dikelilingi oleh malaikat dan diliputi oleh rakhmat, serta ketenangan turun kepada mereka. Dan Allah menyebut mereka diantara malaikat yang ada di sisi Nya”; [HR Tirmidzi #3300 + 8 HR lain]. Salah satu tuntunan dalam Hadits ini adalah, mereka yang gemar berdzikir niscaya mendapatkan rakhmat Nya. Maksud berdzikir, tidak harus melantunkan tasbikh, takhmid dan takbir; tetapi setiap amalan yang ditunaikan lillahi ta`ala adalah dzikrullah. Bisa dilakukan dengan membaca, mengaji, dan amalan lain semisal ini. Akung masih bertanya: “Ustadz; seberapa banyak harus dzikrullah agar bisa meraih rakhmat Nya?”
a
Banas mengingatkan kembali periwayatan; Aisyah رعنها mengisahkan, Rasulullah ص antara lain bersabda: “Sesungguhnya amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang dikerjakan secara ajeg walaupun sedikit”; [HR Bukhari #5413 + 16 HR lain]. Dengan merujuk tuntunan dalam Hadits ini, tunaikanlah amal saleh secara ajeg meskipun sedikit; bahkan, walau satu ayat saja.
a
Makna sedikit dalam Hadits tersebut bukan berarti shalatnya Subuh dan Ashar saja, sedangkan shalat lainnya tidak ditunaikan. Bukan begitu; amalan fardhu harus ditunaikan sesuai takarannya. Sedangkan amalan sunnah, seperti mengaji, bersedekah dan amalan semisal ini, dapat ditunaikan sedikit. Adapun makna ajeg adalah berkesinambungan yaitu terus menerus. Jangan sampai terjadi, mengajinya setiap malam Jumat saja sedangkan malam lainnya tidak. Juga jangan terjadi, mempelajari bacaan agama sebulan sekali saja, dan hari-hari lain tidak diisi dengan pembacaan itu. Karena itu, ada baiknya mengingat kembali satu periwayatan, Rasulullah ص antara lain bersabda: “Sampaikanlah dariku walau satu ayat; [HR Bukhari #3202 + 8 HR lain]. Tuntunan dalam Hadits ini sangat terang benderang; sampaikan pesan-pesan keislaman walau satu ayat. Bila sudah bisa memerankan tuntunan ini, Insya Allah bisa menghimpun pundi-pundi pahala.
a
Kemudian Banas mewanti-wanti: “Sudah kita bincangkan, mencari soal ujian dan jawabannya adalah bentuk ibadah; tidak pernah ada soal ujian keislaman yang bocor. Karenanya, pelajarilah secara cermat dan benar sebagai bekal kelak di alam kubur dan di Hari Khisab”. Usai berkata begitu, keduanya berucap salam lalu berjabat tangan dan berpisah di bawah terik matahari; dengan segudang fikiran masing-masing.
a
Sekian, semoga barokallah; Insya Allahu Amin.
a
Rujukan Penulisan
a
1977-1995aiSayyid Sabiq., Fikih Sunnah Jilid I s/d XIV; Penerbit Al Ma`arif Bandung.
1991-1995aiDepartemen Agama RI., Al Qur`an dan Tafsirnya; Penerbit UII Yogyakarta.
2000-1995aiKHQ Shaleh, HAA Dahlan., Asbabun Nuzul, Latar Belakang Historis Turunnya Ayat-ayat Al-Quran; Penerbit Diponegoro, Bandung.
1999-2011aiMuhammad Nasib Ar-Rifa`i., Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir Jilid I s/d IV; Gema Insani, Jakarta & Depok.
2010-1995aiImam Jalaluddin Al Mahalli dan Imam Jalaluddin As Suyuti, Tafsir Jalalain; Sinar Baru Algensindo, Bandung.
2010-1995aiMufassir., Enam Ringkasan Tafsir; Hilal Penerbit Al Qur’an, Bandung.
2010-2011aiLidwa Pusaka dan Saltanera., Software Ensiklopedi Kitab Hadits 9 Imam; Jakarta.
2015-2011aiIslamic Digital Boarding College (IDBC) Seri Al Bayan., Software Al Qur`an dan Terjemahannya; Solo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>