Masjidil Kharam

tulisan yang berwarna biru, dapat di klik untuk mendapatkan rujukan.
a

intro: Setelah menerima pencerahan mengenai tanah suci, beberapa jamaah menemui Banas di serambi masjid; ada yang bertanya: “Pak Ustadz; masih berkaitan dengan tanah suci, apa istimewanya tanah suci?” Mendengar pertanyaan ini, Banas mengatakan: “Rasulullah ص menuntunkan, selama di tanah suci dilarang membunuh makhluk apapun; juga dilarang mencabut tanaman, memetik bunga, dan sejenis itu.[1] Karena itu, kepada mereka yang berumrah atau berhaji sudah diwanti-wanti untuk mentaati ketetapan itu; bila melanggar dikenakan dam atau kafarat, maksudnya denda. Tetapi Beliau menuntunkan, tidak dilarang membunuh tikus, kalajengking, gagak, burung elang dan anjing yang buas.[2] Selain itu, masih ada yang lebih istimewa di tanah suci Mekah, Palestina dan Madinah; Insya Allah, siang ini kita bincangkan salah satu diantara ketiganya”.

Kemudian dikatakan: “Insya Allah, dalam tiga tausiah singkat ke depan, akan kita bincangkan keistimewaan tiga tanah suci. Pada siang hari ini kita bicarakan keistimewaan Masjidil Kharam di Mekah.

Pertama : Menjadi Kiblat Shalat
Didalam Masjidil Kharam ada bangunan kubus, yang disebut Ka`bah; adalah tempat peribadahan pertama di dunia; sebagaimana difirmankan,
Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.[3]
Fungsi Ka`bah, terkait dengan peribadahan dalam Islam; antara lain Ibadah Haji dan rukun-rukunnya, shalat, dan beberapa ibadah lainnya. Ibadah yang erat kaitannya dengan Ka`bah adalah shalat. Perintah shalat, diterima Rasulullah ص ketika diperjalankan dalam peristiwa Isra` Mi`raj. Sesudah menerima perintah itu, Beliau bershalat menghadap ke Masjidil Aqsha di Palestina sebagai kiblat. Kemudian Allah س memerintahkan Beliau untuk mengalihkan kiblat ke Ka`bah yang terletak di dalam Masjidil Kharam.[4]

Kedua : Masjid Untuk Thawaf
Masjidil Kharam merupakan satu-satunya masjid di dunia yang dapat digunakan untuk thawaf yaitu mengelilingi Ka`bah. Selain itu, memiliki multi fungsi, yang dapat ditunaikan setiap waktu, baik bagi jamaah Haji, Umrah dan dalam peribadahan sehari-hari. Fungsi-fungsi tersebut menetapi firman Nya,
Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: “Bersihkanlah rumah Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i`tikaaf, yang ruku` dan yang sujud”.[5]

Ketiga: Terdapat Hijir Ismail
Usai Ibrahim ع dan Ismail ع membenahi bangunan Ka`bah, beliau kembali ke Palestina, meninggalkan Ismail dan Hajar. Sebelum keberangkatannya, beliau berdoa:
“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah rizki mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur”.[6]
“Ketika ditinggalkan Nabi Ibrahim ع, Ismail ع dan Hajar bertempat tinggal di bedeng atau dalam Bahasa Arab disebut Hijir; kemudian mendapat sebutan Hijir Ismail. Dengan begitu, perkataan Hijir bukan berasal dari kata Hajar, yaitu ibunya Ismail ع”. Lalu dikatakan: “Sesudah masa kenabian/kerasulan Ibrahim dan Ismail عليھم سّلآم bangunan Ka`bah mengalami beberapa kali renovasi. Pada renovasi akhir pada masa Rasulullah ص, Hijir Ismail dimasukkan kembali menjadi bagian Ka`bah. Saat ini kita dapat bershalat di dalam Ka`bah, merujuk pada Hadits,
Rasulullah ص bersabda kepada Aisyah عنها: “Apabila engkau hendak memasuki Ka’bah, maka Hijir tersebut merupakan bagian dari Ka’bah. Sesungguhnya kaummu menguranginya ketika membangun (merenovasi) Ka’bah, dan mengeluarkan Hijir dari Ka’bah”.[7]

Keempat: Terdapat Sumur Zamzam
“Didalam Masjidil Kharam terdapat Sumur atau Mata Air Zamzam yang tak henti-hentinya mengeluarkan air. Diterangkan dalam Tarikh Islam, ketika Hajar mencari air untuk melepas dahaga Ismail yang masih balita, ia berlari-lari kecil sebanyak tujuh kali bolak-balik antara Bukit Shafa dan Bukit Marwah. Ketika berada di Bukit Marwah ia melihat ke Bukit Shafa, seolah dilihatnya ada air; setelah didatangi tidak ada apapun. Ketika berada di Bukit Marwah, ditengoknya Bukit Shafa, seperti melihat ada air. Semuanya itu adalah fatamorgana, sebagaimana dapat kita saksikan bila berada di padang luas. Kemudian Allah س memunculkan air yang keluar di padang tandus itu, terletak sekitar tengah-tengah jarak antara kedua bukit. Melihat kemunculan air ini, Hajar berseru, “zam zam” artinya, “berkumpullah berkumpullah”; atas kehendak Nya jua, air itu berkumpul dan dapat dimanfaatkan untuk diminumkan Ismail”. Diteruskannya: “Pada masa kenabian/kerasulan Rasulullah ص, Air Zamzam digunakan oleh Malaikat Jibril untuk mencuci hati Beliau, yaitu ketika akan diperjalankan dalam peristiwa Isra` Mi`raj.[8] Insya Allah, Air Zamzam tidak akan habis sampai Akhir Zaman. Walau setiap hari, ribuan galon Air Zamzam menjadi barang bawaan mereka yang beribadah Haji atau Umrah dan semua orang yang beribadah di Masjidil Kharam ke semua negara.

Kelima: Masjid Untuk Sa`i
Ibadah Sa`i adalah amalan yang wajib ditunaikan ketika berhaji atau berumrah; walau begitu, tidak dilarang dalam peribadahan sehari-hari. Ibadahnya dengan cara meniru lari-larinya Hajar ketika mencari air minum untuk Ismail pada masa kenabian/kerasulan Ibrahim ع. Ibadah ini bertumpu pada firman Nya,
aknSesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebahagian dari syi`ar Allah. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau berumrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa`i antara keduanya. Dan barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui.[9]

Sebelum mengakhiri perbincangan, Banas mengemukakan: “Itulah beberapa gambaran mengenai keistimewaan Masjidil Kharam; walau begitu patut disadari, tentunya masih banyak keistimewaan lainnya yang belum diungkap disini. Sekaligus harus menjadi penyemangat untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah kita”; lalu para jamaah bersegera menyiapkan diri untuk Shalat Dhuhur berjamaah.

Catatan Kaki:
[1] Ensiklopedi Kitab Hadits 9 Imam: HR Bukhari, #101, 1701; HR Abu Daud, #1741.
[2] Ensiklopedi Kitab Hadits 9 Imam: HR Muslim, #2069, 2070, 2071, 2072, 2073; HR Tirmidzi, #766, Nasa`i, #2786, 2839, 2842.
[3] QS Ali Imran (3):96.
[4] QS Al Baqarah (2):144.
[5] QS Al Baqarah (2):125.
[6] QS Ibrahim (14):37.
[7] Ensiklopedi Kitab Hadits 9 Imam: HR Abu Daud, #1733; HR Tirmidzi, #802; HR Ahmad, #23248, 23475.
[8] Ensiklopedi Kitab Hadits 9 Imam: HR Bukhari, #6963; HR Muslim, #235; HR Nasa`i, #448.
[9] QS Al Baqarah (2):158.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>