Masjid

intro: Sambil duduk melingkar dengan beberapa jamaah selesai Shalat Dhuhur, di serambi masjid, Banas mengatakan: “Dalam perbincangan yang lalu sudah kita sepahamikan, kata sajada dalam Bahasa Arab sering kita ucapkan menjadi sujud dan dapat dibentuk menjadi kata benda yaitu masjid yang diartikan menjadi tempat shalat. Dalam masyarakat kita, selain penyebutan masjid, juga dikenal istilah lain yang memiliki makna tempat bershalat; misalnya surau (bangunan masjid kecil), langgar (bangunan masjid kecil khusus untuk jamaah perempuan), mushalla (bangunan masjid kecil untuk jamaah terbatas, mungkin di dalam rumah, di perkantoran atau tempat lainnya) dan masjid (bangunan masjid besar). Lalu, adakah standarisasi ukuran bangunan masjid?”

Banas mengemukakan: “Tidak ada standar baku mengenai besar dan kecilnya bangunan masjid; sebagai contoh, Masjid Agung Yogyakarta dapat dikatakan besar dibanding masjid lainnya di wilayah itu. Tetapi menjadi bangunan kecil bila dibandingkan dengan Masjid Istiqlal Jakarta. Banas berhenti bicara, ketika dilihatnya ada taklim yang mengangkat tangannya; setelah Banas mengangguk, lalu ditanyakan: “Apakah penyebutan seperti itu memang merupakan ketentuan Islam?” Mendengar pertanyaan itu, Banas menjelaskan: “Dalam Al Qur`an dan Hadits tidak dikenal istilah-istilah seperti itu”; kemudian dikatakan: “Terkait dengan penyebutan-penyebutan ini, marilah kita simak sabda Rasulullah ص dalam Hadits berikut ini,

Aisyah عنها, isteri Rasulullah ص berkata: “Rasulullah ص memerintahkan untuk membangun masjid di tempat yang banyak rumahnya atau pada setiap kabilah, dan juga memerintahkan untuk membersihkan serta memberikan wewangian padanya.[1]

Diteruskannya: “Hadits ini memberikan tuntunan, bahwa Rasulullah ص memerintahkan untuk membangun masjid, dengan lafadz Bahasa Arab [بِبِنَاءِالْمَسَاجِدِ]. Dengan penggunaan lafadz ini, maka dalam Bahasa Arab tidak mengenal istilah surau, langgar, mushalla ataupun masjid kecil. Bila kita menengok sejarah perjuangan penegakan dan penyebaran Islam pada masa kenabian/kerasulan Beliau, satu kabilah beranggotakan antara 10 sampai 20 orang lelaki dan perempuan; dan kadang-kadang saja lebih dari itu. Jika ditilik dari perintah Beliau untuk membangun masjid di tempat yang banyak rumahnya, maka dapat kita ketahui bahwa rumah-rumah di wilayah Mekah atau Madinah saat itu sangat terpencar jauh.

Kemudian dikemukakan: “Dengan pemahaman ini, sesungguhnya kita dapat mengganti penyebutan sarana peribadahan kita yang semula dikatakan ada sekian surau, sekian langgar, sekian mushalla dan sebagainya dapat diganti dengan penyebutan masjid; meski begitu kita menyadari, hal ini tidak dirasa perlu”; setelah menebar pandangan ke sekeliling, lalu diteruskannya: “Apa arti penting penyebutan masjid bagi sesuatu bangunan?”; begitu Banas melontarkan pertanyaan dengan maksud tidak ingin mendapat jawaban dari taklim. Lalu dikatakan: “Kita ambil contoh dalam kehidupan sehari-hari. Ada bangunan yang bertuliskan Kantor Kelurahan; maksudnya, bangunan itu digunakan untuk menjalankan kegiatan Pemerintahan Kelurahan. Sekarang kita kembali kepada sesuatu bangunan yang dinamakan masjid; kita dapat merunutnya dengan mencermati salah satu firman Nya,

Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama Nya didalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang, (mereka adalah) laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli (dan tidak lalai) dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan shalat dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang.[2]

Diteruskannya: “Melalui ayat ini, Allah س menegaskan, masjid digunakan untuk mereka yang beriman; yaitu mereka yang selalu dzikrullah, bershalat, berzakat dan meyakini Hari Kiamat. Dalam ayat ini Allah س menegaskan fungsi masjid, yaitu:

Pertama:
Masjid adalah bangunan yang harus dimuliakan; sehingga tidak patut bersendagurau didalam masjid, atau bahkan bertengkar karena berbeda pendapat, atau memperkatakan sesuatu yang tidak bermashlakhat, dan perbuatan lainnya yang serupa itu. Kemuliaan masjid juga ditandai dengan keutamaan bagi yang memasuki masjid, harus menetapi tuntunan Rasulullah ص, “Jika salah seorang diantara kalian masuk masjid, shalatlah dua rakaat sebelum duduk”.[3] Tuntunan ini harus menjadi panutan, shalatlah dua rakaat sebelum duduk di dalam masjid; dengan begitu, bila memasuki masjid harus suci dari hadats besar dan kecil.

Kedua:
Masjid harus dijadikan sebagai tempat untuk dzikrullah, artinya melakukan sesuatu amalan guna mengingat Allah س. Amalannya bisa berupa shalat, wiridan, iktikaf, menerima dan membagi zakat fitrah atau zakat mal, dan masih banyak amalan lainnya.

Ketiga:
Masjid harus digunakan untuk menunaikan amalan peribadahan di waktu pagi, di waktu petang dan waktu diantara pagi sampai petang dan diantara petang sampai pagi.

Kemudian dikatakan: “Dengan merujuk pada penegasan tersebut, maka walaupun manusia yang mendirikan bangunan masjid, tetapi Allah س yang mengatur penggunaannya. Kenapa bisa begitu?; mari kita simak firman Nya,

Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah sesuatupun didalamnya disamping (menyembah) Allah.[4]

Melalui ayat ini kita mendapati penegasan, bahwa sesungguhnya setiap masjid, yang kecil, agak besar atau besar sekalipun, adalah milik Allah س. Karena itu, dalam Al Qur`an sering dijumpai lafadz [الْبَيْتِ], artinya rumah Ku atau seringkali diterjemahkan menjadi Baitullah.[5] Dengan merujuk pada pemahaman ini, sebenarnya kita sudah sering salah kaprah bila menyebutkan “masjidnya Pak Haji Fulan”, walau dibangun di pekarangan Pak Haji Fulan, atau dibangun di tanah miliknya atau di tanah wakafnya. Dengan begitu juga menjadi tidak lazim, bila sesuatu masjid diberi nama orang yang membangunnya; tetapi tidak ada tuntunan yang melarang penyebutan begitu. Bahkan dalam beberapa Hadits dikisahkan, Rasulullah ص sering menyebut Masjid Nabawi dengan sebutan masjid ku.[6] Usai berkata begitu, Banas mengakhiri bincang-bincang singkat ini; ia berharap agar para jamaah memperoleh perluasan wawasan Keislaman.

Catatan Kaki:
[1] Ensiklopedi Kitab Hadits 9 Imam: HR Abu Daud, #379; HR Nasai, #682; HR Ahmad, #25182.
[2] QS An Nur (24):37.
[3] Ensiklopedi Kitab Hadits 9 Imam: HR Muslim, #1166, 1167; HR Tirmidzi, #290; HR Nasai, #722; HR Ahmad, #21485, 21491, 21533, 21548, 21555; HR Malik, #349; HR Ad Darimi, #1357.
[4] QS Al Jinn (72):18.
[5] Misalnya difirmankan dalam QS Al Baqarah (2):125, 127, 158; QS Ali Imran (3):97; dan masih ada banyak firman Nya lagi.
[6] Ensiklopedi Kitab Hadits 9 Imam: HR Bukhari, #1116, 1858; HR Abu Daud, #880, 1738; HR Ibnu Majah, #1394, 1395; HR Ahmad, #15533, 6951; HR Ad Darimi, #1382, 1383; dan 86 Hadits lainnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>