Masjid Nabawi

tulisan yang berwarna biru, dapat di klik untuk mendapatkan rujukan.
a

intro: Tidak seperti biasanya, Banas tiba di masjid tidak lama sebelum Shalat Dhuhur. Karenanya, usai berwirid sesudah selesai Shalat Sunnah Ba`da Dhuhur, ia bersegera duduk bersama beberapa jamaah yang sudah menggerombol di serambi. Lalu dikatakan: “Seperti sudah kita rencanakan, siang ini adalah kali ketiga kita membincangkan tiga masjid utama. Dalam tarikh Islam diterangkan bahwa tiga masjid yang mewarnai penyebaran dan penegakan Agama Islam adalah Masjidil Kharam, Masjidil Aqsha dan Masjid Nabawi atau disebut Masjid Rasulullah“. Dua masjid sudah kita bincangkan, dan Insya Allah siang ini kita akan menelisik masjid di tanah suci yang ketiga, yaitu Masjid Nabawi di Madinah. Apa keistimewaan yang ada disana?; mari kita bicarakan”.

Setelah membetulkan duduk silanya, Banas mengemukakan: “Dalam sesuatu Hadits dikisahkan, Rasulullah ص bersabda: “Tidaklah ditekankan untuk berziarah kecuali untuk mengunjungi tiga masjid; yaitu Masjidil Kharam, Masjid Nabawi dan Masjidil Aqsha”.[01] Melalui Hadits ini ditegaskan, tiga masjid yang seharusnya diziarahi; satu diantaranya Masjid Nabawi. Ketiga masjid itu, menjadi tonggak sejarah penyebaran dan penegakan Islam. Masjidil Kharam sebagai masjid yang mengawali perjuangan; Masjidil Aqsha merupakan masjid yang di wilayah itu banyak diutus Nabi dan Rasul; dan Masjid Nabawi menjadi tempat diduniakannya Islam. Insya Allah kita dapat mencermati beberapa keistimewaannya”.

Pertama: Sebagai Masjid Nabi ص
Dalam perjalanan Hijrah, Rasulullah ص singgah di Desa Quba sekitar 5 Km arah tenggara Kota Madinah. Kemudian Beliau bersama pengikutnya membangun masjid pertama, yang disebut Masjid Quba. Lalu Beliau meneruskan perjalanan; sesampai di Madinah, unta tunggangan Beliau berhenti di suatu lahan tempat penjemuran kurma, milik Suhail dan Sahal; kemudian Rasulullah ص membelinya.[02] Di lokasi inilah Beliau membangun rumah dan masjid yang berdampingan dan lengket; penyebutan menjadi Masjid Nabawi bermakna masjidnya Nabi. Dalam banyak Hadits dikisahkan, bahwa Rasulullah ص menyebut Masjid Nabawi dengan mengatakan masjidku.[03]

Kedua: Terdapat Taman Surga dan Telaga Surga
Di dalam masjid ini terdapat [رَوْضَةٌ مِنْ رِيَاضِ الْجَنَّةِ] artinya, taman diantara taman-taman surga; kemudian dikenal dengan sebutan Roudhatul Jannah; selain itu, juga terdapat telaga surga. Sebagaimana dikisahkan dalam Hadits,
Rasulullah ص bersabda: “Antara rumahku dengan mimbarku terdapat sebuah taman dari taman-taman surga, dan mimbarku terletak di atas telagaku”.[04]
Hadits ini memberikan tuntunan, bahwa antara rumah Beliau dengan mimbar tempat Beliau mendakwahkan Islam dan mengimami shalat, merupakan area Roudhatul Jannah. Apa yang dimaksud dengan Roudatul Jannah?; mari kita simak firman Nya berikut ini,
Kamu lihat orang-orang yang dzalim sangat ketakutan karena kejahatan-kejahatan yang telah mereka kerjakan (di dunia), sedang siksaan menimpa mereka. Dan orang-orang yang saleh (berada) di dalam taman-taman surga, mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki di sisi Tuhan mereka. Yang demikian itu adalah karunia yang besar.[05]
Dalam ayat ini terdapat ketetapan Allah س, sesungguhnya Roudatul Jannah adalah salah satu tempat di surga sebagai permukiman kaum yang saleh; yaitu mereka yang berbuat kebaikan ketika merengkuh kehidupan di dunia.Dalam Kitab Hadits 9 Imam belum ditemukan pengisahan keutamaan bershalat di area ini; walaupun begitu, para jamaah selalu berdesak-desak untuk bisa bershalat di area ini. Adapun yang dimaksud dengan telaga surga dalam Hadits tadi, dapat dicermati dari suatu pengisahan,
Anas عنهُ meriwayatkan, sesudah Nabi ص mengalami peristiwa Mi’raj ke langit, Beliau mengisahkan: “Aku mendatangi telaga, pada kedua tepinya terdapat Qubah berongga yang terbuat dari mutiara”. Maka aku pun bertanya: “Apa ini wahai Jibril?” Ia menjawab: “Ini adalah Al Kautsar”.[06]
Melalui Hadits ini, Beliau mengisahkan, ketika berada di surga dalam rangkaian peristiwa Isra` Mi`raj, Malaikat Jibril mengajak Beliau mendatangi telaga lalu memasuki Qubah (artinya ruangan). Dalam Hadits lainnya dikisahkan, Beliau bersabda: “Barang siapa yang tidak beriman kepada telaga (Al Haudh), maka Allah س tidak memberi minum darinya”.[07] Lafadz “kautsar” juga dapat ditemukan dalam Al Qur`an; difirmankan, Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak”.[08]. Insya Allah, maksudnya adalah kenikmatan yang selalu mengalir, seperti mengalirnya Al Kautsar di surga. Penyebutan Beliau mengenai telaga, Al Haudh, dan Al Kautsar, sekaligus menjadi salah satu bukti, bahwa Beliau memang betul-betul mengalami peristiwa Isra` Mi`raj dan sudah memasuki surga.

Ketiga: Terdapat Makam Rasulullah ص
Kalau pada masa kini mengunjungi Masjid Nabawi, sekitar duapuluh meter di belakang tempat berdirinya Imam, terdapat makam Rasulullah ص. Pada masa kenabian Beliau, area ini adalah kamar tidur Beliau. Kenapa dimakamkan dalam kamar Beliau?; kita dapat menelusurinya dari suatu Hadits,
Abu Bakar berkata, aku pernah mendengar Rasulullah ص bersabda: “Tidak ada seorang Nabi yang meninggal kecuali dikuburkan pada tempat ia meninggal”.[09]
Oleh para sahabat, tuntunan dalam Hadits ini dianggap sebagai salah satu wasiat yang didengar oleh Abu Bakar; yaitu, dimana Beliau harus dimakamkan bila ajal sudah tiba.

“Setidaknya, itulah tiga keistimewaan dari Masjid Nabawi; walau begitu kita tidak akan mampu menyebut semua keistimewaan disana”. Kemudian dikatakan: “Selain makam Beliau, pada masa kekhalifahan diambil keputusan untuk memakamkan sahabat terdekat Beliau. Keputusan ini dapat merujuk pada pengisahan dalam Hadits,

Aisyah عنها isteri Nabi ص berkata: “Aku bermimpi ada tiga rembulan jatuh di kamarku. Lantas aku menceritakan mimpiku pada Abu Bakar Ash Shiddiq”. Ketika Rasulullah ص meninggal dunia dan dikuburkan dirumahnya, Abu Bakar berkata: “Ini adalah salah satu dari rembulan-rembulan yang kau lihat, dan ini adalah yang terbaik dari ketiganya”.[10]

Dalam Hadits ini terdapat pengisahan takwil mimpi Aisyah عنها isteri Nabi ص; kelak, dua orang terdekat Rasulullah ص selalu mendampingi. Dalam perjalanan sejarah, Abu Bakar ash Shiddiq dan Umar bin Khattab dimakamkan berdekatan. Ada rencana dalam pemugaran paling akhir ini, kedua makam itu akan dibongkar. Tetapi kenapa isteri-isteri Rasulullah ص tidak dimakamkan berdekatan dengan makam Beliau?; Insya Allah ada dua penyebab; pertama, tuntunan Rasulullah ص menyebutkan, Nabi saja yang dimakamkan di tempat meninggalnya; dan kedua, sudah menjadi kebiasaan, para isteri Rasulullah ص dimakamkan di Baqi, suatu tempat pemakaman berdekatan dengan Masjid Nabawi. Kebiasaan ini didukung dengan pengisahan dalam Hadits,

Aisyah عنها isteri Nabi ص berkata kepada Abdullah bin Zubair: “Kuburkanlah aku bersama-sama sahabatku, dan jangan kuburkan aku bersama Nabi ص di rumah, sebab aku tidak suka dikeramatkan”.[11]

Dalam Hadits ini dikisahkan, para isteri Nabi ص tidak dimakamkan berdekatan dengan Beliau; hal ini berbeda dengan kebiasaan di tanah air yang biasa memakamkan suami berdekatan dengan isterinya. Hadits ini mencerminkan betapa Aisyah عنها isteri Nabi ص memiliki pandangan yang sangat jauh ke depan; hal ini berkaitan dengan perkataannya, aku tidak suka dikeramatkan. Dalam perjalanan sejarah, perkataan tersebut terbukti kebenarannya; bahkan saat ini, diantara jamaah Haji, Umrah atau dalam peribadahan sehari-hari, banyak bershalat dengan menghadap pada makam Rasulullah ص; padahal arah itu tidak menghadap ke kibat. Walapun petugas Keamanan Masjid selalu melarang, tetapi masih banyak yang mencuri-curi. Jangan bershalat menghadap makam Beliau karena bertentangan dengan syariah”. Lalu dikatakan: “Menziarahi kubur adalah amal kebaikan; karena kita bisa meraih kemanfaatan, sebagaimana dikisahkan dalam sesuatu Hadits,

Rasulullah ص bersabda: “Saya pernah melarang kalian berziarah kubur. Sekarang telah diizinkan untuk Muhammad menziarahi kuburan ibunya, maka berziarahlah, karena (berziarah kubur itu) dapat mengingatkan akhirat”.[12]

Dituntunkan dalam Hadits ini, menziarahi kubur dapat mengingatkan akhirat; maksudnya, kelak kita juga akan diwafatkan. Setelah itu manusia menghadapi Hari Khisab yang menimbang amal kebaikan dengan keburukan. Tetapi bila kita menziarahi makam Rasulullah ص, selain kita mengingat pada kehidupan akhirat, juga harus mengingat kejuangan Beliau mengemban perintah Allah س guna menyempurnakan Agama Islam. Sekaligus paterikan dalam hati nurani kita untuk mempelajari dan mengamalkan tuntunan Beliau.

Usai berkata begitu, Banas mengakhiri perbincangan dengan mengatakan: “Upaya kita untuk menjelajahi makna yang terkandung dalam sebutan tanah suci beserta masjid-masjid yang berdiri disitu, hendaknya dapat semakin mengokohkan keberimanan. Kalau pada masa kemunculannya, ketiga masjid itu menjadi peletak fundasi sejarah Keislaman; pada masa kini, sudah sepatutnya kita menjadikan semua masjid sebagai salah satu pusat pendakwahan Keislaman. Walau masjid yang dibangun berukuran kecil, tetapi memakmurkannya menjadi kewajiban kita”; terdengar lirih jawaban para jamaah, Insya Allah Amin. Lalu mereka saling bersalaman dan pulang.

Catatan Kaki:
[01] Ensiklopedi Kitab Hadits 9 Imam: HR Bukhari, #1112, 1115, 1731, 1858; HR Muslim, #2476, HR Ibnu Majah, #1399, 1400; HR Nasa`i, #693; HR Ahmad, #11310, 11314, 11256.
[02] Ensiklopedi Kitab Hadits 9 Imam: HR Bukhari, #3616.
[03] Ensiklopedi Kitab Hadits 9 Imam: HR Muslim, #2469, 2470, 2471, 2472, 7374; HR Ibnu Majah, #1396; HR Nasa`i, #2848, 2849, 2850: HR Ahmad, #1519, 4806, 5517, 14167, 14733, 15533, 16131, 25605, 25606; HR Ad Darimi, #1382.
[04] Ensiklopedi Kitab Hadits 9 Imam: HR Bukhari, #1120, 1755; HR Muslim, #2463, 2464; HR Ahmad, #6925. 8364. Dan masih banyak Hadits lainnya.
[05] QS Asy Syura (42):22.
[06] Ensiklopedi Kitab Hadits 9 Imam: HR Ibnu Majah, #1617.
[07] Ensiklopedi Kitab Hadits 9 Imam: HR Ahmad, #18927, 18943, 18969, 18975, 25368.
[08] QS Al Kautsar (108):1.
[09] Ensiklopedi Kitab Hadits 9 Imam: HR Malik, #489.
[10] Ensiklopedi Kitab Hadits 9 Imam: HR Bukhari, #6782.
[11] Ensiklopedi Kitab Hadits 9 Imam: HR Tirmidzi, #974; HR Ahmad, #1173, 13000, 13124.
[12] Ensiklopedi Kitab Hadits 9 Imam: HR Bukhari, #4582.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>