Kesaksian Berislam

Pendahuluan
a
Usai Shalat Dhuhur, beberapa jamaah masih belum beranjak dari masjid, mereka menunggu Banas menyelesaikan wiridnya. Setelah bertemu, diantara jamaah ada yang memberanikan diri untuk minta Banas memberikan pencerahan Keislaman; persetujuanpun dicapai. Insya Allah sebagai langkah awal, mereka ingin membincangkan syahadat. Inilah kisah perbincangan mereka.
a
Setelah duduk melingkar, Banas memulai dengan mengatakan: “Sesungguhnya, setiap janin manusia yang akan dilahirkan, secara sunnatullah sudah melafadzkan syahadat”; ketika berhenti sejenak, ada jamaah yang langsung menyela: “Bagaimana bisa?; kan mereka belum bisa berkata-kata”.
a
Dengan senyumannya yang khas, Banas mengemukakan: “Tidak satupun manusia yang menyadari, bahwa ketika terlahir sudah bersyahadat terhadap keesaan Allah س. Hal ini difirmankan dalam Al Qur`an, Surah Al A`raf (7):172-173; arti firman Nya, 172Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. 173(Kami lakukan yang demikian itu) agar di Hari Kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”, atau agar kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami ini adalah anak-anak keturunan yang (datang) sesudah mereka. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang sesat dahulu?”.
a
Dalam ayat ini terdapat lafadz mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi; Insya Allah maksudnya adalah ketika manusia masih berupa janin yang disemai dalam rakhim ibunya. Dengan begitu, ayat ini mengandung penegasan, setiap janin yang masih berada dalam rakhim, baik dari kaum muslim maupun non-muslim dipastikan sudah bersyahadat; karena sesungguhnya, setiap manusia adalah bani Adam. Bahkan Allah س sudah mengantisipasi, dengan menegaskan, kelak di Hari Kiamat tidak seorangpun boleh beralasan menjadi tidak muslim karena mengikut agama orangtuanya.
a
Ketika bani Adam sudah beranak pinak, maka Allah س mengutus Nabi dan Rasul untuk memberi kabar gembira dan sekaligus peringatan. [Misalnya difirmankan dalam QS Al An`am (6):48. ].
a
Dalam perjalanan sejarah Keislaman, dapat dijumpai beberapa syahadat yang ditegaskan para Nabi/Rasul. Misalnya,
a
Nabi Nuh ع berkata kepada kaumnya, ”Bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku”.[ QS Asy Syuara` (26):110; dan QS Nuh (71):3. ].
Perkataan Nabi Hud ع kepada kaumnya, ”Bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku”.[QS Asy Syuara` (26):126 ].
Nabi Saleh ع telah berkata kepada kaumnya, ”Bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku”. [QS Asy Syuara` (26):144].
Begitu juga Nabi Luth ع berkata kepada kaumnya, ”Bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku”.[QS Asy Syuara` (26):163].
Atau perkataan Nabi Syu`aib ع berkata kepada kaumnya, ”Bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku”.[QS Asy Syuara` (26):179].
Dan dapat kita temukan dakwah Nabi Isa ع kepada kaumnya, ”Karena itu bertaqwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku”.[QS Ali Imran (3):50].
a
Persyahadatan pada masa kenabian/kerasulan Rasulullah ص memiliki formulasi yang berbeda. Misalnya, antara lain difirmankan, Sesungguhnya yang sebenar-benar orang mukmin ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul Nya [ QS An Nur (24):62].
a
Kemudian dalam berbagai Hadits diriwayatkan rumusan kalimat syahadat yang dituntunkan Rasulullah ص; terdiri dari dua kalimat, yaitu Syahadat Tauhid dan Syahadat Rasul. [HR Bukhari, #2012, dan 6 HR lain].
a
Usai menjelasakan persyahadatan sejak masa kenabian Rasulullah ص, Banas mengakhiri perbincangan dengan mengatakan: “Syahadat, merupakan sumpah manusia atas keesaan Nya dan ketaatan kepada Rasul Nya, yang dilakukan sejak manusia masih berupa janin. Kalaupun sesudah menjadi manusia sempurna tidak menganut Agama Islam maka itu terpulang kepada dirinya dan orangtuanya. Dalam suatu Hadits diriwayatkan Rasulullah ص, antara lain bersabda: “Setiap manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah Islami; maka kedua orangtuanyalah yang menjadikan dirinya Yahudi, Nasrani atau Majusi”. [HR Bukhari, #1270, dan 3 HR lain serta masih banyak Hadits lainnya]. Kedudukan syahadat adalah sebagai peletak fondasi Keislaman setiap manusia; dan karenanya menempati rukun pertama dalam Rukun Islam. Insya Allah, kita menjadi manusia yang beruntung karena dibesarkan dalam koridor Keislaman dan mendapatkan hidayah Nya”. Mendengar ini, para jamaah mengucap lirih, Alkhamdulillah; kemudian mereka bubar.
a
Sekian, semoga barokallah; Insya Allahu Amin.
a
Rujukan Penulisan
a
1977-1995aiSayyid Sabiq., Fikih Sunnah Jilid I s/d XIV; Penerbit Al Ma`arif Bandung.
1991-1995aiDepartemen Agama RI., Al Qur`an dan Tafsirnya; Penerbit UII Yogyakarta.
2000-1995aiKHQ Shaleh, HAA Dahlan., Asbabun Nuzul, Latar Belakang Historis Turunnya Ayat-ayat Al-Quran; Penerbit Diponegoro, Bandung.
1999-2011aiMuhammad Nasib Ar-Rifa`i., Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir Jilid I s/d IV; Gema Insani, Jakarta & Depok.
2010-1995aiImam Jalaluddin Al Mahalli dan Imam Jalaluddin As Suyuti, Tafsir Jalalain; Sinar Baru Algensindo, Bandung.
2010-1995aiMufassir., Enam Ringkasan Tafsir; Hilal Penerbit Al Qur’an, Bandung.
2010-2011aiLidwa Pusaka dan Saltanera., Software Ensiklopedi Kitab Hadits 9 Imam; Jakarta.
2015-2011aiIslamic Digital Boarding College (IDBC) Seri Al Bayan., Software Al Qur`an dan Terjemahannya; Solo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>