KERJA.ku

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ
اسَّلآمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
a
ELBANAS
a
Insya Allah, Memperluas Pemahaman dan Wawasan Keislaman
dari seorang MOHAMMAD ASLAM SUMHUDI
a
Dengan menyebut Asma Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang,
Ya Allah, kami menyampaikan rasa syukur atas nikmat Mu kepada kami sekeluarga; yang tak terbilang banyak dan jumlahnya;
Ya Allah, kami juga menyampaikan shalawat, semoga salam dan barokah Mu
tertuju kepada Nabi Muhammad Rasulullah ص dan keluarganya beserta para pengikutnya sampai akhir jaman;
dan kami menyampaikan shalawat, semoga salam dan barokah Mu,
tertuju kepada Nabi Ibrahim ع dan keluarganya.
Dengan mengikuti tuntunan Rasul Mu ص, kusampaikan firman Mu,
walau sebatas sejengkal pemahaman dan wawasan.
Insya Allah, kusampaikan sebagai tausiah, sebelum jiwa dan raga terpisah.
a
Seabad Bagai Mimpi
a
Ketika akan kutuliskan Kisah Karir ini, rasanya baru kemarin kunaiki sepeda bermerk YOBEN kesayanganku; karenanya kemudian terlintas dalam benakku, Seabad Bagai Mimpi; walau seabad, mungkin saja tak kan kujelang. Tetapi siapa yang tahu, karena Allah س adalah satu-satunya Dzat Yang Maha Kuasa.
a
a
Konon kabarnya, ayahku berasal dari desa kecil yang bernuansa gersang; terletak di Desa Bulu, bagian selatan dari arah Kota Kabupaten Sukoharjo. Beliau dilahirkan 20 Maret 1900 dan diwafatkan di Kartosuro, pada 26 Maret 1989, sebagai Pensiunan Guru Agama SR sekarang bernama Sekolah Dasar. Sedangkan ibuku, Ny. Siti `Aisyah, adalah Pedagang Kain di Pasar, dilahirkan 14 Maret 1914 dan diwafatkan di Purwogonda, Kartosuro, pada 19 Nopember 1995. Menurut kata banyak orang, buyut-buyutku adalah seseorang yang diturunkan oleh kerabat Kraton Kartosuro, dimana Kerajaan Mataram memindahkan pusat pemerintahannya ke Kartosuro (1680) dengan tugas mengelola Masjid Laweyan (Solo). Selepas Perjanjian Giyanti (1755) Pemerintah Belanda membagi Kerajaan Mataram menjadi dua, yakni Surakarta dan Yogyakarta. Entahlah, itu masa lalu yang sangat dulu, setidaknya empat generasi sebelum kudilahirkan. Bahkan kini, menjadi tidak penting lagi.
a
Kerja keras yang hingga kini masih sangat kuingat ketika mulai duduk di Kelas 4 Sekolah Rakyat. Tiap Hari Pasar Legi, kutunaikan tugas mengantar dagangan ke Pasar Kartosuro berjarak 5 Km ke arah timur rumahku; lalu setiap Hari Pasar Wage, dagangan kuantar ke Pasar Pengging, sekitar 14 Km ke arah Boyolali atau barat dari Kartosuro. Sepeda Merk Releigh milik ayahku, harus kukayuh cepat-cepat, agar ayahku tidak terlambat tiba di sekolah. Maklumlah, satu sepeda untuk bersama. Begitulah dari hari ke hari kulalui; dari bulan ke bulan kujalani; dari tahun ke tahun kurengkuh. Bagitulah, hingga usiaku mencapai 12 tahun, ketika kutamatkan Sekolah Rakyat di Kartosuro. Perintah kedua orangtuaku, meneruskan sekolah di Yogyakarta.
a
Dengan pembiayaan sangat pas-pasan kujalani perintah sekolah di Yogyakarta, di Madrasah Mu`allimim Muhammadiyah. Setiap Hari Kamis, sesudah pulang sekolah di tahun 1960an, aku bersegera mengayuh sepeda menempuh perjalanan rutin; tujuanku, rumah ibuku di Kartosuro; sehari kemudian, setelah kumohon doa ayahku, H. Sumhudi, aku kembali ke Yogya pada Jumat sorenya dengan membawa 3 liter beras untuk jatah seminggu. Dalam perjalanan itu, aku sering menggerutu, kenapa Ibuku memaksaku harus sekolah sejauh 60 Km dari tempat kelahiranku.
a
Untuk mengisi ruang kosong karena terbatasnya beras yang dibekalkan ibuku, setiap malam kubantu seorang penjual gudeg lesehan di perempatan Ngupasan Yogyakarta; konon namanya, Bu Juminten, entah dengan Gudeg Juminten yang sekarang masyhur. Hasil dari mencucikan piring dan membenahi perlengkapan berjualan di lepas larut malam inilah, kudapatkan upah sepiring gudeg yang kuyakini lezat rasanya; dan sebungkus gudeg pisah buat sarapan esok hari.
a
Entah dari mana awal mulanya, aku berkenalan dengan seniman; ia bintang drama yang sering mangkal makan di Gudeg Juminten. Group Teaternya, Teater Muslim yang sangat kesohor. Setelah berkenalan dan berbincangan-bincang, beberapa hari kemudian, aku diajak ke sanggar Teater Muslim, bergedung di Sasana Sebelah Barat Alun-Alun Lor Yogyakarta. Lalu aku berkenalan dengan Arifin C Noor, yang sampai akhir hayatnya masih ketemu di Jakarta; juga isterinya yang pertama, orang Solo. Juga kukenali Pedro Sudjono, seniman asal Madura; dan juga Ahmad Zaeni, serta AR Baswedan, pemeran cilik sebagai Ismail dalam lakon Iblis.
a
Di bawah Pimpinan Mohammad Diponegoro, aku dipasrahi Bagian Tata Rias; juga pelakon pembantu. Pekerjaanku di teater tidak mengganggu sekolah, karena bisa sambil lalu walau tetap serius. Lakon yang paling berkesan, Iblis, Jebakan Maut, Dirun, Antasari, beberapa lakon lainnya sudah lupa. Dari jalur inilah, usiaku yang masih belum 15 tahun sudah ikut melanglang bersama teater ke berbagai kota di Indonesia. Tentulah Jakarta menjadi acara langganan, walau mangkalnya sekedar di Masjid Agung Al Azhar, Kebayoran, pada tahun 1959-1961an.
a
Selepas lulus Ujian Persamaan SMP kuteruskan sekolah SMA; ternyata sekolah di SMA tidak memungkinkan diriku untuk nyambi apa-apa. Bloong, sesuai dengan jatah dari ibuku; seminggu tiga liter beras. Makannya pakai garam, sudah sangat nikmat. Alhamdulillah .
a
Mentaati perintah keduaorangtuaku, aku pindah ke sekolah negeri; Alhamdulillah bisa diterima di SMA Negeri Sukoharjo, waktu itu baru satu-satunya SMA Negeri. Sewaktu di SMA, kuaktifkan diriku di IPM Cabang Sukoharjo, juga pernah menjadi Ketua PII (Pelajar Islam Indonesia) Cabang SMA Negeri Sukoharjo. Dalam perjalanan hidup selama duduk di SMA, yang paling berkesan ketika bergotong royong membangun Masjid Agung berlokasi di sebelah selatan Perlimaan, yang kabarnya sekarang diberi nama Masjid Agung Baiturrahman. Bila ada penampilan Drumb Band (sekarang disebut Marching Band) Muhammadiyah Sukoharjo, aku yang jadi Mayorette; bahkan aku yang membuat tongkat untuk Mayorette. Keterkesananku, karena selepas dari Mua`allimin Muhammadiyah Yogyakarta dahulu, aku tak berkecimpung dalam aktifitas organisasi keislaman, seperti yang kulalui saat di SMAN ini.
a
Sebagai bekas orang kota yang turun ke desa, keahlianku tak dipandang sebelah mata. Selain menjadi Mayorette Drumband, aku sering keluyuran desa dan kampung sebagai Tukang Potret Keliling. Mulai dari pemotretan hajatan sampai pada potret KTP; tustelnya dapat pinjaman dari Dhik Uswar Badhawi, putra Pak Badhawi yang kala itu menjadi Ketua PP Muhmmadiyah. Dhik Uswar adalah menantu kakak misanku.
a
Kemudian, dengan berbekal sepeda yang kumiliki sejak kusekolah di Yogya, sering kugadaikan di Pegadaian Sukoharjo. Uangnya kujadikan modal berjualan kain; kain yang kudoreng sendiri mengikuti trend militer ketika membasmi pengikut PKI yang sudah dilarang. Bahkan badanku menjadi berisi, karena harus ikut latihan militer untuk membantu Pasukan RPKAD atau Kopasus namanya yang sekarang. Juga sering kubantu Pak Guru di sekolahku, untuk mencetak dengan model stensil Gestetner, kebutuhan akan buku-buku karya para Guru, yang tentunya tidak dijual di toko buku. Salah satu guru, namanya Pak Temon, pelajarannya Sarwo Sarwi Boso Jawi. Selepas lulus SMA, aku tidak pernah memasuki organisasi semacam itu lagi.
a
Pendidikan tinggi kuselesaikan di FH-IPK Universitas Indonesia, kini menjadi FISIP, sejak 1968; keterusanku di universitas berkat dorongan dan bantuan keuangan abangku tertua, Prof. Mohammad Isom Sumhudi (alm). Meski begitu, aku tak berpangku tangan; kuselesaikan pekerjaan-pekerjaan cetak-mencetak, kucarikan perusahaan percetakan yang besar untuk menerima order besar dari kantor abangku (kala itu disebut Departemen Sosial). Juga kusopiri mobil Impala miliknya, bila mengajar di sore sampai malam hari; karena sopir kantor sebatas jam kantor saja, bahkan biasanya tak tahan dengan jumlah jam kerjanya.
a
Dua tahun mengabdi, kuteruskan hidup mandiri; semula bekerja di perusahaan percetakan di Kayu Manis Lima Jakarta Timur, dengan waktu kerja dari sore sampai selepas Shalat Subuh. Kalau kini banyak perusahaan besar memamerkan jam pelayanan 7/24, maka konsep itu sudah kutrapken sejak mahasiswa; sekedar untuk mendapat upah makan malam dan sarapan pagi, tanpa uang apapun. Pasca keluar dari Percetakan di Kayu Manis, kumanfaatkan ketrampilanku nyopir dengan bekerja sebagai Sopir Taksi Ratax (Radio Taksi) eks taksi untuk Asian Games, yang kujalani di malam hari, istilahnya ngalong; pagi harinya kutunaikan kuliah. Hasil dari pekerjaan ini, selain aku dapat membiayai hidupku di Jakarta, sebagian lainnya kukirim untuk ayah-ibuku dan dua adikku yang meneruskan sekolahnya. Pekerjaan ini kuakhiri, empat bulan sebelum Ujian Sarjana; yaitu tiga bulan bekerja sebagai Staf Peneliti Lembaga Kerja Sama UI dengan Universitas Leiden Den Hague berkantor di Serpong, sambil menyusun skripsi dibawah pembimbing Staf Peneliti Senior dari Belanda. Karena itu, penulisan skripsi tak perlu waktu lama; dan sebulan dari waktuku bekerja di Serpong, kuhabiskan untuk mengurus ujian sarjana.
a
Kenangan yang takkan pernah kulupakan saat ujian skripsi sarjana, adalah pakaian resmi yang harus dikenakan bagi peserta ujian. Kala itu, ujian diselenggarakan untuk sekitar 6 mahasiswa. Ketika memasuki ruang ujian, sekretaris ujian bertanya, mana pakaian jasnya. Kujawab dengan suara rendah, tak punya jas dan tak punya teman yang punya jas. Lalu panitia dan penguji berembuk; setelah berlangsung beberapa lama, aku diijinkan ujian tanpa berjas. Sejak saat itu, ujian tidak perlu berjas lagi. Selain itu. tanggal ujianku lebih dikenal dengan sebutan Malari alias tepat tanggal 15 Januari 1974. Begitu ujianku selesai, universitas dinyatakan dalam keadaan darurat dan semua kegiatan akademis ditiadakan. Alhamdulillah, aku terselamatkan oleh jam ujian yang selesai tepat beberapa menit sebelum seluruh kegiatan kampus dihentikan.
a
Aku menikahi wanita kelahiran Jambi, yang menamatkan S1 Publisistik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (1977) lalu menamatkan S2 Pengembangan Sumber Daya Manusia Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (1998); dalam perjalanan hidupnya, ia bekerja di Departemen Sosial, dan resmi pensiun 2008.
a
Allah س mengaruniaiku berdua dengan dua anak perempuan; yang sulung lahir 1978, tamat S1 Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Institut Teknologi Bandung (2000) dan tamat S2 Magister Manajemen, Institut Teknologi Bandung (2002). Anak bungsu lahir 1982, tamat S1 Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Institut Teknologi Bandung (2005), dan tahun 2007 meneruskan S2 di Asian Institute of Technology, Thailand tamat 2009.
a
Sejak 1975 aku berstatus sebagai Pegawai Negeri Sipil FISIP UI sampai akhirnya dipaksa pensiun sebelum waktunya. Dalam menempuh karir di FISIP UI, aku pernah mengikuti pendidikan tambahan sebagai utusan dari Fakultas, yaitu:
aKursus Komputer dan Bahasa Program Komputer, dalam rangka penyiapan Komputerisasi Penerimaan Mahasiswa Baru PTN, 1975;
aKursus Teknik Penyusunan Peraturan Perundang-undangan Republik Indonesia, 1976;
aKursus Teknik Penyusunan Analisis Dampak Lingkungan, Amdal A dan Amdal B, 1981-1982;
aKursus Teknik Penyusunan Materi Pembelajaran Perguruan Tinggi, disebut Kursus Akta A dan Akta B, 1983.
a
Dengan berbagai keahlian tersebut dan tiadanya penugasan dari Fakultas, maka aku sangat banyak menghasilkan pekerjaan penelitian di luar fakultas. Karenanya, aku pernah banyak bekerja rangkap di berbagai Konsultan Penelitian; selain itu, pernah bekerja sebagai Birokrat, yaitu:
aPimpro. Diklat KB di BKKBN DKI Jakarta (1978-1981);
aPimpro. Perbantuan LSM di Kedutaan Kanada (1981-1983);
aKepala Pusat Penelitian Perkotaan Universitas Trisaksi (1983-1985);
aKepala Pusat Penelitian Pranata Pembangunan UI (1999-2002);
aKetua Tenaga Ahli Perundang-undangan di DPRD DKI Jakarta (2000-2004).
a
Selama 10 tahun sejak tercatat sebagai PNS dengan kewajiban mengajar di FISIPUI (1974-1984), aku mengbdikan diriku sebagai Dosen di Perguruan Tinggi Swasta. Selain mencari tambahan penghasilan, juga mencari relasi untuk kegiatan akademi; yaitu:
aDosen Metode Penelitian di FISIP Univ. Muhammadiyah Jakarta;
aDosen Metode Penelitian dan Pengantar Sosiologi di FH Univ. Trisakti, Jakarta;
aDosen Metode Penelitian dan Pengantar Sosiologi di FH Univ. Kristen Indonesia, Jakarta;
aDosen Metode Penelitian dan Pengantar Sosiologi di Akademi Ilmu Pemasyarakatan, pendidikan kedinasan Departemen Kehakiman.
a
Dalam merengkuh karir dan kehidupan ini, Alkhamdulillah, tidak pernah merasa ada surutnya; Alkhamdulillah pasang terus dan selalu pasang; jiwa dan raga, rokhani dan jasmani, spiritual dan material. Menyadari pasangnya karunia Illahi Robbi merupakan gabungan berbagai peran para karib dan kerabat, maka sebagai salah satu baktiku kepada Allah س, aku bersama keluarga menunaikan berbagai pinjaman kepada Nya, dalam bentuk:
aMembangun, mensponsori pembangunan dan merenovasi serta merehabilitasi masjid; baik di luar maupun di Jakarta;
aMemberikan bantuan pendidikan, bagi siswa SD, SLP, SLA dan Mahasiswa untuk Strata Satu dan Dua;
aMemberangkatkan beribadah haji dan umroh, serta piknik religi antara lain mengunjungi Piramid dan Mummy Fir`aun di Negeri Mesir;
aMemberi pinjaman modal usaha; walau tak terdengar kabar kemajuannya.
a
Selanjutnya, sebagai baktiku lainnya yang semata-mata mencari ridho Nya, adalah denga cara mengggali kembali pengetahuan keislamanku yang dahulu kuraih dari Madrasah Mu`allimim Muhammadiyah. Kini, aku berulang kali mengucap syukur kehadirat Nya, karena telah menghidayahi kedua orangtuaku, sehingga aku disekolahkan di Madrasah Mu`allimim Muhammadiyah Yogyakarta. Ternyata, dari sekolah inilah ilmu agamaku terpateri dengan kuat hingga kini. Subkhanallah, setelah lebih dari setengah abad, ilmu itu masih mengendap kental dalam akal pikiranku. Dengan menekuni kembali dan belajar mandiri, kuraih kembali kekayaan ilmu itu; kusumbangkan untuk sesama umat dalam bentuk tausiah di web ini; juga kubuat dalam bentuk cetakan, lalu kubagikan secara cuma-cuma ke berbagai masjid, pengajian dan outlet lainnya . Biarlah Allah س saja yang memberikan pembayarannya. Insya Allahu Amin.
a
وَاسَّلَا مُ عَلَيكُمْ وَرَهْمَةُ اللهِ وَبَرَ كَا تُهُ
a
Salam Hormatku dan Keluarga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>