Islam, Seperti Apa ?

[Tausiah Jum`at, 24/04/2015]
a
Setelah berkabar-kabar Islami, kini Akung bertanya makna Agama Islam. Inilah kisah perbincangan mereka di taman masjid, usai keduanya menunaikan Shalat Dhukha.
a
Banas memulai perbincangan dengan mengatakan: “Islam berasal dari lafadz Bahasa Arab, aslama artinya selamat. Dalam Tata Bahasa Arab (Lughot), kata dasar aslama dapat dibentuk menjadi lafadz muslim, muslimun, muslimin, muslimat, artinya orang Islam. Mari memahami makna Islam sebagai konsep akidah, bukan dalam arti kata. Yaitu dengan cara menelaah beberapa firman Nya.
a
1.HQS Yunus (10):72; artinya:
Jika kamu berpaling (dari peringatanku), aku tidak meminta upah sedikitpun daripadamu. Sesungguhnya tiada upah bagiku kecuali dari Allah belaka, dan aku disuruh supaya aku termasuk golongan orang-orang yang berserah diri (kepada Nya).
Ayat ini merupakan kelanjutan dari ayat sebelumnya, mengisahkan dakwah Nabi #III, Nuh ع. Pada akhir ayat terdapat lafadz [الْمُسْلِمِينَ] dibaca muslimin; diterjemahkan berserah diri (kepada Nya). Arti kharfiahnya, Nabi Nuh ع termasuk dalam golongan orang-orang Islam. Dari kisah ini, dapat dibuat simpul, makna lafadz Islam, adalah berserah diri kepada Allah س.
a
2.HQS Al Baqarah (2):131; artinya:
Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: “Tunduk patuhlah!” Ibrahim menjawab: “Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam”.
Ayat ini mengisahkan Nabi #V, Ibrahim ع ketika diuji keimanannya. Jawaban beliau: “Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam”; arti tunduk patuh berasal dari lafadz [أَسْلَمْتُ]. Dari jawaban ini dapat disimpulkan, salah satu makna dari lafadz Islam, adalah tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam, yaitu Allah س.
a
3.HQS Al A`raf (7):126; artinya:
Dan kamu tidak menyalahkan kami, melainkan karena kami telah beriman kepada ayat-ayat Tuhan kami ketika ayat-ayat itu datang kepada kami. (Musa dan Harun berdoa): “Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan wafatkanlah kami dalam keadaan berserah diri kepada Mu”.
Firman ini mengisahkan perkataan Nabi Musa ع dan Harun ع (Nabi/Rasul #XV dan #XVI) kepada kaumnya, yaitu Bani Israil, yang semula tidak beriman, kemudian beriman, lalu terjerat pada kekafiran lagi. Lalu beliau berdoa untuk dimasukkan ke dalam golongan orang yang bersabar dan golongan muslimin. Dalam ayat ini, lafadz [الْمُسْلِمِينَ] dibaca muslimin, diterjemahkan berserah diri kepada Nya. Dari doa ini dapat disimpulkan, makna lain dari lafadz Islam, adalah berserah diri kepada Allah س.
a
4.HQS Ali Imran (3):64; artinya:
….. Jika mereka berpaling, maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri kepada Allah”.
Dalam ayat ini terdapat penegasan akidah keislaman yang diperkatakan Nabi Isa ع atas idzin Nya. Lafadz [مُسْلِمُونَ], dibaca muslimun; diartikan perserahan diri kepada Nya. Berdasar ayat ini, Islam juga dimaknakan menjadi berserah diri kepada Allah”.
a
5.HQS Al Anbiya` (21):108; artinya:
Katakanlah (wahai Muhammad), Sesungguhnya yang diwahyukan kepadaku adalah bahwa Tuhanmu adalah Tuhan Yang Esa, maka hendaklah kamu berserah diri kepada Nya.
Dalam ayat ini terkandung perintah Nya, agar setiap manusia berserah diri. . Dengan begitu, dalam ayat ini terdapat pemanaan Islam, yaitu berserah diri kepada Allah”.
a
6.HQS Al Baqarah (2):208; artinya:
Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya; dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.
Firman ini diwahyukan kepada Rasulullah ص, ketika beliau menghadapi kaum munafik, yaitu sebagian kaum muslim yang masih goyah keimanannya karena selalu mendapat ancaman dan siksaan dari kaum kafir. Dalam ayat ini terdapat lafadz [فِي السِّلْمِ], dibaca fis silmi, arti harfiahnya dalam keselamatan; kemudian lafadz ini diterjemahkan menjadi Islam. Melalui ayat ini ditegaskan, sesungguhnya salah satu makna Islam adalah bahwa Allah س memastikan keselamatan hidup dunia dan akhirat, bagi manusia yang memeluk Islam.
a
Kemudian terjadi dialog, jika berislam apakah masih boleh melakukan ritual tradisi budaya lokal. Misalnya membakar kemenyan. Lalu dijelaskan, jika berislam, harus kaffah atau menyeluruh; sebagaimana difirmankan dalam QS Al Baqarah (2):208. Kemudian Banas meneruskan: “Setidaknya, dari kutipan enam ayat itu, terdapat penegasan, bila memeluk Agama Islam, maka harus tunduk, patuh dan berserah diri kepada Allah س, Tuhan Yang Maha Esa dan taat kepada Nabi/Rasul Nya. Tinggalkan tradisi, karena tradisi bukan merupakan sumber akidah dan syari` Islam.
a
Ketika akan berpisah, Banas mengatakan: “Bila kita beragama Islam, maknanya kepada kita disuguhkan serangkaian nasehat untuk tunduk, patuh dan berserah diri. Ketaatannya, niscaya berbuah pahala untuk menjalani kehidupan dunia dan akhirat. Syaratnya, ditunaikan dengan penuh ketulusan hati. Karenanya, berislam bukan paksaan; dan berislamlah secara keseluruhan atau kaffah”.
a
Walau berpisah, Akung masih menyimpan pertanyaan yang akan diajukan dalam kesempatan mendatang. Saat berjabat tangan, ia berkata lirih, jika Agama Islam sudah didakwahkan sejak sebelum masa kenabian Rasulullah ص, lalu apa peranan Beliau dalam membangun Agama Islam? Setelah itu keduanya saling berucap salam dan berpisah.
a
Sekian, semoga bermanfaat dan barokallah, Insya Allahu Amin.

4 thoughts on “Islam, Seperti Apa ?

  1. blog nya sudah cukup menarik, tinggal di backlink kan saja untuk hasil yang max. untuk informasi masalh backlink, SEO, TOKO ONLINE blog anda bisa hub nomor di bawah. jasa Backlink WEB dan BlOG Rp 700.000 /bln, jasa design toko online Rp 500.000 /themes, jasa Seo BERGARANSI Rp 2.700.000 2,5 bulan, Jasa Omptimasi Blogwalking 200.000 list web aprove 500 rb /bulan, telp-1 085-100-675-165 telp-2 085-635-945-40 salam hangat…

    • Alkhamdulillah; walau terlambat saya sampaikan terima kasih. Bagaimana maksudnya, agar blog ini lebih menarik. Tetapi soal biaya, masya Allah, terlalu jauh dari jangkauanku. Terima kasih; jazakumullahu khoiron katsiron. Insya Allahu Amin.

  2. Seperti terorisme yang tak pernah berakhir. Dalam Islam sendiri, terorisme dilarang. Tindakan kejam itu tidak bisa dibenarkan dengan dalih apapun. Tapi, masalahnya, jika menelaah kejanggalan yang selama ini terjadi, terorisme seolah direkayasa dan dipelihara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>