Ingin Menghuni Surga?

Pendahuluan:
Minumnya Besi Mendidih
a
Banas dan Akung berkabar-kabar Islami ketika bertemu kembali; kemudian keduanya duduk di taman. Akung berkata lirih: “Ustadz; saya merenungi perjalanan hidup ini. Terputar kembali film yang telah lama terbungkus hiruk pikuk panggung kehidupan. Muncul pertanyaan besar; akankah saya kelak bisa menjadi penghuni surga Nya?”. Pertanyaan ini seolah terbawa angin yang bertiup lembut; mencari dahan tambatan.
a
Kemudian Akung meneruskan: “Terlebih lagi ketika kemarin malam saya membaca Surah Al Kahfi; lalu saya periksa terjemahannya. Sampai sekarang masih terbayang dahsyatnya siksa Allah س yang difirmankan pada ayat 29. Bila membaca berulang kali, bulu kuduk serasa duri, tajam dan menghunjam ke ulu hati. Jadi, bagaimana harus berhati-hati menyibak godaan dan ujian berkehidupan?”
a
Mendengar ini, Banas ikut terlarut; dan merasakan rintihan hati yang terikut dalam pertanyaan Akung; lalu dibukanya mushkhaf Al Qur`an dan dicari ayat yang dimaksud. Lalu dibaca terjemahannya; Dan katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barang siapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir”. Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang-orang dzalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek. Lalu Banas meneruskan: “Ayat ini sedikitnya berisi dua pekabaran; begini.
a
Pertama, Allah س adalah satu-satunya Dzat Yang Maha Benar. Lalu Dia memberi dua pilihan: berimanlah, dan boleh juga kafir.
Kedua, Allah س telah menyediakan balasan bagi mereka yang kafir; berupa neraka yang bergolak apinya. Suguhan minumnya air sepanas besi yang mendidih.
a
Melalui ayat ini ditegaskan, diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih; lafadznya [بِمَاءٍ كَالْمُهْلِ]. Dalam Kitab Tafsir dijelaskan makna lafadz “al muhli”; yaitu air seperti endapan minyak; berwarna hitam, kasar, berbau dan panas. Wallahu a`lam. Karenanya dalam ayat ini difirmankan, yang menghanguskan muka; maksudnya, bila didekatkan ke mulut hendak diminum, maka wajahnya tersulut sehingga hangus. “Astaghfirullah”; begitu mereka berucap hampir berbarengan; ternyata keduanya terasuk keprihatinan. Lalu Banas mengajak Akung menemukan cara menyelamatkan diri dari gejolak hiruk pikuk kehidupan duniawi. Inilah kisah perbincangan mereka.
a
(1) Berislam, Maka Selamat
a
Belum lagi perbincangan dimulai, Akung bertanya: “Ustadz; dalam kutbah Jumat kemarin, Kotib mengatakan begini. Kita, sebagai insan, memiliki dua kewajiban, yaitu beriman kepada Allah dan Hari Kemudian. Sayangnya Kotib tidak memberikan penjelasan dari dua keimanan itu, karena waktu sudah tak tersedia lagi. Bagaimana ini?”
a
Banas merespon: “Penegasan itu sudah benar; misalnya difirmankan dalam QS Al Baqarah (2):8; yaitu mereka menyatakan beriman kepada Allah dan Hari Kemudian, tetapi sesungguhnya mereka munafik. Dengan begitu, sesungguhnya menjadi kewajiban bagi manusia seluruhnya untuk beriman kepada Allah dan Hari Kemudian secara tulus; bukan seperti yang dilakukan kaum munafik. Tanda kemunafikan ada tiga; salah satu diantaranya adalah jika berbicara berdusta. [HR Bukhari, #5630, dan 6 HR lain]. Secara tersirat, ayat itu menjelaskan, segolongan orang menyatakan beriman tetapi mereka tidak mengamalkan bukti keimanannya; mereka disebut kaum munafik.
a
Seharusnya, Kotib menjelaskan bagian terpenting dari kutbahnya, yaitu dua keimanan itu; karena dua keimanan itu menjadi pangkal dan ujung berkehidupan. Maksudnya, setiap manusia harus berpangkal pada keimanan kepada Allah س; lalu di ujung sana, harus beriman kepada Hari Kemudian atau Hari Akhir. Dalam perjalanan dari pangkal menuju ujung kehidupan inilah yang seharusnya didakwahkan; agar tidak menimbulkan salah pengertian diantara umat. Bila tidak mengupas antara pangkal dan ujung itu, maka seolah-olah kewajiban manusia cukup berkata, saya beriman kepada Allah س dan Hari Kemudian. Jika seperti itu, maka kutbahnya tidak mendorong terbangunnya keislaman yang sempurna”. Lalu perbincangan diteruskan.
a
Keberimanan kepada Allah س harus dilengkapi keimanan kepada malaikat Nya, Kitab-kitab Nya, Nabi/Rasul Nya, Hari Akhir dan Takdir. Keimanan adalah kata hati; karenanya harus diikuti langkah amalannya, yaitu harus melafadzkan syahadat, menunaikan shalat, berpuasa, berzakat dan berhaji. Kenapa demikian?; mari kita telusuri.
a
Pada awal masa kenabian, saat berada di pelataran Ka`bah, Rasulullah ص ditemui seorang lelaki berpakaian putih; kemudian berdialog; lelaki itu antara lain bertanya mengenai apa yang dimaksud dengn Iman dan Islam. Di hadapan para sahabat, Beliau menjawab semua pertanyaan; sesudah berdialog, lelaki itu lalu pergi. Ada sahabat yang bertanya, siapa orang itu; Rasulullah ص bersabda: “Dia adalah Malaikat Jibril datang kepada manusia untuk mengajarkan agama”; [HR Bukhari, #48, dan 7 HR lain].
a
Dalam perjalanan keislaman, jawaban-jawaban Beliau dijadikan fondasi keislaman, yang dirumuskan menjadi Rukun Iman dan Rukun Islam. Secara syari`, Rukun Iman adalah bukti keyakinan sedangkan Rukun Islam adalah amalan guna membuktikan keyakinan.
a
Banas mengatakan: “Kita termasuk kaum yang sangat beruntung, karena berislam. Hal ini dapat dikaji dari periwayatan, Amru bin Ash رعنهُ berkata: “Wahai Rasulullah, saya berba’iat kepadamu agar engkau memintakan ampun dosa-dosaku yang telah lalu”. Maka Rasulullah ص bersabda: “Sesungguhnya Islam itu menghapus dosa-dosa yang telah lalu, dan hijrah juga menghapus dosa-dosa yang telah lalu”. [HR Ahmad, #17145]. Hadits ini menuntunkan, memeluk Islam menjadi bekal keselamatan duniawi ukhrowi.
a
Kemudian Banas menambahkan: “Insya Allah, makna lafadz dosa yang telah lalu, bukan saja karena perowi Hadits berbaiat atau semula kafir lalu memeluk Islam, tetapi juga termasuk dosa yang kemarin bagi mereka yang sudah berislam sejak lama. Begitu juga berhijrah hari ini, menghapus dosa yang kemarin”; Akung menyela: “Ustadz; mohon maaf. Bukankah hijrah dilakukan Rasulullah ص lebih dari 14 abad yang lalu. Bagaimana saat ini kita bisa berhijrah?”
a
Banas menjelaskan: “Hijrah adalah lafadz yang penuh makna. Misalnya, dalam QS Al Baqarah (2):218 difirmankan, Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rakhmat Allah. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dalam ayat ini terdapat tiga serangkai amalan yang harus ditunaikan; yaitu beriman, berhijrah dan berjihad. Dengan menunaikan tiga amalan ini, Insya Allah, dapat meraih rakhmat dan ampunan Nya.
a
Beriman menjadi tonggak kehidupan yang dipandu oleh Rukun Iman dan Rukun Islam; lalu berjihad merupakan kesanggupan untuk menegakkan, mengamalkan dan meluaskan jangkauan keimanan kepada diri sendiri dan sekeliling. Sedangkan berhijrah, harus menjadi pandangan hidup untuk selalu bergerak dinamis. Termasuk diantaranya adalah berhijrah dari kegelapan menuju pada cahaya terang; berhijrah dari kebodohan menuju pada kepintaran; berhijrah dari ketertutupan (taqlid) menuju pada keterbukaan untuk mencari rujukan dalam beramal. Berhijrah dari malas membaca menuju pada menyenanginya, guna menambah pengetahuan dan wawasan keislaman. Dengan begitu, berhijrah jangan selalu dimaknakan berpindah tempat; tetapi harus dimaknakan dengan berubah dari yang belum sempurna menuju pada keislaman kaffah atau berhijrah untuk berislam hari ini lebih kaffah dari keislaman kemarin”. Lalu diteruskan.
a
Islam merupakan agama yang berisi ajaran dari Allah س untuk ditebarkan para Nabi/Rasul sampai Nabi Penutup, Muhammad Rasulullah ص dan disebarluaskan seluruh insan. Dalam QS Al Baqarah (2):131 dijumpai pemaknaan Islam, yaitu [أَسْلَمْتُ] artinya, aku tunduk dan patuh. Lalu dalam QS Ali Imran (3):64, QS Al A`raf (7):126, QS Yunus (10):72 dan QS Al Anbiya (21):108 terdapat firman Nya [مُسْلِمِينَ] dan [مُسْلِمُونَ], artinya berserah diri. Dengan merujuk ayat-ayat ini, maka makna Islam adalah, tunduk patuh dan berserah diri kepada Allah س dan sekaligus kepada para Nabi/Rasul Nya. Saat ini kita berislam pada masa diutusnya Rasulullah ص sebagai Penutup Para Nabi/
Rasul, maka kita harus tunduk, patuh dan berserah diri kepada ketetapan Allah س dan kepada perintah dan tuntunan Rasulullah ص. Lalu dikatakan: “Kita harus selalu terikat dan mengikatkan diri pada Rukun Iman dan Rukun Islam; didalamnya terdapat sebelas fondasi keislaman”. Akung menyela: “Ustadz; saya sudah berislam sejak usia dini. Apakah saya bisa terlepas dari ikatan Rukun Islam?”
a
Dengan suara direndahkan Banas menjelaskan: “Insya Allah pernah terlepas dari ikatan keislaman. Misalnya, ketika lalai bershalat, menunda waktu bershalat, berbicara kotor, memaki-maki, memutus tali silaturrakhmi dan banyak lagi. Karenanya, peganglah dengan teguh QS Al An`am (6):162; difirmankan, Katakanlah: “Sesungguhnya shalat, ibadah, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi Nya”. Bila mampu menempatkan ayat ini sebagai sumpah berkehidupan, niscaya bisa merintis kemudahan untuk menghuni surga; yaitu dengan menunaikan amal saleh.
a
(2) Tunaikanlah Amal Saleh
a
Amal saleh adalah perbuatan baik yang dilandasi niat lillahi ta`ala. Amalannya dapat diterapkan ketika menjalankan sebelas rukun berislam dan aktifitas pendukungnya. Sebagai fondasinya, marilah mencermati QS Al Baqarah (2):82; arti firman Nya, Dan orang-orang yang beriman serta beramal saleh, mereka itu penghuni surga; mereka kekal di dalamnya. Ayat ini harus menjadi penegas kehidupan, sebagai rintisan jalan meraih kemudahan menghuni surga. “Insya Allahu Amin”; begitu Akung berkata lirih.
a
Lalu Banas mengisahkan fadilah dari amal saleh yang dituntunkan dalam Hadits Qudsi, Rasulullah ص bersabda: “Allah menulis kebaikan dan kejahatan”. Lalu Beliau jelaskan: “Siapa yang berniat kebaikan lantas tidak jadi ia amalkan, Allah mencatat satu kebaikan disisi Nya secara sempurna. Dan jika ia berniat lantas ia amalkan, Allah mencatatnya sepuluh kebaikan, bahkan hingga dilipatgandakan tujuh ratus kali, bahkan lipatganda yang tidak terbatas. Sebaliknya barangsiapa yang berniat melakukan kejahatan kemudian tidak jadi ia amalkan, Allah menulis satu kebaikan disisi Nya secara sempurna. Dan jika ia berniat kejahatan dan jadi ia lakukan, Allah menulisnya sebagai satu kejahatan saja”; [HR Bukhari, #6010, dan 3 HR lain]. Begitu posisi niat dan amalan kebaikan atau keburukan bagi kaum muslim; bukankah ini kemudahan yang tiada bandingannya? untuk menuju surga Nya. Mari dicermati kembali, jika berniat melakukan kejahatan lalu batal melakukannya, maka Allah menulis satu kebaikan disisi Nya secara sempurna. Insya Allah karena mengurungkan niat berbuat kejahatan. Jika berniat melakukan kejahatan lalu ia lakukan, maka Allah menulisnya sebagai satu kejahatan saja; sungguh karunia yang tak ternilai. Lalu Banas mengajak menyusuri sebagian dari amal saleh, merujuk Rukun Islam.
a
Amalan saleh pertama, adalah mengucap kalimat syahadat, terdiri dari dua kalimat kesaksian. Pertama, syahadat taukhid untuk mengesakan Dia; lafadznya [اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ]; dan kedua, syahadat rasul, dengan lafadz [اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَّسُوْلُ اللهِ] untuk meletakkan dasar keimanan kepada Nabi Penutup, Rasulullah ص.
a
Harus dipaterikan, bahwa lafadz tahlil adalah kunci surga.[HR Ahmad, #21086]; karenanya, pelafadzan tahlil paling disukai Allah س; [HR Ahmad, #19248]. Para pelantunnya, termasuk golongan yang lebih utama disisi Nya; [HR Ahmad, #1327]. Lafadz tahlil, begitu selesai dilantunkan niscaya berputar di sekeliling Arsy; berputar-putar dengan suaranya mendengung bagaikan dengung lebah sambil menyebut nama pelantunnya. [HR Ibnu Majah, #3799]. Siapa orang yang tak ingin namanya disebut disisi Nya?; walaupun bermodalkan pelantunan tahlil.
a
Kemudian diriwayatkan, jika diucapkan ketika ajalnya tiba, maka lantunan itu menjadi cahaya untuk catatan amalnya. Jasad dan ruhnya mendapatkan ketenangan ketika maut menjemput. [HR Ibnu Majah, # 3785, dan 1 HR lain]. Dari tuntunan inilah muncul amalan talqin; yaitu mengajarkan dan menuntunkan pelantunan lafadz tahlil kepada si calon mati. Karena itu, talqin banyak dilakukan oleh para ahli waris, ketika menduga orang yang dicintainya mengalami sakaratul maut; walaupun yang ditalqin adalah seorang kyai. Agar bisa mengakhiri hayatnya dengan ucapan tahlil; Insya Allah kelak di Hari Kiamat dapat meraih fadilah syafaat Rasulullah ص. Dengan begitu, seharusnya, talqin tidak dilakukan dengan cara berpidato di atas liang lahat sebelum atau sesaat sesudah tanah ditabur; tetapi talqinlah seseorang ketika masih di pembaringan”.
a
Selain itu, Insya Allah, Rasulullah ص menjadi saksi bagi pelantunnya, ketika ia dihadapkan disisi Nya, kelak di Hari Kiamat. [HR Bukhari, #1272, dan 11 HR lain]. Masih ada penawaran lain; bila melantunkan satu kali kalimat tahil pada pagi dan sore hari, yaitu:
لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Maka ia akan mendapatkan pahala senilai memerdekakan seorang budak dari keturunan Ismail. Akan dituliskan untuknya sepuluh kebaikan, dihapus darinya sepuluh dosa, dan akan dinaikkan sepuluh derajat. Dia juga akan dijaga dari setan hingga datang waktu sore. Jika pada waktu sore ia membaca doa itu maka ia akan mendapatkan yang seperti itu hingga tiba waktu pagi. [HR Abu Daud, #4415 dan 3 HR lain]. Mendengar Hadits ini, Akung menyela: “Ustadz; kenapa disebutkan dari keturunan Ismail ? Banas mengemukakan: “Nabi Ibrahim ع memiliki dua anak, yaitu Ismail ع dan Ishaq ع. Garis keturunan Ishaq ع menurunkan nabi-nabi/rasul yang lebih dikenal sebagai Bani Israil atau Keturunan Israil penamaan dalam Bahasa Iberani; dalam Bahasa Arab, Israil adalah Yakub ع. Rasulullah ص memiliki garis keturunan dari Nabi Ismail ع”; Akung terheran-heran karena baru mengerti.
a
Terkait dengan syahadat rasul, maka setiap mendengar atau mengucapkan nama Beliau, Allah س memerintahkan untuk bershalawat dan mengucapkan salam kepada Beliau. Perintah Nya difirmankan dalam QS Al Ahzab (33):56; arti firman Nya, Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bersalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. Penghargaan apa yang diberikan kepada para pelantun shalawat Nabi?; dalam suatu Hadits diriwayatkan, Barangsiapa satu kali bershalawat untuk Beliau (yang lafadznya):
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ٬ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ٬ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ ٬ اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ٬ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ٬ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
Maka Allah akan memberikan rakhmat sepuluh kali kepada (pelantun)nya dan dicatat bagi (pelantun)nya sepuluh kebaikan”. [HR Tirmidzi, #446 dan 39 HR lain]. Bila Allah س bershalawat, itu bermakna pemberian rakhmat/pahala kebaikan; dan bila malaikat bershalawat, adalah sebagai permohonan ampunan. Lalu Akung menyela: “Ustadz; mohon maaf. Selama ini saya bershalawat dengan satu kali melantunkan [إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ] pada akhir lafadz shalawat; bagaimana?” Banas menjelaskan: “Kalau seperti itu keadaannya, maka mulai saat ini berhijrahlah; berubah dari satu kali melafadzkan menjadi dua kali. Bukankah sudah jelas Hadits yang menjadi rujukannya”. Lalu perbincangan diteruskan.
a
Amalan saleh kedua, adalah bershalat; sedikitnya lima shalat fardhu dalam sehari semalam. Dalam suatu Hadits diriwayatkan, Rasulullah ص bersabda: “Kunci surga adalah shalat dan kunci shalat adalah suci”. [HR Ahmad, #14135, dan 11 HR lain]. Juga dituntunkan dalam Hadits, Rasulullah ص bersabda: “Yang pertama dikhisab dari seorang hamba adalah shalatnya, bila ia menyempurnakannya, maka ditulis sempurna untuknya”. Bila ia tidak menyempurnakannya maka Allah ‘azza wajalla berfirman: “Lihatlah, apakah kalian melihat shalat sunnah hamba Ku; lalu kalian menyempurnakan shalat wajibnya dengan shalat sunnah itu. Zakat seperti itu juga; lalu semua amal juga dihukumi seperti itu”. [HR Abu Daud, #733, dan 8 HR lain]. Hadits ini menuntunkan, tunaikan shalat fardhu secara baik dan benar, karena menjadi amalan utama untuk dikhisab. Lalu tunaikan shalat-shalat sunnah, karena shalat sunnah akan menjadi nafilah atau penyempurna shalat fardhu. Dalam Hadits ini juga dituntunkan, begitu juga setiap amalan sunnah menjadi nafilah bagi amalan fardhunya. Dalam Hadits lain diriwayatkan, pahala shalat sunnah menjadi nafilah (penyempurna) shalat fardhu yang belum sempurna. [HR Tirmidzi, #161, dan 3 HR lain]. Maksudnya, shalat sunnah menambal jika ada kebocoran shalat fardhu. Tetapi harus disadari, shalat sunnah bukan menjadi pengganti shalat fardhu yang dilalaikan.
a
Melalui amalan bershalat, dosa insan berpeluang dihapuskan; dalam suatu Hadits diriwayatkan, “Sesungguhnya shalat lima waktu dan (shalat) Jumat hingga (shalat) Jumat berikutnya adalah menghapus dosa antara keduanya selama dosa-dosa besar dijauhi”. [HR Ahmad, #9895, dan 8 HR lain]. Untuk menunaikan shalat, diharuskan bersuci; tadi sudah kita bincangkan, kunci shalat adalah suci. Fadilah bersuci, diriwayatkan dalam Hadits, Nabi ص bersabda: “Barangsiapa berwudhu maka semua dosanya keluar bersamaan dengan air wudhu yang digunakan. Yaitu ketika berkumur, memasukkan air ke hidung, membasuh wajah, membasuh tangan, mengusap rambut dan membasuh kaki. [HR Ibnu Majah, #278, dan 4 Hadits lain].
a
Amalan saleh ketiga, adalah berpuasa fardhu di Bulan Ramadhan. Dalam suatu Hadits diriwayatkan, Semua amalan bani Adam adalah untuknya kecuali puasa; sesungguhnya puasa adalah untuk Ku (Allah), dan Aku yang membalasnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa itu lebih wangi di sisi Allah dari pada harumnya minyak wangi. [HR Bukhari, #5472, dan 12 HR lain]. Selain puasa fardhu, juga ditawarkan puasa-puasa sunnah sebagai penambah timbangan kebaikan dan menjadi nafilah, kelak di Hari Akhir.
a
Amalan saleh keempat, adalah mengeluarkan Zakat; sebagai bentuk Sedekah yang difardhukan. Ada dua jenis, yaitu Zakat Mal bila hartanya memenuhi nisab dan Zakat Fitrah tanpa takaran nisab. Allah س berfirman, Zakat, membersihkan dan mensucikan. [ QS At Taubah (9):103]. Insya Allah, Zakat Mal membersihkan harta dan Zakat Fitrah mensucikan jiwa, bagi yang menunaikan.
a
Bentuk lain dari Sedekah, adalah infak atau disebut juga dengan pembelanjaan di jalan Allah. Insya Allah, bersedekah tidak memberatkan, karena Allah س berfirman, berinfak itu yang lebih dari keperluan. [QS Al Baqarah (2):219]. Maksudnya, bila sudah memenuhi kebutuhan diri sendiri dan atau keluarganya, maka bersedekahlah semampunya.
a
Fadilah yang bisa diraih mereka yang bersedekah, adalah berpeluang meraih pelipatan tujuh ratus kebaikan; dan atas kehendak Nya dapat dilipatgandakan lebih banyak lagi. [QS Al Baqarah (2):261]. Dalam suatu Hadits diriwayatkan, Hendaklah setiap orang bersedekah untuk setiap ruas tulangnya. Setiap shalat menjadi sedekah baginya, puasa adalah sedekah, haji adalah sedekah, bacaan tasbikh adalah sedekah, bacaan takbir juga sedekah, bacaan takhmid adalah sedekah. Kemudian Rasulullah ص menyebutkan semua amal saleh ini, lalu bersabda: “Cukuplah salah seorang dari kalian mengerjakan shalat dua rakaat dhukha untuk menggantikan semua itu”. [HR Abu Daud, #1094, dan 10 HR lain].
a
Amalan saleh kelima, adalah menunaikan ibadah haji; Allah س mensyaratkan, mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. [QS Ali Imran (3):97]. Ketika ada sahabat yang bertanya tentang lafadz sanggup dalam ayat ini, Rasulullah ص bersabda: “Perbekalan dan kendaraan”. Lalu perowi menjelaskan, maksudnya, bagi mereka yang memiliki bekal dan (ada) kendaraan, wajib baginya untuk melaksanakan haji. [HR Tirmidzi, #741].
a
Salah satu fadilah berhaji, diriwayatkan dalam suatu Hadits, Rasulullah ص bersabda: “Barangsiapa menunaikan ibadah haji ke rumah Allah, dan ia tidak berkata kotor dan tidak berbuat fasik, maka ia akan kembali seperti seorang anak yang baru dilahirkan ibunya”. [HR Ibnu Majah, #2880, dan 3 HR lain].
a
Selain Ibadah Haji, boleh juga ditunaikan Ibadah Umroh; bila berumroh, tidak menunaikan Wuquf di Arafah dan tidak melempar tiga jumrah di Mina. Ada periwayatan, tata cara Rasulullah ص menunaikan Ibadah Umroh; yaitu berthawaf di Baitullah tujuh kali; lalu shalat dua rakaat di Maqam Ibrahim, kemudian Sa’i antara Shafa dan Marwa tujuh kali. [HR Muslim, #2172, dan 14 HR lain]. Ibadah Umroh, walau bersifat sunnah, tetapi bila ditunaikan di Bulan Ramadhan, maka pahalanya setara dengan pahala berhaji. [HR Nasa`i, #2083, dan 20 HR lain].
a
Bila menunaikan Ibadah Haji dan atau Umroh, jangan terlewatkan untuk bershalat sunnah atau shalat fardhu di Masjid Quba. Fadilahnya, setara dengan pahala satu kali berumroh. [HR Trmidzi, #298, dan 1 HR lain].
a
Usai menjelaskan beberapa contoh amal saleh ini, Banas mengajak untuk menelisik amalan lainnya; antara lain dengan mentaati ajaran Moh Limo.
a
(3) Taatilah Moh Limo
a
Rasanya hati bergejolak keras, saat Banas mengatakan perkara ini; lalu Akung menyela: “Ustadz; mohon maaf. Apakah Ustadz betul-betul menganjurkan perkara ini?” Banas mengemukakan: “Memang benar; dan sangat yakin. Jika kamu kaget, itu wajar; karena kamu lebih mengenal anjuran, jauhilah molimo. Sebutan Molimo ialah lima perkara yang disebut dalam budaya bahasa lokal; semuanya berawalan huruf m atau disebut mo. Pemahaman masa kini sangat berbeda dengan ajaran semula”. Lalu Akung diajak membicarakannya.
a
Sunan Ampel adalah sunan kedua dalam jajaran Walisongo; hidup pada 1401-1481 di Ampel (Surabaya), termasuk dalam golongan Sunan Putihan; yaitu sisi lain dari Abangan. Raja-raja di Kerajaan Majapahit sangat menghormati beliau. Sekitar lima dekade sebelum kehancuran Kerajaan Majapahit, masyarakat Majapahit tercabik-cabik oleh tradisi yang menggerogoti kehidupan; pada masa kini disebut “pekat” alias penyakit masyarakat. Atas keadaan ini, Raja Majapahit, Girindrawardhana Dyah Wijayakarana (1468-1478) minta Sunan Ampel mengatasi perkara pekat.
a
Maka Sunan Ampel mengirim para santrinya guna meluaskan jangkauan ajaran yang dikenal dengan “Ajaran Moh Limo”. Dalam budaya bahasa lokal, kata “moh” adalah sebutan yang berasal dari kata “emoh”; artinya “tidak mau”. Dengan begitu, bila dirangkai mempunyai makna “tidak mau menjalankan lima larangan”; dalam bahasa budaya lokal, semua larangan diawali dengan huruf mo”. Bila kita mentaati “moh limo” berarti sanggup tidak menjalankan lima larangan. Menurut catatan sejarah, pekat berhasil diredam. Bagaimana ajaran Moh Limo?; inilah dia.
a
Moh pertama, adalah eMoh Madat
Ajarannya berisi larangan mengisap candu; pada masa kini setara dengan sebutan narkoba, sabu, ganja, dan semisal ini. Mengkonsumsi candu memiliki akibat seperti penggunaan narkoba di masa kini.
a
Moh kedua, adalah eMoh Madon
Madon adalah sebutan “main perempuan”; merupakan ajaran yang melarang perzinaan. Walau pada masa kini, perzinaan tidak saja didorong oleh kaum lelaki tetapi juga banyak disemangati oleh kaum perempuan.
a
Moh ketiga, adalah eMoh Minum
Berisi ajaran untuk menghindari mabuk-mabukan karena minum minuman keras atau disebut khamer.
a
Moh keempat, adalah eMoh Maling
Pengajarannya adalah untuk mencegah perbuatan mencuri; pada masa kini, salah satu diantara mencuri lebih dikenal dengan sebutan korupsi.
a
Moh kelima, adalah eMoh Main
Berisi ajaran yang melarang bermain judi; dalam segala bentuk. Pada masa kesunanan dahulu, judi dilaksanakan menggunakan batu berangka; pada masa kini disebut dadu. Tetapi pada masa kini, judi sangat beraneka ragam; dari menebak dua angka terakhir dari nomor kendaraan, tebak isi manggis, dan lainnya.
a
Banas menambahkan: “Lima ajaran yang berisi larangan itu merupakan hasil karya pikir Sunan Ampel. Ajarannya berlandaskan keislaman. Bagaimana ajaran itu menurut syari`?” Lalu Banas mengajak membincangkan ketentuan syari` terhadap Moh Lima.
a
(4) Ajaran Moh Limo Secara Syari`
a
Untuk keperluan perbincangan ini, ajaran eMoh Madat dan eMoh Minum dapat dimasukkan menjadi satu kelompok syari`; keduanya menghasilkan larangan karena memabukkan. Dalam QS An Nisa` (4):43 antara lain difirmankan Allah س melarang bershalat bagi mereka yang mabuk. Larangan ini menghasilkan tuntunan dalam suatu periwayatan, Nabi ص bersabda: “Barangsiapa meminum khamer walau satu teguk, maka tidak akan diterima shalatnya selama empat puluh malam. Jika ia bertaubat Allah akan mengampuninya; namun jika ia meminumnya lagi, maka Allah Ta’ala tidak menerima taubatnya. Dan Allah berhak memberinya minum dari Sungai Khabal; yaitu minuman yang terbuat dari nanah bercampur darah yang keluar dari tubuh penduduk neraka”. [HR Ahmad, #4681, dan 11 HR lain].
a
Selanjutnya ajaran eMoh Madon atau perzinaan, dapat dikaitkan dengan ayat dalam QS Al Isra` (17):32; difirmankan, Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk. Guna memperkaya perbincangan ini, dalam Al Qur`an dapat ditemukan ketetapan Nya, yaitu para pezina mendapat hukuman fisik dan hukuman sosial.
a
Hukuman fisik bagi pezina, yaitu didera sebanyak 100 kali. [QS An Nur (24):2]. Sedangkan hukuman sosial, difirmankan dalam QS An Nur (24):3; arti firman Nya, Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu dikharramkan atas orang-orang yang mukmin. Patut dicermati, bila di dunia para pezina mendapat dua hukuman itu, bagaimana di Hari Akhir?; Wallahu a`lam.
a
Hukuman bagi pezina juga dapat dicermati dari periwayatan, Abu Hurairah رعنهُ mengisahkan, Rasulullah ص bersabda: “Tiga golongan yang tidak akan diajak bicara oleh Allah pada Hari Kiamat. Yaitu seorang yang sudah tua berzina, orang miskin namun sombong, dan pemimpin yang pendusta”. [HR Nasa'i, #2528, dan 1 HR lain]. Merujuk pada ayat-ayat dan beberapa periwayatan tersebut, maka berzina memiliki resiko dosa yang tak terkira beratnya; di dunia dan di akhirat.
a
Bagaimana kaitan syari` dengan anjuran eMoh Maling?; sesungguhnya, mencuri memiliki akibat buruk bagi pelakunya. Dalam QS Al Maidah (5):38 difirmankan, Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Melalui ayat ini ditegaskan, betapa Allah س memberi hukuman berat kepada pencuri. Keabadian dosa dari mencuri, dapat disimak dari periwayatan, Rasulullah ص bersabda: “Hilangnya (barang) seorang muslim akan membawa ke dalam neraka (bagi yang mencurinya)”. [HR Ibnu Majah, #2493, dan 9 HR lain]. Melalui Hadits ini dituntunkan, barang curian dibawa oleh pencurinya sampai ke Neraka.
a
Selanjutnya ajaran eMoh Main, dapat ditemukan dalam QS Al Baqarah (2):219, antara lain difirmankan, Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: “Pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya”. Selanjutnya, dalam QS Al Maidah (5):91 difirmankan, Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian diantara kamu lantaran (minum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan shalat; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan itu). Dengan sangat gamblang, ayat ini menegaskan, perilaku minum khamar dan berjudi menjadikan jiwanya lupa mengingat Allah س dan bershalat; dan Insya Allah, setan bergerak dinamis untuk selalu mengajak pada keburukan jiwa penjudi dan para peminum khamer.
a
Kemudian Banas mengemukakan: “Berbagai larangan yang termasuk dalam ajaran Moh Limo tersebut, sampai kini masih sering disuarakan dengan sebutan molimo. Tetapi masih ada ganjalan lain untuk mendapat kemudahan menjadi penghuni surga; yaitu mencari identitas sebagai orang masa kini”; lalu Akung diajak membincangkannya.
a
(5) Mencari Identitas Masa Kini ?
a
Banas mengemukakan: “Sedikitnya ada tiga perilaku sebagai upaya mencari identitas masa kini. Pertama adalah ketagihan minum khamer; kedua, memelihara anjing; dan ketiga, membuat tatto. Perkara pertama sudah dibincangkan terdahulu; mari kita telisik dua perkara lainnya”.
a
Banyak diantara kaum muslim memelihara anjing dengan dalih untuk menjaga harta dan keselamatan diri. Anjing sebagai penjaga?; mari mencermati QS An Nisa` (4):1, pada akhir ayat difirmankan, Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. Lalu dalam QS Ar Ra`d (13):11 antara lain difirmankan, Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Dua ayat ini harus menjadi rujukan siapa penjaga kita; sesungguhnya Allah س dan malaikat Nya tidak lengah menjaga setiap manusia. “Astaghfirullah”; begitu Akung berkata lirih. Lalu perbincangan diteruskan.
a
Anjing digunakan sebagai perumpamaan dalam QS Al A`raf (7):176; antara lain difirmankan, maka perumpamaannya seperti anjing; jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia menjulurkan lidahnya (juga). Dalam Kitab Tafsir dijelaskan, anjing tersebut sebagai tamsil bagi Bal`am bin Baura` seorang Bani Israel yang murtad. Diterangkan, anjing adalah binatang yang paling hina; difirmankan dalam ayat ini, dihalau atau tidak dihalau, selalu menjulurkan lidahnya. Maknanya, orang-orang kafir, diberi peringatan dengan ayat-ayat Nya ataupun tidak diberi peringatan, sama saja; mereka tetap tidak beriman.
a
Terkait dengan memelihara anjing, dalam suatu Hadits, Rasulullah ص bersabda: “Barangsiapa memelihara anjing selain anjing untuk berburu atau anjing untuk menjaga binatang ternak, maka pahalanya akan berkurang dua qiroth setiap hari”. [HR Bukhari, #5059, dan 30 HR lain]. Akung langsung menanyakan maksud qiroth; Banas menjawab, dalam Hadits ini tidak ada penjelasan. Tetapi dari Hadits lain diperoleh keterangan, pahala satu qiroth adalah setinggi Gunung Uhud. [HR Bukhari, #45, dan 21 HR lain]. “Subkhanallah”; begitu ucap Akung merespon. Lalu ia mengatakan: “Alangkah meruginya mereka yang memelihara anjing”. Kemudian diteruskan membincangkan perkara tatto.
a
Tatto adalah hiasan tinta atau sejenis itu, yang ditorehkan ke bagian tertentu di badan. Dalam Bahasa Arab, disebut wasyimah; pembuatnya disebut muwasyimatun. Dalam suatu Hadits, Rasulullah ص bersabda: “Menjadi tukang tato dan yang minta ditato adalah kharram. [HR Bukhari, #1944, dan 15 HR lain]. Artinya, dua belah pihak sama-sama menanggung dosa. Mendengar ini, Akung menanyakan, apakah karena dibuat di bagian badan yang terkena air wudhu? Bagaimana kalau tattonya adalah lafadz Al Qur`an?
a
Mendapat pertanyaan beruntun ini, Banas mengemukakan, tidak ada penjelasan sebab kharram; terhadap seluruh tuntunan Rasulullah ص dan juga perkara tatto, harus bersikap [سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا]; artinya “kami dengar dan kami taat”. Jadi bila mentato dan ditato adalah kharram, ya harus didengar dan ditaati. Tetapi ada kyai yang berkata wudhu dan mandi janabah yang bertatto adalah syah. Bila bershalat, tidak syah karena ada najis pada tattonya.[http://kyaijawab.com/post/65/Sahkah+Wudhu+Dan+Shalat+Orang+Yang+Bertato]. Banas mengemukakan, pendapat kyai ini membingungkan. Shalatnya tidak syah karena masih ada najis dari tatto tetapi wudhunya syah. Padahal berwudhu adalah juga menghilangkan najis; dan wudhu kuncinya shalat. Maka Banas mengajak berlepas diri dari pendapat kyai ini. Wallahu a`lam.
a
Akhirul Kalam
Mendengar pendakwahan ini, hati Akung berdegup keras; ingin kembali menapaki hari kemarin, untuk menambah amal saleh. Akung bertanya: “Ustadz; fulana, teman saya adalah mualaf. Apa dosanya masa lalu juga dihapus?; padahal ia peminum berat”. Banas mengemukakan, dalam Hadits yang sudah dibincangkan di awal tadi, Rasulullah ص menuntunkan, berislam dan berhijrah menghapus dosa masa lalu. Perowi Hadits, yaitu Amru bin Ash رعنهُ semula kafir lalu berbai`at; Insya Allah ini bermakna, ia dahulunya kafir lalu berislam, maka hapuslah dosanya masa lalu. Dengan begitu, hari, tanggal, jam, menit dan detik saat berislam menjadi garis batas dihapusnya dosa-dosa masa lalu. Seberat apapun dosanya, bermualaf menjadi titik awal penghitungan dosa dan pahala atas amalannya dalam keislaman.
a
Akung menyela, bagaimana kalau semula ia bertato; Banas menjelaskan: “Harus mengikuti tuntunan Rasulullah ص; berislam harus bersih dari tatto. Selain itu, harus memperbanyak bersyahadat, bershalat, berpuasa, berzakat dan berhaji jika mampu. Upayakan menunaikan amalan sunnah agar menjadi nafilah. Semua itu untuk memudahkan rintisan jalan menuju surga Nya”.
a
Banas mewanti-wanti, masih ada tiga jalan yang Insya Allah dapat mempermudah menjadi penghuni surga.
a
Pertama, melafadzkan doa istighfar setiap berdoa usai menunaikan Shalat Subuh dan Ashar; lafadznya sudah kita bicarakan dalam tausiah yang lalu. Dalam tausiah ini diingatkan kembali lafadznya; begini:
a
اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ ٬ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ ٬ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ ٬ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ ٬ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ ٬ أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ ٬ وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي ٬ فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ ۞
a
Rasulullah ص menuntunkan, bila berdoa seperti itu, niscaya Allah س memasukkan ke Surga Nya. [HR Bukhari, #5831, dan 6 HR lain].
a
Kedua, dalam tausiah yang lalu juga sudah dibincangkan, lantunkanlah lafadz [اللهُمَّ اَ جِرْنِي مِنَ نَّارِ] sebanyak 7 kali untuk mengiringi saat berdoa Shalat Subuh dan Maghrib. Allah س membebaskan dari Neraka. [HR Abu Daud, #4417, dan 1 HR lain].
a
Ketiga, merujuk QS At Tahrim (66):8, tunaikan taubatan nasukha [تَوْبَةً نَصُوحًا]. Dalam ayat ini antara lain ditegaskan, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga. Bisa dilakukan dengan cara berdoa taubat di setiap selesai bershalat, atau bisa juga secara khusus bershalat berniat taubatan nasukha; kapanpun waktunya. Kalau bertaubat, jangan berfikir diterima atau ditolak; tetapi selalu diiringi dengan permohonan agar taubatnya diterima. Selain itu, ikutilah tuntunan Rasulullah ص: “Aku tertarik dengan al fa’l (optimis) yang baik. Dan optimis yang baik adalah perkataan yang baik”. [HR Bukhari, #3515, dan 35 Hadits lain]. Ketika bertaubatan nasukha, berfikirlah optimis dan selalu memohon untuk diterima taubatnya. Bahkan kita boleh merengek dan meneteskan air mata; Insya Allah, kelak di Hari Khisab termasuk tujuh golongan yang mendapat perindungan Nya karena tetesan air matanya saat berdoa atau bertaubat. [HR Bukhari, #5998, dan 4 HR lain]. Usai berkata begitu, keduanya lalu berjabat tangan untuk berpisah. Akung terpuaskan dengan pengetahuan dan wawasan baru.
a
REVIEW
a
Memeluk Agama Islam menjadi pangkal keselamatan dunia akhirat. Betapa tidak, Rasulullah ص menuntunkan berislam dan berhijrah menghapus dosa masa lalu. Berislam, ditandai dengan keberimanan; Allah س berfirman, beriman, berhijrah dan berjihad di jalan Allah, adalah mengharapkan rakhmat Allah. Dengan tiga amalan ini, Insya Allah jalan menuju surga Nya terbuka lebar.
a
Tetapi ada diantara kita yang terjebak dengan amalan setan. Yaitu minum khamer seteguk saja untuk penyegar tubuh, memelihara anjing sebagai penjaga, serta mentato badan seperti orang-orang masa kini. Semua itu mengganjal perjalanan menuju surga Nya. Mungkin neraka menjadi tempat kembali, jika tidak diakhiri dengan taubatan nasukha.
a
Sekian, semoga barokallah; Insya Allahu Amin.
a
Rujukan Penulisan
a
1977-1995aiSayyid Sabiq., Fikih Sunnah Jilid I s/d XIV; Penerbit Al Ma`arif Bandung.
1991-1995aiDepartemen Agama RI., Al Qur`an dan Tafsirnya; Penerbit UII Yogyakarta.
2000-1995aiKHQ Shaleh, HAA Dahlan., Asbabun Nuzul, Latar Belakang Historis Turunnya Ayat-ayat Al-Quran; Penerbit Diponegoro, Bandung.
1999-2011aiMuhammad Nasib Ar-Rifa`i., Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir Jilid I s/d IV; Gema Insani, Jakarta & Depok.
2010-1995aiImam Jalaluddin Al Mahalli dan Imam Jalaluddin As Suyuti, Tafsir Jalalain; Sinar Baru Algensindo, Bandung.
2010-1995aiMufassir., Enam Ringkasan Tafsir; Hilal Penerbit Al Qur’an, Bandung.
2010-2011aiLidwa Pusaka dan Saltanera., Software Ensiklopedi Kitab Hadits 9 Imam; Jakarta.
2015-2011aiIslamic Digital Boarding College (IDBC) Seri Al Bayan., Software Al Qur`an dan Terjemahannya; Solo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>