DIRI.ku

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ
اسَّلآمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
a
ELBANAS
a
Insya Allah, Memperluas Pemahaman dan Wawasan Keislaman
dari seorang MOHAMMAD ASLAM SUMHUDI
a
Dengan menyebut Asma Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang,
Ya Allah, kami menyampaikan rasa syukur atas nikmat Mu kepada kami sekeluarga;
yang tak terbilang banyak dan jumlahnya.
Ya Allah, kami juga menyampaikan shalawat, semoga salam dan barokah Mu
tertuju kepada Nabi Muhammad Rasulullah ص dan keluarganya,
beserta para pengikutnya sampai akhir jaman;
dan kami menyampaikan shalawat, semoga salam dan barokah Mu,
tertuju kepada Nabi Ibrahim ع dan keluarganya.
Dengan mengikuti tuntunan Rasul Mu ص, kusampaikan firman Mu,
walau sebatas sejengkal pemahaman dan wawasan.
Insya Allah, kusampaikan sebagai tausiah, sebelum jiwa dan raga terpisah.
a
Inilah secuil kisah perjalanan pendidikanku,
tidak dikurangkan tidak ditambahkan.
a
Suara jerit tangisku di kala bayi, terdengar dari kolong ranjang, sewaktu hari berada di hitungan delapan belas, bulannya ke dua, tahunnya beriringan dengan berkecamuknya perang kedua Tentara PETA melawan Belanda yang konon akan menjajah kembali; usai penyerahan kedaulatan oleh Pasukan Jepang. Ayahku seorang PNS Guru Agama tingkat Sekolah Rakyat atau SD pada jaman sekarang; dengan seorang Ibu pedagang pasar.
a
Ketika Pasukan Belanda terusir kembali, konon menyekolahkan anak menjadi semangat yang makin menggebu. Karenanya, pada usia tujuh tahun aku sudah didudukkan di bangku Sekolah Rakyat Nomor 1 di Kartosuro; sekolah ini khusus Laki-laki. Berjarak sekitar lima kilometer dari rumah, kutempuh tanpa alas kaki, seperti kebanyakan murid kala itu. Kartosuro, waktu itu berstatus sebagai Kota Kawedanan, sekitar sembilan kilometer arah barat dari Kota Solo.
a
Pendidikan dasar di Sekolah Rakyat kutempuh enam tahun, seperti juga berlaku sampai masa kini. Kemudian dengan kondisi ekonomi pas-pasan, kedua orangtua berkokoh pendiriannya, untuk menyekolahkanku ke tingkatan lebih tinggi; keluar dari kampung halaman.
a
Sekolah yang dipilih adalah Madrasah Muallimin Muhammadiyah, setara dengan SLP khusus untuk lelaki; berada di Yogyakarta yang sudah kesohor sebagai Kota Pelajar. Dari lima kakakku yang lelaki, madrasah itu dijadikan sebagai terminal pertama sesudah lulus Sekolah Rakyat. Untuk seorang kakak perempuan, ia disekolahkan di Madrasah Muallimat Muhammadiyah Yogayakarta; setara Muallimin tetapi khusus untuk siswa perempuan. Kedua orangtuaku mengatakan, sekolah di sini tidak harus sampai lulus enam tahun; cukup tiga tahun saja; keinginan beliau, aku memperoleh dasar keilmuan Islam.
a
Benar saja, ketika aku sudah duduk di Kelas Tiga, datang perintah beliau, agar aku mengikuti Ujian SLP; kala itu, disebut Ujian Persamaan SMP Negeri. Maka akupun manut dengan penuh kelegaan hati. Cukup sekali tempuh, atas Ijin Allah س, aku lulus. Rasa syukur tak terbayangkan yang kuucapkan berkali-kali; mungkin juga ratusan kali.
a
Ketika ekonomi semakin memburuk, beli beras ngantri, beli gula diberi jatah dan ngantri, beli minyak tanah diberi jatah dan ngantri, beli apapun berdasar jatah dan harus ngantri ke warung yang ditunjuk. Sesudah aku mengerti sejarah, sistem seperti itu yang diberlakukan di Negeri Komunis. Dari waktu inilah kesulitan makin membelit, bila ingin meneruskan ke SMA.
a
Dengan amat susah payah, kumasuki SMA yang gratisan; semula di SMA Piri (sudah lupa kepanjangannya apa); bertahan beberapa minggu. Kemudian kumasuki SMS Cokro (sebutan untuk Lembaga Pendidikan Cokroaminoto); bertahannya juga beberapa minggu. Lalu kumasuki SMA Muhammadiyah III lalu pindah ke SMA Muhammadiyah I di Ngupasan; hanya bertahan tiga bulan. Enam bulan dari tahun pertama di tingkat SLA kuhabiskan di tiga jenis sekolahan; yang penting harus sekolah agar akal tidak nganggur. Atas inisiatif sendiri, kucari sekolahan lain; dapatlah sekolahan bergedung bagus tetapi tidak mewah. Letaknya di Baciro Yogyakarta, masih gratis; nama sekolahnya SMA BOPKRI (Badan Oesaha Pendidikan Kristen Indonesia). Teman-teman menyambutnya dengan penuh keanehan; namaku Mohammad, asal sekolah Madrasah Muallimin Muhammadiyah yang sangat terkenal keislamannya dan kemuhammadiyahannya. Tetapi dengan pendekatan yang sempurna, aku pun bisa berkawan, seolah tak ada perbedaan apapun.
a
Ketika akhir tahun, aku sudah kasak-kusuk di sekolah; karena kutahu, nilaiku tak cukup kuat untuk menaikkan diriku ke kelas berikutnya. Maka kudekati wali kelas; aku memohon banget agar bisa naik, bahkan ke Jurusan Budaya juga sudah menyenangkan. Kalau dipikir-pikir, seandainya aku menjadi Wali Kelas, tentu akan mengalami kesulitan menaikkan diriku; bagaimana bisa?; Ilmu Alam dapat nilai dua; nilai Ilmu Aljabar cukup saja saja. Kecuali bahasa, nilainya diatas tujuh. Atas keadaan dan permohonanku ini, aku berjanji, begitu naik akan pindah sekolah. Akhirnya Wali Kelas mengabulkan permohonanku, naik ke Kelas Dua Jurusan Budaya. Alkhamdulillahi robbil`alamin.
a
Adalah menjadi berkah tersendiri, ketika kedua orangtuaku memberi perintah: “Sekolahlah di SMA Negeri; agar kelak bisa diterima di Universitas Negeri”. Perintah ini telah diancang-ancang ketika kumelapor sekolah di SMA BOPKRI. Maka perintah ini, menumbuhkan kepuyengan yang menggenapi perjalanan usiaku.
a
Untuk bisa mendapatkan sekolah negeri, harus keluar kota; kala itu ada kebijakan pemerintah, SMA Negeri wajib menerima siswa pindahan dari sekolah swasta, jika berasal dari luar kota. Maka, kebijakan inilah yang membawaku bisa sekolah negeri. Kuawali dengan mencari sekolahan di Kota Solo; aduuuh, nggak kuat mbayar uang ini, uang itu. Waktu itu masih tahun menjelang Pemberontakan G30/PKI.
a
Alkhamdulillah, anaknya PakLik dari ayahku, mengabarkan, di Sukoharjo ada SMA yang masih menerima siswa pindahan. Bagaikan peluru Gern (nama senjata yang masyhur digunakan TNI memberantas Pemberontak G30/PKI kala itu), kepercepat langkahku ke Sukoharjo, Kota Kabupaten. Ternyata benar, dengan diantar kerabatku, kutemui pihak sekolah; tanpa bayar ini, itu, besoknya aku sudah duduk di Kelas Dua SMA Negeri Sukoharjo. Ketika ditanya, ambil jurusan apa, kukatakan, yang sesuai dengan jurusan dari asal; dengan senyumannya, pihak sekolah mengatakan, “Ya kamu diterima di Kelas Dua Jurusan Budaya”. Sekolah ini satu-satunya SMA, sehingga tidak ada sebutan SMA Negeri Satu atau dua dan lainnya. Alkhamdulillah, Alkhamdulillah, dan Alkhamdulillah, selalu kuucapkan. Insya Allah bisa memenuhi perintah kedua orangtuaku dan sekaligus dapat merubah perjalanan hidupku.
a
Alkhamdulillah, pada Juni 1967 aku lulus ujian akhir SMA Negeri. Lalu kuteguhkan niat dan semangat untuk memasuki perguruan tinggi negeri, sebagaimana telah diderakan oleh (alm) Kakakku lelaki yang kala itu kuliah dan tinggal di Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) Bandung; sekolahan dinas dari Departemen Sosial.
a
Sejak saat itulah, aku diterima di Universitas Indonesia pada Tahun Perkuliahan 1967/68. Tidak ada kesantaian dan keindahan hidup yang bisa direngkuh di Jakarta; kecuali dengan seabrek-abrek kerja keras. Begitulah diriku, ditempa, diterpa dan didera seninya kehidupan. Kutahu pasti, kesuksesanku masa kini, bukan semata-mata hasil perjuanganku. Kedua orangtuaku menjadi penentu, kerabatku sedarah dan serakhim ikut membantu; dan tentu tidak terlepas dari kekerasanku merengkuh hidup.
a
Menyadari adanya seabrek kekhilafan yang mungkin masih terselip, melalui kesempatan ini kumemohon maaf. Dan tentunya, tak ada salahnya anda mencermati Yang Kukerjakan Selama Ini. Semoga Allah mengampuniku; Insya Allahu Amin.
a
وَاسَّلَا مُ عَلَيكُمْ وَرَهْمَةُ اللهِ وَبَرَ كَا تُهُ
a
Salam Hormatku dan Keluarga
a

4 thoughts on “DIRI.ku

  1. sungguh keren sekali perjuangannya dalam menempuh pendidikan, apalagi dilalui saat negara ini masih belum stabil. tapi bisa bertahan dan bahkan masuk di universitas indonesia :)

  2. Alhamdulillah diberikan kesempatan untuk membaca dan mengetahui riwayat hidup Abah…sambil menimba ilmu dr kejauhan..
    Amin..amin..yaa robbal ‘alamin….

Leave a Reply to Mohammad Aslam Sumhudi Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>