Mudik alias Pulang Kampung

Intro: Mudik
a
Melalui tilpun, Akung berpamitan untuk mudik ke Jawa. Tapi tak berselang lama, terdengar ia mengiyakan; rupanya Banas mengajak berbincang sebelum berangkat. Karenanya usai Shalat Dhukha berjamaah, keduanya menuju ke rerindangan taman masjid; kemudian saling berkabar secara Islami dan saling mendoakan.
a
Saat Banas menanyakan kesiapan pulang kampung, Akung berkata: “Alkhamdulillah; Insya Allah, semua sudah siap. Motor sudah diservis, diganti olinya, dibetulkan lampu-lampu dan disetel sana sini”. Banas menanyakan: “Apa yang mau dibawa?”
a
“Ustadz; Insya Allah membawa oleh-oleh ala kadarnya. Kue-kue kering; dan ada juga beberapa perangkat elektronik pesanan ayah dan ibu”; begitu Akung menjawab. Lalu ia katakan: “Ustadz; yang sulit diprediksi adalah soal kemacetan. Walau pakai motor, tapi kalau yang namanya macet, bisa-bisa dua hari baru nyampai di kampung”. Banas menukas: “Ya, nggak apa-apa; dua hari, kan sama dengan empat puluh delapan jam saja. Lebih baik mengedepankan selamat sampai di tujuan, selama di kampung dan ketika kembali; Insya Allah begitu”.
a
Banas meneruskan: “Ada satu perkara lain yang juga layak untuk dibincangkan; yaitu bagaimana persiapan mudik ke kampung milik semua insan”; spontan Akung menyela: “Ustadz; maksudnya bagaimana? Adakah kampung yang menjadi milik semua insan? Bukankah setiap orang punya kampung masing-masing?; yaitu kampung halaman tempat dilahirkan”.
a
Banas mengemukakan: “Bila untuk pulang ke kampungmu perlu waktu, katakanlah dua hari dua malam, masih ada kampung lain yang harus ditempuh dalam waktu yang tak bisa diduga lamanya”. Setengah kaget, Akung bertanya: “Ustadz; dimana kampung yang seperti itu?” Banas berkata: “Untuk mengetahui kampung itu, mari mencermati firman Nya dalam QS Al An`am (6):32; artinya, Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya? Mari mencerna firman Nya; tersirat penegasan, kelak, dipastikan semua manusia pulang ke Kampung Akhirat”. Lalu diteruskan.
a
Manusia tak bisa mengukur lamanya perjalanan kesana. Setelah manusia diajalkan, ia harus menanti di alam kubur; lamanya mungkin satu jam, satu hari atau seribu abad, bahkan bisa milyaran abad ke depan. Karena harus menunggu datangnya Hari Kiamat untuk bisa sampai ke Kampung Akhirat.
a
Dalam nash Al Qur`an, Hari Kiamat juga disebut dengan Hari Akhir, Hari Kemudian, Hari Berbangkit dan masih banyak sebutan lain. Kedatangan hari itulah yang tak bisa diperkirakan; Allah س saja Yang Maha Mengetahui. Tetapi kedatangannya merupakan kepastian; pasti datang. Terlihat titik air menetes di mata Akung; Banas diam sejenak. Lalu mengajak berbincang lebih mendalam. Inilah kisahnya.

Sujud Sajdah

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
ا سَّلآمُ عَلَيْكُمْ وَرحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
a
WASIAT.ku #3
a
Untuk mengawali pertemuan di satu Syawal, hendaknya mengucapkan lafadz berikut ini,
تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَ مِنْكُمْ من العائدين والفائزين
Artinya, “Semoga Allah menerima (puasa) kita dan menjadikan kita kembali (dalam keadaan suci) dan termasuk orang-orang yang mendapat kemenangan”.
a
Masing-masing harus berucap seperti itu; untuk saling mendoakan agar menjadi suci kembali, tiada dosa. Ada kalanya diiringkan dengan ucapan “mohon maaf segala kesalahan lahir batin, dan bla, bla”; tidak keliru, walau tidak perlu. Sekeder penegas saja, bahwa saat bertemu sudah saling minta maaf dan saling memaafkan.
a
Hari-hari kedepannya, pengamalan pembacaan Al Qur`an masih harus dipupuk dan ditingkatkan. Dalam kesempatan ini disampaikan lembaran kecil, WASIAT.ku, berkaitan dengan Adab Membaca Ayat As Sajdah.
a
Ayat As Sajdah biasanya bertanda ۩; tetapi tidak semua Kitab Al Qur`an memberi tanda itu. Berhati-hatilah ketika membacanya. Diriwayatkan, Rasulullah ص menjawab pertanyaan para sahabat: “Surah Al Hajj lebih diagungkan dari surah lainnya karena ada dua Ayat Sajdah disitu; maka sujudlah. Kamu jangan membacanya, jika tidak mau bersujud; [HR Abu Daud #1194 + 5 HR lain].
a
Kenapa harus bersujud?