Mencari SOAL UJIAN

Intro: Soal Ujian, Bocor ?
a
Saat bertemu di pasar kecamatan, Akung menyapa dengan ucapan salam; lalu salampun segera berbalas. Keduanya duduk di halte depan pasar; lalu Akung memulai pembicaraan dengan mengatakan: “Ustadz; ada perbincangan yang ditayangkan oleh tv swasta nasional. Ketika ditanya tentang bocornya soal ujian sekolah, ia menjawab, Ya nggak apa-apa. Lha soal ujian kubur saja juga bocor”; lalu terdengar tertawa gemuruh penonton mengiringi senyum mencibir dari laki-laki muda yang ditanya. Bagaimana pandangan Islam tentang bocornya soal ujian sekolahan dan soal ujian kubur?
a
Banas menjelaskan: “Kalau bocornya soal ujian sekolahan, setidaknya terkait dengan tiga hal; pertama, akan terjadi pembiasan untuk menempuh jalan pintas mencapai tujuan walau jalannya kharram; niscaya kelak mendapat balasan meski mengatakan kejahatannya ringan; [QS Az Zalzalah (99):8]. Kedua, pembocor dan pengguna adalah pencuri; mereka diancam potong tangan; [QS Al Maidah (5):38]. Selain itu, Allah س melaknatnya; [HR Bukhari #6285 + 5 HR lain]. Dan akan membawa curiannya sampai di Hari Kiamat untuk dikhisab; [HR Ad Darimi #2380]. Ketiga, pengguna dan pembocor adalah penipu; Allah س mengkharramkan mereka, menghuni surga Nya; [HR Ibnu Majah #2493 + 9 HR lain]. Bila tiga hal ini difahami, Insya Allah tidak ada pembocoran soal ujian sekolahan.
a
Selain itu, seharusnya peristiwa pembocoran soal ujian sekolahan tidak perlu terjadi. Kenapa?; bila tidak lulus, bisa mengulang. Mungkin ujian susulan atau mungkin juga ujian di tahun berikutnya. Tetapi seringkali, orangtua dan siswa tidak bisa menerima kenyataan rendahnya prestasi yang mampu diraih. Lalu terjadilah jual beli soal ujian; bahkan mungkin melumrah. Kalau perbincangan di tv itu memang benar terjadi, maka perkataan bocornya soal ujian kubur itu lebih penting untuk dibicarakan”.
a
Kita sepahamkan lebih dahulu, makna soal ujian yang bocor. Pertama, soal ujian adalah serangkaian pertanyaan yang akan diujikan dan harus dijawab. Kedua, dinyatakan lulus jika mampu menjawab secara benar. Ketiga, soal ujian merupakan rahasia; bisa dikatakan bocor, jika soal ujian yang belum diujikan telah beredar secara ilegal. Keempat, pembocorannya menyertakan jawaban yang benar. Bila memenuhi empat kondisi itu, maka telah terjadi kebocoran soal ujian.
a
Dalam berislam, sesungguhnya tidak ada soal ujian yang bocor. Karena banyak firman Nya dan tuntunan ulullah ص, mengenai pertanyaan yang kelak diajukan malaikat kepada semua manusia. Dalam beberapa tuntunan juga disertakan jawaban; dan ada juga tuntunan tanpa jawaban. Pentingnya dituntunkan soal-soal ujian itu, karena bila tak lulus menempuh ujian keislaman, Insya Allah, tidak bisa mengulang lagi. Bila sudah disana, tak ada jalan kembali.
a
Allah س tidak mengembalikan manusia ke dunia untuk memperbaiki amalan; sebagaimana difirmankan dalam QS Al Mu`minun (23):99-100; 99(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia), 100agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan”. (Allah menjawab): “Sekali-kali tidak; sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan”. Merujuk ayat ini, walau sekali saja tidak lulus ujian di alam kubur dan ujian kelak di Hari Khisab, maka tidak ada kesempatan baginya untuk kembali ke dunia guna belajar lagi agar meningkat kemampuannya menjawab soal ujian itu. Karenanya, jawaban di wawancara itu sangat tidak benar; tidak ada soal ujian kubur yang bocor. Setiap insan boleh mendapatkan soal ujian secara terbuka. Sayangnya, yang diwawancara dan penonton tertawa puas diiringi senyuman dari pembawa acara. Na`udzubillahi min dzalik.
a
Mungkin, ada yang menganggap soal ujian keislaman seperti soal ujian sekolahan; harus ditutup rapat dan bersifat rahasia. Padahal bila rajin bertaklim (mencari ilmu) melalui majlis atau membaca, niscaya bisa memperoleh banyak soal ujian. Patut disadari, mendapatkan soal ujian keislaman bukan tindak kriminal, tapi suatu ibadah. Terperanjat Akung mendengar penjelasan ini; lalu bertanya: “Ustadz; kenapa mencari soal ujian itu termasuk ibadah?” Banas tidak langsung menjawab; lalu mengatakan: “Kali ini, kita bincangkan dua soal ujian saja, yaitu yang diujikan di alam kubur dan diujikan di Hari Khisab”. Inilah kisah perbincangan mereka.
a

Mudik alias Pulang Kampung

Intro: Mudik
a
Melalui tilpun, Akung berpamitan untuk mudik ke Jawa. Tapi tak berselang lama, terdengar ia mengiyakan; rupanya Banas mengajak berbincang sebelum berangkat. Karenanya usai Shalat Dhukha berjamaah, keduanya menuju ke rerindangan taman masjid; kemudian saling berkabar secara Islami dan saling mendoakan.
a
Saat Banas menanyakan kesiapan pulang kampung, Akung berkata: “Alkhamdulillah; Insya Allah, semua sudah siap. Motor sudah diservis, diganti olinya, dibetulkan lampu-lampu dan disetel sana sini”. Banas menanyakan: “Apa yang mau dibawa?”
a
“Ustadz; Insya Allah membawa oleh-oleh ala kadarnya. Kue-kue kering; dan ada juga beberapa perangkat elektronik pesanan ayah dan ibu”; begitu Akung menjawab. Lalu ia katakan: “Ustadz; yang sulit diprediksi adalah soal kemacetan. Walau pakai motor, tapi kalau yang namanya macet, bisa-bisa dua hari baru nyampai di kampung”. Banas menukas: “Ya, nggak apa-apa; dua hari, kan sama dengan empat puluh delapan jam saja. Lebih baik mengedepankan selamat sampai di tujuan, selama di kampung dan ketika kembali; Insya Allah begitu”.
a
Banas meneruskan: “Ada satu perkara lain yang juga layak untuk dibincangkan; yaitu bagaimana persiapan mudik ke kampung milik semua insan”; spontan Akung menyela: “Ustadz; maksudnya bagaimana? Adakah kampung yang menjadi milik semua insan? Bukankah setiap orang punya kampung masing-masing?; yaitu kampung halaman tempat dilahirkan”.
a
Banas mengemukakan: “Bila untuk pulang ke kampungmu perlu waktu, katakanlah dua hari dua malam, masih ada kampung lain yang harus ditempuh dalam waktu yang tak bisa diduga lamanya”. Setengah kaget, Akung bertanya: “Ustadz; dimana kampung yang seperti itu?” Banas berkata: “Untuk mengetahui kampung itu, mari mencermati firman Nya dalam QS Al An`am (6):32; artinya, Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya? Mari mencerna firman Nya; tersirat penegasan, kelak, dipastikan semua manusia pulang ke Kampung Akhirat”. Lalu diteruskan.
a
Manusia tak bisa mengukur lamanya perjalanan kesana. Setelah manusia diajalkan, ia harus menanti di alam kubur; lamanya mungkin satu jam, satu hari atau seribu abad, bahkan bisa milyaran abad ke depan. Karena harus menunggu datangnya Hari Kiamat untuk bisa sampai ke Kampung Akhirat.
a
Dalam nash Al Qur`an, Hari Kiamat juga disebut dengan Hari Akhir, Hari Kemudian, Hari Berbangkit dan masih banyak sebutan lain. Kedatangan hari itulah yang tak bisa diperkirakan; Allah س saja Yang Maha Mengetahui. Tetapi kedatangannya merupakan kepastian; pasti datang. Terlihat titik air menetes di mata Akung; Banas diam sejenak. Lalu mengajak berbincang lebih mendalam. Inilah kisahnya.