Agama Adalah Nasehat

[Tausiah Jum`at, 17/04/2015]
a
Begitu bertemu dan usai berkabar-kabar Islami, Akung bertanya tentang makna agama. Mendengar ini, Banas mengajak duduk di aula sebelum ditunaikan Shalat Jum`at. Inilah kisah perbincangan mereka.
a
Dijelaskannya: “Menurut Ensiklopedia Islam, perkataan agama dalam Bahasa Indonesia berasal dari Bahasa Sançkerta, untuk menterjemahkan lafadz Ad Din dari Bahasa Arab. Dalam Bahasa Sançkerta, agama diartikan sebagai sesuatu yang diturunkan dan berlaku secara turun temurun. Konsep ini tidak memberi makna, apa yang diturunkan dan perinciannya; sehingga pendefinisian ini belum memenuhi makna Din menurut nash Al Qur`an. Pemahaman kita tentang agama, dapat merujuk pada Hadits:
a
Abu Hurairah رعنهُ menceriterakan, Rasulullah ص bersabda: “Agama itu adalah nasehat”. Beliau mengulanginya hingga tiga kali. Lalu para shahabat bertanya: “Bagi siapakah wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Bagi Allah, Kitab Nya, bagi para pemimpin dan kaum muslimin seluruhnya”. (HR. Tirmidzi, #1849).
a
Dalam Kitab Ringkasan Syarah Arba`in An Nawawi dijelaskan, pengertian nasehat, yang berarti bersih (terbebas) dari campuran sehingga ada keserasian hubungan. Nasehat diberikan oleh nasikh yaitu yang menasehati adalah Allah س kepada mansukh atau yang dinasehati adalah makhluk Nya. Masing-masing memberikan hak kepada pihak lain yang memang seharusnya ditunaikan; setiap hak dari nasikh merupakan kewajiban bagi mansuh. Ini jalur penasehatannya:
a
HHNasehat untuk mentaati Allah س.
Orang yang taat kepada Allah س memiliki hak mendapat ganjaran. Karenanya, Allah س memiliki kewajiban memberikan ganjaran.
HHNasehat untuk mentaati Kitabullah
Orang yang mentaati Kitabullah memiliki hak untuk mendapat ganjaran. Karenanya, Kitabullah atas ijin Nya, berkewajiban memohonkan ampunan kelak di Akhir Zaman.
HHNasehat untuk mentaati Nabi/Rasul
Orang yang mentaati Nabi/Rasul berhak mendapat tuntunan dan kesaksian atas amal salehnya, kelak di Akhir Jaman. Karenanya, Nabi/Rasul memiliki kewajiban menjadi saksi atas amal kebaikannya dan memohonkan ampunan kelak di kemudian hari.
HHNasehat untuk mentaati Imam
Orang yang mentaati Imam memiliki hak mendapat bimbingan. Karenanya, Imam berkewajiban menjadi pembimbing agar umat memiliki akidah dan syari` yang benar.
HHNasehat untuk sesama umat
Orang berkewajiban menasehatkan Islam kepada sesamanya. Mereka yang menasehati mendapat pahala dari dirinya dan tambahan pahala dari mereka yang mengikuti nsehatnya; tanpa mengurangi sedikitpun pahala mereka yang mengikuti tuntunannya.
a
Menurut pemikiran Quraisy Shihab, nasehat adalah ketulusan; ini bermakna, setiap manusia yang memeluk Agama Islam harus dilandasi dengan ketulusan hati atau dengan sepenuh hati yang paling dalam. Penjelasan ini dapat merujuk pada firman Nya dalam QS Al Baqarah (2):256. Dalam ayat ini difirmankan, Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam). …. (sampai akhir ayat).
a
Akung menyela: “Kalau tidak ada paksaan, berarti tidak ada larangan bila menjadi non-muslim?”. Dijelaskannya: “Berislam merupakan kewajiban; bukan pilihan. Karena Allah س berfirman dalam QS Al A`raf (7):172, bahwa secara sunnatullah, setiap janin sudah bersaksi atas keesaan Nya. Tetapi bagaimana bila sesudah lahir ke dunia lalu mereka tidak muslim?; mari kita cermati firman Allah س dalam QS An Nisa` (4):13-14. Pada ayat 13 antara lain difirmankan, Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam surga. Lalu pada ayat 14, antara lain difirmankan Barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka.
a
Dua ayat itu harus menjadi pedoman berkehidupan. Setiap manusia wajib menjadi muslim, tetapi bila menjadi non-muslim, itu merupakan pilihan hidupnya. Mereka dipastikan memperoleh hak atas pilihannya itu; Surga atau Neraka.
a
Akung menyela lagi: “Tetapi jika berislam, dibebankan kepadanya serangkaian kewajiban; bukankah kewajiban ini menjadi indikator bahwa Allah س memerlukan makhluk untuk bersembah kepada Nya?” Dengan cepat Banas merespon: “Bukan begitu cara berfikirnya. Merujuk pada dua ayat tadi, jika kita ingin menjadi ahli surga maka taatlah kepada Allah س dan Rasul Nya. Bila ingin menjadi penghuni neraka, tidak perlu mentaati Allah س dan Rasul Nya. Allah س sudah mengantisipasi pemikiran seperti yang kamu kemukakan. Misalnya difirmankan dalam QS Fathir (35):15; artinya:
a
Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah, Dia Yang Maha Kaya (tidak me-merlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.
a
Dengan sangat gamblang melalui ayat ini ditegaskan, manusia memerlukan Allah س; bukan sebaliknya. Usai berkata begitu, keduanya sepakat untuk berpisah; sebelumnya Banas mengatakan: “Bila kita berislam, maknanya kepada kita disuguhkan serangkaian nasehat. Ketaatan, berbuah ganjaran kebaikan untuk menjalani kehidupan dunia dan akhirat. Syaratnya, ketaatan itu ditunaikan dengan penuh ketulusan hati. Karenanya, berislam bukan paksaan”. Walau berpisah, Akung masih menyimpan pertanyaan yang akan diajukan dalam kesempatan mendatang. Saat berjabat tangan, ia berkata lirih, jika agama adalah nasehat, lalu apa makna Agama Islam? Setelah itu keduanya saling berucap salam.
a
Sekian, semoga bermanfaat dan barokallah, Insya Allahu Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>